Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: DMAM
Lanjut...
Pintu kamar perlahan terbuka. Bu Rahmi melangkah masuk dengan membawa sebuah mukena dan sarung bersih di tangannya. Pandangan wanita tua itu menyapu dua sejoli yang duduk canggung di atas kasur busa tersebut.
Tidak ada raut amarah atau tuduhan di wajah Bu Rahmi. Sebaliknya, senyum hangat dan penuh pengertian mengembang di bibirnya yang keriput. (Meski kurang sopan karena main masuk aja 🤭)
"Dimas... sudah bangun, Nak?" sapa Bu Rahmi ramah, seraya melangkah mendekat.
Dimas yang terbiasa bersikap manja langsung mengangguk kaku di depan ibu mertuanya itu. "U-udah, Bu... Maaf ya Bu, semalam Dimas pindah ke kamar. Di luar dingin banget..."
Bu Rahmi terkekeh pelan, lalu mengusap bahu Dimas dengan penuh kasih sayang.
"Tidak apa-apa, Dimas. Kamu kan memang sudah jadi suaminya Aisyah. Sudah kewajiban Aisyah melayani dan menyediakan tempat yang hangat buat suaminya," ujar Bu Rahmi, yang seketika membuat pipi Aisyah semakin merah merona.
"Ibu..." bisik Aisyah pelan, sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Bu Rahmi kemudian menyerahkan selembar kain sarung tenun baru milik almarhum suaminya kepada Dimas.
"Ini ada sarung bersih milik almarhum bapaknya Aisyah. Dimas wudu dulu ya di belakang, kita salat Subuh berjamaah di rumah. Nanti setelah salat, ada hal penting yang harus Ibu sampaikan tentang pesan Bu Rosma semalam."
Mendengar nama ibunya disebut, mata Dimas seketika membelalak lebar. Rasa kantuk yang tersisa di kepalanya pun mendadak hilang tanpa bekas.
"M-Mami?! Mami semalam ke sini lagi, Bu?!" tanya Dimas panik, bahkan nada suaranya sedikit meninggi.
Bu Rahmi mengangguk pelan, lalu duduk di tepi kasur di samping Aisyah.
"Iya, Dimas. Semalam sekitar jam tiga pagi, Bu Rosma datang menggedor pintu depan," jelas Bu Rahmi dengan nada yang sangat berhati-hati agar tidak menakutkan menantunya.
"Ya ampun! Terus Mami marah-marah gak, Bu?!" potong Dimas panik, sementara tangannya langsung memegang lengan Bu Rahmi. "Mami pasti marah besar ya gara-gara ditinggal di mobil?! Aduh... mati aku... Mami kalau udah ngamuk bisa gawat!"
Aisyah yang melihat kepanikan di wajah Dimas langsung merasa iba. Pria yang tingginya hampir seratus delapan puluh lima sentimeter ini mendadak tampak seperti anak kecil berusia delapan tahun yang takut dimarahi ibunya karena memecahkan porselen mahal.
"Ibu... apa yang terjadi semalam?" tanya Aisyah.
Bu Rahmi memandang Aisyah dan Dimas secara bergantian, lalu tersenyum tipis, ada sedikit nada geli yang tertahan dalam raut wajahnya.
"Bu Rosma memang sempat marah dan mau langsung menyuruh kalian pulang," cerita Bu Rahmi. "Tapi... saat Bu Rosma mau buka pintu kamar ini untuk memanggil kalian..."
"Terus?! Mami masuk ke kamar?!" jerit Dimas dengan mata yang melotot.
"Iya," jawab Bu Rahmi. "Bu Rosma membuka pintu... dan beliau melihat kamu sedang tidur nyenyak sambil memeluk Aisyah."
DEG!
Dimas mematung seketika. Mulutnya ternganga lebar, matanya tak berkedip menatap Bu Rahmi. Wajahnya yang semula pucat karena panik kini berganti menjadi merah padam hingga ke ujung telinganya.
Aisyah sendiri menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena merasa malu. Jadi Bu Rosma melihat mereka tidur berdua?! Rasa malu seperti apa lagi ini?!
"B-Bu Rosma lihat...?" bisik Aisyah dari balik telapak tangannya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Iya, Aisyah," tutur Bu Rahmi dengan kekehan halus. "Bu Rosma langsung serba salah dan menutup pintu lagi. Beliau kelihatan sangat canggung dan malu. Akhirnya Bu Rosma memutuskan untuk pulang duluan dan pesan... begitu kalian bangun pagi ini, kalian harus langsung pulang ke rumah beliau."
Dimas langsung bersandar ke dinding kayu di belakangnya. Tangannya memegang dadanya sendiri yang berdebar kencang.
"Aduh... Mami lihat..." gumam Dimas yang meratap pelan dengan suara pasrah. "Aku pasti bakal diejek atau dimarahi habis-habisan nanti di rumah... Aisyah, ini gara-gara kamu nih tidurnya kekencangan, aku kan jadi refleks memeluk!"
Aisyah membuka telapak tangannya dan menatap Dimas dengan tatapan tak percaya.
"Lho! Kok jadi salah Aisyah?!" protes Aisyah tidak terima. "Kan Mas Dimas sendiri yang datang dan nyusup ke kasur Aisyah tanpa permisi!"
"Ya kan aku kedinginan!" bantah Dimas tak mau kalah, sambil memajukan bibirnya. "Harusnya kamu sediain selimut dua!"
Melihat perdebatan kecil yang lugu antara putri dan menantunya, Bu Rahmi menepuk tangannya dengan pelan, lalu menghentikan adu mulut tersebut.
"Sudah, sudah..." lerai Bu Rahmi. "Tidak ada yang salah. Kalian berdua itu suami istri, wajar kalau tidur bersama. Sekarang, lebih baik ambil air wudu. Waktu Subuh tidak menunggu perdebatan kalian."
**
Satu jam kemudian, matahari pagi mulai terbit memancarkan sinar keemasan yang hangat menembus kabut tipis desa.
Usai melaksanakan salat Subuh berjamaah yang dipimpin oleh Dimas, meski bacaan ayatnya terdengar agak terbata-bata karena gugup mengimami ibu mertuanya, suasana di rumah kayu itu terasa jauh lebih tenang.
Kini Aisyah telah selesai mengemas sisa barang-barangnya. Koper tua coklat itu sudah berdiri tegak di ruang tengah.
Sementara Dimas tengah duduk di meja makan kayu, sambil menyeruput teh hangat manis buatan Bu Rahmi dan menikmati sepotong singkong goreng.
Sikap manja dan kekanak-kanakannya kembali terlihat saat ia menikmati perhatian sederhana dari ibu mertuanya.
"Teh buatan Ibu enak banget," puji Dimas polos, seraya menyapu sisa sisa remahan singkong di bibirnya. "Beda sama teh di rumah Mami yang pait dan bau bunga-bunga aneh."
"Kalau Dimas suka, nanti kalau ada waktu main ke sini lagi, Ibu buatkan yang lebih banyak."
Sesaat kemudian Aisyah keluar dari kamar, sudah rapi dengan mengenakan gamis berwarna biru muda dan jilbab yang senada. Wajahnya polos tanpa riasan, namun terpancar kecantikan alami dan ketenangan yang anggun.
"Mas Dimas... barang-barang Aisyah sudah siap semua. Kita mau berangkat sekarang?" tanya Aisyah sambil mendekati suaminya.
Glek glek glek!
Dimas menenggak sisa teh hangatnya sampai habis, lalu berdiri merapikan kemejanya.
"Iya deh, kita jalan sekarang," kata Dimas, meski raut wajahnya mendadak berubah agak lesu saat mengingat rumah megah ibunya yang menanti. "Pak Sopir kayaknya udah nunggu di depan gang dari tadi."
Dimas langsung meraih koper tua Aisyah yang berat, dan mencoba mengangkatnya sendirian untuk memamerkan sedikit kekuatan laki-lakinya di depan Aisyah dan Bu Rahmi.
"Biar aku yang bawa kopernya," cetus Dimas dengan nada membanggakan diri, meski saat mengangkatnya ia sempat meringis pelan karena otot tangannya yang kaku.
Aisyah mendekati Bu Rahmi. Air matanya kembali menggenang di pelupuk matanya saat harus berpisah dengan wanita yang telah bersamanya selama ini.
"Ibu... Aisyah pamit ya... Jaga kesehatan Ibu di sini... Sering-sering Doakan Aisyah..."
Bu Rahmi mengelus punggung Aisyah dengan penuh kehangatan, sembari menahan air matanya sendiri agar tidak membebani langkah sang anak.
"Pasti, Nak... Doa Ibu selalu menyertai kamu di setiap sujud Ibu," bisik Bu Rahmi. "Ingat pesan Ibu semalam ya... Jadilah istri yang sabar dan taat. Patuhi suamimu, dan lunakkan hati mertuamu dengan kebaikan."
Dimas kemudian menyalami tangan ibu mertuanya dengan sopan, dan mencium tangan Bu Rahmi dengan kaku. "Ibu, Dimas bawa Aisyah dulu ya... Nanti Dimas usahain sering bawa Aisyah main ke sini."
"Iya, Dimas... Titip Aisyah ya, Nak. Bimbing dia baik-baik," jawab Bu Rahmi.
Dengan koper tua di tangan Dimas dan tas jinjing sederhana di lengan Aisyah, kedua pengantin baru itu melangkah keluar melintasi ambang pintu rumah kayu.
Aisyah menoleh ke belakang sekali lagi, menatap rumah kayu sederhananya dan sosok Bu Rahmi yang melambaikan tangan di teras.
Dalam hatinya, Aisyah memanjatkan doa "Ya Allah... hamba tidak tau ujian apa yang menanti hamba di rumah megah Bu Rosma nanti. Kuatkanlah hati hamba untuk menjalani takdir ini..."
Bersambung...