Usia Alexius Calandra memang sudah tidak lagi muda. Dan dia dijodohkan dengan seorang gadis yang pemarah dan arogan. Bagaimana cara dia menghadapi gadis muda itu yang punya sikap sangat menjengkelkan menurutnya.
Beberapa kali Sarah dan Alex berusaha menggagalkan perjodohan tetapi selalu gagal karena Ibu Alex sangat pintar dan berpendirian teguh.
Dengan sangat terpaksa akhirnya mereka menikah agar tidak dicoret dari daftar warisan keluarga.
Selalu ada pertengkaran kecil dalam rumah tangga Alex dan Sarah di setiap harinya, tetapi mereka tidak menyadari bahwa hal itu justru semakin mendekatkan hubungan mereka.
Sebuah rahasia terungkap saat Alex mulai mencintai Sarah begitupun sebaliknya. Bagaimana jika tiba-tiba mereka harus bercerai karena anak kandung Adolf Chavali yang hilang telah kembali dan mengambil semua haknya yang dipinjam Sarah selama ini, termasuk perjodohannya dengan Alex.
Bagaimana sikap Alex selanjutnya? Dan akankah kedua orang tua Sarah tetap menyayangi gadis itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Drtt
Ponsel Alex bergetar, dengan segera dia mengambil benda tersebut yang disimpan di atas dashboard, Sarah yang berada di kursi penumpang hanya melirik sang suami yang menerima panggilan sambil mengemudi.
Hari ini Alex mengantarnya ke kampus, seperti ucapannya kemarin malam. Sarah melihat sang suami yang mendengus. Siapa yang menelponnya?
Alex terlihat begitu kesal. "Pengganggu!" marah Alex pada si penelpon.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya Sarah, bukan bermaksud ikut campur dia hanya heran kenapa Alex bisa begitu marah.
"Seorang teman lama," jawab Alex singkat kemudian mengalihkan tatapan, "hei tenanglah dia seorang laki-laki," tambahnya sambil tersenyum. Alex menjawab seperti itu karena takut Sarah salah paham.
"Memangnya kenapa?" Sarah mengerucutkan bibir karena ucapan Alex menunjukkan dirinya seperti sedang curiga.
"Tatapanmu penuh curiga," goda Alex sambil menyentuh dagu Sarah.
"Tidak begitu," kilah Sarah. Sungguh dia sangat lucu di mata Alex.
"Ah, jadi kau tidak keberatan jika ada wanita yang menghubungiku?" Alex terus menggoda Sarah. Hal itu sangat menyenangkan baginya.
"Ish, kau ini." Sarah mencubit pinggang Alex karena gemas, suaminya itu suka sekali menggodanya.
"Dia hanya teman dari masa lalu," jawab Alex setelah merasa kesakitan dari cubitan Sarah.
"Setelah pulang kuliah bagaimana kalau kita berjalan-jalan?" tanya Alex sambil mengambil tangan Sarah dan mengecup punggung tangannya.
Sarah tersenyum karena perlakuan Alex. "Apapun asalkan itu bisa membuatmu senang," jawabnya.
"Kau penurut sekali," ujar Alex, "kalau begitu lakukan satu hal yang bisa membuatku lebih senang lagi," lanjutnya.
"Apa itu?" tanya Sarah penasaran.
Alex menunjuk pipi dan bibirnya dengan jari telunjuk. Dia tahu Sarah pasti paham yang dia maksud. Sifatnya yang biasa dingin seolah menguap, Sarah mampu membuat dirinya keluar dari sifat aslinya.
Sarah tertawa pelan. "Kau sangat nakal. Kau sedang mengemudi, aku tidak mau mengganggu konsentrasimu," ucapnya.
"Baiklah, aku hentikan dulu mobilnya," ucap Alex, pria itu tidak main-main, dia menepikan mobilnya.
"Kau serius?" rajuk Sarah.
"Aku menunggu!" Alex berkata tanpa menghiraukan rajukkan istrinya. Pria itu mendekatkan wajahnya.
"Baiklah!" gerutu Sarah sambil memberi kecupan singkat di tempat yang ditunjuk Alex tadi. "Sudah!"
"Masih belum," jawab Alex, dia menarik kepala Sarah sebelum wajah gadis itu menjauh. Dia memagut dengan sedikit ******* yang membuat perempuan muda itu terpaksa membuka mulut dan memberi akses pada bibir Alex untuk menjelajahi ciuman mereka.
"Ouh, jika seperti ini aku yakin kita tidak akan sampai ke kampus," ucap lirih Sarah dengan napas yang sedikit memburu. Dia melihat sang suami hanya tersenyum dengan wajah yang sangat dekat.
Alex kembali mencumbu, tetapi dia berhenti karena ponselnya berdering. "Hunter, Sialan!!" marah Alex dan menghentikan kegiatannya.
'Hunter?'
Sarah mengernyit, sepertinya dia pernah mendengar nama itu, tetapi dia lupa siapa dan dimana. Perempuan muda itu kembali berfokus pada sang suami yang sibuk mengetik pesan balasan kepada orang yang dimaksud.
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Sarah dengan cemas. Alex hanya mengangguk sambil tersenyum kaku. Sarah tidak boleh tahu tentang kecemasannya.
Setelah beberapa waktu merasa tenang tanpa gangguan, sekarang muncul lagi masalah baru yang tidak bisa dianggap sepele. Alex merasa teman lamanya itu tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang diinginkan.
"Pozzi Hunter, mantan rekanku sepuluh tahun lalu. Sudah lama dia tidak muncul dan sekarang aku tidak tahu kenapa dia datang kembali." Alex membuka suara, dia pikir tidak ingin membuat Sarah merasa penasaran. Terlebih dia juga tidak ingin istrinya itu tahu tentang masa lalunya. Tidak untuk sekarang.
"Pozzi Hunter? Rekan bisnismu?" Sarah mengulang ucapan suaminya.
"Begitulah!" jawab Alex singkat.
"Kenapa kau begitu terganggu? Bukankah seharusnya kau senang bertemu teman lama?" Alex terdiam, Sarah memang tidak tahu situasi tentang hubungan Alex dan Hunter, jadi Alex hanya berharap Hunter tidak pernah mengganggu Sarah lagi seperti tempo hari.
Seandainya Sarah tahu bahwa dulu Alex dan Hunter adalah rekan sesama pembunuh bayaran. Alex tidak bisa membayangkan Sarah pasti terkejut dan berbalik merasa takut pada dirinya.
"Iya, Sayang! Aku akan menemuinya nanti!" Alex memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan tentang Hunter sebelum Sarah bertanya lebih banyak lagi.
…
Senja keemasan membentang cantik di langit barat, memberi perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Indah, mengharukan. Keindahan ciptaan Tuhan yang disalahgunakan para iblis untuk merayu para manusia supaya menyembah dirinya.
Alex menatap langit senja dengan semilir angin yang menerbangkan rambut dan kemeja yang dia kenakan. Pria itu bersandar di pintu mobil sambil menunggu seseorang.
Sebuah Mc Laren hitam muncul dari balik cahaya, membuat kuda besi itu tampak seperti bayangan saja. Alex mendengkus, orang itu muncul juga setelah beberapa menit dia menunggu.
Mobil mewah itu berhenti tepat di sisi mobil Bugati putih milik Alex. Sang pemilik Mc Laren menurunkan kaca mobil dan mengangkat tangan sebagai sapaan.
Alex menatap tajam si mantan rekan yang menurutnya terlalu banyak gaya. Pozzi Hunter dengan sebatang rokok yang terselip di antara bibirnya keluar dari mobil, pria itu juga melepas kaca mata hitam yang sebelumnya bertengger manis di pangkal hidung pria tersebut.
"Hai, Teman? Lama tidak berjumpa," ucap Hunter sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Melihat tingkah Hunter, mau tidak mau Alex terpaksa menyambut jabatan tangan teman lamanya itu.
"Jika pertemuan ini tidak penting dan hanya membuang waktu, aku tidak akan mengampunimu!" tegas Alex sebagai kalimat pertama yang dia lontarkan tanpa menjawab sapaan Hunter.
"Hah, kupikir sifatmu tidak menunjukkan kemajuan, tetap sama seperti dulu. Dingin," ejek Hunter seolah ucapan Alex adalah lelucon.
"Itu artinya kau juga tahu kalau aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku," tegas Alex, sang mantan rekan hanya menatap sekilas kemudian menampilkan senyum kecut.
"Sepuluh tahun berlalu, banyak sudah yang terlewati. tapi itu tidak mengubah apapun." Hunter menarik sudut bibirnya, membuat Alex terdiam tanpa jawaban.
"Menjadi agen rahasia demi menghilangkan rasa takut, percuma jika akhirnya kau kembali menjadi pengecut," ucap Hunter, "aku heran, kau hanya menyia-nyiakan kemampuanmu, Teman!"
"Kau pikir mudah menjadi diriku? Melawan rasa takut seperti berhadapan dengan malaikat kematian bagiku," geram Alex pada Hunter.
"Seorang anak akan durhaka jika melawan ibu yang seperti malaikat. Tapi kasusmu berbeda, Teman!" Hunter menepuk pundak Alex.
"Aku akan melakukan apapun asalkan dia tidak macam-macam dalam kehidupanku," ucap Alex.
"Ada seorang wanita kaya yang menyewa agen rahasia di tempat kerja kita dulu. Marina Calandra menyewa seorang pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa seseorang," ucap Hunter panjang lebar.
Alex menarik kerah kemeja Hunter. "Apa yang kau tahu? Jangan bicara yang bukan-bukan!" geramnya.
"Pengusaha asal Jepang, Namba Sorimachi ditemukan tewas setelah menang bersaing memenangkan tender di Master Corp."
"Marina Calandra, Pierre Geronimo dan … Rose Chavali adalah pesaing orang itu. Kukatakan sesuatu padamu. Kenalilah siapa ibumu yang sebenarnya."
Alex terdiam, dia tidak terkejut mendengar hal itu. Rasa gelisah tiba-tiba dirasakannya karena mengingat Sarah.
Hatinya dilanda ketakutan. Dia tahu siapa Marina, berita dari Hunter membuat Alex harus berhati-hati dalam mengambil tindakan.
"Ah, satu lagi. Adolf Chavali juga menyewa seorang detektif swasta untuk mengawasi mantan putrinya sendiri."
TBC
Young Wife Chapter 25 ...
Semoga kalian suka ...
See you next chap ...
I Love you all 💕💕💕
dan lihat 37 bab
ku pikir
berhenti di tengah jalan atau Hiatus atau pindah ke aplikasi lain nya karena ada tulisan end
eh ternyata emang bener di bab 37 tamat
keren bisa tamat
walaupun hanya 37 bab
semoga bisa berkarya lagi ya Thor 🤲 Aamiin 🤲
tetap semangat berkarya yah thor....🤟💪💪💪👍👍👍👍👍🎉🎉🎉🎉