Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."
Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.
Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.
Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.
Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.
Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sengatan Tabur Tuai
Layar ponsel di atas meja rias terus berkedip, menampilkan nama 'Anita Songong' yang memanggil untuk ketiga kalinya. Dari dalam kamar mandi yang beruap hangat, Valeria melirik benda itu dengan decisan ketat dari bibirnya. Dia sama sekali tidak berniat untuk mengangkatnya.
"Mau apa lagi sih perempuan songong itu nelpon? Mau pamer kemesraan lagi? Atau mau ngerjain gue kayak di restoran kemarin?" gumam Valeria ketus.
Dia memilih mengabaikan dering ponsel itu, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam bathtub yang dipenuhi busa sabun beraroma mawar. Valeria menyandarkan kepalanya di tepi bak, memejamkan mata sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Pikirannya dipenuhi obsesi untuk segera hamil anak Randy agar posisinya aman. Demi sirkulasi udara, dia membiarkan jendela kecil di atas kamar mandi rumah sewaannya terbuka sedikit.
Namun, ketenangan Valeria tidak bertahan lama. Di luar sana, di area pepohonan yang berbatasan langsung dengan dinding luar kamar mandinya, sekelompok anak-anak komplek sedang bermain dengan iseng.
Salah satu dari mereka melempar sebuah batu besar ke atas pohon, tepat mengenai sebuah sarang tawon berukuran raksasa yang menggantung tersembunyi di balik dedaunan.
Brak!
Sarang itu jatuh dan pecah di tanah.
Seketika itu juga, ribuan tawon yang mengamuk terbang berhamburan ke segala arah mencari target serangan. Celah jendela kamar mandi Valeria yang terbuka menjadi jalan masuk paling dekat bagi kawanan serangga agresif tersebut.
Nggg... ngggg...
Valeria membuka matanya saat mendengar suara dengungan yang teramat bising. Begitu dia mendongak, matanya melebar sempurna demi melihat puluhan tawon hitam besar sudah memenuhi langit-langit kamar mandinya yang sempit.
"A-apa ini... Aaaakh!"
Valeria menjerit histeris saat sengatan pertama mendarat di bahunya yang polos. Rasa sakitnya seperti ditusuk jarum membara. Dalam kepanikan luar biasa, Valeria mencoba bangkit dari bathtub, namun lantai yang licin penuh busa membuatnya terpeleset dan jatuh berdebum.
Kawanan tawon yang terprovokasi oleh jeritan dan gerakan agresif Valeria langsung menghujani tubuh wanita itu dengan sengatan bertubi-tubi.
"Tolong! Mas Randy, tolong! Aaaakh! Sakiiit!" teriak Valeria histeris, berguling di lantai kamar mandi sembari mencoba melindungi wajahnya.
Efek racun serangga itu bekerja cepat. Valeria yang dasarnya memiliki riwayat alergi parah terhadap sengatan serangga, langsung mengalami syok anafilaktik. Napasnya mendadak tercekat, paru-parunya terasa menyempit hebat hingga dia kesulitan menghirup oksigen.
Wajah, bibir, dan sekujur tubuhnya mulai membengkak kemerahan dengan cepat. Dengan sisa tenaga yang kian menipis dan kesadaran yang mulai berkabut, Valeria menyeret tubuhnya ke pintu, menggedornya sekali sebelum akhirnya jatuh pingsan tak berdaya di atas lantai yang dingin.
Beruntung, suara gaduh itu terdengar oleh penjaga rumah sewa yang segera mendobrak pintu dan melarikannya ke rumah sakit dalam kondisi kritis antara hidup dan mati.
Sementara itu, di kediaman Randy, suasana sore itu tampak begitu tenang. Randy sedang duduk di sofa ruang tengah sembari membaca laporan keuangan kantor, sedangkan Anita sedang menyuapi Vano makan buah di sampingnya.
Kring! Kring!
Ponsel Randy di atas meja berdering nyaring. Randy melirik layar, mengerutkan dahi saat melihat nomor tidak dikenal dari pihak rumah sakit yang meneleponnya. Sebagai kontak darurat yang sengaja didaftarkan Valeria, pihak medis langsung menghubunginya.
"Halo, selamat sore," sapa Randy.
"Selamat sore. Apakah ini benar dengan Bapak Randy? Kami dari pihak Rumah Sakit Medika. Ingin mengabarkan bahwa pasien atas nama Valeria baru saja dilarikan ke ruang ICU dalam kondisi kritis akibat syok anafilaktik berat. Saat ini pasien membutuhkan tindakan darurat dan tanda tangan perwakilan keluarga."
Deg!
Mendengar kata 'ICU' dan 'kritis', Randy langsung melompat dari sofa tempat duduknya. Wajahnya seketika berubah pucat pasi bagai mayat, dan ponsel di genggamannya hampir saja merosot jatuh.
"A-apa? Kritis?! Bagaimana bisa?!" seru Randy dengan suara yang bergetar hebat. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, kepanikan yang teramat sangat menguasai logikanya hingga dia melupakan keberadaan Anita di sampingnya.
"Saya... saya akan segera ke sana sekarang!"
Anita yang menyaksikan reaksi berlebihan suaminya hanya memasang wajah bingung yang dibuat-buat, meski di dalam hati dia langsung bisa menebak siapa yang sedang sekarat.
"Mas? Ada apa? Siapa yang kritis? Kok kamu sampai panik banget kayak gitu?" tanya Anita, nadanya terdengar lembut penuh kekhawatiran yang palsu.
Randy tersentak, buru-buru menguasai diri meski napasnya masih memburu.
"Itu... Nit... Valeria. Pihak rumah sakit telepon, katanya Valeria kecelakaan atau apa gitu, kondisinya kritis di ICU. Bagaimanapun dia kan sekretaris aku, dan keluarganya di kampung susah dihubungi. Aku... aku harus lihat kondisinya."
Anita berdiri, meletakkan mangkuk buah Vano dengan tenang.
"Ya ampun, kasihan banget Valeria. Tadi aku telepon dia emang nggak diangkat, nggak tahunya kena musibah. Kalau gitu, aku ikut ya, Mas. Gini-gini Valeria kan udah kayak adik sendiri bagi aku. Aku juga khawatir."
Randy tidak bisa menolak. Dalam kondisi panik yang sudah di ubun-ubun, dia hanya bisa mengangguk pasrah.
"Y-ya sudah, ayo cepat."
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Randy menyetir mobilnya seperti orang gila. Dia menyalip kendaraan lain dengan kasar, membunyikan klakson berkali-kali, dan tangannya yang memegang setir tampak gemetar hebat tanpa bisa disembunyikan.
Matanya merah, memancarkan ketakutan yang teramat dalam takut jika Valeria mati.
Anita yang duduk di samping kemudi hanya diam, menatap lurus ke depan dengan kedua tangan yang bersedekap. Di dalam mobil yang hening itu, setiap gerakan panik Randy, setiap helaan napas beratnya, menjadi bukti yang sangat nyata bagi Anita.
Rasa benci di dalam dada Anita membakar habis sisa-sisa cintanya untuk Randy.
"Lihat betapa paniknya dirimu, Mas. Waktu Vano demam tinggi setahun lalu aja, kamu bahkan nggak mau pulang cepat dari kantor dengan alasan sibuk. Tapi sekarang? Untuk seorang pelakor, kamu bahkan rela membahayakan nyawa kita di jalanan demi bisa cepat sampai," batin Anita dengan tatapan mata yang teramat dingin dan tajam.
Kebenciannya pada Randy kini sudah mencapai level tertinggi.
Begitu tiba di rumah sakit, Randy bahkan tidak menunggu Anita. Pria itu langsung berlari kencang menuju ruang ICU, meninggalkan istrinya yang berjalan dengan langkah anggun di belakang.
Di depan ruang ICU, dokter yang menangani Valeria baru saja keluar. Randy langsung menyergap dokter itu dengan tidak sabar.
"Dokter! Bagaimana keadaan Valeria?! Dia nggak apa-apa kan, Dok?! Tolong selamatkan dia!" cecar Randy dengan suara panik, hampir saja mencengkeram jas putih sang dokter jika tidak segera sadar.
Dokter itu menghela napas.
"Tenang, Pak. Pasien mengalami syok anafilaktik berat akibat puluhan sengatan tawon. Tekanan darahnya sempat drop drastis dan mengalami gagal napas hampir meninggal. Beruntung kami cepat memberikan suntikan epinefrin. Saat ini fase kritisnya sudah lewat, namun pasien masih belum sadar dan wajah serta tubuhnya mengalami pembengkakan parah akibat reaksi alergi."
Randy langsung lemas, dia bersandar pada dinding rumah sakit dengan napas lega yang terengah-engah, matanya berkaca-kaca menahan tangis yang hampir pecah.
Anita yang baru saja tiba di belakang Randy, menyaksikan pemandangan itu dengan senyum miring yang tersembunyi. Dia melangkah maju, lalu menepuk pundak Randy dengan lembut.
"Syukurlah ya, Mas, Valeria selamat. Kamu kelihatan terpukul banget, sampai mau nangis gitu," sindir Anita dengan nada suara yang teramat manis namun menusuk tepat ke hati Randy.
Randy langsung tersentak, menyadari kekonyolannya yang terlalu terang-terangan memperlihatkan rasa cintanya pada sang pelakor di depan istri sahnya sendiri.
"E-eh, nggak kok, Nit. Aku cuma... cuma shock aja. Kasihan dia sendirian di Jakarta," alibi Randy terbata-bata dengan wajah yang mendadak salah tingkah luar biasa.
"Iya, kasihan banget ya. Balasan atau musibah, kita nggak pernah tahu kan, Mas?" ucap Anita sembari menatap ke dalam kaca ruang ICU, melihat tubuh Valeria yang membengkak jelek penuh perban. Di dalam hati, Anita berbisik dingin,
“Nikmati sengatan kecil itu, Val. Karena sengatan yang sebenarnya baru akan dimulai di pesta ulang tahun Vano minggu depan."
Bersambung