NovelToon NovelToon
Anak Kembar Jenius Untuk Sang Mantan CEO

Anak Kembar Jenius Untuk Sang Mantan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"

​Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.

​Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.

​Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.

​Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Di usia empat tahun, Leon Ellis tidak lagi sekadar bermain dengan aplikasi anak-anak. Di bawah bimbingan Kevin yang awalnya hanya berniat mengenalkan dasar-dasar perangkat keras komputer, bocah laki-laki itu bertransformasi menjadi sebuah anomali digital.

Bagi Leon barisan kode biner dan enkripsi data adalah bahasa kedua yang jauh lebih mudah dipahami daripada interaksi sosial.

​Di dalam ruang kerja pribadi Kevin yang terletak di lantai atas château, tiga buah monitor melengkung berukuran besar memancarkan cahaya biru.

Leon duduk di atas kursi kerja yang sengaja ditinggikan dengan bantalan tebal. Jemari mungilnya yang pendek menari di atas papan ketik mekanik.

​"Leon, ketukanmu terlalu cepat. Perhatikan log servernya," tegur Kevin sembari meletakkan secangkir cokelat hangat di samping meja.

Ia bersedekap menatap layar dengan gelengan kepala.

"Kamu baru saja melewati protokol lapisan ketiga milik Ellis."

​Leon tidak menoleh. Sepasang matanya yang tajam memantulkan refleksi barisan kode hijau yang berjalan cepat.

"Lapisan ketiga terlalu longgar, Paman Kevin. Polanya gampang ditebak. Aku cuma butuh dua menit."

​Kevin terkekeh, meskipun dalam hati ia merasa ngeri.

"Jangan sampai Paman Xavier tahu kamu mengacak-acak server internal kantor lagi. Dia bisa memotong waktu bermain komputermu."

​"Paman Xavier tidak akan tahu," sahut Leon datar.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis, guratan wajah yang secara genetis diwarisinya dari Alfie Kincaid.

"Aku sudah menghapus jejak IP privatku sebelum sistem peringatan mereka berbunyi."

​Kevin hanya bisa menghela napas panjang dan melangkah keluar ruangan untuk membiarkan bocah itu berkreasi. Namun, begitu pintu ruang kerja tertutup rapat, fokus Leon mendadak berubah.

Layar komputer yang tadinya menampilkan jaringan Ellis Corporation langsung dibersihkan dengan satu hentakan tombol Enter.

​Leon menarik napas dalam-dalam. Ingatan visualnya yang tajam memutar kembali kejadian beberapa minggu lalu, ketika ia tidak sengaja terbangun di tengah malam dan mendengar ibunya, Emma, sedang menangis di pelukan Paman Xavier di ruang tengah.

Saat itu ibunya berulang kali membisikkan sebuah kata dengan nada penuh kebencian dan ketakutan, Kincaid.

​"Kin ... caid ...," gumam Leon kecil.

Ia mengeja kata tersebut di depan mikrofon pencarian suara komputer.

​Dalam hitungan detik, mesin pencari menampilkan jutaan hasil. Leon dengan cepat memilah data dan mengabaikan artikel berita umum dan langsung masuk ke dalam data korporasi global.

Jemari mungilnya membuka sebuah situs resmi dengan lambang huruf K berlapis emas yang megah, Kincaid Group International.

​Leon menyipitkan matanya dan menatap foto profil jajaran direksi. Di sana terpampang wajah seorang pria paruh baya berambut hitam legam dengan tatapan mata yang sangat tajam dan dingin. Leon tertegun. Ia menyentuh layar monitornya dan menelusuri garis rahang pria di dalam foto itu, lalu menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan kaca yang gelap.

​"Pria ini matanya sama denganku," bisik Leon pada diri sendiri.

Jiwa dewasanya yang terkurung dalam tubuh balita langsung menangkap adanya benang merah yang sengaja disembunyikan oleh ibunya.

"Kincaid Group. Mengapa Mama selalu menangis kalau mendengar nama ini?"

​Rasa penasaran yang besar membakar benak bocah berusia empat tahun itu. Leon tidak sekadar ingin membaca artikel publik. Ia menginginkan informasi yang ada di balik dinding pelindung mereka.

Dengan kepolosan seorang anak kecil yang sedang melakukan eksperimen mainan, Leon mulai membangun sebuah program peretas backdoor sederhana namun sangat mematikan yang memanfaatkan celah keamanan pada peladen(server) hosting anak perusahaan Kincaid Group di London.

​Dua jam berlalu dalam keheningan yang menegangkan. Jam digital di sudut layar menunjukkan pukul sebelas malam. Di layar monitor Leon, sebuah kotak dialog berwarna merah mendadak berkedip dan menampilkan tulisan, Access Granted. Kincaid Main Server Connected.

​Leon tersenyum puas. Di depannya terhampar cetak biru digital dari gedung pusat Kincaid Group di London dan termasuk sistem kontrol otomatis untuk utilitas bangunan.

​"Mari kita lihat," gumam Leon sembari menggeser kursornya ke arah panel kendali kelistrikan gedung utama.

"Mama bilang orang-orang Kincaid itu jahat. Paman Xavier bilang mereka suka bermain di dalam kegelapan. Kalau begitu, mari kita beri mereka kegelapan yang nyata."

​Jemari mungil Leon menekan tombol eksekusi perintah kode script yang baru saja disusunnya.

​Di London, pada detik yang sama, gedung pencakar langit Kincaid Group yang sedang sibuk dengan aktivitas lembur mendadak lumpuh total. Seluruh sistem lampu dari lantai satu hingga lantai paling atas padam seketika.

Sistem komputer utama mereka membeku dan menampilkan layar hitam pekat tanpa ada tanda-tanda kerusakan fisik pada generator cadangan. Para staf IT di London langsung panik dan berlarian di koridor yang gelap gulita mencoba mencari tahu dari mana sumber gangguan siber yang tak kasat mata itu.

​Sementara itu di pedalaman Loire Valley, Leon dengan tenang mematikan komputernya dan menyedot cokelat hangatnya yang mulai mendingin. Bocah kecil itu turun dari kursi kerja dengan wajah puas dan bersiap kembali ke kamarnya sebelum ibunya menyadari bahwa dia belum tidur.

​"Sepuluh menit kegelapan untuk perkenalan, Tuan Kincaid," bisik Leon pelan sebelum menutup pintu ruangan dengan senyuman.

1
tia
lanjut thor
sunaryati jarum
Lega Flossie dan kedua bayine selamat dan sehat
sunaryati jarum
Semoga berhasil dalam.karir dan membesarkan dua anakmu Flossie
sunaryati jarum
Jangan kesuksesan kamu terbuka Emma
sunaryati jarum
Dendammu jangan sampai.membuatmu jadi monster tapi jadi wanita tangguh yang berkualitas
sunaryati jarum
Pembalasan baru dimulai dengan.penolaksn pembelian desain
sunaryati jarum
Good job ternyata kamu punya.keahlian desain perhiasan Flossie semoga sukses dengan bimbingan Xavier
sunaryati jarum
Penyesalan kamu makin dalam.Alfie apalagi jika kebenaran tentang teh herbal dan foto
sunaryati jarum
Flossie semangat demi kedua janin di rahimmu dan membalas perlakuan Madam Willa dan Alfie
sunaryati jarum
Berarti.foto- foto editan perselingkuhan Flossie itu kerjasama Wiila dan Nadia
sunaryati jarum
Xavier mafia dan musuh Kincaid
sunaryati jarum
Kau cari sepanjang sungai sampai muara laut tidak akan ketemu,Alfie
sunaryati jarum
Ada maksud lain Xavier menolong kamu
sunaryati jarum
Setelah tidak terlihat menyesal
sunaryati jarum
Semoga bayimu kuat seperti kamu Flossie
sunaryati jarum
Akhirnya dapat pertolongan
sunaryati jarum
Kuat dan jadi orang hebat Flossie
sunaryati jarum
Kuat dan tabah semoga kau menemukan kesuksesan bersama anak yang kau kandung Flossi
sunaryati jarum
Baru mampir
Miarosa: makasih sdh mau mampir 😍
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
ditunggu lanjutannya kk 💪
Miarosa: sudah lanjut ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!