Di ulang tahunnya yang ke-20, Eriza Ravella mendapat hadiah berupa tiket pesawat liburan ke New Angeles dari bibinya. Bersama sepupunya, Sienna Aeris, keduanya berangkat. Kedua gadis itu menikmati liburan mereka dengan menyenangkan.
Suatu sore, tanpa sengaja mereka bertemu dengan pemandu wisata yang membawa rombongan mahasiswa dari perkumpulan misteri yang menyebut diri mereka Blue Rose. Kedua gadis tersebut diajak sang pemandu mengunjungi lokasi wisata horor terkenal di kota tersebut.
Perjalanan dimulai. Tidak hanya deretan bangunan kosong yang menjadi daya tarik, ternyata dibalik lokasi tempat wisata tersebut menyimpan sebuah kisah kelam di masa lalu yang masih menyisakan misteri hingga saat ini. Terutama dengan kemunculan sosok pemuda yang tidak hanya mencampur-adukkan perasaan Eriza namun keberadaannya juga penuh teka-teki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kartu Undangan
"Ehem!" Sienna berdehem.
Aku menoleh padanya dan tersenyum. Sienna lalu duduk di depanku. Malam ini aku duduk di teras belakang rumah sambil membaca majalah.
"Tadi siang kamu dan Edgar ke mana?" tanya Sienna.
"Ke perkebunan Sunflower Garden. Aku tidak tahu dia membawa ku ke sana. Aku ketiduran di jalan," jawabku.
"Oh. Kamu beruntung sekali!" kata Sienna.
"Beruntung kenapa?" tanyaku lebih serius. Aku juga menutup majalahku.
"Ya. Kamu tidak tahu semua gadis di kampus iri padamu! Kamu bisa sangat akrab dengan Edgar!" jawab Sienna.
Tapi aku tersenyum. Dan membalas ucapan Sienna.
"Kami hanya berteman. Kupikir Edgar bukan tipe pemuda yang sombong. Hanya saja mereka tidak berani mendekatinya secara langsung. Malah diam-diam memasukkan surat cinta ke lokernya."
Kini Sienna yang tertawa geli. Mungkin merasa lucu dengan aksi para gadis-gadis di kampusnya itu.
"Kamu tidak cemburu?" goda Sienna.
"Pertanyaan mu konyol sekali. Aku bahkan tak merasakan perasaan khusus pada Edgar!" jawabku dan mulai membolak-balikkan halaman majalah lagi.
"Bagaimana dengan pemuda di New Angeles itu?" tanya Sienna tenang.
Pertanyaan Sienna membuatku tersentak. Terdiam mendadak. Tanganku juga ikut berhenti membolak-balikkan majalah.
"Masih tak ada kabar darinya?" tanya Sienna hati-hati melihat ekspresi ku yang tiba-tiba berubah.
"Tidak," aku menjawab singkat.
Sienna menghela nafas. Kemudian berkata.
"Maaf kalau pertanyaan ku membuatmu tak nyaman. Kamu tahu aku selalu peduli padamu! Tanpa kamu sadari aku sering memperhatikan tingkah laku mu. Aku perhatikan sejak dekat dengan Edgar, kamu lebih ceria. Tidak banyak melamun dan diam di kamar. Aku senang kamu kembali menjadi Eriza yang kukenal. Riza, orang yang mencintaimu tidak akan membuatmu menunggu tanpa kepastian. Aku tidak menyuruhmu melupakannya. Hanya saja aku tidak ingin kamu terus bersedih. Aku juga ingin kamu terbuka padaku. Ingat, kamu tidak sendiri di sini. Apapun yang mengganggu hatimu ceritakan padaku, aku akan mendengarkan semua keluh kesah mu sampai selesai."
"Trims, Sienna! Kamu memang sepupu juga sahabat terbaikku!" ucapku.
"Aku tidak butuh pujian. Oke, mungkin kamu butuh waktu untuk sendiri. Aku ada di kamar. Jangan sungkan untuk mencari ku," ujar Sienna dengan hangat.
"Tentu!" balasku.
Kemudian Sienna pergi meninggalkan ku sendiri di teras. Setelah agak lama Sienna pergi. Aku juga bangkit dan masuk ke kamar.
Aku duduk di atas tempat tidur. Ucapan Sienna barusan masih terngiang di kepala. Ku tatap ke luar jendela. Langit yang gelap tanpa bintang. Aku termenung dengan pikiranku sendiri.
Mungkin dia memang tidak memiliki perasaan khusus padaku. Dia tidak memberiku nomor kontak untuk dihubungi, tidak memberikanku alamat yang jelas, dia juga tidak mengatakan sesuatu yang bisa ku jadikan pegangan sebagai sebuah kepastian. Ini sungguh tidak benar. Bagaimana bisa aku menyukai orang yang latar belakangnya tidak jelas seperti itu? Tidak ada satupun hal yang aku ketahui secara pasti tentang dirinya. Apakah salah menyukai orang yang begitu misterius? Tapi aku tidak tahu apa perasaannya sama sepertiku. Jika tidak, semua yang kulakukan ini hanya sia-sia. Penantian dan harapan semua percuma. Jadi, apa yang harus aku lakukan? Melupakannya? Mungkin itu satu-satunya cara terbaik untuk kebahagiaan diriku sendiri. Mungkin aku akan mencobanya.
Usai beradu argumen dengan pikiranku sendiri. Aku lalu menarik selimut dan tidur.
...****************...
Aku dan Sienna baru tiba di kampus. Para gadis-gadis sudah berkumpul dengan suara tawa cekikikan berisik mereka yang tidak jelas. Di mana-mana nampak kumpulan para gadis yang sibuk bergosip ria.
"Ada gosip apa pagi ini? Semuanya nampak bersemangat sekali!" ujar Sienna.
"Entahlah," jawabku sambil mengangkat bahu.
Saat kami menuju loker tanpa sengaja mendengar pembicaraan seorang gadis bersama temannya.
"Aku akan pergi ke pestanya dengan gaunku yang paling indah."
Setelah berjalan agak jauh Sienna berbisik.
"Siapa yang membuat pesta?"
"Aku juga tidak tahu!" jawabku.
Lalu kami memasuki kelas.
Jadwal kuliahku selesai lebih cepat hari ini. Jadi ku habiskan waktu dengan membaca buku di cafe sambil menunggu Sienna yang masih di kelas. Tiba-tiba Edgar datang dan duduk di depanku.
"Hai!" sapanya.
"Hai juga," balasku sambil tersenyum.
Edgar kemudian menyodorkan sebuah amplop padaku. Aku ragu untuk mengambilnya. Jangan-jangan surat cinta.
"Apa ini?" tanyaku.
"Buka saja. Nanti kamu juga akan tahu!" jawab Edgar santai.
Aku pun membukanya. Ah, rupanya sebuah undangan. Dasar aku sudah ge-er duluan.
"Birthday party! Aku pasti akan datang!" janjiku.
"Aku tunggu janjimu!" ujar Edgar.
"Hei, aku tidak diundang?" tanya Sienna yang baru datang.
"Tentu ada. Ini!" jawab Edgar sambil menyodorkan amplop itu pada Sienna.
"Trims! Aku pasti datang!" balas Sienna.
"Aku menantikan kedatangan kalian berdua! Baiklah, aku pergi dulu! Masih ada urusan yang harus diselesaikan," pamit Edgar.
"Ya, bye ...." Kami melambaikan tangan.
"Hem .... Jadi, pesta ini yang mereka maksud!?" gumam Sienna paham.
...*****...
Sudah hampir seharian Sienna mengobrak-abrik lemari pakaian. Bahkan kamarku sudah penuh baju berserakan namun masih belum menemukan pakaian yang cocok. Dan entah sudah berapa kali pula Sienna bolak-balik ke cermin mencocokkan pakaiannya. Namun belum juga menjatuhkan pilihan. Sampai lelah ia akhirnya menjatuhkan diri ke atas kasur.
"Bahkan pakaian kita terlalu kuno untuk ke pesta resmi!" keluhnya.
"Jadi, masih belum menemukan yang cocok?" tanyaku.
Sienna menggeleng lemah. Aku hanya bisa mendesah. Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Aku berlari turun untuk membuka pintu. Dan yang ku temukan tidak ada siapa-siapa di luar. Hanya ada dua kantong belanja berwarna pink besar yang tergeletak begitu saja di depan pintu. Ada sebuah catatan yang ditinggalkan di salah satu kantong. Tertulis kedua kantong itu ditujukan untukku dan Sienna tapi tak ada nama pengirimnya. Seperti biasa aku memungut kedua kantong itu tanpa ambil pusing. Kemudian membawanya ke kamar.
"Lihat apa yang kita dapat!" seruku.
"Apa itu?" tanya Sienna.
"Entahlah. Ada untukmu juga! Ayo, kita lihat apa isinya!" jawabku sambil membuka isi kantong itu.
Dan ....
"Wow!" Sienna menatap kagum pada gaun yang ia dapatkan.
Gaun panjang indah berkilauan. Aku juga mendapatkan sebuah gaun tentu dengan model yang berbeda.
"Sekarang kita punya gaun yang cantik untuk ke pesta!" ujar Sienna memuji dirinya di depan cermin sambil menempelkan gaun itu ke badannya. Aku cuma tertawa.
"Tapi ... siapa ya yang mengirimkan gaun ini untuk kita?" tanyaku.
"Siapa peduli? Yang jelas ini memang sengaja diberikan untuk kita," jawab Sienna.
.......
.......
.......
"Apa aku sudah cantik?" tanya Sienna setelah selesai berdandan.
"Kamu yang paling cantik!" pujiku. Sienna tertawa.
bersambung ....
╔═.✵.═════════════════╗
"Sudah selesai baca, nih! Jangan lupa dukungannya dengan memberikan tanda suka, favorit, atau gift, ya! Terima kasih!"
╚═════════════════.✵.═╝
keren thor