NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Terpaksa Menikah Karena Hamil (Anna Dan Logan)

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / One Night Stand / Tamat
Popularitas:243.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miraicle Dewi

Pesta pernikahan di kapal pesiar berubah menjadi bencana. Anna dirudapaksa oleh seorang pria asing, hingga akhirnya ia mengandung. Padahal, pria itu bosnya dan juga sudah memiliki tunangan.

Meski tak cocok, kehamilan itu membuat Anna dan Logan terpaksa menikah. Mereka sering adu mulut dan bertengkar. Apakah pernikahan mereka akan berhasil? Atau justru malah bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miraicle Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Harus mengatakannya

"Pak, saya hamil."

Setelah itu ... apa? Anna menelan air liurnya. Pria yang ada di hadapannya hanya menatapnya, tidak menunjukkan ekspresi apa pun—datar dan dingin. Apa ini bukan berita yang mengejutkan?

Anna tercengang sejenak, kok tidak sesuai ekspektasi? Apa mungkin pria itu ragu dan menganggap bahwa ucapannya itu hanya karangannya saja? Makanya, ia sudah mempersiapkan senjatanya. Dikeluarkan sebuah amplop dan sebuah test pack di atas meja kerja.

"Ini, surat pernyataan dari dokter kandungan, dan ini test pack yang saya lakukan sendiri pengecekannya."

Namun di luar dugaan, Logan hanya melirik semua benda itu, tapi hanya sekejab saja. Anna berdiri dengan gelisah sambil melihat reaksi pria itu. Apa semua itu tidak berhasil?

"Jadi, kamu meminta saya bertanggung jawab dan menikahimu, begitu?" ujar Logan, tenang dan datar.

Anna mendongak dan tercengang sesaat. "Em ... saya—" jawabnya terbata-bata.

"Apa kamu menginginkan bayi ini?" potong Logan.

Anna hanya bergeming, menelan air liurnya. Soal anak ini, ia memang tidak menginginkannya, tapi ia tetap ingin anak ini lahir. Hanya saja, ia tidak tahu rencana selanjutnya tentang anak ini.

"Jujur," Logan mengambil surat pernyataan kehamilannya, hanya melihat tanda tangan dokter kandungan yang memeriksa Anna, "aku tidak menginginkannya."

Anna mengernyit, tetapi tak terkejut karena ia tahu bahwa kenyataannya memang begitu. Siapa yang akan menginginkan bayi dari hasil kecelakaan yang tidak disengaja? Logan bahkan sepemikiran dengannya.

"Kita tahu kalau yang terjadi pada kita karena kecelakaan," lanjut Logan. "Kita tidak saling menyukai dan kita berbeda keyakinan. Jadi, pernikahan tidak akan mungkin terjadi."

"Saya juga tidak meminta hal itu, Pak," sahut Anna. Lagipula, hatinya sudah telanjur memasukkan Logan dalam black list tipe pria yang tidak disukainya.

Logan mengangguk. "Ya, sudah kalau begitu. Jalan satu-satunya hanya 'menggugurkan janin itu'."

Anna terbelalak. Bukan ini yang diinginkannya! "Bapak salah paham, saya juga tidak menginginkan itu," seru Anna.

Tidak peduli dengan pendapat gadis itu. Sejak memikirkan bahwa kehamilan Anna akan terjadi, Logan sudah membuat keputusan. Logan mengeluarkan sebuah cek, menulis sebuah nominal, lalu menandatanganinya.

"Ini. Cukup?" Lantas, Logan menyodorkan cek itu pada Anna.

Akan tetapi, Anna hanya melihatnya saja. Hatinya terbakar. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap bengis pada Logan. Cek itu diambilnya, diremasnya, kemudian dilemparkan ke wajah Logan.

Logan mendelik dan murka, lalu berteriak, "Beraninya kamu!"

"Saya sudah berbuat dosa malam itu, dan saya tidak mau melakukannya lagi!" tukas Anna tak goyah oleh bentakan Logan. "Silakan Anda menikmati kehidupan indah Anda!"

Anna berbalik pergi, air matanya tertahan karena tak ingin ada orang lainnya yang melihatnya. Ia telah menjauh dan tak akan berurusan dengan pria itu, meskipun anak yang akan dilahirkan darah daging Logan.

Matanya terlalu buram untuk melihat, sampai tak sadar menabrak Kenan yang akan menuju ke ruangan Logan. Kenan terkejut, Anna menunduk seraya meminta maaf.

Kenan mengernyit, memperhatikan dengan seksama wanita yang menabraknya. "Anna?" gumamnya heran, begitu melihat dengan jelas wajahnya.

Itu suara Kenan! Anna sangat mengenalnya. Bagaimana ini? Ia tidak ingin pria itu melihatnya dalam keadaan begini. Jadi, ia hanya melirik sekejab dan berkata, "Iya, ada apa?"

Ada yang aneh dengan gadis ini. Kenan mencoba melihat Anna meski gadis itu bersikeras menyembunyikan wajahnya. "Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu? Kamu masih sakit?"

"Saya tidak apa-apa. Permisi."

Anna langsung pergi meninggalkan Kenan yang tercengang. Dari analisanya, wajah gadis itu memang pucat, tapi bukan karena sakit. Sikapnya itu seperti sedang terjadi sesuatu.

Lalu, ia menoleh pada ruangan satu-satunya di lorong ini—ruang kerja Logan. Gadis itu baru saja keluar dari ruangan itu. Pikirnya, mungkin ada hubungannya dengan Logan?

"Apa mereka sedang berselisih?" Kemudian, Kenan mendelik. "Apa Logan mau memecatnya? Ck! Logan, logan. Kalau lagi galau begini, pasti semua orang kena sama omelannya!"

Kenan melangkah cepat menuju ruangan itu. Geram sekali! Gadis yang disukainya akan dipecat, padahal belum ada sebulan dia bekerja.

Tapi tunggu dulu!

Kenan tiba-tiba berhenti di depan pintu ruangan itu. Ia tidak mungkin menanyakan hal itu dalam keadaan marah. Kalau ia salah menyangka bagaimana?

"Mungkin saja, bukan karena itu permasalahannya," gumamnya.

Kenan berpikir cukup lama di sana, sebelum akhirnya ia menekan gagang pintu dan membuka pintu.

"Logan," serunya memanggil, dengan nada lucu, berdiri di depan pintu.

Logan tampak termenung kesal? Kenan menduga bahwa ada suatu hal yang mengganggu pikirannya. Baiklah, ia tidak akan mengganggu dengan sapaannya, lalu berjalan menghampiri Logan tanpa suara.

Namun, pria itu tetap saja menyadarinya. Tiba-tiba, dia mendongak ke arah Kenan, yang langsung tersenyum semringah. "Ngapain lo ke sini?" tanya Logan, ketika Kenan sudah berada di hadapannya.

"Gue mau ngajak Anna makan siang, tapi kayaknya dia nggak bisa," jawab Kenan. "Dan, sekalian gue mau ngasih tahu soal tanah yang pengin lo beli buat membangun rumah impian lo sama Nina."

Bukankah ini berita yang menggembirakan? Kenan saja menyampaikannya dengan senyum lebar dan riang, yang menjadi ciri khasnya. Namun, kegusaran Logan tak kunjung lenyap. Malah, dia membalasnya dengan dingin.

"Batalkan saja!"

"Lho? Kenapa?" tanya Kenan heran, senyumnya surut.

"Aku sama Nina sudah putus," lirihnya pahit.

Kenan paham sekarang. Jadi, ini yang membuat wajah tampan Logan tidak enak dilihat? Syukurlah, ini bukan karena masalah yang dipikirkannya tadi. Untung saja, niat melabrak Logan dibatalkan.

"Ya, sudah kalau begitu," kata Kenan, mengeluarkan secarik kertas kecil yang bertuliskan sebuah nomer telepon. "Aku tidak memerlukan nomor orang ini lagi. Lagipula, aku malas berbicara dengannya—orangnya ketus."

Logan tak menjawab, bahkan mendengarkannya saja tidak. Pikirannya begitu kalut sekarang. Namun, Kenan malah terpikirkan sebuah pertanyaan tentang Anna, tanpa ia tahu bahwa Logan juga sedang bermasalah dengan gadis itu.

"Oya, tadi aku lihat Anna keluar dari ruangan kamu. Mukanya pucat pasi. Kamu omelin dia, ya?" tudingnya, nada suaranya agak meninggi. "Emang ada masalah apa sampai kamu marahin dia? Apa kamu pecat dia?"

Anna lagi, Anna lagi. Logan sampai mendengus mendengarnya karena sangking muaknya. Ia menunduk, meremas jemarinya hingga membentuk kepalan.

"Lo nggak tahu apa-apa," jawabnya dengan geram tertahan.

"Ya, tapi gue perlu tahu karena Anna—"

Alih-alih mendengarkan, Logan beranjak sambil memakai jasnya. Kenan praktis berhenti mengoceh, tercengang akan sikapnya.

"Bukannya kamu mau makan siang? Ayo, pergi!" kata Logan, tak tahan lagi pada Kenan yang membahas soal Anna. Ia tak mau kalau sampai kebablasan marah, hingga akhirnya Kenan bisa mengorek apa yang sedang terjadi di antara dirinya dengan Anna.

"Eh? Oke!" sahut Kenan linglung.

Sementara Logan berjalan pergi, Kenan meremas kertas yang bertuliskan nomor telepon tadi dan akan membuangnya ke tempat sampah yang ada di samping meja kerja Logan. Mimik wajahnya tiba-tiba berubah ketika ia melihat sebuah benda yang agak asing baginya. Lantas, ia mengorek isi tempat sampah, dan meraih benda itu

"Test pack?" gumamnya dalam hati, mengernyit.

Selain itu, ia menemukan secarik kertas yang di bagian kepala suratnya tertera nama sebuah klinik. Kenan mengambil kedua benda itu. Entah beberapa baris yang dibacanya, sampai kerutan di dahinya bertambah dengan mata menyalak kaget.

🍀

Mata sembab, tubuh lemas, pandangan kosong, Anna kembali ke ruangannya dengan kondisi seperti itu. Selama 10 menit ia menangis di dalam kamar mandi, tak mengindahkan ponselnya yang menjerit berkali-kali.

Sifa menghampirinya ketika Anna sampai di ruang kerjanya. Mulutnya sudah terbuka, akan mengatakan sesuatu yang penting. Namun, ia urung melihat kondisi Anna yang membuatnya sangat cemas.

"Kakak masih sakit?" tanyanya, meletakkan tangannya di bahu Anna dan memapahnya.

"Ada kerjaan buatku, ya?" Anna melantur, tersenyum lemah.

Sifa mengatup mulutnya meski ingin menjawab ucapan Anna. Dalam kondisi begini, mana mungkin ia melimpahkan pekerjaan padanya? Nanti malah tambah sakit.

"Kakak mau makan siang? Aku beliin, ya?"

"Nggak usah. Aku nggak nafsu makan," jawab Anna.

"Jangan gitu dong, Kak. Nanti Kakak malah tambah sakit," protes Sifa, lalu mencoba membujuk lagi. "Kakak makan, ya. Abis itu minum obat. Nanti aku kasih tahu deh tugas Kakak."

Anna menghela napas. Ini bukan karena bujukan dari Sifa, tetapi karena pikirannya mulai agak jernih lagi. Ia sudah bertekad untuk membesarkan bayi ini, jadi ia harus makan dan minum obat supaya bayinya sehat.

"Oke, pesankan aku ketoprak, cabenya 3 atau 4, ya? Terus, jangan pakai bawang putih—aku nggak suka. Kerupuknya banyakin, bihunnya juga. Eh, atau ... sekalian porsinya juga banyakin deh! Nanti aku bayar."

Sifa tercengang mendengarnya. Anna benaran nggak nafsu makan? Kok pesannya seperti orang kelaparan gini?

"Oke, Kak!"

Setelah Sifa membawa Anna ke meja kerjanya, gadis itu pergi untuk membeli makanan pesanan Anna. Kini, Anna termenung, menangkupkan wajahnya. Kepalanya terasa terhuyung karena pening. Perlahan, dijatuhkan kepalanya di atas kedua tangan terlipat di meja

Ponselnya berbunyi dan layarnya menyala. Anna melirik, melihat nama si pengirim pesan.

Kenan?

Anna meraih ponsel, lalu membaca pesan itu.

"Aku ingin bertemu denganmu nanti. Jadi, jangan pulang dulu."

Pesan yang tersirat menandakan bahwa ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakannya. Apa ini tentang hubungan pertemanan mereka? Apa dia mau nembak lagi?

Anna akan mendapatkan jawabannya pada saat pulang nanti. Seperti perkiraan, pria itu menunggunya di tempat motornya terparkir.

Senyumannya dingin, dengan tatapan serius yang membuat Anna menggigil. Baru kali ini ia melihat ekspresinya seperti itu. Langkahnya jadi ragu untuk menuju ke sana. Ia merasa bahwa dia seperti bukan Kenan yang biasanya. Memangnya, sebegitu pentingkah topik pembicaraan yang akan dibahasnya?

Anna menghela napas. Apa pun itu, akan dihadapinya. Ia kembali melangkah, menghampiri pria itu sambil tersenyum dipaksakan.

"Mau bicara apa?" tanya Anna, begitu sampai di depan Kenan.

"Ikut aku ke mobil," jawab Kenan datar.

"Kalau ini caramu untuk membuatku pulang bersama denganmu, aku tidak mau."

"Pembicaraan ini tidak bisa kita bahas di sini," buru Kenan. "Aku tahu, kamu menolakku. Makanya, aku mengajakmu ke sana."

Cukup masuk akal untuk meyakinkan Anna. Gadis itu mengangguk, lalu Kenan berjalan duluan ke mobil, dan Anna menyusulnya. Mobil tidak langsung dilajukan. Mereka duduk beberapa saat, sementara Kenan termenung sejenak memikirkan tindakan yang akan dilakukannya.

Namun, Kenan tidak bisa membuang waktu lagi. Kenan memperlihatkan sebuah kertas dan sebuah test pack pada Anna, yang diambilnya dari dalam laci dasboard.

"Benarkah ini punyamu?"

Wajah Anna mendadak pucat, yang membuat Kenan menarik kesimpulan bahwa "ini memang milik Anna".

Kenan menyingkirkan benda itu dari hadapan Anna. "Apa Logan yang menghamilimu?"

Anna menunduk dalam, bingung apakah harus mengaku atau berkelit. Ia tak mau membuat masalah, apalagi Logan dan Kenan bersahabat.[]

1
Shifa Burhan
kenapa aku paling benci sosok lelaki kayak kenan ya, walaupun ini rencana anna

tapi apakah pantas seorang teman, jalan dengan istri sahabatnya tampa sepengetahuan sahabatnya, dan dia andil dalam hancurnya rumah tangga sahabatnya tapi tidak merasa bersalah sama sekali

kenan, mudah2an nanti kau menikah akan ada pria lain sok baik pada istri mu, biar kau tau rasanya sok baik pada istri orang

dalam agama kami sahabat kayak kenan di laknat,
Elfin Mberanga
kenapa Anna nda jujur saja sama logan si kan kasian....
Elfin Mberanga
kenapa jg Anna lemah seperti ini Thor, terlalu polos di buat.
Elfin Mberanga
tlng jgn ada pelakor dong Thor, jgn bikin Anna JD korban LG biarkan dia bahagia sama logan.
Elfin Mberanga
katanya Nina amnesia... itu hanya di buat2 biar dekat lagi sama logan tapi kan kasian tu sama Anna Thor.
Sweet Momy
tiap ada notip pasti deg2an bacanya. Semoga logam Anna g terpisahkan lagi ....Bahagia tanpa ada orang ke 3
VINDRY
Semangat kk.
Sweet Momy
Semangat Thor....karyamu selalu ku tunggu.
Miraicle Dewi: makasih 🥰
total 1 replies
Miraicle Dewi
mbulet apa, ya? 😅
Sarifatul Izah
jgn mbulet² kak.. kasian anna .. cobaan anak mati sekarng mau ada pelakor .. hufff
Miria Kader Mira
dasar sinting pelakor semoga nina dan logan nggak betul berbuat yg engga engga ya
Andres Andriyani
lanjut thorr
Sarifatul Izah
kurasa memang kecelakan ini konpirasi dari mama x nina deh kan
Siti Amanah
takut ny kecelakaan itu disengaja.......?
Sarifatul Izah
𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒅𝒊𝒔 𝒃𝒆𝒏𝒆𝒓 𝒈𝒎𝒏 𝒏𝒊𝒉
Sarifatul Izah
𝒔𝒚𝒖𝒌𝒖𝒓𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒌𝒓𝒏𝒈 𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒂𝒅𝒆𝒎 𝒂𝒚𝒆𝒎 𝒚𝒂 𝒍𝒐𝒈𝒂𝒏.. 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒈𝒊𝒂 𝒔𝒍𝒍 𝒍𝒐𝒈𝒂𝒏 𝒂𝒏𝒏𝒂
Sarifatul Izah
𝒖𝒉𝒖𝒊𝒊 𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓 𝒙😍
Sweet Momy
Sweet bgt Bang Logan
Sarifatul Izah
𝒌𝒂𝒑𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒙 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒑... 𝒔𝒆𝒎𝒐𝒈𝒂 𝒂𝒋𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒏𝒆𝒓 𝒍𝒐𝒈𝒂𝒏 𝒈𝒂𝒌 𝒕𝒆𝒓𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒂𝒑𝒂" 𝒎𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒊𝒕𝒖 𝒂𝒎𝒂 𝒏𝒊𝒏𝒂 𝒏𝒂𝒏𝒐
Siti Amanah
Pepet terus logan.cepetan Gery cari bukti biar kelar urusan sama ulat bulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!