Anisa seperti terkena tembakan pistol yang telak mengenai hati nya. Entah kenapa rasa nya sesak mendengar ungkapan Bara yang mencintai wanita lain hingga saat ini.
"Kamu tidak keberatan bukan? kita menikah tanpa cinta dan saya yakin belum ada cinta di hati mu, karena kita baru pertama bertemu. Saya harap ini bukan hanya untuk sekarang, tapi untuk ke depan nya jangan pernah membiarkan hati mu mencintai saya, karena sampai kapan pun saya tidak akan bisa membalas perasaan mu. kita bisa menjadi teman, tapi tidak lebih, meski ada ikatan suci di antara kita," lanjut Bara menatap anisa yang masih terdiam.
"Ya Allah, jika ini jalan takdir yang Engkau garis kan untuk ku lewati, bismilah aku akan jalani," batin Anisa berdoa menyerahkan semua pada sang kuasa.
"Iya Mas, aku tidak keberatan, kita bisa menjadi teman seperti yang Mas katakan, tapi jika suatu saat Mas ingin bersama dengan cinta pertama Mas, katakan saja padaku, aku akan mundur karena aku tidak ingin menjadi penghalang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulia rysa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Bermain-main
H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Anisa hanya tersenyum menatap Bara, pria itu melihat senyuman Anisa menjadi bingung.
Bara tidak bisa memilih antara kedua, karena kedua perempuan tersebut sangat penting bagi kehidupan nya.
"Mas kenapa? apa pertanyaan ku ini begitu sulit?" tanya Anisa membuka suara.
"Tapi ku rasa tidak, jawaban nya muda, ya atau tidak. Yang menyulitkan itu adalah perasaan Mas sendiri."
"Saran ku saja, sebelum memutuskan sesuatu pikirkan semua dengan baik, karena penyesalan selalu datang di akhir, bukan awal. Awal itu adalah pendaftaran, tapi pendaftaran sudah di tutup sekarang tinggal akhir dari perjalanan pendaftaran yang kita lalui. Oh iya satu lagi. Untuk beberapa hari ke depan aku akan menginap di rumah ayah, jangan pernah menemui ku," ujar Anisa mengingatkan Bara.
Pria itu tak berkata sepatah kata, mata nya tertuju menatap anisa penuh tanda tanya.
Entah kenapa melihat dan mendengar itu hati nya sakit. Dia bingung harus menyikapi seperti apa.
Anisa perempuan langkah yang pernah di temui. Hati nya begitu kuat hingga berkali-kali di sakiti tak pernah rapuh, bahkan semua itu di tutupi dengan senyuman seolah tak terjadi apapun.
"Nisa, apa yang kamu katakan? kenapa harus seperti ini, aku suami mu," ucap Bara.
"Iya aku tau itu, maka dari itu aku minta izin pada Mas," jawab Anisa.
"Aku tidak mengizinkan mu. Sampai kapan pun itu jangan sekali meninggalkan rumah tanpa izin ku, kamu paham itu," tegas Bara menolak keras.
Mendengar itu anisa tersenyum.
"Kamu egois, kamu melarang ku ini itu tapi kamu sendiri tidak bisa menentukan pilihan yang tanyakan. Semua ini tidak adil, aku kecewa sama kamu Mas, aku kecewa!" ucap Anisa, lalu beranjak pergi dari hadapan Bara.
"Maafkan aku Nisa, semua yang ku lakukan karena kamu, aku tidak ingin jauh dari mu, aku mencintai mu, tapi di sisi lain aku tidak bisa memberi pilihan antara kamu dan rini. Rini adalah adik nya Rina, perempuan pertama yang ku cinta," gumam Bara sedih memandang punggung anisa pergi.
Anisa masuk ke dalam kamar mandi dan menangis sejadi-jadi nya.
"Kamu pria jahat Mas, kamu pria tak memiliki pendirian. Kamu melarang ini itu, tapi kamu sendiri apa tidak ingin di larang."
Beberapa menit kemudian, Nisa terdiam dan mengusap sisa air mata nya.
"Jangan lemah seperti ini, aku bukan perempuan cengeng, aku bisa lalui semua seperti biasa yang terjadi padaku sebelum nya."
"Jika semua datang menyerang dan tak percaya padaku, biarkan saja itu hak mereka, tapi aku harus menunjukkan jika aku perempuan kuat," lanjut Anisa lagi.
Tak lama kemudian, Anisa keluar dari kamar mandi.
Di sana masih ada Bara duduk di tepi ranjang. Anisa melihat itu melewati dan menuju meja rias.
Bara melihat itu bingung harus berkata apa pada anisa.
Namun otak nya terus bekerja keras agar anisa bisa bicara dengan nya.
"Nisa, aku ingin mandi siapkan pakaian ganti ku," pinta Bara sambil memandang Anisa ya g duduk menghadap kaca meja rias.
"Iya," sahut Anisa singkat.
"Oh iya, nanti tolong panas kan makanan ku, aku belum makan tadi," ucap Bara lagi.
"Iya."
Lagi dan lagi Anisa hanya menjawab iya tidak lebih.
Bara mendengar itu menghela nafas kasar.
"Nisa, aku berbicara pada mu, kenapa hanya menjawab ya? apa kamu tidak bisa berkata yang lain," ujar Bara sedikit kesal pada Anisa.
"Lalu apa yang kamu harapkan Mas? katakan saja aku akan mengikuti, aku istri mu bukan?" ucap Anisa sekilas menatap Bara, lalu bangkit menuju lemari pakaian.
Anisa menyiapkan pakaian ganti Bara, dan pria itu masih juga duduk belum bergerak dari tempat nya. Mata Bara pun sejak tadi fokus melihat anisa.
Namun tidak dengan Anisa, dia fokus dengan pakaian bara.
Setelah selesai, Anisa berbalik dan menyerahkan pakaian pada Bara.
"Ini."
Dan saat Anisa akan pergi dari hadapan Bara, pria itu langsung menahan pergelangan tangan Anisa.
"Kenapa?" tanya Anisa berbalik menoleh ke belakang.
"Maaf," ucap Bara lembut sambil menatap anisa.
"Untuk apa?"
"Untuk hari ini, aku benar-benar minta maaf."
"Tidak perlu minta maaf, karena itu bukan yang ingin ku dengar."
"Aku tau, tapi itu mustahil untuk ku pilih."
"Kalau begitu, tidak perlu minta maaf. Tolong lepaskan tangan ku, aku ingin memanaskan makanan mu," ujar Anisa dingin.
"Tap-"
"Hentikan Mas, jangan memaksa ku lagi. Aku lelah mendengar ini. Aku sudah memberi mu kesempatan kedua, tapi lihat lah kamu malah merusak nya, lalu apalagi yang kamu inginkan? kesempatan? tidak, aku tidak bisa memberikan itu lagi. Jadi biarkan semua tetap seperti ini," ucap Anisa cepat memotong perkataan Bara, dan menarik keras tangan nya.
Anisa langsung pergi dari kamar.
Bara melihat itu mengacak kasar rambut kesal. Marah itulah yang di rasakan sekarang.
"Ah, kenapa semua seperti ini? aku mencintai mu Nisa, kenapa kamu tidak merasakan itu."
"Seandainya kamu berada di posisi ku, apa yang akan kamu lakukan, aku yakin kamu pasti melakukan sama seperti yang ku lakukan sekarang."
Sedangkan di sisi lain Rini tertawa bahagia di kamar nya.
"Hahaha, hahaha, kamu mencari lawan yang salah Nisa. Aku bukan tandingan mu, tapi tak masalah jika kamu ingin bermain-main dengan ku, mari kita senang-senang. Jangan salahkan aku jika nanti kamu kalah dan menangis. Aku tak pernah memberi seseorang kesempatan kedua, karena aku bukan orang baik, aku orang yang sangat serakah. Kekalahan musuh adalah kebahagiaan terbesar untuk ku," ucap Rini senang lalu membuka ponsel mencari foto seseorang dan di kirimkan pada orang di sebrang sana.
"Jangan sampai gagal, atau nyawa mu yang aku mainkan."
Begitu lah pesan yang di kirimkan Rini pada.
"Kita lihat apa yang akan terjadi besok, anggap saja itu adalah terapi kecil untuk mu agar tidak banyak tingkah."
Anisa yang baru selesai melakukan tugas nya, langsung memindahkan makanan itu ke meja makan.
Dia bahkan tak lupa membuat jus naga untuk Bara.
Setelah melihat semua lengkap, baru dia pergi untuk memanggil Bara.
Ceklek.
Tiba di dalam, Anisa tidak melihat siapapun.
"Di mana Mas Bara? apa masih di kamar mandi? tapi ini sudah terlalu lama tidak seperti biasa," gumam Anisa merasa aneh.
Seketika langkah kaki Anisa terhenti, saat ingin melangkah, dia mendengar suara seseorang.
Dan itu seperti suara Bara suami nya yang sedang bicara dengan seseorang.
"Mas Bara bicara pada siapa? kenapa aku mendengar suara perempuan. Apa itu suara Rini?" tebak Anisa bertanya-tanya penasaran.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...