Ruby, gadis cantik berusia 27 tahun terpaksa harus menikah dengan seorang pria dingin dan kejam bernama Arkana Rafassya, pria yang memiliki paras yang sangat tampan dan idaman para kaum hawa. Arka, begitulah dia biasa dipanggil, sebenarnya sudah memiliki seorang kekasih yang juga sangat cantik jelita seperti namanya, yaitu Jelita. Arka sangat mencintai Jelita, tapi karena sebuah insiden di mana dia ditemukan sedang berduaan di sebuah kamar dengan Ruby, terpaksa dia harus menikah dengan gadis itu dan berpisah dengan Jelita. Arka menuduh insiden itu adalah rencana licik Ruby agar bisa menikah dengannya, karena dia yakin kalau Ruby itu wanita yang haus akan kekayaan dan ingin hidup mewah. Karena alasan itu, membuat Arka sangat membenci Ruby dan sama sekali tidak pernah menghargai wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Pria itu bahkan masih berharap ingin kembali pada Jelita. Bagaimana kelanjutannya? apa benar Ruby seperti yang dipikirkan oleh Arka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tidak diharuskan berdiskusi dengannya.
Tiara mengangguk-anggukan kepalanya, paham dengan maksud perkataan Ruby.
"Jadi,kamu akan pergi kemana? apa kamu akan pergi ke luar negeri? dan usaha apa yang akan kamu lakukan?" tanya Tiara.
"Aku tidak akan ke luar negri karena Indonesia kan luas. Aku sebenarnya ingin membuat usaha seperti usaha yang kamu lakukan, karena memiliki restoran dan Cafe sudah menjadi impianku sejak dulu. Aku berencana membuka usaha itu di Bali karena itu tempat wisata dan banyak dikunjungi oleh turis mancanegara maupun domestik, bagaimana menurutmu?" tanya Ruby, antusias.
"Sepertinya itu ide yang bagus. Aku juga akan ikut denganmu ke sana dan membantumu, setidaknya sampai kamu bisa melakukannya sendiri,"
"Sepertinya tidak perlu, Ra. Kamu punya usaha yang harus kamu kelola di sini. Aku tidak mau gara-gara membantuku, usaha kamu jadi hancur. Tentu saja itu akan membuat orang tuamu semakin membenciku?" ucap Ruby dengan lirih.
Tiara mengrenyitkan keningnya, mendengar ucapan Ruby. "Orang tuaku membencimu? sejak kapan?"
"Maaf, seminggu yang lalu aku berkunjung ke rumahmu, ingin meminta bantuan. Tanpa sengaja aku mendengar mamamu, memarahimu karena sudah terlalu sering membantuku. Mamamu juga bilang, kalau kamu itu juga harus memikirkan diri sendiri. Dari perdebatan kalian berdua, aku akhirnya tahu, kalau sebenarnya kamu juga sedang mengalami kesulitan keuangan, iya kan? karena itulah aku meminta agar rumah dan mobil itu diuangkan saja. Aku jadi bisa mengembalikan pinjamanku, dan sedikit membantumu," Ucap Ruby, dengan raut wajah sendu.
Ya, Ruby tidak jadi menggunakan uang yang dianggapnya haram itu untuk diberikan kepada Rajasa dulu. Ruby akhirnya memilih untuk meminjam uang Tiara 40 juta untuk menutupi kekurangan uang yang diminta oleh papanya.
Tiara menyunggingkan senyum, kemudian menghela napasnya dengan sekali hentakan.
"Kamu salah! berarti kamu langsung pergi hari itu dan tidak mendengar sampai pembicaraanku dan mama selesai," ujar Tiara, ambigu.
"Maksudnya?" Ruby mengrenyitkan keningnya.
"Mama memang memarahiku, tapi itu karena dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padamu. Setelah aku mengatakan apa yang terjadi padamu,mama justru berbalik mendukungku dan memintaku untuk tetap membantumu. Jadi, kamu tidak perlu merasa bersalah, Ruby." Tiara berhenti sejenak untuk mengambil jeda.
"Untuk masalah restoran,kamu lupa ya, kalau aku punya orang kepercayaan? dia bisa membantuku mengelola restoran,By. Lagian, mamaku masih bisa memantaunya kan. Aku juga bisa tetap memantau dari jauh. Jadi, kamu tenang saja ya? kamu di Bali sebagai pemula nantinya pasti akan mengalami kesulitan apalagi dengan kondisimu yang sedang hamil, jadi izinkan aku membantumu ya?" lanjut Tiara lagi tanpa menanggalkan senyumannya dari bibirnya.
"Terima kasih, Tiara! aku tidak tahu lagi, bagaimana kalau tidak ada kamu," Ruby sontak memeluk Tiara dengan air mata yang tiba-tiba menetes membasahi pipinya. Wanita itu, benar-benar terharu dengan kebaikan Tiara sahabatnya itu.
Ruby terkesiap kaget, karena Tiara tiba-tiba melerai pelukannya.
"Ada apa, Ra?" tanya Ruby dengan alis bertaut.
"By, aku sebenarnya sangat penasaran, kenapa ya,Arka dan Jelita tadi datang dengan mobil yang berbeda? aneh kan?"
"Iya juga ya? emm, mungkin tadi mereka lagi ada di dua tempat dan janjian ketemu di sini, makanya bisa beda mobil," sahut Ruby, berusaha untuk berpikir positif.
"Bisa jadi sih," Tiara mengangguk-anggukan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arka masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Kemudian pria itu masuk ke dalam ruang kerjanya dan meletakkan amplop yang berisi surat cerai yang sudah ditangani oleh Ruby.
Pria itu membuka kembali amplop itu dan meraih isinya dari dalam. Namun, bukanlah menandatanganinya,Arka malah memasukkannya kembali, seakan berat untuk mentorehkan tanda tangannya di sana.
Arka kemudian, merogoh ponselnya dan menghubungi asistennya.
"Hallo, Pak!" sapa sang asisten dari ujung telepon.
"Kami siap kan uang sebesar 50 milliar dan masukkan dalam sebuah kartu. Setelah itu, kamu serahkan pada istriku! nanti aku akan berikan alamat rumahnya padamu!" titah Arka yang ternyata menambahkan jumlah uang dari yang disebutkannya tadi pada Ruby.
"Baik, Pak! bagaimana dengan rumah dan Mobil atas nama istrimu, Pak?" tanya sang asisten lagi.
"Biarkan saja! Jangan ubah apapun! biarlah itu tetap ada,dan masih tetap atas namanya,"
"Baiklah kalau begitu, Pak!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu,di lain tempat Jelita masuk ke dalam rumah dengan raut wajah yang kecut. Tentu saja hal ini sangat menarik perhatian mamanya.
"Ada apa? apa rencanamu tidak berjalan sesuai dengan rencana?" tanya Mona mamanya Jelita.
"Semuanya lancar, Ma. Tapi, ada yang buat aku kesal," sahut Jelita sembari menghempaskan tubuhnya duduk di atas sofa.
"Apa itu?" Mona mengrenyitkan keningnya.
"Bagaimana aku tidak kesal, Ma. Arka tidak langsung menandatangani surat cerai itu di tempat. Yang paling membuatku kesal, Arka ternyata membelikan Ruby rumah seharga 7milliar dan mobil, dan semuanya itu aku tidak tahu sama sekali. Arka sama sekali tidak mengimunisasikannya denganku, Ma." terlihat jelas kemarahan di mata Jelita.
"Apa!" pekin Mona mamanya Jelita. "Bagaimana mungkin dia bisa berbuat seperti itu? itu sama saja, dia tidak menganggapmu," Mona juga terlihat mulai marah.
"Iya,Ma. Bukan itu saja, ternyata Ruby tidak mau menerima pemberian Arka, tapi justru minta diuangkan. Dan tidak tanggung-tanggung, ternyata Arka mengiyakan dan malah menambahkan jumlah uang itu, sebesar 20 miliar lagi,"
"Tidak boleh dibiarkan ini. Itu jumlah yang besar ... bukan besar lagi, tapi sangat, sangat besar! aku harus menghubunginya sekarang juga," Mona meraih ponselnya dari atas meja.
"Jangan,Ma! aku tidak mau,nanti dia tahu kalau aku hanya berpura-pura baik, karena aku tadi mengatakan kalau aku mendukung apa yang dia lakukan," cegah Jelita.
"Kamu tenang saja, mama punya cara untuk membuat seakan-akan,bukan kamu yang keberatan tapi mama,"Mona tetap saja melanjutkan niatnya untuk menghubungi Arka.
"Halo, Nak Arka! Maaf, tante menghindarimu malam-malam begini. Tadi, aku mendengar Jelita memujimu,kalau kamu itu pria yang sangat bertanggung jawab. Walaupun kamu tahu, kalau wanita itu dulu, telah melakukan cara licik agar bisa menikahimu,tapi kamu masih mau memberikan harta gono-gini padanya. Tapi,ada satu hal yang sangat mengganggu Tante, ketika Tante tanya,pada Jelita, apa kamu berdiskusi dengan putri tante lebih dulu atau tidak, ternyata Jelita menjawab tidak sama sekali. Bukannya jumlah itu sudah terlalu banyak? dan kenapa kamu tidak membicarakannya lebih dulu dengan Jelita?" Mona berusaha berbicara dengan nada yang sangat lembut.
"Maaf,Tante kalau hal itu membuat Tante kecewa. Tapi, kenapa ya, aku harus membicarakannya lebih dulu dengan Jelita? Jelita belum jadi istriku kan? jadi aku tidak diharuskan untuk berdiskusi dengannya, masalah apa yang harus aku lakukan,. karena yang aku lakukan adalah sebuah kewajiban," sahut Arka dari ujung sana dengan lugas dan tegas.
Jelita yang mendengar ucapan Arka menggeram, karena dari ucapan Arka barusan, secara tidak langsung pria itu sedang menekankan, kalau dirinya belum punya hak sama sekali terhadap pria itu.
Tbc