CEO GILA, begitu julukannya. Karena usianya yang 27 tahun dan belum menikah tapi super duper galak garang, suka memaki sembarang dengan kata-kata toxic nyelekit.
Namanya Andre Wiguna Dharma, seorang CEO Perusahaan Keramik Asia Tile.
Kehidupan yang menurutnya penuh kepalsuan jauh dari cinta tulus, membuatnya tidak percaya pada cinta. Ditambah lagi dia pernah mencinta seorang gadis di usia 17 tahun, tapi ternyata kandas sebelum kapal berlayar. Membuatnya hanya menganggap cinta seperti permainan.
Hingga suatu ketika, ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata telah menikah. Dan ternyata suami Naysila adalah seorang office boy di perusahaan besarnya.
Akankah permainan cintanya berhasil kali ini?
Atau... Andre harus gigit jari karena Naysila lebih memilih Rendra sebagai cinta sejatinya?
Ataukah Tuhan akan memberinya jalan agar Naysila menjadi Takdirnya di masa depan?
Mari kita ikuti kisah Sang CEO GILA : Mencintai Istri
🙏🙏🙏Mohon dukungannya, please🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 (Pernikahan Daniel dan Maharani)
Andre hanya bisa termangu mendengarkan Kiyai Maksum bercerita panjang lebar perihal kelakuan Daniel Erlangga Wiguna.
Ternyata Daniel sudah melakukan banyak kesalahan selama tinggal di pesantren itu.
Anak itu sudah berani memacari putri seorang ustad bahkan sampai melakukan hubungan badan diam-diam sampai gadis itu hamil.
Maharani, gadis desa enam belas tahun itu hanya menundukkan kepala dengan airmata bercucuran di hadapan Kiyai, Andre dan juga kedua orangtuanya.
Sementara Andre ada di ruangan lain dengan penjagaan ketat dari para warga dan santri-santri. Wajahnya bonyok, tubuhnya babak belur.
Andre menelan salivanya. Ia berusaha menenangkan dirinya dengan dada bergejolak dan tangan panas ingin menjotos wajah sang Adik.
"Uang bukan penyelesaian yang baik. Dan ini sudah menjadi aib yang mencoreng wajah dan juga nama baik saya serta pesantrenan ini. Sebaiknya Anda segera mengurusnya. Atau kami yang akan bertindak!"
"Saya sangat mengerti perasaan Kiyai. Anak itu memang benar-benar binal dan sulit saya kendalikan. Makanya saya begitu ingin dia tinggal disini dengan tujuan berubah menjadi baik. Tapi ternyata... Hhh...! Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, kelakuan adik saya ini memang tidak bisa dibenarkan! Dan saya terima apapun hukuman yang akan Kiyai berikan padanya."
"Kami akan menikahkan keduanya segera. Takut kalau dibelakang kami nanti mereka melakukan perbuatan yang dilaknat Illahi lagi! Saya hanya minta, setelah mereka menikah...bawalah keduanya pergi dari sini! Kami takut mendapat azab jika terus-terusan membiarkan mereka di lingkungan tempat kami yang bersih ini!"
Andre tak bisa berkutik. Daniel benar-benar merusak nama baiknya di lingkungan pesantren dengan kejadian ini.
Tapi dia juga tidak bisa lepas tangan untuk situasi ini. Mau tak mau Andre harus menyetujui anjuran Pak Kiyai.
Daniel dan Maharani dinikahkan hari itu juga.
Setelah sah, Andre terpaksa membawa keduanya pulang dan tinggal bersama di rumah besarnya.
"Akhirnya...! Aku kembali kerumah ini!"
"Kalian kuizinkan tinggal di sini, dengan catatan kau tidak lagi berbuat onar seperti di pesantren!" ancam Andre pada Daniel.
"Iya."
"Jangan iya-iya saja, tapi camkan! Dan kau Maharani, jaga suamimu! Jangan sampai dia pergi keluar dan menemui lagi teman-teman dajjalnya!"
Perempuan muda yang jadi adik iparnya itu hanya mengangguk dengan wajah tertunduk. Ia sepertinya masih sangat shock dengan kejadian yang menimpa dirinya.
Maharani memang masih sangat muda dan polos sekali. Umurnya masih belia, enam belas tahun. Maharani belum pernah menginjakkan kakinya ke kota, sehingga ia belum bisa beradaptasi dengan keadaannya kini.
Sangat berbeda dengan Daniel yang seperti kuda liar yang lepas dari kurungan. Wajahnya sumringah, tawanya membahana mengisi seisi ruangan rumah dua lantai itu.
"Ini kunci rumah. Kuserahkan padamu. Jaga istrimu baik-baik, karena Maharani sudah jadi tanggung jawabmu sekarang!"
Yang dinasehati cuma tersenyum dan mengangguk-angguk. Daniel merangkul tubuh mungil Maharani.
"Kakak mau kemana?" tanya Maharani cemas.
"Aku tinggal di apartemen Bulungan. Nanti kukirimi kamu handphone agar kita bisa tetap saling terhubung, Ran!"
"Kakak..., jadi kami disini hanya tinggal berdua saja?" tanya Daniel.
"Nanti kukirim orang untuk membantu dan menemani kalian. Aku harus kembali ke kantor!"
Daniel dan Maharani hanya dapat menatap Andre hingga masuk mobilnya, dan menghilang perlahan dari pandangan.
Mereka kini menempati rumah lama keluarga Jaya Wiguna. Rumah yang pastinya banyak menyimpan kenangan bagi Andre juga Daniel.
Daniel mengajak sang istri masuk ke kamarnya yang dahulu. Kamar yang telah sembilan tahun telah ia tinggalkan itu ternyata masih seperti yang dulu.
Bahkan semua buku dan lemari pakaiannya masih terlihat rapi. Sepertinya Andre sering berkunjung, atau minimal menyuruh orang untuk membersihkan setiap minggunya.
Daniel teringat Warti. Asisten rumah tangga mereka yang dahulu.
Kemana ya Warti? Sejak aku dan kak Andre pindah ke Bandung, entah kerja dimana wanita itu kini. Daniel hanya bisa bergumam dalam hati.
"Kita, lalu bagaimana Kak?"
"Nikmati saja dulu, Ran! Yang penting sekarang kita sudah suami istri!"
Daniel berusaha menenangkan Maharani. Sungguh pernikahan dini yang rentan bagi kedua insan yang muda belia itu.
Daniel 19 tahun, Maharani 16 tahun. Keduanya masih sama-sama belum faham arti hak dan kewajiban sebagai pasangan suami istri.
Hanya Andre satu-satunya orang yang akan mereka andalkan, tiada yang lain.
...BERSAMBUNG...