Zidane Ar-Rayyan, seorang pria dewasa, mapan dan Sholeh. Seorang doktor lulusan Kairo yang terpaksa menikahi seorang model selebgram cantik dan seksi karena sebuah kesalah pahaman.
Shafa Azura, Guru Bahasa Jerman sekaligus selebgram seksi yang menolak keras pernikahan yang telah terjadi antara dirinya dan Zidane Ar-Rayyan. Shafa memiliki kekasih yang sangat ia cintai. Namun sayang karena keyakinan yang berbeda orang tua mereka menentangnya.
Akankah benih-benih cinta itu muncul ada pernikahan yang di awali dengan kesalah pahaman?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Gaun
"Bu Ita" aku memegang tangan bu Ita yang hendak membereskan tasnya di atas meja.
"Ada apa bu Shafa?" Tanyanya Ramah.
"Aku ingin bicara sebentar, boleh?" Tanyaku. Dia mengangguk mengikuti menuju sebuah bangku tak jauh dari kantor.
"Ada apa sih bu? Kok kayaknya penting banget" Tanya sambil memperhatikan raut wajahku.
"Aku... aku mau jujur sesuatu pada bu Ita" Ucapku ragu-ragu. Aku melihat ia begitu serius mendengarkan ku.
"Tentang apa?"
"Tentang aku dan pak Rayyan" Aku menggigit bibir bawahku. Ku lihat bu Ita nampak agak terkejut.
"Bu Ita, maafkan saya... Sebenarnya aku dan pak Rayyan, ... Kami sudah menikah" Ucapku lirih. Aku menunduk memejamkan mataku. Kalau sampai bu Ita marah terus ngatain atau mukul aku aku Siap.
Hening! Sejenak tak ada suara di antara kami berdua. Ku rasakan dia mengusap bahuku.
"Bu Shafa kenapa minta maaf?" Tanyanya, yang sudah terlihat biasa saja.
"Karena selama ini aku menutupi hubunganku dengan pak Rayyan, dan lagi soal curhatan ibu tempo hari aku merasa sangat bersalah" Ucapku dengan tatapan memelas.
"Sebenarnya, sejak bu Shafa berangkat dengan pak Luthfi tempo hari saya sudah curiga, saya malah mikirnya bu Shafa ini akan di jodohkan dengan Pak Rayyan. Namun, tadi saya ga sengaja lihat bu Shafa turun dari mobil pak Rayyan dan cincin yang ibu pakai itu sepertinya memang pasangan yang di pakai pak Rayyan." Bu Ita ternyata berpikir sejauh itu. Apa jangan-jangan teman-teman yang lain juga berpikiran sama?.
"Tapi aku ga nyangka kalau hubungan kalian sudah sejauh itu, Saya jadi ga enak sama bu Shafa, harusnya saya yang minta maaf" Ujar bu Ita dengan wajah memohon.
Aku memeluk bu Ita, ternyata benar kata mas Ray, dia akan mengerti. Aku senang pada akhirnya ga ada kesalah pahaman antara kita. Aku pikir bu Ita akan marah, ternyata aku salah.
"Bu Shafa kenapa menutupi semua ini?" Tanyanya.
"Karena saya belum siap menerima semuanya? Jawabku. Sekarang aku merasa lebih lega dan leluasa untuk berbicara dengan bu Ita.
"Lalu, foto yang di grup itu?" Tanyanya semakin penasaran. Aku ceritain aja deh, bu Ita keliatannya baek kok.
"Itu pacar saya" Jawabku. Bu ita manggut-manggut mendengar penuturan ku.
"Pasti pernikahan bu Shafa dengan pak Ray karena perjodohan kan? dan karena bu Shafa sudah punya pacar jadi bu Shafa merahasiakannya?" Tanyanya menyelidik. Cocok banget jadi detektif dari pada guru IPA.
"Ga sesederhana itu" Ucapku menggeleng.
"Lalu? Apa sekarang bu Shafa sudah menerima semuanya?" Tanyanya lagi.
"Ya, setelah pak Ray pulang umroh kami memutuskan untuk menjalani kehidupan pernikahan sebagaimana mestinya" Ucapku.
"Oh ya, 2 minggu lagi kami akan adakan resepsi, aku harap bu Ita bisa hadir yah?" Pintaku dengan tatapan Puppy eyes.
"Pasti...!!! Tapi bagaimana dengan teman-teman lain? apakah mereka sudah tau?"
Aku menggeleng, "Bu Ita orang pertama yang tahu" Ucapku yang di balas dengan senyum sumringah bu Ita.
"Aku senang, setidaknya pak Rayyan bersama dengan orang baik seperti bu Shafa. Aku lebih Ikhlas liat Pak Ray dengan bu Shafa dari pada dengan bu Tania" Ujarnya. Tania lagi, aku jadi ngeri kalau ngebayangin wajah marahnya tadi. Kaya pengen nyakar-nyakar.
.
.
.
.
.
"Mas, kok berhenti disini?" Tanyaku pada Mas Ray yang menghentikan mobilnya di depan Restoran jepang.
"Mau makan sayang... Kan kamu tadi belum makan" Ucapnya.
"Loh, kok mas tau?" Tanyaku heran. Memang tadi aku belum sempat makan, gara-gara Tania nafsu makanku jadi ilang.
"Tau dong, ayo turun! Kamu pasti lapar karena habis menghadapi bu Tania" Ucapnya sambil turun dari mobil.
"Eh.. mas tunggu" Aku mengikutinya dari belakang. Kok dia tau sih, apa jangan-jangan dia ngintip lagi.
Aku memesan berbagai macam makanan kesukaanku dan segelas green tea untuk menenangkan jiwa. Mengingat kejadian di sekolah tadi membuat nafsu makanku bertambah. Toh walaupun aku makan banyak tubuhku ga akan melar kaya kebanyakan wanita. Because why? karena aku selalu rutin olahraga. Mas Ray memperhatikanku dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibirnya. Mungkin dia heran punya istri cantik yang doyan makan. Sejak tadi matanya ga berkedip melihatku.
"Mas, kok mas tau sih aku habis ribut sama Tania? Tanyaku.
"Kamu lupa, sekolah kan punya ayah, jadi aku tau semua kejadian di sekolah. Termasuk pak Rudi yang biasa bawain kamu minum kalau siang" Ucapnya dengan ekspresi tidak suka.
"Mas ngintip!" Tunjukku dengan menggunakan sumpit yang sedang sedang ku pegang.
"Ga lah! Aku lihat semua dari cctv di ruangan ayah". Oh iya, kenapa ga kepiran kesana ya. Sekolah sebesar itu mana mungkin tanpa kamera pengawasan yang ketat. Jangankan di ruang guru di depan lorong toilet pun aku melihat kamera pengawas disana untuk mengantisipasi siswa yang diam-diam merokok atau pun pacaran.
"Eh mas, aku udah cerita loh sama bu Ita, dan bener dia gak marah malahan dia dukung aku" Ujarku padanya yang sedang menikmati teh hijaunya. Mas Ray sama sekali tidak memakan apapun, dia hanya duduk manis sambil memperhatikan istrinya yang caantik ini ngoceh kesana kemari.
Setelah selesai makan kita bergerak menuju sebuah Mall menemui Mommy dan ibu. Aku juga janjian dengan Amel dan Vira. Mereka sangat antusias dengan rencana pestaku. Pokoknya pestanya harus meriah, aku harus cantik, pake MUA profesional, gaunnya harus mewah dan lain-lain ocehnya saat ku beritahu rencana kami.
"Mommy.. Ibu" Aku berlari menuju dua wanita yang tengah asik ngobrol dengan owner salah satu butik di mall tersebut.
"Eh, Kalian sudah datang. Ayo kemari cepat" Ajak Mommy yang langsung menunjukan beberapa gaun yang sangat indah dengan taburan permata dan batu-batuan.
"Yang ini bagus Mom" Tunjukku pada sebuah gaun tak berlengan berwarna putih bertabur kristal yang akan menampilkan bagian leherku yang mulus dan jenjang.
"No! Kecuali kamu sudah hilangkan gambar di lenganmu itu anak nakal!" Ujar mommy memelototiku. Ampun deh mommy galaknya ngalahin ibu tiri. Pantesan aja Daddy bertekuk lutut tak berkutik kalau si Mommy sudah ceramah.
"Gimana kalau yang ini!" Mas Ray menunjuk satu gaun berwarna peach muda. Bagian leher dan lenganya penuh dengan batu-batu dan taburan kristal. Simple tapi mewah.
"Mommy setuju, itu memang gaun yang tadi kami pilih untuk Shafa" Ucap emak ku dengan pd nya.
Ah, tapi aku lebih suka dengan pilihan pertamaku. Aku suka gaun seperti di cerita dongeng, seperti gaun yang di film Cinderella yang pernah ku tonton.
Setelah bernegosiasi ulet dengan para emak-emak ini akhirnya di putuskan sebuah gaun peach yang di tunjuk mas Ray tadilah yang akan ku pakai pada saat resepsi, dengan alasan mas Ray tidak ingin bagian tubuh atasku di nikmati orang banyak. Aku setuju, namun aku minta modifikasi di bagian potongan bawahnya karena ku menginginkan gaun yang mengembang dan berekor panjang seperti princess. Ya donk, nikah cuma sekali jadi harus totallitas.
"Hey Sam!" Fokusku teralihakan mendengar mas Ray menyebut sebuah nama. Nama yang coba aku hilangkan dari fikiranku, nama yang telah bersemayam di hatiku selama 2 tahun terakhir, nama yang dulu sering ku sebut dalam doaku. Sebuah nama yang pernah singgah mengisi hari-hariku.
Aku menoleh, dan benar! Seorang pria berkemeja hitam terlihat sedang bertegur sapa dengan Suamiku. Dan dia! Seorang wanita cantik yang dulu sering ku jadikan sebagai tempat mengadu dan bercerita sedang berdiri di sampingnya mengapit mesra lengannya.
"Karina" Ucapku lirih. Tak bisa di pungkiri ada perasaan sedih yang menusuk di dalam dadaku. Bagaimanapun juga, Dia pernah menjadi orang terpenting dalam hidupku. Melupakannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi aku yakin perlahan aku bisa melupakannya karena di sisiku saat ada ada pria yang jauh lebih mencintaiku, dan tulus menerimaku.
"Shafa! Jangan macam-macam" Ancam mommy yang berbisik di telingaku. Sejak insiden aku yang ingin menikah di luar negeri tempo hari, Mommy jadi membenci Sam. Dia bahkan sangat murka ketika mendengar aku berbicara dengannya walaupun hanya lewat telfon.
"Hey Shafa" Sapa Karina melambai ke arahku.
.
.
.
.
.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagibyangbmenjalankan! Jangan lupa tadarus ya.😘 Tinggalin komen and like mu 😍😘