NovelToon NovelToon
Telat Nikah?

Telat Nikah?

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Lin_iin

Aku tidak peduli meski kini usiaku sudah menginjak angka 27 tahun. Yang katanya jika perempuan sudah berumur 27 tahun artinya Tuhan sudah angkat tangan dalam mengurusi jodohku. Aku juga tidak terlalu pusing dengan cibiran tetangga maupun Ibuku sendiri yang mengatakan diriku sudah terlalu tua, hanya untuk menjalani hubungan layaknya anak SMA yang masih saja pacaran.

Ibu bilang, alasanku tidak segera menikah karena aku yang tidak serius menjalin hubungan dengan Kenzo, pacarku. Padahal itu tidak benar. Aku serius, sangat serius malah menjalin hubungan dengannya.

Aku hanya belum siap. Ya, hanya belum siap, kami hanya butuh waktu untuk membuat kami yakin untuk naik ke pelaminan.

Menikah itu tentang kesiapan mental. Aku jelas tidak ingin menikah di saat mentalku belum siap. Aku tidak ingin ketidaksiapan mentalku mempengaruhi keluarga kecilku kelak. Tidak perduli jika usiaku sudah masuk kategori telat menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Jogja

####

Aku memutuskan langsung kembali ke Jogja, keesokan hari setelah acara acara nikahan Airin. Baik Bapak maupun Ibu sempat melarangku pergi, karena aku harus menyetir sendiri. Tapi aku tidak punya pilihan lain karena sore nanti aku sudah harus menemui salah satu anak pejabat daerah yang akan fitting baju di butikku. Selain karena Ayahnya pejabat penting, Ibu dari costumer yang akan fitting nanti juga termasuk pelanggan tetapku jadi aku tidak enak kalau tidak menyempatkan waktu untuknya.

Aku tiba di butik tepat pukul setengah sebelas lebih lima menit. Saat aku masuk ke dalam, semua terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing, mereka bahkan tidak menyadari keberadaanku.

"Masha Allah rajinnya, karyawan siapa ini?" celetukku sambil terkekeh.

Semuanya mengangkat wajahnya dengan kompak, lalu menghentikan aktifitasnya sebelum akhirnya langsung berhambur, mendekat ke arahku.

"Mbak Qilla!!" seru Jihan yang lalu memelukku. "Kangen."

"Iya. Tapi oleh-oleh cuma ini ya. Aku males cari, capek banget rasanya. Mana tadi agak macet," curhatku agak menyesal.

"Yo wes to, Mbak, nggak papa. Masih mending kita dibeliin oleh-oleh."

Aku mengangguk. "Tapi itu aku belinya nggak di Semarang, ya. Maaf."

Raut wajah Jihan terlihat yang paling kecewa, tapi dia tetap berusaha mengangguk.

"Sebenernya pengen protes, tapi liat Mbak Qilla kayaknya capek gini bikin aku nggak tega."

Aku tersenyum berterima kasih kepada Jihan.

"Ngapain aja di Semarang, Mbak, kok kayaknya sampai kurang tidur gini?" tanya Mbak Husna heran.

"Habis bantu-bantu temenku yang nikahan, Mbak. Jadi emang agak kurang tidur," jawabku lalu beralih ke Sandra. "San, tolong cariin makan sama panadol gitu deh. Aku agak pusing deh, kalau udah langsung bawa ke atas, ya," kataku meminta tolong.

"Mau makan apa, Mbak?"

"Apa aja deh. Nasi padang juga boleh."

Sandra mengangguk paham. Kemudian langsung bergegas keluar butik. Sementara aku langsung naik ke atas, Jihan dan Mbak Husna pun sudah kembali bekerja.

Aku memijit pelipisku yang terasa berdenyut. Kemudian memilih merebahkan tubuhku di atas sofa sampai akhirnya aku tertidur. Aku baru terbangun sesaat setelah Sandra membangunkanku.

"Mbak, ini makanannya sudah saya belikan. Mau makan sekarang?" tawar Sandra.

Aku mengangguk sambil mengucek mataku, mengumpulkan nyawaku yang tadi sempat berkelana entah kemana.

"Aku siapain, ya?" tawar Sandra lagi.

Lagi-lagi aku mengangguk dan kali ini sambil tersenyum.

"Mau air putih apa teh, Mbak?" tanya Sandra setelah sampai di dapur.

"Putih aja."

"Hangat atau dingin?"

"Hangat aja kayaknya."

"Oke."

Tak berapa lama Sandra ikut bergabung di sebelahku, meletakkan piring dan juga air hangatku. Aku tersenyum senang saat menyambutnya.

"Makasih loh, kamu perhatian banget, San. Mau minta nambah gaji, ya?" candaku yang membuat Sandra langsung cemberut.

"Aku cuma nggak tega lihat Mbak Qilla."

"Nggak tega kenapa?" tanyaku sambil membuka bungkus nasi padang yang Sandra belikan tadi.

"Aku udah denger, Mbak," ucap Sandra pelan.

Aku mengerutkan kening, menatapnya bingung. Dia sudah denger tentang apa?

"Mas Kenzo. Emang bener ya?"

"Hah?" Aku melongo secara spontan.

Namun, beberapa detik kemudian aku mengangguk, membenarkan.

"Mbak Qilla baik-baik saja?" tanya Sandra khawatir.

Aku tersenyum sambil mengangguk mantap. Namun, bukannya lega Sandra justru malah berdecak.

"Tapi kenapa keliatannya enggak gitu, ya? Wajah Mbak Qilla terlihat enggak baik-baik saja."

Kini giliran aku yang berdecak. "Itu karena aku lagi nggak enak badan. Udah sana kamu turun, kerja!" usirku kemudian. Meski sebenarnya aku masih ingin ditemani sih, cuma karena bahasannya tadi seperti itu ya, aku jadi malas ditemani olehnya. Mending sendiri kan.

"Ya udah, aku turun. Kalau ada apa-apa bilang ya, Mbak."

Aku hanya mengangguk malas, kemudian mengusirnya sekali lagi. Dengan cemberut Sandra langsung beranjak dari sofa, tepat saat hendak menuruni anak tangga, ia berbalik.

"Ohya, Mbak, nggak mau ngecek gaun anaknya Pak--"

"Astaga! Aku baru sampai, San. Nanti aja deh, habis dzuhur," seruku memotong kalimatnya. "Udah, sana kerja!"

"Iya, iya, galak banget mentang-mentang baru putus," gerutu Sandra jelas-jelas mengejekku.

Ck. Ini nih, yang bikin aku malas memberitahunya kalau aku sama Kenzo sudah berakhir hampir tiga minggu ini. Selain karen Sandra itu orangnya kepoan, ia juga tipekal yang suka bersikap berlebihan. Menyamakan orang yang habis putus cinta itu dengan penderita penyakit serius. Ya, seberlebihan itu si Sandra itu.

*****

Pagi ini aku merasa kepalaku makin berat, mungkin efek tidak bisa langsung tidur semalam atau bagaimana, aku juga tidak tahu. Aku bahkan juga merasa seperti agak demam. Dengan langkah berat aku menyibak selimutku kemudian turun dari ranjang. Aku butuh air hangat.

"Duh, kok malah makin pusing, ya. Apa aku perlu pergi ke dokter," gumanku setelah menghabiskan air hangatku.

Aku berpikir sebentar. Mengingat pekerjaanku yang sudah menggunung karena sempat ku tinggal pulang ke Semarang kemarin. Rasa-rasanya aku tidak akan bisa bekerja dengan tubuh seperti ini. Baiklah, sepertinya aku memang perlu ke dokter demi kelancaran pekerjaanku yang akan mendatang.

Tanpa berpikir lebih lama lagi, aku akhirnya bergegas untuk mengganti piyamaku dengan kemeja blus dan juga celana jeans. Setelah memastikan dompet dan juga ponselku masuk ke dalam tas, aku langsung bergegas turun ke lantai bawah.

Semua orang sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Membuatku tersenyum senang melihatnya. Enaknya punya karyawan yang rajin-rajin begini.

"Mau kemana, Mbak?" tanya Jihan.

"Dokter. Masih nggak enak badan nih rasanya."

"Sama siapa, Mbak?" Kini giliran Mbak Husna yang bertanya.

"Sendiri dong, kan mandiri," jawabku percaya diri.

Kalau boleh jujur sebenarnya aku agak ragu sih jika harus menyetir sendirian dalam kondisi seperti ini. Takut menyebabkan kecelakaan.

Mbak Husna langsung melotot. "Jangan to, Mbak. Masa iya ke rumah sakit sendirian, mana muka Mbak Qilla pucet gini. Biar dianterin Sandra." Ia kemudian celingukan mencari keberadaan Sandra, yang ku tebak pasti sedang membuat kopi di belakang.

Dan benar saja, tak berapa lama Sandra muncul dengan secangkir kopi yang masih mengepul.

"Anterin Mbak Qilla, San," perintah Mbak Husna.

Sandra menatapku bingung. "Mau kemana, Mbak?"

"Rumah sakit. Periksa. Kasian Mbak Qilla tuh," kata Mbak Husna sambil menunjukku.

"Belum enakan, Mbak?"

Aku menggeleng lemah.

"Oke. Yuks," ajaknya setelah tadi sempat menyeruput kopi buatannya dan meletakkannya di atas meja.

Jihan dan Mbak Husna menatap Sandra heran, karena Sandra tidak mengomel karena jam ngopinya diganggu. Mungkin kalau dia belum tahu aku putus dengan Kenzo, bisa dipastikan kalau Sandra pasti akan mencak-mencak meski yang harus dianter olehnya itu aku, bosnya.

Aku mengangguk pasrah.

"Tapi aku nggak perlu nemenin kan, Mbak?" tanya Sandra setelah menerima kunci mobilku.

Aku menggeleng. Sandra langsung mengangguk paham. Kami pun langsung bergegas ke rumah sakit terdekat, setelah berpamitan dengan Jihan dan juga Mbak Husna.

Sandra tidak masuk ke dalam, ia hanya menunggu di luar sementara aku masuk sendiri. Mengurus ini itu sendiri. Dan sekarang antri obat pun sendiri. Duh, kepalaku rasanya sudah tidak tahan minta dibaringkan. Harusnya aku tadi mengajak Sandra biar aku tidak mengantuk karena antrian.

"Aqilla?"

Aku membeku. Aku mengenal suara ini. Dengan perasaan gugup aku menoleh perlahan, dan benar saja. Saat aku menoleh aku menemukan pria tinggi dengan kemeja kotak-kotaknya yang sepertinya tengah menatapku khawatir.

Oke. Persiapkan dirimu Aqilla Khanza!

Tbc,

hehe, update terosssss?

siapa yang setuju?

1
Sheety Saqdiyah
gaya bahasa & penulisannya ok, jd nyaman bacanya..
sayangnya baru nemu di penghujung tahun ini..
Ulil Baba
kalau gk gitu nikah udah lama tapi belum hamil pasti banyak yang tanya gitu udah bati durung /udah isi belum,, gimana perasaan mu
Jessica
Luar biasa
Lia Kiftia Usman
itu bedanya rey dan kenzo...
Lia Kiftia Usman
gpp kali...harga menunjukkan kwalitas Alhamdulillah uang hilang gantinya ruko daripada uang hilang ikutan 'judol'..ups🤭
Lia Kiftia Usman
sip... harus itu..memahami rasa menjadi pihak ibu...
Lia Kiftia Usman
aq baca ulang thor karyamu...
Lia Kiftia Usman: siap..
total 2 replies
Quinn Cahyatishine
Luar biasa
Quinn Cahyatishine
aku baca ulang udah agak lupa jalan ceritanya,krn udah lama banget, 🤭
Vie ardila
Luar biasa
Afnina Helmi
udh gk keitung berapa kali aq mampir kesini, krn seseru ini cerita ny
yani djamil
bagus banget, bacanya enak, mengalir tdk ribet, kosa katanya jg bagus, syg terlambat nemunya, semangat Thor /Drool//Good/
yani djamil
bagus banget..enak bacanya, serasa denger org ngobrol...syng baru Nemu..uwun teh ShaNti udh d tunjukin novel yg bagus.. semangat Thor /Good//Pray/
Lina Herlina Hardjati
cuusss
Lilis Rosmayati
ga sk sm qilla. kasian sm kenzo yg bgitu baik. kesha bener nikah ato tinggalin . ngegantung ank orng si qila. nyebelin
Rozzy Haris
ko aku kaya ga ikhlas ya kalo ga sama Kenzo Aqila nya
Alea
ya udah deh Kenzo nya buat aku aja.
gemes banget sama Qila.cowok sebaik sesabar itu kok ditolak nikah.
Kenzo juga,kayak nggak ada cewek lain aja yg mau dinikahin
Alea
baca novel ini karna liat di...di profil mom Shanti.
Di profil ya namanya?
atau apalah namanya🤔pokoknya intinya tau novel ini karena liat mom Shanti yg promosiin.
maciw mom Shanti
Arha🥰: sma kak 😁
iseng buka profilny kak shanti niat cari rekomendasi novel yg bagus, eh nemu ini😁
total 1 replies
Alea
kalau aku diajak nikah sama laki laki kayak Kenzo langsung mau aja dong jangan sampai dia capek nunggu aku siap,terus malah kecantol cewek lain
Oetaribardaini
Masha Allah baru novel yg seru di Noveltoon kyk gni bagus banget ...
Arha🥰: bener kak, alurny spt nyata g terlalu d buat2 kyak novel laennya..
mgkin ad judul novel yg bsa d rekomendasikan kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!