Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
3
“Aku tidak sakit, Kak. Cuma kelelahan saja. Mungkin tadi terlalu banyak berjalan-jalan,” ujar Laras sambil berusaha tenang, tak ingin Raka tahu soal kondisinya.
“Makanya jangan dipaksakan. Tubuhmu kan terbiasa di manja, jadi cepat lelah begini. Jangan sampai bikin ribet. Aku tidak punya waktu untuk mengurus hal-hal seperti itu,” jawab Raka dengan nada dingin.
Laras hanya diam, lalu memejamkan mata. Berharap setelah istirahat malam ini, besok pagi sudah terasa lebih segar kembali.
*****
Setibanya di Indonesia, keduanya langsung dijemput sopir di bandara. Keadaan Laras sudah jauh lebih baik, meski masih terasa sedikit lemas. Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tua Raka, suasana di dalam mobil terasa sunyi.
“Assalamualaikum,” sapa Laras begitu melangkah masuk.
“Waalaikumsalam, ayo masuk. Raka dan Laras sudah pulang,” panggil Sari sambil menoleh ke arah ruang dalam.
Mendengar suara itu, Bima segera keluar dari ruang kerjanya. Ia menghampiri, lalu duduk bersama di ruang tamu.
“Wah, pengantin baru sudah kembali. Bawa oleh-oleh apa saja untuk kami?” tanyanya sambil tersenyum.
“Pasti ada, Pa,” jawab Laras sambil mencium tangan ayah mertuanya.
“Papa cuma bercanda. Yang penting kalian pulang dengan selamat, itu sudah cukup,” kata Bima lembut.
“Bagaimana rasanya di Swiss? Semua berjalan lancar?” tanya Sari lagi.
“Sangat menyenangkan, Ma. Tempatnya indah sekali, persis seperti yang selama ini dibayangkan. Terima kasih banyak sudah menyediakan perjalanan ini,” jawab Laras dengan nada tulus.
Bima dan Sari ikut bahagia melihat semangat menantunya, meski sadar hanya Laras yang terlihat benar-benar menikmati momen itu. Sementara Raka hanya diam saja, sibuk melihat layar ponselnya.
Keduanya mengerti. Menerima pernikahan bukan hal yang mudah bagi Raka. Mereka hanya bisa berdoa, semoga hatinya perlahan terbuka seiring berjalannya waktu.
“Pa, Ma, aku ke kamar dulu. Tubuhku rasanya capek sekali,” pamit Raka sambil berdiri.
“Raka,” panggil Bima.
Raka berhenti sejenak. “Ada apa lagi, Pa?”
“Ajak istrimu masuk. Jangan kira hanya kamu yang butuh istirahat,” tegur Bima pelan namun tegas.
“Baiklah," jawab Raka, lalu melangkah pergi.
“Nak, ikutlah istirahat. Cerita bisa dilanjutkan besok,” ujar Sari menenangkan.
“Baik, Ma. Kalau begitu aku istirahat dulu. Assalamualaikum,” pamit Laras.
*****
Pagi Hari
Sinar matahari mulai masuk lewat celah jendela. Raka terbangun dengan badan terasa kaku dan pegal. Ia tidur di sofa semalaman, sengaja menjauh agar tidak berbagi tempat tidur dengan Laras. Masih teringat kejadian saat di Swiss, ketika terbangun dan mendapati istrinya memeluk tubuhnya erat.
Bahkan saat Laras meminta agar tidur satu ranjang saja, ia tetap menolak. Berusaha menjaga jarak sejauh mungkin, seolah kehadiran gadis itu hanya mengganggu ketenangannya.
“Badanku rasanya sakit semua. Kalau begini terus, lama-lama aku tidak tahan juga. Aku harus dicari cara agar dia tidak betah bersamaku,” gumamnya dalam hati.
Seluruh badannya terasa kaku dan nyeri. Sofa di kamar itu terlalu pendek untuk menampung postur tubuh yang tinggi, sehingga harus terus membungkuk sepanjang malam agar bisa berbaring.
Raka terus memikirkan cara agar tidak perlu berbagi kamar dengan Laras. Selama masih tinggal di rumah orangtuanya, keinginan itu rasanya mustahil terwujud. Pasti Darma dan Sari akan menentang keras jika mendengar rencana semacam itu.
“Sial… pagi-pagi kepalaku sudah pening gara-gara gadis itu,” geramnya sambil mengacak rambut.
Tak ingin suasana hati semakin buruk, ia memutuskan bersiap berangkat ke kantor.
Saat melangkah ke kamar mandi, matanya melirik sekilas ke arah ranjang. Disana Laras terlelap dalam posisi yang jauh dari kata rapi ataupun kesan anggun.
“Dasar manja. Jam segini masih tidur.
Harusnya sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan, tapi malah tidur nyenyak begini. Akan kubuat tidak betah menjadi istriku,” batinnya, disertai senyum miring yang penuh niat buruk.
Ia melanjutkan kegiatannya tanpa berniat membangunkan Laras. Menurutnya, hal itu hanya akan memicu emosi lebih cepat jika terganggu tidurnya.
Hingga selesai berpakaian rapi untuk ke kantor, Laras belum juga terbangun. Tidurnya terlalu lelap, kemungkinan karena kelelahan setelah perjalanan jauh semalam.
Raka mengambil tas kerja dan bergegas keluar kamar. Ia segera menuju ruang makan tempat kedua orang tuanya sedang menikmati sarapan.
“Pagi, Ma, Pa,” sapa Raka, lalu duduk bergabung.
“Pagi, Nak. Kok sendirian saja? Dimana Laras?” tanya Sari
“Masih tidur. Sudah biasa memang, jam segini belum bangun. Mungkin di rumahnya dulu tidak pernah terbiasa bangun pagi. Sudah terbiasa dilayani asisten,” jawab Raka sambil mengoleskan selai ke atas roti.
“Mulutmu itu terlalu tajam. Ingat, dia istrimu sendiri,” tegur Sari lembut namun tegas.
“Jangan terlalu cepat menilai orang. Apa yang terlihat belum tentu benar. Jangan berprasangka buruk tanpa alasan. Bisa saja dia memang sangat lelah setelah perjalanan jauh, dan kamu tahu betul fisiknya tidak sekuat orang lain. Jangan sembarangan menuduh. Perlakukan dia dengan baik, buka hatimu sedikit. Jangan sampai ketika dia pergi, kamu baru sadar betapa berharga kehadirannya,” nasihat Bima dengan nada serius.
Raka hanya diam mendengarnya, tak berani membantah. Baginya, semua nasihat itu sia-sia saja, karena orangtuanya pasti selalu berpihak pada menantu pilihannya.
Suasana meja makan kembali hening setelah percakapan itu. Ketiganya menghabiskan makanan dalam diam. Setelah selesai, Raka berpamitan dan segera berangkat ke kantor.
Setelah Raka berangkat, Sari mulai mengungkapkan kekhawatirannya kepada suami. Sikap putranya terlihat jelas tidak menyukai Laras, dan hal itu membuat hatinya gelisah.
“Mas, aku takut Raka tidak akan pernah bisa menerima Laras sebagai istrinya. Takut juga dia menyakiti hati gadis itu. Apa yang harus kita lakukan agar hati Raka perlahan luluh?” tanya Sari dengan nada cemas.