Juara Pertama "Lomba Menulis Novel Cerita Seram" yang diadakan oleh Noveltoon.
Mbah Arni dan suaminya bersahabat dengan seorang penari tradisional. Saat menginap di rumah Mbah Arni, penari itu tiba-tiba lenyap ditelan bumi.
Semenjak hilangnya penari itu, setiap malam Mbah Arni merasa ada yang berkelebatan di sekitar rumahnya. Terlebih, ketika suaminya sudah meninggal dan Mbah Arni tinggal sendirian, bayangan itu semakin intens mengganggu perempuan tua itu.
Apa yang terjadi dengan penari itu? Mengapa sahabat lain Mbah Arni yang bernama Lastri memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri?
Mengapa Imran dan Parto takut dengan Mbah Arni?
SEASON KEDUA
Imran yang baru masuk SMP bertemu dengan seorang gadis misterius yang hanya ia temui di hari pertama ia bersekolah.
Ke mana perginya gadis itu?
Mengapa nama gadis itu sama dengan nama teman kedua orang tuanya yang tewas kecelakaan puluhan tahun yang lalu?
Apa yang dilakukan ayah Imran dan teman-temannya ketika SMP?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Junan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 25 GEDUNG ANGKER
Rumah Mbah Arni sudah kami lewati, kini kami hanya berjarak tidak lebih dari limabelas meter dari gedung KUD yang lama tidak dipakai. Sesosok bayangan yang sempat aku lihat tadi dari kejauhan sudah menghilang entah kemana. Yang ada hanya bangunan tua dengan ukuran cukup besar, serta terkesan angker bagi siapa saja yang melihatnya, terutama di waktu malam seperti saat ini. Gedung KUD tersebut dikelilingi oleh pagar besi yang sudah karatan. Di sekeliling gedung banyak terdapat pohon dengan daun yang rindang serta semak belukar yang tidak terawat, menambah kesan angker gedung tua tersebut.
"Im, kita cari bagian pagar yang sudah rusak, supaya kita bisa masuk!" kata Mbah Nur dengan berbisik kepadaku.
"Inggih, Mbah." Aku menjawab juga dengan berbisik ke telinga beliau.
Aku paham, mengapa tadi Mbah Nur memerintahkan kita mencari bagian pagar yang rusak, supaya kita masuknya tidak usah lewat pintu gerbang depan. Perkiraan beliau, tentunya kalau Agus memang benar berada di dalam gedung tua itu, pasti dia sedang mewaspadai pintu gerbang tersebut. Atau bisa jadi ia sudah memasang jebakan di pintu gerbang depan, yang dapat mencelakai siapa saja yang akan melewatinya.
"Itu, Mbah. Di belakang gedung sepertinya ada lubang yang muat untuk kita bisa masuk ke dalam." Kata Parto kepada Mbah Nur.
"Inggih, Mbah. Benar yang dikatakan Parto barusan. Aku juga melihat lubang itu." tambahku.
Mbah Nur memicingkan mata tuanya untuk dapat melihat lubang seperti yang kami lihat berdua. Setelah itu beliau manggut-manggut.
"Ayo, kita masuk ke dalam melalui lubang itu!" Jawab pria sepuh tersebut sambil melangkah mendekati lokasi yang dimaksud.
"Ayo, Mbah!" Jawab kami berdua dengan penuh semangat.
Ternyata suasana di belakang gedung KUD jauh lebih gelap dari sekitarnya karena di sana terdapat lebih banyak pohon besar-besarnya. Tiba-tiba aku mencium bau yang tidak lazim
"To, aku kok mencium seperti bau singkong bakar, ya?" ucapku
"Iya. Aku juga, Im. Sampean mencium juga, Mbah?" jawab Parto
Mbah Nur mendengus untuk menajamkan tangkapan indera penciumannya. Kami memperhatikan dengan seksama apa yang sedang dilakukan oleh Mbah Nur tersebut dan menunggu dengan harap-harap cemas apa yang akan beliau katakan atau perbuat setelahnya
"Hati-hati, Im, To. Jangan lupa selalu berdzikir." Ucap Mbah Nur kepada kami berdua.
"Apa kata Mbah Nur, Im?" bisik Parto yang kebetulan kurang begitu jelas mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Mbah Nur.
"Kita disuruh untuk banyak-banyak berdzikir dan berdoa" jawabku kepada Parto
"Ooo.... kirain ada orang jualan singkong di dekat sini " kelakar Parto yang terdengar mengesalkan bagiku.
TAK
Sebuah jitakan aku layangkan ke kepala Parto dan iapun meringis kesakitan sambil mengucek-ngucek kepalanya.
"Kamu kok marah sich, Im? Aku kan cuma bercanda" ujar bocah ingusan satu tingkat di atasku tersebut.
"Jangan bergurau, tetap berdzikir!" kata Mbah Nur agak keras.
HAAAAAAAAAAAAAAHHHHH
Terdengar suara desahan agak keras entah dari mana asalnya, yang jelas ketika mendengarnya nyaliku menjadi ciut seketika. Aku dan Parto sama-sama merapat ke tubuh Mbah Nur. Selama sekian detik kami tidak saling berbicara, suara desahan itu benar-benar mampu meluluhlantakkan keberanian yang aku miliki. Yang ada di pikiranku adalah aku pasti akan bertemu lagi dengan makhluk tinggi besar tempo hari itu. Waktu itu aku mungkin bisa lolos dari si genderuwo, tapi kali ini apakah aku bisa lolos lagi?
HAAAAAAAAHHHHH
Terdengar desahan yang kedua, kali ini suaranya lebih keras dan melengking dari yang pertama tadi. Aku dan Parto semakin erat memeluk tubuh Mbah Nur.
"M-mmm-mbaaaaah...... " Aku bergetar saking takutnya
"Ayo berdzikir terus! Lahawla wala quwwata illa billaaaah." Ucap Mbah Nur keras-keras
"Lahawla wala quwwata illa billaaaaah....." Kami terus membaca kalimat yang dicontohkan oleh guru ngaji tersebut.
Kami berdua mengikuti ucapan Mbah Nur, tetapi tubuh kami masih gemetar. Sekitar tiga kali kami mengucapkannya tiba-tiba terdengar hentakan kaki seperti orang berlari menuju ke arah kami. Tetapi suara hentakan kaki tersebut seratus kali lebih keras dari hentakan kaki manusia biasa. Saking kerasnya suaranya, seolah-olah tanah yang kami pijak seperti bergetar.
DAR
DER
DAR
DER
Suara derap langkah kaki itu menggema dan semakin dekat ke arah kami. Mataku otomatis memeriksa sekeliling mencoba mencari arah sumber suara itu, dan kemudian aku terkejut sekali,
"Ya Tuhan....." pekikku tertahan
Aku melihat dari arah depan sekitar tujuh meter, tiba-tiba muncul makhluk tinggi besar sedang berlari menuju ke arah kami berdiri. Mataku melotot saking terkejutnya, makhluk tinggi besar itu berlari dengan sangat cepat, dan dalam sekejap mata ia sudah sampai di hadapan kami. Aku dapat melihat tubuhnya yang penuh dengan bulu tebal, matanya besar, merah menyala seperti senter. Dalam rasa kengerianku
BRAAAAAAAAK....
Tangannya yang besar berbulu lebat menghantam tubuh kami bertiga, aku melayang dan terlempar ke semak-semak. Mbah Nur dan Parto tergeletak tak berdaya di sebelahku.
"Aduh,.........." pekikku
Dadaku terasa sakit sekali, hantaman tangan besar genderuwo itu bukan main kerasnya. Untunglah aku jatuh ke semak-semak, kalau jatuhnya ke batu atau logam? Entahlah, aku tak bisa bayangkan bagaimana sakitnya. Aku mengatur nafas sambil mencoba merangkak ke arah Mbah Nur dan Parto.
"To,... Kamu tidak apa-apa?" tanyaku kepada sahabatku itu.
"Aku tidak apa-apa, Im. Hanya kakiku yang sakit. Sepertinya tadi tersangkut ranting pohon." Jawab Parto sambil meringis menahan sakit.
"Mbah, bagaimana keadaan sampean?" tanyaku kepada guru ngajiku itu.
Belum sempat Mbah Nur menjawab, aku kembali mendengar suara dentuman langkah kaki sedang berlari menuju ke arah kami. Iya, genderuwo itu sepertinya akan menyerang kami bertiga kembali.
HAAAAAAAAAAAHHH......
Suara desahannya terdengar sangat keras memekakkan gendang telinga. Tubuhnya yang tinggi besar berlari semakin dekat ke arah kami
DAR
DER
DAR
DER
Langkah kakinya yang besar membuat tanah di sekitarnya seperti bergetar. Kami bertiga masih menahan sakit atas serangan yang sebelumnya, dan belum siap untuk menerima serangannya yang kedua. Sambil berlari, mata genderuwo itu melotot dan memunculkan cahaya berwarna merah. Jarak makhluk tersebut semakin dekat dengan kami bertiga.
Tiga meter
Dua meter
Satu meter
"Allahuakbar......" Suara teriakan kami bertiga bergema di keheningan malam.
Aku sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi setelahnya. Fisik ini masih terasa sangat sakit dan tidak mampu lagi untuk mengelak apalagi melawan serangan genderuwo itu. Tenaga kami bertiga tentu tidak apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan fisik makhluk tinggi besar itu. Aku tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada kami bertiga.
-bersambung-
pak rengga melecehkan mita karna minta cantik dan makaya ada cerita anak dilecehkan saat masuk ruang lab pak rengga, mita hamil dan pak rengga gak mau tanggung jawab makanya dia coba bunuh Mita dgn menabrak mita
baru beberapa chapter aja udah buat sakit jantung