Revina Angelina adalah mahasiswa baru di universitas Angkasa.. Ia mendadak populer disana berkat dance nya yang bagus sehingga mencuri perhatian laki-laki disana.
Suatu hari Revina ditembak oleh seniornya yang bernama Radian.. Namun, ia menolaknya.
Hal itu membuat Radian kecewa dan bersumpah akan menghancurkan hidup Revina lantaran ia sudah membuatnya malu dihadapan seluruh mahasiswa.
Ketika Radian terus menerus membully Revina, seorang lelaki bernama Muzaki datang menolongnya.
Muzaki merupakan cowok dingin dan jarang berinteraksi dengan wanita.
Lalu, seperti apa kisah mereka bertiga???
Baca yuk novel terbaruku ini..!!
Jangan lupa like,komen + gift kalo boleh...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon patrickgansuwu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏
...×××...
#ANGKASA EPS. 24
...•...
...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...
...❤️❤️❤️❤️...
Sesudah selesai latihan, Revi kini bersiap untuk pulang karena urusannya telah usai dan tidak ada lagi yang bisa ia lakukan disana. Revi menghampiri Oni serta sang pelatih untuk berpamitan, setelah ia membereskan semua barang-barang yang ia bawa ke tempat latihan dan menyeka keringatnya.
Kebetulan Syahra serta teman-temannya yang lain juga sudah pulang lebih dulu, karena mereka itu tidak menyukai keberadaan Revi dan Oni di tim mereka.
"Kak Oni, coach. Aku pamit pulang, ya?" ucap Revi.
"Eh iya Revi, kamu hati-hati ya di jalan! Pulangnya naik apa?" ucap Jefri alias pelatih mereka.
"Aku dijemput sama supir, coach." jawab Revi.
"Oh, baguslah. Kalau begitu kamu boleh pulang, tapi jangan lupa buat pelajari lagi gerakan tadi di rumah karena sebentar lagi kita ada lomba antar kota yang harus dimenangkan!" ucap Jefri.
"Siap, coach!" ucap Revi sambil tersenyum.
Setelahnya, Revi pun bersalaman dengan Jefri dan juga Oni sebelum pergi dari sana meninggalkan mereka.
Saat Revi baru keluar dari tempat latihannya, tiba-tiba ia sudah dicegat oleh Muzaki si senior yang nampaknya mulai menyukai Revi karena sikap baik Revi kepadanya dari pertama mereka bertemu.
"Hai!" sapa Muzaki sambil melambaikan tangan.
Revi sedikit terkejut melihat Muzaki ada disana. Sebenarnya Revi juga ingin menghindar dan menjauh dari seniornya itu, karena ia tidak mau jika ada masalah lagi antara dirinya, Muzaki dan juga Radian alias pria yang pernah menembaknya di hadapan seluruh mahasiswa kampus angkasa.
"Kamu udah selesai kan latihannya?" tanya Muzaki.
"Eee iya, udah kok." jawab Revi.
"Yaudah, aku anterin kamu pulang ya?" ucap Muzaki menawarkan tumpangan sembari memberikan helm kepada Revi.
"Eee maaf kak, tapi aku udah dijemput di depan. Mungkin lain kali aja kita pulang barengnya, maaf banget ya kak!" ucap Revi menolak.
"Oh gitu, yaudah gapapa. Kalo gitu sekarang kita barengan aja ke depannya, itung-itung aku tetap nganterin kamu!" ucap Muzaki tersenyum.
Revi hanya mengangguk pelan lalu tersenyum.
Mereka pun jalan berdampingan menuju ke depan kampus, ada rasa aneh yang mengganjal di hati Muzaki saat berdekatan dengan gadis itu. Tampak pria tersebut juga selalu melirik sekilas ke arah Revi seperti orang tengah jatuh cinta.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam tak berbicara sedikitpun, bahkan Revi lebih sering menundukkan kepalanya karena merasa canggung.
Sampai akhirnya, mereka pun tiba di depan kampus dan akan berpisah jalan. Ya Muzaki tentunya pergi ke tempat ia memarkir motor, sedangkan Revi tetap berjalan lurus ke depan menunggu jemputan datang sembari bermain ponsel.
"Rev, aku duluan ya?" ucap Muzaki pelan.
"Eh iya, kak. Hati-hati ya!" ucap Revi sambil tersenyum.
"Kamu juga!" ucap Muzaki singkat.
Setelahnya, Muzaki pun pergi menuju tempat parkir motor untuk mengambil motor miliknya. Muzaki masih sesekali menoleh ke belakang dan menatap Revi lalu tersenyum, ada sedikit rasa kecewa di dalam lubuk hatinya karena Revi menolak tawaran darinya untuk pulang bareng. Namun, tentu Muzaki tidak ingin memaksa kepada Revi untuk ikut dengannya.
Sementara Revi kini masih menunggu jemputan supirnya di depan gerbang kampus sembari bermain ponsel dan sesekali melihat ke sekeliling untuk memastikan apakah supirnya sudah datang atau belum.
Suasana di kampus saat ini memang sudah lumayan sepi dan hanya tersisa beberapa orang termasuk dirinya disana.
"Revi!"
Tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil namanya dari arah belakang, sontak Revi terkejut dan langsung menoleh untuk memastikan siapakah yang memanggilnya itu.
Revi bertambah syok saat melihat Radian ada disana dan menghampirinya sambil tersenyum.
"Hai, Rev! Belum pulang?" ucap Radian.
Revi yang bingung masih terdiam dan tak tau harus berbicara apa saat ini, ia sungguh tidak ingin bertemu apalagi berbicara dengan pria tersebut.
"Belum," jawab Revi singkat.
"Ohh, mau bareng gue aja gak? Kebetulan jok belakang motor gue itu kosong, jadi bisa lah buat boncengin lu! Gimana, berminat? Ini gue baik loh udah tawarin tumpangan buat lu, supaya lu gak kesorean di kampus!" ucap Radian.
"Eee gausah, kak. Aku udah ada jemputan kok, paling sebentar lagi nyampe!" ucap Revi menolak.
"Oh gitu, yaudah kalo gitu gue temenin lu disini ya sampai jemputan lu dateng? Gapapa kan?" ucap Radian langsung berdiri di samping Revi.
"Hah? Udah gausah, kak. Aku sendiri aja!" ucap Revi.
"Gapapa, gue cuma khawatir kalau terjadi apa-apa sama lu! Kan sekarang udah sepi dan menjelang Maghrib, biasanya banyak penjahat muncul atau makhluk-makhluk tak kasat mata! Apalagi di kampus ini kan terkenal angker, jadi mending lu jangan sendirian deh disini! Biar gue temenin aja, ya?" ucap Radian memaksa.
"Eee yaudah, terserah kamu aja!" ucap Revi pasrah.
"Nah gitu dong, kalo gitu kan enak jadinya!" ucap Radian tersenyum senang karena Revi memperbolehkan ia untuk menemaninya disana.
Akhirnya Revi pun memilih duduk disana dan langsung diikuti oleh Radian yang juga duduk di sebelahnya sambil tersenyum memandang ke arahnya.
Revi tampak canggung untuk membalas tatapan mata Radian, ada rasa benci juga yang masih ia rasakan pada sosok pria di sampingnya itu karena telah membuatnya malu kala itu.
Ya peristiwa pesta topeng itu memang membuat Revi sangat malu dan hingga kini belum dapat melupakannya, walau lisannya telah mengucap kalau ia memaafkan Radian dan mau berdamai dengan semua ini. Namun, tetap saja yang namanya luka hati akan terus berbekas hingga pemiliknya mati suatu hari nanti.
Radian perlahan menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Revi.
Revi menyadari itu dan langsung bergerak.
"Kak, maaf! Sebaiknya kita jangan terlalu dekat, gak enak kalau dilihat orang lain! Toh kita juga bukan siapa-siapa, hanya sebatas junior dan senior!" ucap Revi meminta Radian untuk berhenti mendekatinya.
"Oh iya, aku paham kok! Aku cuma gak mau ada sesuatu yang ngisi kursi kosong ini, bahaya loh!" ucap Radian tersenyum tipis.
"Kak, tolong jangan bicara tentang mistis ke aku! Percuma aja, aku gak akan percaya dengan itu semua walau kamu berusaha nakut-nakutin aku! Karena semua itu cuma mitos, gak ada yang benar!" ucap Revi kesal karena Radian terus saja membahas soal makhluk tak kasat mata.
"Oke, maaf!" ucap Radian menunduk.
Tak lama kemudian, Muzaki muncul kembali disana dengan motornya. Ia tampak terkejut saat melihat Revi tengah bersama Radian dan mereka duduk berdekatan di dekat gerbang kampus, Muzaki pun merasa cemburu dan merasa jika Revi sengaja menolaknya agar bisa berduaan dengan Radian bukan karena dijemput oleh supir.
"Kamu kenapa lebih pilih Radian daripada aku?" gumam Muzaki.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...