Hope memutuskan untuk tinggal di rumah kakeknya di desa Bibury—Inggris Selatan, setelah ia dipecat dari pekerjaannya. Di sana, Hope bertemu dengan Blue Hawkins. Pria muda, kaya dan bertalenta yang memilih untuk mengurung diri di rumah almarhum kakeknya.
Pertemuan pertama mereka tidak berjalan dengan baik. Blue tidak suka diganggu oleh orang asing dan Hope berusaha masuk ke dalam hidup Blue.
Saat Blue Hawkins bertemu dengan Hope Miller, di situlah ia sadar bahwa beberapa rencana dalam hidup tidak akan berjalan sesuai rencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sin Cera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25: Kau yang Masuk ke Hidupku
[Entahlah, haruskah aku mengikuti kata hatiku saja, dan berhenti terlalu banyak berpikir? —Blue Hawkins]
Setelah kepergian Hope, Blue segera pergi mengunjungi makam kakeknya. Lantainya yang tadi masih kotor berserakkan makanan, ia abaikan. Akan ia bersihkan nanti saja.
Blue menghentikan mobilnya di sebuah toko bunga untuk membeli sebuket lily putih untuk kakeknya. Dulu, saat masih hidup kakeknya suka sekali dengan lily putih. Karena, katanya lily putih selalu mengingatkannya bahwa dunia ini fana, dan pada akhirnya ia akan mati.
Saat menunggu rangkaian bunga dari sang floristry, mata Blue menangkap satu pot kecil kaktus. Pikiranya melayang pada kejadian bertahun-tahun lalu. Saat kakeknya pertama kali memutuskan untuk merawatnya. Untuk pertama kali pula ia tinggal bersama kakeknya. Saat itu ia sangat sedih karena orang tuanya yang berkelahi hebat dan hendak bercerai.
Biarpun ia sudah tinggal terpisah dengan orang tuanya dan tinggal dengan kakeknya. Namun, Blue yang masih kecil saat itu selalu terngiang-ngiang kejadian saat orang tuanya saling berteriak. Hal itu membuatnya selalu merasa sedih.
Kakek Blue ikut sedih melihat cucunya terluka. Jadi untuk mengalihkan pikiran Blue yang masih kecil, kakeknya memberinya satu pot kecil kaktus dan meminta Blue untuk merawatnya. Kakeknya bilang bahwasannya Blue harus merawat kaktus itu agar pikirannya teralihkan.
"Buket anda sudah selesai, Sir," suara seorang perempuan memecahkan lamunan Blue.
Blue mengalihkan pandangannya dari pot kaktus. Di hadapannya berdiri floristry yang sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia menyodorkan buket bunga lily kepada Blue sambil tersenyum.
"Ah, ya," kata Blue pendek sambil merogoh saku celananya dan mengambil dompet. Blue memberikan beberapa uang tunai untuk membayar buket tersebut.
"Thank you," ucap Blue sambil mengambil buket dari tangan sang floristry.
"For my pleasure," kata floristry sambil tersenyum ramah.
Blue yang hendak pergi mengurungkan niatnya. Pandangannya tertuju ke arah kaktus kecil tadi. "Ma'am, bisakah saya membeli kaktus itu juga?"
Blue mengedarkan pandangannya kesekitar. Pemakaman terlihat sepi dan sunyi. Tak ada pengunjung selain Blue. Ia menundukkan pandanngannya ke bawah, dan meletakkan sebuket bunga lily yang tadi ia beli di atas gundukkan makam kakeknya.
Blue berjongkok sambil menatap lamat-lamat nama kakeknya yang terukir di atas batu—Jeremy Hawkins. Blue membersihkan dedaunan yang rontok di atas gundukkan makam kakeknya.
Mata Blue perlahan mulai berair. Ini merupakan kali pertamanya mengunjungi makam kakeknya semenjak kakeknya pergi meninggalkannya.
"Halo, Kek. Apa kabar?" kata Blue dengan suaranya yang mulai terdengar serak. Blue tahu, berbicara dengan gundukkan tanah adalah tindakan bodoh. Tapi, kegiatan itu dapat menenangkannya karena setidaknya ia merasa seperti berbicara dengan kakeknya. Walaupun ia tahu tidak akan pernah mendapatkan jawaban.
"Maaf aku datang terlalu sore. Padahal awalnya aku hendak mengunjungi Kakek lebih siang. Agar kita bisa mengobrol lebih lama."
Pandangan Blue menerawang. Kemudian ia tersenyum tipis. "Sebentar lagi, aku akan menyusulmu."
"Jika, Kakek masih hidup, aku tahu pasti Kakek akan menentang keras keputusanku. Tapi, Kek, tak ada hal yang bisa kulakukan lagi. Penyakit ini tidak akan sembuh walaupun aku melakukan pengobatan. Jadi kurasa mati adalah pilihan terbaik. Aku hanya mempercepat kematianku."
"Jangan terlalu memarahiku, Kakek tahu sendiri kalau semua orang pada akhirnya akan mati. Aku hanya mempercepat waktunya saja," Blue terus berbicara tanpa henti dengan tatapan sendu dan menerawang.
"Ah, ya. Aku tadi bermain catur dengan Kakek Sam... teman dekatmu." Blue menghela napasnya.
"Dia punya cucu. Seorang gadis yang menyebalkan. Beberapa waktu belakangan ini, dia selalu mengangguku. Aku ingin kisah hidup yang tenang sebelum aku menyusul Kakek. Tapi, tiba-tiba dia memasuki hidupku."
Blue mengangkat sudut bibirnya. "Dia sangat ribut dan menganggu. Dia bilang ingin menjadi temanku. Aku tidak yakin, apakah harus menerimanya memasuki hidupku atau tidak. Tapi, perlahan dia benar-benar masuk walaupun aku sudah menolaknya sekuat tenaga."
"Menurut Kakek, apakah terlibat dengannya dan juga Kakek Sam merupakan keputusan yang baik untuk menjadikan mereka salah satu tokoh dalam lembaran-lembaran akhir cerita hidupku? Aku tidak tahu apakah tindakanku benar. Aku hanya takut merasa kecewa karena memiliki ekspektasi tinggi."
Blue menggosok-gosok tangannya karena udara semakin dingin. "Aku tahu apa jawaban Kakek atas pertanyaanku. Kakek pasti akan mengatakan bahwa aku harus mengikuti kata hatiku."
"Sejujurnya, Kek. Aku bingung dengan hatiku. Aku takut ia salah dan terluka. Tapi, sayangnya dia sudah mengambil alih sebagian diriku."
Blue baru saja sampai di rumahnya saat bel berbunyi. Hari sudah cukup gelap jadi pasti ini merupakan Hope yang mengantar makan malam. Apa gadis itu sudah pulih dari kesedihannya? Blue harus meminta maaf atas penghiburannya yang payah tadi. Jadi, ia bergegas pergi membukakan pintu.
Namun, bukannya Hope yang berdiri di hadapannya. Tapi, Kakek Sam yang tersenyum lebar. "Bagaimana kunjunganmu?" tanyanya sambil menyodorkan nampan makanan.
Aku menerima nampan yang disodorkan Kakek Sam. "Baik. Aku menyampaikan salammu kepadanya. Walaupun, yah... tak ada jawaban dan sia-sia. Tapi, kuyakin Kakek pasti tersenyum di surga."
Kakek Sam mengangguk-anggukkan kepalanya. "Makanlah. Aku tak mau menganggumu lebih lama. Ini sudah cukup larut. Aku pergi dulu," kata Kakek Sam sebelum berbalik untuk pergi.
"Kakek Sam," panggil Blue.
"Ya, Nak?" sahut Samuel sambil menolehkan kepalanya ke arah Blue.
"Bagaimana keadaan Hope?" tanya Blue ragu-ragu.
Wajah Kakek Sam tampak lesu seketika namun tetap berusaha menampilkan ekspresi terbaiknya. "Dia belum makan sejak siang. Entahlah, sepertinya ia menangis. Aku belum menanyakan apapun dan ia belum cerita apapun padaku karena ia masih tertidur sekarang. Mungkin lelah karena menangis. Apa kau tahu sesuatu?"
"Aku tau. Tapi, kurasa kau harus bertanya kepadanya sendiri secara langsung."
Blue tiba-tiba teringat dengan kaktus yang ia beli tadi. Ia tadi memang teringat Hope dan sengaja membelikannya untuk gadis tersebut.
"Tunggu sebentar, Kek," kata Blue sambil berlari memasuki rumahnya. Ia meletakkan nampan makanan di meja makan. Kemudian berlari memasuki kamarnya.
Blue merobek selembar kertas dari buku catatannya. Ia mengobrak-abrik laci nakasnya untuk mencari bolpoin yang sudah lama tak digunakannya. Setetelah itu ia menulis pesan singkat untuk Hope.
Blue melipat kertas di tangannya dan meletakkannya di atas pot kaktus yang berada di dalam kantong tas berwarna bening. Blue pun membawa kantong berisi kaktus tersebut ke Kakek Sam yang sudah menunggu di depan rumahnya.
"Bisakah aku menitipkan ini untuk Hope? Aku tadi menemukannya saat sedang membeli buket bunga untuk kakekku," kata Blue sambil menyodorkannya ke arah Samuel.
Kakek Sam tersenyum lebar. "Wah, apa ini hadiah?Kau baik sekali, Nak."
Blue menggosok tengkuknya. "Tidak. Aku hanya menemukannya tadi dan tanpa sengaja membelinya. Setelah sampai rumah aku sadar bahwa aku tidak bisa merawat tanaman dengan baik. Jadi, kupikir lebih baik kuberikan saja pada Hope. Siapa tahu dia bisa menjaganya lebih baik," kata Blue mencoba memberi alasan. Namun, penjelasan panjang lebarnya malah membuat senyum Kakek Sam semakin melebar.
buat author nya, terimakasih untuk karya cantiknya
huwaaa hu-hu-hu 😭😭😭😭😭🤧😤
😭😭😭😭😭😭😭🤧🤧🤧🤧🤧
masa' iya datang ke pernikahan mantan cuman ajak teman atau ngaku bw tetangga, hi-hi-hi. nggak lucu atuh Hope, ketahuan jomblo nya, wkwkwk 😂🤣🤣🤣
💕💕💕
can't we wish them together with love
semangat ya ka💪💪👍
baperrr kok marah-marah neng....
🤪🤪🤪
auto ngakuin perasaannya sama Blue ☺️🙈🙈🙈
Blue : "tentu Hope... jika aku masih punya waktu dan harapan, tentu aku akan menangkap hatimu." 💕💕💕🥰
i hope so
Will punya kekasih baru dan sekarang pasti memutuskan hubungan dengan Hope
jangan-jangan dia sudah punya pacar yang lain