Candra adalah seorang CEO yang memiliki orientasi penyimpanan seksual, Candra di jodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang colonel cantik.
Mereka selalu terlibat perselisihan satu sama lain, mereka selalu bertengkar dan tak cocok dalam berbagai hal.
Namun suatu keadaan membuat keduanya sadar tak mampu berjauhan satu sama lain, dan saling membutuhkan.
Akan kah mereka saling mencintai pada akhirnya? Biarlah takdir menyatukan keduanya di akhir.
*Bebas promosi novel lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kang anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Aliya
Pagi itu seperti biasa Chandra masih berada di tempat tidurnya, sebenarnya Chandra cukup malas untuk bangun pagi, apalagi sejak semalam Chandra berusaha menghubungi Aliya, namun nomornya selalu saja di luar jangkauan, bahkan saat ini Chandra khawatir jikalau gadis itu dengan sengaja memblokir nomornya.
Chandra bangun dengan malasnya, karena pagi ini ada jadwal untuk meeting bersama dengan klien. Ah, Chandra kembali menghela nafas kasarnya sepanjang langkahnya menuju kamar mandi, Chandra bahkan hanya menghidupkan keran kamar mandinya dengan malas, ketika sedang berada di bawah shower.
Setelah selesai mandi Chandra segera berjalan menuju tempat tidurnya, sungguh hari yang melelahkan bagi dirinya, rasanya Chandra tak ingin mabuk lagi.
Chandra turun dengan wajah lesunya, sembari menenteng tas kerja miliknya, sudah ia duga Aliya tak datang pagi ini, sepertinya mereka tak akan bertemu lagi hari ini.
"Sudah kamu hubungi si Aliya semalam?" tuan Omer memandang Chandra dengan pandangan bertanya.
"Sudah tapi di luar jangkauan terus," Chandra sekenanya, ia terlalu malas untuk untuk mengatakan keadaan dirinya.
"Ya sudah nanti malam kita ke rumah nya, kita langsung saja meminta maaf, terlepas dia mau atau tidak, kita hanya bisa menerimanya," tuan Omer menghela nafas kasarnya.
"Pah kira kira si Liya mau ga ya kembali menerima perjodohan ini?" Chandra tersentak mendengar pertanyaan dari mamanya.
Ah iya mungkin saja gadis itu tak mau lagi menerima perjodohan mereka lagi. Itu lah yang saat ini Chandra pikirkan.
^^^"Ah tunggu sebentar kenapa aku malah memikirkan hal ini?" Chandra sedikit bingung dengan pikirannya. Chandra menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemikiran tersebut.^^^
"Ya sudah Chandra berangkat kerja dulu ma pa," Chandra segera bergegas keluar dari rumahnya.
Sesampainya di dalam mobil, pak Ujang sedikit bingung, karena tidak melihat teman duet maut tuan mudanya.
"Nona muda tidak berangkat bersama tuan?" Chandra hanya memandang malas pertanyaan dari pak Ujang, membuat pak Ujang segera menghidupkan mesin mobilnya.
Sesampainya di kantor Chandra segera bergegas ke ruang meeting, tak ada senyum dan canda tawa pagi ini, tak ada gangguan dari wanita yang dulu sangat menyebalkan, tak ada pertengkaran yang membuat pak Ujang sakit kepala.
Ah, hari hari Chandra memang kembali seperti biasanya sebelum bertemu Aliya, membosankan dan sedikit kaku.
Setelah melakukan meeting Chandra segera kembali ke dalam ruangannya, di pandangannya setiap sudut ruangan, ah sangat tenang, tak ada pertengkaran tak ada suara yang membuat telinga Chandra panas. Chandra segera bergegas menyelesaikan tugasnya, agar cepat selesai dan mengistirahatkan badannya yang terasa lelah.
"Cil tumben lo ga mau nawari gue makan?"
Ah, tampaknya Chandra lupa bahwa Aliya tak datang hari ini, ah atau dirinya mulai terbiasa dengan kehadiran Aliya.
Setelah mengatakan hal tersebut, Chandra seketika menghentikan pekerjaannya, Chandra menyadari dirinya seorang diri di dalam ruangan tersebut, sontak membuat Chandra segera memandang ke arah sofa, tempat di mana Aliya biasanya duduk dan makan di tempat tersebut.
Ah, tak ada jajanan ringan yang biasanya menemani Aliya, tak ada terdengar suara cekikikan Aliya, tak ada suara gaduh yang timbulkan gadis bar bar tersebut. Tenang seperti sedia kala, saat gadis itu tak ada, entah kenapa ia merindukan gadis tersebut.
Pakaian Chandra rapi tak seperti biasanya, yang pasti ada saja yang kusut setelah bertengkar dengan Aliya, padahal biasanya ada saja yang kurang dari pakaiannya, atau pakaian gadis itu. Hasil karya sepasang kucing dan tikus memang sangat mahal.
Saat sore hari, Chandra kembali dengan perasaan yang sedikit lesu, entah kenapa kehadiran Aliya di sampingnya seperti memberikan warna baru di hidupnya. Ah, atau mungkin memberikan semangat baru, bahkan jika tak ada dirinya, beginilah Chandra sekarang, meski dengan pakaian yang rapi namun kini wajahnya yang kusut.
......................
Ting tong, ting tong.
Suara bell membuat kakek Rio segera membuka pintu rumahnya, alangkah terkejutnya dirinya ternyata itu adalah keluarga Kostak. Mereka datang berkunjung malam malam, pasti ada sesuatu yang penting.
"Masuk, kenapa tidak bilang akan datang," kakek Rio mempersilahkan ketiga orang itu untuk masuk.
"Ah terimakasih," mereka segera masuk dan duduk di ruang tamu.
Tak lama kemudian seorang maid tengah mengantar minuman dan cemilan untuk mereka santap.
Kakek Rio sedikit terhibur dengan kedatangan ketiga orang tersebut, karena saat ini Aliya tak ada di rumah. Sekian lama mereka berbasa basi, membuat Chandra mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari Aliya. Entah lah, mungkin gadis itu masih marah terhadapnya hingga malas untuk turun.
"Ohya pah Aliya di mana ya?"
Tuan Omer dan nyonya Mona memang sangat dekat dengan kakek Rio, saat muda hingga menikah, mereka memang sering berkumpul bersama, sehingga tuan Omer dan nyonya Mona pun terbiasa memanggil kakek Rio sebagai sebutan papa.
"Ah Aliya pasti belum bilang sama kalian, kemarin malam minggu Aliya harus ke luar negri karena ada tugas dadakan," kakek Rio tampak nanar ketika mengatakan hal tersebut.
Chandra terhenyak berarti saat kemarin Aliya membantu dirinya untuk kembali ke rumah, saat itu Aliya juga hendak keluar negri. Chandra cukup kecewa, kecewa mendengar kabar tersebut, kecewa terhadap dirinya sendiri.
"Ah benarkah, kami sangat khawatir, apalagi Aliya tak mengaktifkan ponselnya," tuan Omer, hanya dirinya yang membuka suara. Karena nyonya Mona hanya membekap mulutnya tak percaya.
"Iya Aliya akan melakukan hal itu, apalagi tugasnya saat ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi," kakek Rio hanya memandang dengan pandangan nanar, tamapak matanya hampir menumpahkan air matanya yang tertahan di mata tuanya.
"Maksudnya?" Chandra mulai ikut berbicara penasaran.
"Aliya kali ini harus berangkat dengan membawa misi khusus, dan berbahaya, karena itu memutuskan semua kontak," kakek Rio tampak menguatkan diri sendiri, dan mencoba agar tidak menangis.
"Lalu bagaiman jika terjadi sesuatu?" Chandra tampaknya benar benar khawatir.
"Entahlah kita berdoa saja, saya juga berharap anak bandel itu baik baik saja, itu saja," kakek Rio berusaha tersenyum.
"Seberapa berbahaya nya?" Chandra bertanya tak sabaran.
"Entahlah tapi pihak angkatan meminta saya untuk menandatangani tentang mengiklankan kepergiannya, jika memang terjadi hal yang tidak di inginkan, kemungkinan musuhnya kali ini adalah mafia," kakek Rio kini telah menitikan air matanya, mengingat terakhir kali cucu tercintanya itu pulang dengan sejumlah luka yang hampir mengering.
Chandra terdiam mendengarkan penuturan kakek Rio, dalam hati sudah begitu ketakutan kalau kalau terjadi sesuatu dengan Aliya, membuatnya menundukkan kepala, karena benar benar khawatir dengan keadaan gadis tersebut.
"Berapa lama?" Chandra mencicit, tak berani mendengarkan jawaban namun juga penasaran.
"Kemungkinan satu bulan," jawab kakek Rio berusaha menghapus air matanya.
Tuan Omer kini mendekat dengan kakek Rio, berusaha memeluknya memberikan kekuatan penuh, agar lelaki tua itu tak merasa rapuh.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu