Kalian tahu Reuni itu apa?
Kalian tentu sudah tahu.
Pertemuan kembali setelah berpisah cukup lama.
REUNI betul-betul mengubah hidupku.
Aku bertemu dengan jodohku saat REUNI.
REUNI mempertemukanku kembali, dengan siswa terpintar saat SMA dulu. Sampai benih-benih cinta tumbuh diantara kami. Dan kami pun sepakat mengikat janji suci dalam pernikahan.
Namun siapa sangka?
REUNI yang telah mempertemukan aku dengan jodoh.
Namun REUNI pula membuat rumah tanggaku nyaris berantakan.
Ketika seorang pria yang tidak pernah diperhitungkan di masa lalu. Tiba-tiba hadir dengan segudang pesonanya.
Rumah tanggaku pun dipertaruhkan.
****************
Author : INA AS
Facebook : INA AS
Instagram: INA AS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Terbukalah Padaku
Sejak berada di Jepang, Tristan sama sekali tidak pernah menghubunginya. Namun bagi Nadia yang sudah terbiasa dengan ketidak pedulian Tristan, ia tidak pernah memasalahkannya lagi. Malah akan terasa aneh bila Tristan menghubunginya hanya untuk menanyakan keadaannya.
Tristan hanya menghubunginya untuk sesuatu yang penting. Orang tuanya sakit, minta Nadia menjenguk misalnya. Atau meminta Nadia membawa mobilnya ke car wash.
Mereka baru berkomunikasi bila Nadia yang menghubunginya duluan. Tetapi terkadang Nadia juga ikut bermasa bodoh. Bukan karena ia tidak peduli pada Tristan, namun jarang menerima sambutan baik bila Ia hubungi.
Namun sekarang Nadia harus menghubungi Tristan. Karena ada yang sangat penting hendak Ia bicarakan.
Nadia: Tristan kamu sibuk ya?
Tristan: Iya, ada apa?
Tadi pagi, ia mendengar informasi yang sangat menarik dari tetangga kanan dan kiri rumahnya. Seseorang datang menawarkan menukar rumah mereka, dengan unit baru, type yang sama di perumahan yang sama pula.
Namun yang menarik disini karena orang itu akan memberi biaya kompensasi pindah rumah seratus juta rupiah. Menarik bukan? Bisa menutupi sebagian utang kakaknya di bank, sehingga angsuran bulanan yang harus dikeluarkan oleh Nadia bisa berkurang.
Bila Tristan sepakat, maka Nadia akan menawarkan juga rumahnya kepada orang itu.
"Mbak Nadia tawarkan juga rumahnya, biar kita bisa tetanggaan lagi di Blok AB. Mana Bloknya dekat dengan kompleks pertokoan lagi. Eh dapat kompensasi pindah rumah 100 juta pula," ujar Werida, istri Pak Basuki tetangganya.
Namun ternyata respon dari suaminya Tristan, jauh dari harapannya.
Tristan: Nadia, kamu jangan terlalu polos. Kalau ada seseorang yang membeli sesuatu dengan harga yang tidak wajar, berarti orang itu memiliki maksud tertentu. Jangan terlalu cepat tergiur. Apalagi rumah itu aku yang beli. Nggak usah macam-macam.
Tetapi setelah itu terdengar umpatan dari Tristan yang tertangkap rungu Nadia
Tristan: Dasar bodoh!
Nadia menggigit bibirnya berusaha menahan goresan di hati karena umpatan Tristan. Namun Ia tetap berusaha mencoba memaklumi sikap Tristan dengan segera mengalihkan topik pembicaraan.
Nadia: Kamu sudah belikan aku oleh-oleh?
Sama seperti sebelumnya, respon Tristan tidak sesuai harapan.
Tristan: Barang di sini hampir sama di Indonesia. Nggak usah minta ole-ole. Sudah dulu, Aku sibuk Nadia.
Sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Tristan.
Nadia hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Ya memang ia bodoh. Sudah tahu rumah Tristan yang beli, mengapa tergiur menjualnya. Ia juga bodoh, meminta ole-ole pada orang yang tidak pernah peduli padanya.
Nadia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kembali menahan getir untuk kesekian kali karena sikap Tristan.
Kapan sikap Tristan bisa berubah dan menjadi peduli padanya? Bagaimana cara mengubahnya? Apa Ia akan terus terpasung oleh getir yang tak berkesudahan sampai mati?
Tanpa terasa sudut mata kembali basah. Entah sudah berapa air mata yang tumpah karena Tristan.
Rasanya ingin berbagi, tetapi pada siapa? Tidak patut seorang istri mengumbar aib rumah tangga pada orang lain. Bahkan pada teman sekalipun.
Mengadu pada orang tua? Kedua orang tuanya sudah meninggal. Pada siapa lagi?
Bimasena? Tidak, Bimasena tidak boleh tahu. Bimasena hanyalah orang lain.
Tapi, Bimasena lagi ngapain sekarang? Mengapa sudah dua hari Bimasena tidak menghubunginya? Mengapa selalu berharap Bimasena menghubunginya?
Ia tidak percaya dengan apa yang ia alami sekarang. Ia selalu berharap dihubungi Bimasena, bukan Tristan. Dosa yang tidak bisa ia hindari. Karena rasa itu tumbuh sendiri.
Rasa sunyi bergumul gundah yang merajah di hati, membuat tangannya tanpa terencana mengetik satu kata dan mengirimnya kepada seseorang.
Nadia:
Bim
Ternyata pesan itu hanya tercentang satu. Berarti handphone Bimasena tidak aktif.
Kemana Bimasena?
Ia seperti ranting kering, yang menunggu hujan turun. Agar tunasnya segera tumbuh. Berkembang menjadi daun. Lalu berbunga dan berbuah.
Tapi apa masih bisa? Sementara ia adalah ranting yang hampir mati. Mungkin saat hujan turun, ia sudah mati dan tidak mungkin tumbuh kembali.
Tetapi panggilan telepon membuatnya terkejut, terlebih lagi melihat nama pemanggilnya. Buru-buru ia menghapus air matanya, padahal Bimasena tidak mungkin melihatnya.
Nadia: Halo!
Bimasena: Nadia, ada apa? Kamu baik-baik saja?
Nadia mendesah. Harusnya kalimat itu diucapkan oleh Tristan.
Nadia: Iya. Kamu di mana Bim?
Nadia mengucapkannya dengan suara bergetar.
Bimasena: Maaf aku di Jambi. Tiba-tiba harus berangkat. Tidak sempat ngabarin kamu.
Bimasena: Tapi apa kamu butuh dikabarin bila aku kemana-mana?
Bimasena terkekeh setelah mengucapkan kalimat itu.
Nadia juga mencoba tertawa, namun malah tawanya terdengar aneh karena dipaksakan.
Bimasena: Nadia kamu kenapa? Kamu menangis?
Nadia: Nggak kok.
Bimasena: Kamu jangan berbohong Nadia. Kamu kenapa? Jangan buat aku khawatir! Kenapa kamu menangis?
Nadia: Enggak, siapa bilang aku menangis?
Bimasena: Tidak Nadia, kamu menyembunyikan sesuatu. Suara kamu tidak bisa berbohong. Aku berada di pedalaman sekarang. Signal sangat jelek, padahal aku ingin video call kamu.
Nadia: Kamu nggak usah khawatir Bim. Kamu istirahat ya! Kamu pasti lelah bekerja di lapangan.
Bimasena: Jangan tutup dulu. Kamu sakit Nadia? atau ... ?
Haruskah ia berterus terang? Tidak boleh. Ini masalah rumah tangganya dengan Tristan.
Bimasena: Aku akan meminta sekretarisku ke rumahmu sekarang.
Nadia: Jangan Bim, aku tidak butuh sekretarismu.
Bimasena: Kalau begitu katakan kamu kenapa? Tolong jangan buat aku cemas Nadia.
*********
Bimasena sedang berada di Jambi. Karena akan melaksanakan Uji Coba Penambangan Minyak Terbuka (Open Pit Oil Mining Pilot Project), Bersama PPPTMGB “LEMIGAS” dan Badan Litbang Kementerian ESDM di Blok Merangin yang dikelola oleh FreddCo Energy.
Metode penambangan minyak terbuka dipilih setelah FreddCo Energy Indonesia mengimplementasikan beberapa teknologi dalam mengembangkan potensi minyak berat di area tersebut. Pasalnya, potensi minyak berada pada kedalaman dangkal.
Sebagai seorang bujangan yang hidup sendiri, kemana-mana ia tidak pernah pamit pada siapapun. Termasuk saat ke Jambi. Pada siapa pula ia harus pamit? Pada Ibunya di Amerika? Toh Ia bukan anak-anak lagi.
Tetapi sekarang ia menyesal tidak memberitahu Nadia bila ia berangkat ke Jambi. Terlebih lagi Nadia tiba-tiba mengirim pesan padanya yang ia tidak tahu apa artinya. Seingatnya baru sekali Nadia menghubunginya. Hanya untuk Mitha. Selebihnya tidak pernah lagi.
Yang jelas, ia yakin Nadia sedang tidak baik-baik saja.
Jangan-jangan Tristan menyakitinya?
Bukannya Bimasena tidak tahu kalau Tristan ke Jepang bersama Hakimah, wanita yang sangat disanjungnya.
Dengan mudah ia bisa menjatuhkan Tristan di mata Nadia. Tetapi ia tidak ingin menggunakan cara yang tidak gentleman seperti itu.
Ia ingin meraih hati dan cinta Nadia yang tulus. Bukan menjadi tempat pelarian Nadia karena Tristan.
Dan sekarang wanita itu sudah membuatnya cemas. Tetapi Nadia bukan type wanita terbuka. Ia sama sekali tidak pernah menceritakan tentang dirinya.Tidak ada yang bisa ia korek dari Nadia. Malah lebih mudah mengorek sesuatu dari Tristan.
Bimasena: Kalau begitu katakan kamu kenapa? Tolong jangan buat aku cemas Nadia.
Nadia: Bim, kapan pulang?
Nadia malah mengalihkan topik untuk menghindari pertanyaannya.
Bimasena: Sebenarnya pekerjaan di sini belum selesai. Kami bahkan lembur sampai larut malam. Tetapi kalau kamu butuh aku sekarang, Aku pulang sekarang. Ada helikopter standby di sini.
Nadia: Tidak tidak Bim. Selesaikan pekerjaanmu. Aku nggak apa-apa.
Bimasena: Nadia, bisa nggak aku minta satu hal?
Nadia: Apa?
Bimasena: Terbukalah padaku. Kamu kenapa?
Nadia: Aku nggak kenapa-kenapa Bim. Tolong jangan desak aku. Aku baik-baik saja. Nggak usah cemas. Sepanjang aku masih bicara dan tertawa aku baik-baik saja Bim. Tuh kan aku sudah tertawa.
Bimasena: Baiklah. Aku percaya saja. Meskipun tidak bisa melihat tawa kamu. Tapi selanjutnya, terbukalah padaku.
********
Pagi hari sebelum Nadia berangkat ke salon, ia selalu membersihkan rumah terlebih dahulu. Setelah mencuci piring, menjemur pakaian ia menyapu lantai. Saat sedang menyapu lantai di ruang tamu, seorang kurir datang membawa paket kiriman.
"Dengan Mbak Nadia?" tanya kurir itu.
Nadia mengangguk dan menerima bucket bunga mawar merah dan sekotak makanan untuk sarapan dari kurir tersebut.
Dengan rasa bertanya-tanya ia membaca Greeting card tanpa nama pengirim itu.
Nadia Humeerah,
I can't see anything I don't like about you (Aku tidak bisa melihat apa yang tidak Aku sukai darimu).
Siapa yang mengiriminya?
Ia tersenyum, karena ia tidak pernah menerima yang seperti ini sebelumnya. Dugaanya langsung tertuju pada seseorang.
Bimasena.
Sangat yakin.
Nadia: Apakah kamu sering tidur dg banyak wanita sblm denganku, Bim.karena sbg seorang jejaka kamu sangat pro dlm sex?
itu diotakku, ternyata beda yg diotak kak Ina..🤣🤣
tentulah kalo jadi iatri Tristan, akan pilih selingkuh dg Bima.Kalau istri Adit akan pilih setia,krn suami sdh baik, sayang, kaya lagi..hehe
.hehehe