Rara Raina Sunjaya. seorang Nona besar di keluarga Sunjaya.
Rara tidak menyangka akan nasib hidup nya yang berakhir di sebuah pulau yang usia nya lebih dari ratusan tahun. pulau itu di kenal sebagai pulau vampier pada masa nya nanun setelahnya pulau itu di kenal sebagai pulau rindang dan sudah berabad-abad semua yang melewati pulau itu di larang mendekat atau memasuki pulau tersebut di karnakan setiap orang yang mendekati atau memasuki pulau, maka tidak akan bisa kembali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 24
Setelah memberi hormat pada sang Raja. Afkar pergi untuk menemui Rara.
ia sangat senang akhirnya bertemu lagi dengan Rara. gadis yang membuat hati nya bergetar.
Afkar membawa sebuah kotak kecil yang berisi sebuah gelang mutiara biru yang ia beli saat dalam perjalanan. ia sengaja membeli untuk di hadiahi pada Rara.
Afkar melihat Rara, sedang terduduk di kolam teratai sendiri sambil memainkan air yang ada di kolam.
"Rara!" sapa Afkar, membuat gadis imut yang sedang termenung itu menoleh dengan cepat saat memdnegar suaranya.
"Afkar! cepat sini duduk di sampingku! banyak yang ingin aku ceritakan padamu," Rara menarik tangan Afkar hingga ia terhuyung kedepan.
"Apa kau tau selama, kau tidak.. eh! apa ini?" Rara tercengang melihat Afkar menyodorkan kotak kecil ke wajahnya.
"Kau bisa membukanya, untuk melihat apa yang ada di dalam sana!" ucap Afkar, seperti biasa bicara dengan lembut dan sopan pada Rara.
Rara menatap kotak kecil itu lalu mentap afakr yang sedang tersenyum menanti ia membukanya.
terlihat jelas dari wajah pria yang menolongnya itu, sedang berharap dirinya menerima kotak kecil yang ia berikan.
"Hmm.. aku terima ya, akan ku buka! coba kita lihat ada apa di sana?" Rara membuka perlahan kota kecil itu.
"Wahhh.. ini cantik sekali, apa ini asli? kau dapat dari mana, ini sangat indah!" Rara terpesona dengan keindahan gelang mutiara biru yang di berikan oleh Afkar.
"Apa kau suka!?"
"Ya, aku sangat suka! bisakah kau memakaikan nya untuk ku. hehe ini sulit jika memakai gelang yang ada pengaitnya." Rara merasa canggung saat Afkar membantu nya memakaikan gelang di tangnya.
"Aku ingin kau menjaga gelang ini untuku sebagai kenangan saat kau kembali ke duniamu nanti! apa kau mau berjanji kalu kau akan menjaga gelang ini untuku,." Afkar mengngkat jari kelingking nya, mengikuti cara Rara ketika ia membuat janji saat di perjalanan ke istana.
Rara tersenyum kecil mengangukan kepala. ia meraih kelingking Afkar untuk membuat janji teman.
"Aku berjanji, akan menjaga gelang ini!"
"Terima kasih Rara! sudah satu minggu tidak melihatmu, kau semakin cantik." Afkar menatap Rara dengan pandangan berbeda dari biasanya dan membuat Rara merasa canggung dengan itu.
"Ehem.. Afkar ada yang ingin aku tanyakan!?" Rara memalingkan wajah untuk menghilangkan rasa canggungnya.
"Silahkan, Rara. kau ingin tanya tentang apa," Afkar mengalihkan pandanganya ke tengah danau yang di tutupi teratai.
"Aku ingin bertnya, apakah saat kita bertemu di hutan saat itu, kau melihatku membawa tas kecil?" tanya Rara penasaran.
"Ya, aku melihatnya! bukankah tas itu selalu kau bawa bahkan saat aku meninggalkan istana, aku melihatmu masih membawa tas kecil itu.." balas afkar.
"Eh, benarkah? kenapa aku tidak menemukan tasku ya?" Rara kebingungan dengan keberadaan tas yang berisikan ponsel miliknya itu.
ia mengingat-ingat di mana terakhir membawanya.
kemudian ia teringat saat melarikan diri dari istana dan pingsan di hutan. lalu ia tersadar sudah berada di ruang istirahat Adian.
*Hah.. benarkan tidak salah lagi pasti dia yang mengambilnya. aku harus m*engambil tasku.
"Ada apa Rara? apa kau ingat sesuatu,." tanya Afkar mengacau pikiran Rara.
"Yup, kau benar Afkar. aku sekarang ingat di mana tasku dan sangat pasti Raja sialan itu yang menymbunyikan nya dariku!"
" Aku akan menemui Aidan sebentar nanti kita ngobrol lagi!" Rara berlari meninggalkan Afkar, yang tercengang mendengar Rara menyebut nama kaka nya begitu saja.
Apa Rara sangat dekat dengan kaka? bahkan dia menyebut nama kaka secara langsung. ah tidak mungkin aku tau seperti apa Rara, denganku saja dia berani menyebut nama. aku juga sangat mengenal kaka, dia tidak akan diam jika ada orang lain dengan lancang menyebut namanya. sebaiknya aku ikuti rara aku takut dia dalam maslah saat berucap di hadapan kaka.
Afkar berjalan pergi dengan berbagai dugaan di benaknya.
Afkar mengunakan telport dan muncul tepat di belakang Rara yang saat itu sedang membuka pintu kamar Aidan tanpa ijin ataupun di hadang oleh pengawal.
Afkar mengerutkan kening melihat pemandnagan itu. ia terus berjalan mengikuti Rara masuk ke dalam ruang istirahat Raja.
"Eh, Afkar kenapa kau juga di sini? " tanya Rara terkejut saat melihat Afkar sudah berada di belakangnya.
mendengar keributan di ruanganya Aidan yang sedang berendam segera keluar untuk melihat siapa yang mengacau.
Ia mengerutkan kening ketika melihat mereka berdua dengan santainya mereka berdua malah mengobrol. selain itu Aidan menatap dingin Afkar karna ia masuk ke ruang pribadi Raja tanpa ijin.
Afkar yang melihat Aidan muncul langsung berlutu hormat.
"Hormat hamba yang mulia! maaf menggangu waktu istirahatmu,." Afkar membungkuk sambil memberi kode mata pada Rara, agar ia juga memberi hormat.
namun Rara tidak mengerti maksud kedipan dari Afakr, malahan ia membalasnya dengan kedipan lagi.
Aidan yang melihat dua orang di hadapan nya itu saling memainkan mata membuat nya jengkel.
"Cukup! Afkar tanpa ijin kau masuk ke ruanganku. kau mulai lancang!" tegas Aidan menatap tajam Afkar.
afkar tersentak memdapat tekanan kuat dari sang kaka.
"Hamba bersalah yang mulia, aku akan menerima hukuman dari kelancanganku!"
suasana di ruangan itu seketika memcekam. Rara kebingungan dengan aura mereka berdua. namun ia tidak peduli dengan perdebatan mereka ia lebih mengutamakan ponsel nya.
"uhuk.. maaf jika aku menggangu, tapi Afkar sebaiknya kau keluar dulu aku ada urusan penting dengan Aidan! nanti kalau aku sudah selesai kau bisa bicara lagi denganya,." sela Rara, menarik Afkar agar bangun dari berlututnya.
Afkar mengerutkan kening dan tidak bergeming dari tempatnya ia hanya menatap Aidan yang terlihat biasa ketika Rara menyebut namanya dan tidak bersikap hormat denganya
"Haiss.. kenapa kau malah melamun? ya sudah deh," Rara mengabaikan keberadaan Afkar dan berjalan mendekati Aidan yang saat itu hanya memakai penutup handuk di pinggulnya.
sebagai seorang gadis reaksi Rara cukup mengherankan lantaran ia biasa saja ketika melihat aidan bertelanjang dada.
"Aidan! cepat berikan tas milikku. ada barang penting yang harus aku ambil," Rara mengulurkan tangan agar Aidan memberikan tas kecil miliknya.
nemun Aidan malah tersenyum kecil melirik Afkar yang sejak tadi terlihat tidak suka dengan kedekatan mereka.
"Apa tas aneh itu sangat penting?!" tanya Aidan datar.
" ya sangat penting.. karna itu cepat kembalikan!"
"Baiklah, nanti malam kau kembali lagi ke sini untuk mengambil tas itu! sekarang kalian pergi, aku ingin kembali berendam." balas Aidan dingin.
Aidan berbalik pergi untuk kembali ke pemandian, namun Rara yang melihat Aidan akan pergi ia mencoba meraih tangan Aidan untuk menahannya agar tidak kabur. tapi ternyata ia bukan menggapai tangan malah menarik handuk yang menutupi pinggul Aidan.
seketika Aidan dan Afkar tercengang melihat apa yang di lakukan Rara.
begitu pun Rara yang juga tercengang dan sepontan memluk Pinggul Aidan untuk menahan handuk yang hampir lepas dari tempatnya.
posisi Rara saat itu semakin membuat Aidan dan Afkar terbelalak.
Rara yang sadar akan perbuatanya yang memalukan dengan cepat melepas lalu berlari menutup mata dengan wajah malu. ia berlari ke arah pintu keluar. namun sialnya lagi ia tersandung dan tanpa sengaja afkar yang berada di depanya tidak luput menjadi korban. posisi jatuh rara tepat di depan Afkar dan tanpa sengaja ia menarik celana Afkar dan menyentuh ulat bulu miliknya
Rara semakin gila dengan apa yang terjadi saat itu, Wajahnya kali ini semakin memerah ia berlari keluar dengan mata tertutup dan membuatnya menabrak dinding dan pintu.
suasana di ruangan itu menajdi sunyi setelah Rara menghilang dengan kekacauan yang ia buat.
dua pria dengan ke dudukan tinggi itu masih terpaku diam melihat ke konyolan yang terjadi. mereka saling memandang kondisi satu sama lain lalu memalingkan wajah malu dengan kondisi pakaian yang berantakan.
BERSAMBUNG...
be like gw yang udah baca ni novel 3× 🗿