NovelToon NovelToon
The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man

Status: tamat
Genre:CEO / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Violet Slavny

TAHAP REVISI
MASIH BANYAK TYPO DAN SALAH EYD, MOHON DIMAAPKEN🥲

Bagaimana jika ternyata selama ini kalian diawasi secara diam-diam. Bahkan saat tidur ternyata seseorang juga datang menemanimu tidur.

Seorang pria misterius yang selama ini ternyata memperhatikan seorang wanita bernama Valerie. Apa yang selanjutnya akan terjadi?

ayo, baca dan tambahkan dalam list favorit kalian.

Bye 😘💕

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

"Aiden. "

Valerie menatap seorang pria yang melangkah mendekat ke arahnya dengan mata membulat. Aiden melangkah dengan senyum senangnya. Namun, terdapat raut khawatir di wajah pria tersebut.

Hingga pria itu berdiri menjulang di depan tubuhnya. "Valerie. "Ucap Aiden lagi dengan senyum lega, lalu memeluk gadis tersebut.

Valerie berjengit kaget menerima pelukan mendadak Aiden, lalu memutar pandangannya untuk mencari keberadaan Sean. Bisa gawat jika pria itu melihatnya dengan pria lain.

"Aiden, di sini banyak orang. "Ucap Valerie sambil mendorong bahu Aiden menjauh.

"Aku merindukanmu. Aku khawatir mendengar suara pria menjawab telfonmu. "Cerca Aiden dengan raut penuh ketakutan dan kekhawatiran.

"Aku baik-baik saja. Sebaiknya kita berbicara di tempat yang lebih sepi. "Ucap Valerie takut, sambil terus memencarkan matanya mencari sosok Sean.

"Di balkon saja. "Ucap Aiden sambil menarik tangan Valerie menjauh dari tempat semula. Menaiki tangga kecil yang hanya terdiri dari empat anak tangga, untuk dapat ke balkon.

Angin malam langsung menusuk kulit Vale di saat pintu balkon terbuka. Tak banyak orang ke sini di karenakan angin malam yang sejuk.

Aiden melepas jas yang ia kenakan, lalu menutupi tubuh atas Valerie dengan jasnya.

"Jelaskan padaku apa yang terjadi! "Ucap Aiden ingin tau.

Vale menatap Aiden lekat, menimbang-nimbang apakah ia harus memberitahukannya atau tidak.

"Dimana kamu semalam? Apa yang terjadi? Siapa pria itu? "Cerca Aiden dengan banyak pertanyaan.

Vale menunduk ragu. Apa yang harus dia lakukan?

"Aku... "

"Katakan Vale! Aku akan menolongmu darinya jika dia mengancammu! "Ucap Aiden sambil mencengkram bahu Vale geram.

"Tidak, dia tidak mengancamku. "Ucap Vale sambil menggeleng cepat mendengar perkataan Aiden.

"Lalu? Kenapa kamu tidak mengatakan apapun? "Tanya Aiden geram sambil mencengkram bahu Vale semakin kuat.

"Shh... "Vale mendesah sakit merasakan bahunya yang seakan ingin remuk.

Aiden yang sadar ketika ia mulai kehilangan kendali dirinya, buru-buru melepas bahu Vale dengan wajah bersalah.

"Maaf. "Ucap Aiden.

Vale mengusap bahunya sendiri, lalu menatap Aiden dengan wajah tak dapat di mengerti.

"Kamu tak perlu khawatir di mana aku. Aku baik-baik saja di sana. "Ucap Vale pelan dengan kepala menunduk.

"Jadi benar dia kekasihmu? Calon suamimu? "Tanya Aiden dengan wajah dingin. Wajahnya langsung berubah 180° dari Aiden hangat yang selama ini Vale kenal.

"Ti... Tidak. "Jawab Vale merinding. Aiden benar-benar membuatnya merasa di intimidasi dan di ancam saat ini.

"Dia bukan kekasihku, apa lagi calon suamiku. "Jawab Vale takut dengan keringat dingin yang mulai mengucur di pelipisnya.

Dengan cepat pula senyum lega kembali terbit di bibir Aiden. Membuat Valerie semakin takut dengan perubahan tiba-tibanya.

"Aku tau dia berbohong. Apa yang kamu lakukan bersamanya Vale? "Tanya Aiden lagi.

"A... Aku hanya mencari sebuah jawaban darinya. "Ucap Vale gugup, namun berusaha semaksimal mungkin menutupinya dari Aiden.

"Jawaban? "

"ya, hanya dia yang dapat menjawab pertanyaanku. "Jawab Vale sambil mengangguk.

"Apa harus tinggal bersamanya? "Tanya Aiden lagi.

"Lima hari. Hanya lima hari saja. "Ucap Vale sambil menunjuk ke lima jarinya dengan gugup. Jelas-jelas dia tak perlu menjelaskan semua ini pada Aiden. Aiden bukanlah siapa-siapanya.

Namun ekspresi Aiden yang tiba-tiba berubah, membuat Vale seketika takut padanya dengan jantung berdebar kuat. Seakan mangsa yang terpojok oleh serigala liar.

Aiden tampak mengangguk mengerti. "Siapa dia? Siapa pria itu? "Tanya Aiden dingin.

Vale meneguk ludahnya kasar. Jantungnya semakin berdebar tak karuan karena takut.

"A.. Aku tak bisa memberitahumu. "Ucap Vale gugup dengan kepala menunduk.

"Dia ada di sini? Kau datang bersamanya? "Tanya Aiden lagi dengan wajah datar.

"Iya, dia di sini. "Jawab Vale.

"Dia akan murka jika melihatku denganmu. Aku harus kembali. "Ucap Vale sambil melepas jas Aiden yang ia kenakan. Bisa saja saat ini Sean sedang mencarinya. Dia takut Sean menemukannya di sini dengan Aiden.

Vale buru-buru meninggalkan Aiden yang berdiri diam dengan raut wajah kalut. Auranya gelap.

Vale keluar dari balkon dengan wajah khawatir, ia menuruni anak tangga dengan gugup. Ia menarik nafasnya untuk menenangkan diri, lalu kembali melangkah ke arah meja, tempat ia dan Sean berpisah tadi.

Namun belum tiga langkah, tangannya di tarik kuat dan menabrak dada bidang seorang pria. Vale tau harum parfum ini.

"Sean. "Sean tampak tersenyum manis menatapnya, lalu mencium bibir Vale cepat.

"Apa dia tau aku bertemu dengan Aiden? "Batin Vale berteriak takut. Namun ekspresi yang Sean keluarkan terlihat tidak mencurigainya.

"Dari mana? Aku mencarimu di tempat awal, dan kamu tidak ada di sana. "Tanya Sean setelah mencuri kecupan di bibir Vale.

"A... Aku mencari toilet, tetapi tersesat. "Jawab Vale.

"Masih ingin ke toilet? "Tanya Sean lagi. Senyum pria itu masih tak luntur padanya, membuat Vale yakin Sean tidak mengetahuinya.

"Iya. "

"Aku akan mengantarmu. "Ucap Sean. Vale mengangguk pasrah, sama sekali tak curiga. Sedangkan Sean sudah memasang senyum miringnya.

***

Vale menatap pantulan dirinya di depan cermin wastafel. Dia mencoba menenangkan dirinya agar tidak membuat Sean curiga. Semua ruangan toilet kosong melompong dan hanya ada dirinya di dalam sini.

Cklek.

Tiba-tiba terdengar pintu toilet terbuka. Vale menatap ke arahnya dan tercengang melihat Sean masuk dengan senyum miringnya.

"Se... Sean, ini toilet wanita. "Ucap Vale gugup.

"Aku tau. "Jawab Sean dengan senyum miringnya. Sean melangkah mendekatinya dengan aura mengintimidasi. Vale menggengam keramik wastafel takut.

"Keluar Sean! Bagaimana jika seseorang masuk nantinya? "Ucap Vale takut.

"Tenang sayang! Tak akan ada yang berani masuk. "Sean meraih pinggang ramping Vale, mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atas keramik wastafel.

"Se... Sean. "

Sean tersenyum puas, lalu ******* bibir Vale ganas. Vale yang mendapat serangan tiba-tiba tersebut, hanya dapat menutup matanya erat dan tangannya mencengkram punggung jas Sean kuat.

Sean dengan ahli mengobrak-abrik mulutnya dengan menggoda. Tangannya mencengkram pinggul Vale dan satu lagi menekan tengkuk Vale untuk memperdalam ciumannya.

Vale memukul bahu Sean kuat, saat di rasakan dia membutuhkan udara saat ini. Seakan mengerti Sean melepas lumatannya, membiarkan Vale meraup oksigen sebanyak mungkin.

Sean menatap bibir Vale yang terbuka, memerah dan bengkak dengan senyum puas. Dia sedang menghukum bibir yang berani berbohong padanya.

Setelah di rasa Sean cukup, dia kembali menarik tengkuk Vale cepat dan ******* bibir gadisnya dengan ganas. Dia belum puas memberi hukuman pada bibir tersebut.

Sean melepas lumatannya dengan senyum benar-benar puas. Sedangkan Vale sibuk menarik oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya.

Vale memukul bahu Sean kesal. Sean terkekeh pelan melihat wajah Vale yang memerah padam.

Vale semakin kesal melihat Sean terkekeh, lalu memukuli bahu Sean tanpa ampun.

"Sakit sayang. "Ucap Sean. Tidak dengan raut kesakitan namun dengan raut wajah menggoda dan senyum meledek.

"Kamu berjanji untuk melepasku malam ini. "Ucap Vale kesal. Sean tau itu. Dia hanya ingin memberi bibir itu hukuman karena sudah membohonginya tadi.

Vale mendorong tubuh Sean agar ia bisa turun dari atas keramik. Sean menatap Vale lekat.

"Bibirmu terlalu menggoda untuk di lewatkan malam ini. "Ucap Sean dengan senyum menggoda.

Vale memukul lagi bahu Sean, lalu memutar tubuhnya menghadap cermin untuk memperbaiki penampilannya.

Vale mendesah sedih menatap lipstik yang ia kenakan di bibirnya berantakan. Ia sadar karena lipstik itu juga ikut berserakan di bibir Sean.

Vale meraih tissue basah di pouchnya dan membersihkan lipstik di bibirnya. Setelah selesai, dia berbalik menghadap Sean dan membersihkan lipstik di bibir Sean.

"Kau merusak lipstikku. "Ucap Vale kesal, sambil membersihkan bibir Sean dengan gerakan kasar karena kesal.

"Lain kali gunakan yang waterproof! "Mendengar ucapan Sean, Vale semakin kesal dan menatap tajam ke arah pria tersebut yang tersenyum puas.

Vale mengusap kasar bibir mesum Sean. Tidak peduli pria itu mendesis sakit karena gerakan kasarnya.

Setelah selesai, Sean meraih lembut bibir Vale dan membelainya dengan gerakan lembut. Dia harus mencium bibir Vale sebelum gadis itu mengenakan kembali lipstiknya. Kesempatan dalam kesempitan.

Buktinya Vale terbuai dan tak memberontak. Gadis ini suka di perlakukan dengan lembut dan berharga. Setelah puas Sean melepas ciumannya dan mengusap bibir Vale lembut dengan jempolnya.

Vale yang tersadar akalnya hilang karena ******* lembut Sean, buru-buru berbalik menatap cermin untuk memakai lipstiknya kembali. Sedangkan Sean terkekeh mengejek melihat kegugupan gadisnya.

bersambung....

wah.... aiden kok mulai tampak mencurigakan ya? ada apa dengan dia? 🤔

jangan lupa like dan komen tinggalin jejak kalian dongzz. rindu wajah Sean mampir aja ke Ig violet_slavny.

bye.. 😘💕

1
Sanjaria Abubakar
kau kejam Thor
Sanjaria Abubakar
aku sedih 😭😭😭😭😭
namia khira
luar biasa,,keren ceritanya autor /Good//Good/
lily
Sean udh lama suka dri kapan
lily
baru pertma ketemu ,jngan nyosor dlu haha
Erni Sasa
eleeek terlalu kasar mukanya gk lembut ini mah kaya karakter jal*ng yg terobsesi dengn hot daddy😂😂
Asri Ernawati
Novel super kerennn...istimewaahhhh👍♥️
Tuti Handayani
Lumayan
Tuti Handayani
Kecewa
HANAMI DEWATI
Luar biasa
devaloka
sebenernye ada misteri apaan sih ya Allah kan aku penasaran
devaloka
bagus, tapi kurang suka yg POV aku huh
Lutfatul Azizah
Luar biasa
Rini Maryani
aaah gk ngerti baca nya gk d jelasin ceritanya sean itu spa
Lilis Nurhayati
wah wah apa artinya ini.
jgn jgn yg bikin merah leher kamu jg pk direktur nih
Oras Karoma
ceritanya bagus Thor ! sukses ya buat karya selanjutnya
dewi
mkasih ceritany, suka banget. ditunggu cerita2 lainy
dewi
aamiin, semoga berhasil
dewi
semangat...
Ririn Nursisminingsih
thor kereennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!