Erin, gadis cantik yang terpaksa menikah dengan seorang pria dingin harus mengalami kecelakan hingga membuatnya Koma, akankah cinta dari sang suami bisa membantu Erin untuk kembali sadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon machrita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Terbongkar.
Dengan kesal Shelo pergi ke dapur mengambilkan sarapan untuk nenek.
"Beruntung kamu nenek nya Renz, kalau bukan sudah lebih dulu kamu ku lenyapkan," kesal Shelo.
Erin yang melintas lantas mendengar kata-kata Shelo yang terdengar kasar.
"Shelo kenpa cara bicaranya kasar." Bingung Erin.
Shelo masuk ke kamar dan memberikan sarapan untuk nenek dengan senyum palsunya.
"Ohh ya Shelo kamu sudah membersihkan tubuh Erin kan, jangan sampai cucu mantu ku ini terlihat kotor, aku bisa mengusirmu dengan kasar," ucap nenek.
"Sudah nek, sebelum anda datang ke kemar aku sudah membersihkan Erin," kata Shelo.
"Bagus aku tidak mau Erin terlihat kotor apalagi jika bersama Renz," ancam nenek.
Shelo keluar dari kamar menuju meja makan, Shelo menggerutu Erin duduk di sebelahnya.
"Sialan nenek itu, dia fikir aku ikhkas apa mengerjakan semuanya dia fikir dia siapa lihat saja aku akan kerjain nenek tua itu," kesal Shelo.
"Shelo apa yang kamu katakan, kenpa sikapmu berubah begini," bingung Erin.
Erin merasa Shelo berubah ia terus mengikuti Shelo kemanapun ia pergi, Erin penasaran ada apa dengan Shelo, Jika Shelo memang bosan mengurus dirinya kenapa tidak bicara dengan Renz.
Shelo merogoh kantongnya dan mengambil ponsel lalu me.nghubungi seseorang
"Hallo! Apa kamu sudah mendapatkan barang yang aku butuhkan, aku sudah tidak betah mengurusnya di sini, kamu harus segera mendapatkannya lalu membawanya padaku, aku tidak mau tau siang ini barang itu sudah ada di tanganku," kata Shelo sambil menutup panggilannya.
"Apa yang Shelo maksud, barang apa yang ia pesan, sepertinya penting aku tidak boleh lengah," gumam Erin.
****
Siangnya..
Seorang memencet bel pintu Shelo segera keluar sebelum pelayan yang membukakannya.
"Ibu Shelo," ucap kurir.
"Ya itu aku," jawab Shelo.
"Barang pesananmu," ucap kurir
Shelo tanda tangan lalu menerima barang yang ia butuhkan, Shelo membawanya ke kamar dan membukanya. Erin terus memperhatikan gerak gerik Shelo yang mencurigakan, ia lihat Shelo tidak seperti biasanya.
Shelo tersenyum saat mengeluarkan barang itu yang ternyata beberapa botol kecil cairan entah itu obat atau racun beserta beberapa buah alat suntik.
"Shelo itu untuk apa?" Erin kebingungan.
Ucapan Erin hanyalah sebuah ucapan karna Erin hanya seorang roh, Shelo mengambil sebuah alat suntik dan memasukkan cairan ke dalamnya.
"Ini yang aku butuhkan untuk perlahan melenyapkanmu Erin, aku ingin kamu mati pelan-pelan," gumam Shelo lalu tersenyum licik.
Betapa terkejutnya Erin mendengar kata-kata Shelo sahabat yang ia percaya ternyata musuh yang nyata.
"Shelo apa yang kamu katakan, kenapa dengan sikapmu kamu sahabatku kan, katakan apa kesalahanku, apa aku pernah menyakitimu." Kata Erin sedih.
Shelo menyimpan botol-botol cairan itu dengan alat suntiknya di tas yang selalu dengannya, setelah itu Shelo mendekati tubuh Erin yang tak berdaya.
"Ini tidak sakit Erin, hanya perih sedikit. Kamu bisa tahan bukan." Kata Shelo dengan wajah jahatnya.
"Shelo jangan Shelo aku mohon, apa yang mau kamu lakukan, kamu bisa membunuhku," tangis Erin ingin menahan tangan Shelo namun tak bisa.
"Hanya dengan begini aku bisa secepatnya menjadi nyonya Renz Adipratama," tawa Shelo.
Erin semakin terkejut dengan apa yang di katakan Shelo barusan, Shelo hampir mendekati kantong cairan infus untuk menyuntikkan racun yang ia pegang, tiba-tiba ...
"Mami ..." teriak Sahira langsung masuk dan memeluk tubuh Erin.
Suntikan itu jatuh tepat di bawah lemari kecil di pinggir ranjang, Shelo geram karna tiba-tiba Sahira masuk dan mengejutkannya membuat suntikan itu terlepas.
"Sahira!" bentak Shelo.
"Tante kenapa!" bingung Sahira.
"Kalau pulang sekolah langsung ganti pakaianmu dan bukan langsung ke kamar ini," bentak Shelo pada Sahira.
"Shelo kamu kenapa sih, kamu marah karna Sahira menggagalkan rencanamu, kamu jahat Shelo," kesal Erin.
"tante..tante marah..maaf tante"ucap sahira
Nenek dengan kursi rodanya masuk karna mendengar sesuatu dari kamar Erin.
"Ada apa ini?" Tanya nenek.
Belum Sahira bicara Shelo langsung mendekati Sahira dan berkata lembut.
"Sahira, besok setelah pulang sekolah langsung ke kamar ya ganti baju dan makan, kan Sahira kotor dari luar, kasihan mami nanti kena kuman yang Sahira bawa," ucap Shelo lembut.
"Iya tante, aku ke kamar dulu," ucap Sahira.
"Sahira yang di katakan tante Shelo benar, kamu tidak seharusnya seperti ini, mami Erin sedang sakit kan, bersihkan dirimu ya sayang baru kemari lagi," kata nenek.
"Iya nek, tante Sahira minta maaf Sahira janji besok Sahira tidak seperti ini lagi," ucap Sahira
"Shelo kamu benar-benar ular berkepala dua, aku tidak menyangka kamu sejahat ini." Marah Erin.
Nenek dan Sahira pergi sementar Shelo masih di kamar Erin mencari suntikan ke bawah tempat tidur.
"Di mana suntikan itu," kesal Shelo.
"Apa yang kamu cari, kamu pasti cari suntikan itu kan, aku berdoa semoga kamu tidak akan pernah menemukan suntikan itu," ejek Erin.
"Ini karna Sahira ihh benar-benar membuatku kesal, gak nenek nya gak cucunya semua bikin kesal karna mereka sudah membuat gagal rencanaku," kesal Shelo.
Shelo meninggalkan Erin menuju taman, Erin mengikutinya Erin penasaran kenapa Shelo sikapnya berubah.
"Hah, aku harus melakukannya nanti malam, semakin cepat dia sekarat dan lenyap semakin cepat juga aku bisa mndekati Renz," kata Shelo.
Erin menggeleng tidak percaya semua yang ia dengar, sahabat yang biasa berbagi cerita dengannya ternyata mempunyai cinta terpendam pada suaminya.
"Shelo apa salahku, kenpa kamu bisa sampai sejauh ini," sedih Erin.
Mobil Renz memasuk halaman, Shelo pun mulai berakting Erin sampai keheranan, Renz menghampiri Shelo yang sedang murung. Renz duduk di sebelah Shelo.
"Kamu kenapa" tanya Renz.
Shelo tiba-tiba memeluk Renz, bukan hanya Renz yang terkejut Erin yang berada di dekat Shelo sampai menganga menatap heran.
"Renz aku sedih Erin masih belum sadar, aku setiap hari mendoakannya, mengurusnya dengan baik tapi kenala Erin belum juga sadar, aku sedih Renz sahabatku seperti itu," tangis Shelo.
"Air mata buaya kamu Shelo." kesal Erin.
"Sudah Shelo, kita harus tenang dan ikhlas Erin pun juga pasti mau sembuh, pasti mau bangun tapi mungkin belum waktunya, aku juga berharap Erin segera sadar." Kata Renz menjauhkan Shelo dari tubuhnya.
Shelo mengusa air matanya.
"Maaf Renz aku sampai menangis begini, aku sangat menyayangi Erin, dia sudah seperti saudaraku sendiri, dia begitu baik, Tuhan pasti akan memanjangkan umur Erin," kata Shelo padahal dalam hati ia ingin Erin segera menemui ajalnya.
"Terimaksih kamu sangat peduli pada Erin." Kata Renz
Renz pamit masuk ke dalam sementara Shelo masih di taman dengan senyum bahagianya, walaupun hanya sebentar tapi ia sudah merasakan pelukan Renz.
"Ini baru permulaan Renz sayang, setelah Erin pergi selamanya kamu akan menjadi milikku, tidak ada orang lain yang bisa memilikimu," gumam Shelo.
"Seandainya aku bisa menyentuhmu, hanya satu yang ingin aku lakukan saat ini, aku ingin mencekikmu," geram Erin.
Malam pun tiba, seperti biasa Shelo bersama Erin di kamar, tapi malam ini Renz ingin menemani Erin, ia duduk dengan memegang tangan Erin menciuminya beberapa kali, ia sangat menyayangi Erin, Erin yang melihat itu sangat bahagia.
"Seandainya kamu juga tau perasanku Renz, aku sangat mencintaimu aku ingin segera sembuh, tapi bagaimana! Aku juga tidak tahu," sedih Erin.
Shelo berpura-pura tidur sesekli melirik ke arah Renz dan Erin yang terbaring.
"Gagal lagi malam ini, aku harus mencari rencana yang lain agar tidak ketahuan," kata Shelo.
Malam mulai larut Shelo bangun dan memberikan selimut ke tubuh Renz yang tertidur di samping Erin.
"Seandainya kamu tidak mencintai Erin, seandainya kamu tidak menikahi Erin aku tidak akan menyakiti Erin seperti ini, tapi semua sudah terjadi, aku sudah merencanakan ini semua dari jauh hari," gumam Shelo.
Erin tidak percaya jika sudah lama Shelo merencanakan semuanya...
seseorang menelpjon Shelo, Shelo pun bergegas keluar rumah Erin mengikutinya.
"Untuk apa kamu kemari," ucap Shelo celingak celinguk melihat keadaan rumah takut ada yang melihat
"Untuk apa! Hey nona aku ingin bagianku," ucap pria itu.
"Bagian apa lagi, semua sudah ku berikan bukan sudah pergi lah sana kalau tidak kita bisa ketahuan," kata Shelo.
"Aku tidak mau tau, kamu harus memberi ku uang lagi atau kamu mau aku memberitahu Renz tentang semua ini, tentang siapa yang menyuruhku memotret Erin dan Reymond diam-diam yang merusak mobil Erin sampai membuatnya celaka, jangan sampai Renz tau siapa yang menyuruhku," ucap pria itu licik.
"Sstth! Diam, baik besok setelah semua aman aku akan menelphonmu dan memberi uang yang kamu minta tapi tolong cepatlah pergi sebelum ada yang melihat," cemas Shelo.
Pria itu tersenyum dan mencium pipi Shelo sementara Erin baru mengetahui Shelo di balik semua ini bukan hanya mencelakainya tapi Shelo juga yang sudah menyuruh orang memotret kebersamaannya dengan Reymond.
"Aku benar-benar tidak percaya ini Shelo, kamu sudah gila, dan terobsesi dengan suamiku," tangis Erin penuh penyesalan.
Shelo melangkah masuk ke dalam rumah setelah pria itu pergi, namun tak lama kemudian suara bel pintu berbunyi padahal baru beberapa menit yang lalu ia masuk, zaat membuka pintu depan Shelo terkejut seseorang berdiri di depan pintu.
"kamu!" kejut Shelo.
#Bersambung...
. semangat Up, ya