NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ego Buta

Begitu sampai di rumah, Arka masuk dengan langkah lunglai. Dia membuka pintu pelan dan melirik jam dinding.

Sudah pukul 1 dini hari.

Rumahnya sudah sepi, tidak ada Lintang. Hanya menyisakan pecahan gelas yang dilempar Lintang sebelum cowok itu berangkat ke kelab habis Maghrib tadi.

Arka menjatuhkan dirinya di sofa dengan kepala yang sudah ikut tenggelam di sandaran. Matanya terpejam perlahan.

Sementara itu dalam kamar, Lintang mendengar suara langkah kaki. Dia pikir, Arka sudah pulang. Dia menghela napas panjang.

"Nggak pernah terpikirkan di benak gue kalau... bakal nikah sama crush sendiri pas dia lagi terpuruk," batinnya.

Lintang membuka pintu kamar pelan, dia melangkah ke sofa. Terlihat cowok itu dengan penampilan berantakan dan bau menyengat.

"Dia beneran minum?..." gumamnya.

Matanya nanar menatap Arka. Membayangkan cowok itu minum di kelab. Rasanya seperti mustahil bahwa cowok yang minggu lalu menaruh tangan di ubun-ubunnya dan berdoa sebagai suami, kini seperti cowok brengsek yang bermain api.

Dia menelan ludah, lalu melangkah ke dapur untuk mengambil baskom beserta kain. Tak lama, dia kembali dan mendekat ke sofa. Baskom dia taruh di atas meja. Kain dia basahkan.

Matanya kembali memandang Arka. Perlahan tangannya melepas jaket dan sepatu yang Arka kenakan. Dengan telaten, dia mengelap leher, wajah, dan tengkuk Arka yang berkeringat.

"Gue sedih banget lu begini, tau nggak? Jauh lebih sedih daripada gue dituduh nggak jagain Bunda..." gumam Lintang.

Kaus yang Arka kenakan pun basah karena keringat bercampur aroma alkohol yang sudah pasti diminum tumpah-tumpah. Dia menarik napas panjang. Berusaha agar tidak kembali menangis.

Namun, rasa dingin dari kain basah itu mendadak membuat kelopak mata Arka terbuka. Sisa kesadarannya yang terpengaruh alkohol langsung terusik begitu melihat wajah Lintang dalam jarak dekat.

Bukannya luluh, ego cowok itu malah merangsek naik lagi. Dengan sentakan kasar, Arka menepis kuat tangan Lintang hingga kain lapnya terlempar ke lantai.

"Ngapain lu? Enggak usah sok peduli sama gue. Lu mau cari muka?" tanya Arka dingin. Suaranya serak, menatap Lintang penuh selidik.

Lintang tertegun kaku. Pengorbanannya menahan kantuk karena cemas dan telaten merawat cowok itu justru diinjak-injak begitu saja. Amarah yang sejak tadi dipendamnya langsung mendidih seketika.

Tanpa sepatah kata pun, Lintang memungut kain lap basah di lantai, lalu melemparnya dengan sekuat tenaga tepat ke arah wajah Arka.

PLUK!

"Terserah! Harusnya gue biarin lu mati konyol di jalanan!" bentak Lintang dengan suara bergetar menahan buncahan emosi.

Arka menyentak kain basah itu dari wajahnya. Napasnya memburu, matanya menggelap sempurna. Perlakuan Lintang barusan telak menghancurkan sisa kesabarannya dan membakar egonya sebagai seorang laki-laki.

Cowok itu langsung bangkit berdiri dengan cepat. Sebelum Lintang sempat membalikkan badan untuk kabur ke kamarnya, pergelangan tangan cewek itu sudah dicekal erat oleh cengkeraman kekar Arka.

"Lepas, Arka!" Lintang memberontak panik.

"Lu bilang apa tadi? Mau biarin gue mati? Lu udah berani lempar muka gue pakai kain kotor, sekarang lu mau belaga songong?!" desis Arka geram. Langkahnya merangsek maju memotong jarak hingga tubuh Lintang tersudut. "Lu lupa siapa gue, hah?! Lu udah berani songong sama suami lu sendiri!"

"Suami?!" Lintang menatap Arka dengan mata berkaca-kaca, menolak untuk terlihat lemah di depan cowok itu. "Suami mana yang tadi habis Maghrib ngelempar kartu ATM ke istrinya?! Lu yang duluan nggak menganggap gue ada di rumah ini sebelum lu kelayapan ke club, Arka!"

Garis rahang Arka seketika mengeras sempurna mendengar kalimat Lintang yang menyinggung pertengkaran mereka tadi malam. "Mulut lu bener-bener nggak punya sopan santun, Lintang," desisnya kejam.

Tanpa memedulikan teriakan dan rontaan Lintang, Arka langsung menarik paksa pergelangan tangan cewek itu. Cekalannya begitu kuat dan dominan, membuat Lintang tidak punya pilihan selain mengikuti langkah besar Arka yang menyeretnya dengan kasar menaiki anak tangga satu per satu.

Bukan menuju kamar Lintang, melainkan Arka menyeret cewek itu masuk ke dalam kamar utamanya sendiri di lantai atas.

"Arka, lepas! Lu mau ngapain, bangsa*?!" teriak Lintang habis-habisan saat tubuhnya didorong kasar hingga terjerembap di atas kasur king size milik Arka.

Arka langsung mengunci pintu kamar dari dalam dengan bunyi klek yang nyaring, lalu melempar kuncinya ke sembarang arah. Dia berbalik, merangkak naik ke atas ranjang dan mengukung tubuh Lintang di bawah kuasanya. Tatapan matanya begitu mengintimidasi, mengunci pergelangan tangan Lintang di atas kepala.

"Gue udah bilang, jangan coba-coba nantang ego gue," bisik Arka parau dengan napas panas beraroma sisa alkohol yang menekan kewarasan istrinya. "Karena lu udah terlanjur mikir gue cowok breng*ek yang main api... maka malam ini, gue bakal tunjukin ke lu gimana cara cowok breng*ek memperlakukan istrinya."

Tepat setelah kalimat ancaman itu telak dijatuhkan, Arka langsung menundukkan wajahnya, membungkam bibir lantam Lintang yang selalu berhasil memancing emosinya sampai ke batas maksimal.

...----------------...

Waktu terus bergulir lambat membelah sunyinya malam.

Sekitar tiga jam berlalu dalam keheningan yang mencekam, hingga jarum jam dinding di kamar utama itu akhirnya menunjuk ke angka setengah empat subuh.

Suasana kamar yang tadinya panas membara oleh buncahan emosi dan deru napas, kini telah mendingin total, menyisakan hawa AC yang menusuk kulit.

Kelopak mata Lintang bergerak perlahan. Dia mengerjap kaku, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang karena kelelahan.

Saat matanya terbuka sepenuhnya, rasa gerah di sekujur tubuh langsung menyapa fisiknya, dibarengi dengan dada yang terasa luar biasa sesak.

Lintang mencoba menggerakkan badannya, namun dia menyadari ada beban berat yang menimpa pinggangnya. Lambat-lambat, Lintang menolehkan kepala ke samping.

Di sana, di bawah remang lampu tidur, Arka tampak tertidur pulas dengan posisi miring menghadapnya. Satu lengan kekarnya melingkar posesif di perut Lintang, seolah mengunci istrinya agar tidak kabur. Cowok itu sudah telanjang dada, menampilkan dada bidangnya yang naik-turun teratur.

Lintang menunduk, menatap dirinya sendiri. Kaus santai rumahan yang longgar yang dia pakai sejak habis Maghrib tadi kini sudah tergeletak berantakan di atas lantai.

Seketika itu juga, air mata Lintang kembali meleleh bebas, membasahi bantal milik Arka. Dadanya naik-turun menahan isak tangis agar tidak menimbulkan suara. Lintang meremas ujung selimut dengan begitu erat, meluapkan rasa dongkol yang membakar dadanya.

Dia membalikkan badannya, berganti posisi hingga kini berhadapan langsung dengan Arka yang tertidur menghadapnya.

"Sialan, lu. Katanya janji nggak bakal sentuh gue sebelum kita sah secara negara..." lirihnya dengan suara yang bergetar hebat.

"Ini mah... udah gue direndahin, sekarang diperlakukan kayak cewek baya*an..." lanjut Lintang, merasakan sesak yang teramat sangat di ulu hatinya.

Dalam tidurnya, Arka hanya menggeliat pelan. Bukannya menjauh, cowok itu justru mendekap tubuh Lintang lebih erat, seolah gadis di depannya ini tidak sedang melayangkan protes berat kepadanya.

Air mata Lintang kembali luruh semakin deras. "Kan bisa lu bilang baik-baik, Arka... Nggak perlu giniin gue..."

Dia kesal, sedih, kasihan, sekaligus kecewa. Semua emosi itu bercampur menjadi satu, tumpah ruah menggambarkan kerumitan perasaannya pada sang suami malam ini.

Perlahan, tangannya yang gemetar terangkat, melingkar pasrah di leher cowok itu.

"Gue minta maaf kalau menurut lu gue teledor nggak jagain Bunda... Tapi... Gue nggak suka lu begini, Arka..."

Lintang mengusap air matanya kasar, lalu pelan-pelan menempelkan kepalanya di dada bidang Arka. Dia memejamkan mata di sana, mendengarkan detak jantung cowok itu yang berdenyut stabil di telinganya.

1
siyuu nr
🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!