Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggantikan Dalam Perjodohan
Tentu Byan akan mengantarkannya ke rumah Laila, tidak mungkin juga dia tahu dimana sebenarnya Eva tinggal sekarang. Ketika turun dari mobil, Eva menatap Byan yang juga ikut turun dari mobil.
"Em, sampai sini saja Mas Byan"
"Aku hanya ingin menyapa Om Hartanto"
Eva terdiam, mulai panik ketika ingat jika orang tua Byan dan orang tua Laila adalah teman lama, makanya mereka menjodohkan anaknya. Tentu saja Byan juga mengenal Ayahnya Laila, meski Laila tidak pernah bertemu Byan selain saat kecil dulu. Karena Byan yang lebih banyak menghabiskan waktu di Luar Negara bersama Kakaknya.
"Eh tunggu dulu!" Eva langsung menahan tangan Byan saat pria itu sudah berjalan menaiki anak tangga menuju pintu utama rumah ini. "Tu- maksudnya Papa sama Mama lagi gak di rumah. Mereka ada acara gitu, jadi percuma Mas masuk juga, karena mereka tidak ada di rumah"
"Begitu ya?"
Eva tersenyum, dia malah bingung sendiri sekarang. Malah Laila tidak membalas pesannya sejak masih di mobil tadi. "Iya, sebaiknya Mas Byan pulang saja. Sudah kotor begitu, pasti lelah juga. Aku juga mau segera mandi dan istirahat"
Byan langsung memperhatikan penampilannya sendiri, dimana memang pakaiannya sudah kotor dan banyak debu, tubuhnya pun terasa lengket karena keringat.
"Baiklah, aku pulang dulu. Kau juga segera mandi dan istirahat" ucapnya sambil mengelus lembut kepala Eva seperti biasa.
Eva hanya mengangguk dan tersenyum masam, lalu dia menatap Byan yang masuk kembali ke dalam mobilnya. Mengangguk pelan saat mobil mulai melaju menuju gerbang rumah. Setelah mobil Byan keluar dari gerbang rumah ini, Eva menghembuskan napas lega.
"Aduh, Nona Laila kemana sih? Hampir saja ketahuan"
Eva merogoh ponselnya dari dalam tas, mencoba menghubungi Laila. Tepat pada saat itu melihat Laila baru saja sampai dengan mobilnya di pekarangan rumah. Eva langsung menghampirinya.
"Nona Laila habis darimana sih? Saya hampir mati barusan, penyamaran kita hampir terbongkar"
Laila yang ba keluar dari dalam mobilnya tersenyum masam, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Senyumnya penuh rasa bersalah, tapi juga dia terlihat habis menemukan kesenangan sendiri.
"Maaf banget Eva, tadi aku ada urusan sebentar dan tidak buka ponsel. Terus bagaimana? Apa penyamaran kamu terbongkar?"
"Tidak, untungnya Mas Byan langsung pulang saat aku bilang kalau Tuan dan Ibu tidak ada di rumah. Karena tadi dia malah ingin bertemu mereka"
"Ish, kenapa tuh orang malah jadi ingin bertemu Papa sama Mama sih. Apa kamu tidak melakukan apa yang aku minta?"
Eva menghembuskan napas kasar, dia mengacak rambutnya sendiri, mulai frustasi juga memikirkan bagaimana lagi caranya untuk membuat Byan tidak suka padanya dan membatalkan perjodohan ini.
"Aku sudah sangat berusaha, bahkan sudah membawa dia ke tempat yang seharusnya dia tidak suka dan dia tidak mungkin pernah ke tempat seperti itu. Tapi anehnya ... Mas Byan malah terlihat senang-senang saja di bawa ke tempat seperti itu"
Laila juga ikut frustasi sekarang, dia menghembuskan napas berat. "Bagaimana jika dia malah ingin terus melanjutkan perjodohan ini? Aaa.. Aku tidak mau ya, aku tidak cinta sama dia. Lagian terakhir aku pernah bertemu dengannya saat kita masih kecil. Kamu ingat tidak, Eva? Kamu juga ada pada saat itu"
Eva mengangguk, dia memang ingat tentang masa kecilnya bersama Laila. Saat kedatangan tamu itu dan memang mereka masih terlalu kecil waktu itu.
"Terus bagaimana ini Nona?"
"Pokoknya kalau sampai dia tetap mau melanjutkan perjodohan ini, kamu yang harus menggantikan aku"
"Tapi Nona-"
"Eva, aku tidak mau sama dia. Jadi, kamu saja yang sama dia ya"
Eva hanya diam, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Laila memang terkadang suka mengambil keputusan dengan sangat terburu-buru, sampai dia tidak memikirkan apa akibatnya nanti.
"Sekarang masuklah, kau mandi dan ganti pakaianku saja. Kotor semua begini. Sebenarnya kau membawanya kemana?"
"Rumah Harapan"
"Oh kesana"
Mereka masuk ke dalam rumah, Eva mandi dan berganti pakaian dengan menggunakan pakaian Laila. Mereka memang terkadang sudah seperti ini, memang hubungan ini tidak seperti pelayan dan majikan, lebih seperti saudara perempuan yang saling meminjam pakaian dan barang satu sama lain.
"Menginap saja disini, tidak usah pulang"
Eva menatap ponselnya, memasang pengisi daya ke ponselnya yang hampir kehabisan daya. "Besok aku kerja, sebentar lagi aku pulang. Sudah pesan taksi online"
Laila duduk di sampingnya, mereka duduk di pinggir tempat tidur sekarang. "Eva, aku benar-benar serius ya. Kalau dia tetap ingin melanjutkan perjodohan ini, kamu saja yang menggantikan aku"
"Tapi Nona, bagaimana bisa? Orang tuanya dan orang tua Nona pasti akan marah besar, jangan membuat masalah"
"Salah mereka sendiri, kenapa asal menjodohkan saja. Sudah tahu aku orangnya keras, aku tidak pernah mau di atur, apalagi soal kehidupan pribadiku. Ini soal jodoh saja mereka mengatur"
Eva mengelus punggung Laila, memang menjadi anak dari keluarga kalangan atas, pasti banyak sekali aturan. Laila saja selalu tidak punya pilihan hanya untuk sekadar apa yang dia suka atau tidak. Semuanya harus sesuai dengan apa yang orang tuanya inginkan.
"Semoga saja ada jalan lain untuk bisa membuat perjodohan ini batal. Kenapa tidak Nona Laila saja yang mencoba bicara baik-baik pada Tuan dan Ibu"
Laila menggeleng pelan dengan wajah yang lesu. Seperti tidak ada harapan tentang itu. "Orang tuaku tidak akan mau mendengarkan lagi. Sudah berapa kali aku mencoba membangkang, tapi mereka selalu menemukan cara untuk tetap membuatku tunduk pada perintah mereka"
Eva menghela napas pelan, dia juga ikut bingung sekarang. Sudah sangat ingin membantu Laila, tapi dia sendiri bingung bagaimana caranya.
"Semoga ada jalan keluarnya ya"
"Ya satu-satunya jalan keluar untuk membatalkan perjodohan ini, adalah kamu yang menggantikan aku dalam perjodohan ini"
*
Byan duduk di pinggir tempat tidurnya, masih mengusap kepalanya dengan handuk kecil di tangannya. Masih mengingat tentang kejadian tadi siang, semua hal yang dilakukan Eva, membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum.
"Dia benar-benar lucu dan menggemaskan"
Byan mengambil ponselnya, mengirimkan pesan pada nomor Laila itu. Sepertinya hidup Byan mulai menemukan tujuan hidupnya. Ketika sejak dulu, dia tidak pernah tertarik pada cinta, dan sekarang untuk pertama kalinya sebuah pertemuan dengan gadis pilihan orang tuanya, dan dia merasa ada sedikit kecocokan.
Terima kasih untuk hari ini.
Pesan yang dia kirim pada nomor ponsel Laila, tanpa sadar tersenyum tanpa sebab. Hanya mengingat tentang apa yang dia lakukan tadi siang bersama dengan gadis itu.
Suara ketukan pintu kamar, membuatnya menoleh dan mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
"Byan, Papa menunggumu di ruang kerja"
Suara Mama terdengar dari balik pintu, membuatnya menghembuskan napas pelan. "Iya Ma"
Bersambung