Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jin Dasim kena Ruqiah
Zulfa berdiri di balik pilar itu. Tak bergerak, tak juga bersuara. Hanya matanya yang terus menatap ke arah meja itu, lebih tepatnya ke arah Arslan... dan Fathiya. Percakapan mereka terdengar samar, tertelan oleh riuh suara mall. Namun bagi Zulfa, ia tak perlu mendengar apa pun.
Cukup melihat, bagaimana cara Arslan duduk dan caranya menatap.
Zulfa menelan ludah. Dadanya terasa sesak terhimpit kerikil-kerikil kecil yang terus menghujam dirinya.
Namun anehnya—air matanya belum jatuh. Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang mampu menahan. Atau mungkin—sudah terlalu lelah untuk menangis. Tangannya perlahan mengepal. Ponsel yang sedari tadi ia genggam terasa dingin.
Tak ada pesan, tak ada kabar apapun dari Arslan. Seharusnya dia mengabari istrinya kalau dirinya akan makan siang dengan Fathiya dan juga wanita paru baya yang tidak Zulfa kenal. Atau mungkin Arslan memang sengaja tidak mengabarinya, takut kalau istrinya cemburu dan berpikir yang tidak-tidak.
Tapi tanpa perlu penjelasan apapun, dengan melihat pemandangan ini saja, sudah cukup membuat Zulfa paham.
Zulfa menghela napas panjang. Seolah sedang mengumpulkan sisa kekuatannya. Zulfa tetap berharap agar Arslan tidak menutupi hal ini darinya, dan akan bercerita tentang pertemuannya dengan Fathiya yang memiliki tujuan tertentu.
Lalu akhirnya Zulfa melangkah mundur. Langkah pertama tanpa suara. Langkah kedua masih tanpa suara.
Dan akhirnya—Zulfa berbalik, memilih untuk pergi.
Tanpa mendekat.
Tanpa bertanya.
Namun justru—itulah yang paling menyakitkan. Karna pikirannya diliputi tanda tanya besar. Zulfa memilih kembali ke restoran tempat dirinya makan siang dengan dua sahabatnya.
Di sisi lain, Arslan tiba-tiba terdiam. Entah kenapa—dadanya terasa tak nyaman. Seperti ada sesuatu yang mengawasinya. Sesuatu yang seharusnya ia sadari sejak tadi.
Matanya secara refleks menyapu ruangan sekitar, namun semua terasa kosong di penglihatannya.
"Arslan?" suara Fathiya membuyarkan lamunannya.
"Iya..." jawabnya singkat, meski pikirannya masih terganggu.
Ia tak tahu—bahwa seseorang baru saja pergi. Membawa kepercayaan yang mungkin mulai runtuh.
"Jadi... bagaimana keputusannya?" tanya Fathiya sekali lagi, berusaha terdengar tenang meski matanya menangkap perubahan pada wajah Arslan.
Entah mengapa, Arslan jadi tampak gelisah. Tatapannya beberapa kali kosong, jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.
Fathiya menyadari itu.
Namun ia memilih diam.
Arslan menarik napas panjang, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Ia berusaha menyingkirkan kegaduhan di dalam kepala dan fokus pada urusan yang ada di hadapannya.
"Baik," ucapnya akhirnya, suaranya tegas meski sedikit berat. "Saya bersedia menambahkan anggaran, jika memang dana dari para donatur lain belum mencukupi."
Kalimat itu seketika membuat wajah Fathiya dan Bu Risma berubah lega.
Senyum syukur terbit di bibir keduanya.
"Alhamdulillah..." Bu Risma mengembuskan napas panjang. "Terima kasih banyak, Pak Arslan. Bantuan ini sangat berarti untuk kelangsungan pembangunan rumah sakit."
Fathiya menatap Arslan beberapa detik, lalu berkata pelan, "Terima kasih. Atas nama rumah sakit... dan para pasien yang nantinya akan terbantu."
Arslan hanya mengangguk singkat.
"Pastikan semuanya dipakai sesuai kebutuhan," katanya datar. "Saya tidak ingin ada satu rupiah pun yang salah tempat."
"Tentu," jawab Bu Risma cepat. "Kami akan membuat laporan rinci dan transparan."
Arslan kembali mengangguk, namun pikirannya tetap tak tenang.
***
"Ya ampun, Zulfa... kamu dari mana saja, sih? Ke toiletnya kok lama banget?" Nadia memekik begitu melihat Zulfa kembali.
Entah sudah berapa lama Zulfa menghilang dari meja mereka.
Zulfa tersenyum tipis, berusaha tampak biasa.
"Maaf... tadi toiletnya antre. Jadi aku muter-muter cari yang di bawah," ucapnya santai, seolah apa yang baru ia lihat bukan sebuah beban besar untuknya.
Sebab tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya. Bahwa ia baru saja melihat sesuatu yang menghancurkan ketenangannya. Namun, Nadia tak semudah itu percaya.
Tatapannya menelusuri wajah Zulfa yang tampak pucat dan kehilangan cahaya.
"Kamu baik-baik aja kan, Zul?" tanyanya pelan. "Perutmu masih sakit?"
Zulfa terdiam sejenak. Pikirannya masih tertinggal di tempat lain. Di meja tempat Arslan dan Fathiya duduk bersama. Pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.
"Eh... Zulfa." Mutia menyikut lengannya pelan.
Zulfa tersentak.
"Eh... iya? Kenapa?"
"Itu ditanyain Nadia, bukannya di jawab malah ngelamun." Hardik Mutia.
Zulfa menggaruk kepalanya yang tak gatal, mencoba menutupi kegugupannya.
"Eh iya maaf, aku nggak apa-apa kok," jawabnya akhirnya.
"Kamu beneran nggak apa-apa? Kok semenjak dari toilet wajahmu keliatan gelisah terus. Kamu nggak lagi lihat yang aneh-aneh, kan!" Nadia sedang menebak isi pikiran Zulfa.
"Emang aku lihat apa? Setan?" Zulfa terkekeh sembari menutup mulutnya yang dipenuhi deretan giginya yang putih dan rapi. "Mana ada setan nongol siang bolong begini." Lanjutnya lagi. Zulfa berusaha menepis isi pikiran Nadia.
"Kali aja lihat Jin Dasim lewat." Tiba-tiba Nadia menyeletuk yang membuat Mutia reflek tertawa.
"Kalau Jin Dasim mah bisa keluar kapan aja. Dia nggak takut apapun, kecuali kalau kena Ruqiah." Sontak mereka tertawa mendengar celetukan Nadia.
Dan tiba-tiba saja Zulfa merintih, ia merasakan nyeri luar biasa di perutnya.
"Aww ..." rintih Zulfa.
"Kamu kenapa, Zul?" Nadia nampak panik.
"Perutku sedikit nyeri." Jawab Zulfa sembari meremas perutnya yang terasa berdenyut.
"Masih rutin minum obat dari dokter, kan?" Mutia turut menimpali, kali ini lebih serius.
"Iya... masih," sahut Zulfa singkat.
Nadia dan Mutia saling berpandangan. Mereka sudah lama tau tentang kondisi sahabatnya itu. Dari dulu Zulfa memang sering merasakan sakit di perutnya. Bahkan sejak mereka masih remaja.
Tentang sakit yang kerap datang tanpa diundang.
Tentang perjuangan yang tak pernah benar-benar selesai.
"Terus terakhir kontrol gimana?" tanya Mutia hati-hati. "Dokter kasih solusi apa?"
Zulfa tersenyum kecil.
"Ya... nggak gimana-gimana," jawabnya pelan. "Nggak ada dokter yang berani ambil tindakan operasi lagi..." kalimatnya terjeda, "selama aku masih pengen punya anak."
Ia menunduk sejenak.
"Jadi satu-satunya jalan... ya aku harus lanjut terapi hormonol."
Nada suaranya datar.
Seolah itu hal biasa.
Padahal—ini bukan hal yang mudah.
"Ya sudah... yang penting kamu tetap jaga kondisi," ujar Nadia lembut. "Jangan sampai sakitnya ganggu aktivitas kamu."
Zulfa mengangguk pelan.
Namun pikirannya—masih berisik.
Masih dipenuhi oleh dua manusia yang pernah menjadi pasangan bahagia di masa lalu.
Masih... terasa sakit. Bukan hanya sakit di perutnya melainkan rasa sakit di tempat lain ... hatinya.
—
Mutia melirik jam di pergelangan tangannya.
"Wah, jam istirahatku habis. Aku balik duluan, ya. Kerjaan lagi numpuk banget," katanya sambil berdiri.
"Makasih ya... udah nyempetin waktu buat makan siang sama kita," ucap Zulfa.
"Iya, sama-sama. Eh, tapi..." Mutia menahan langkahnya, lalu menaik-turunkan alisnya, nakal. "Jangan lupa sama permintaanku tadi."
Zulfa mengernyit.
"Permintaan yang mana?"
"Ih... kamu nyebelin banget. Pura-pura lupa lagi!" kesal Mutia.
Zulfa terdiam sejenak, lalu matanya sedikit membesar.
"Oh... masalah jodoh."
"Iya!" sahut Mutia cepat.
Zulfa tertawa kecil.
Namun tawanya tak secerah biasanya.
"Nanti aku coba ngomong sama Arslan, ya. Siapa tahu ada rekan bisnisnya yang masih jomblo."
Ia menutup mulutnya, menahan tawa.
"Tapi... kemungkinan besarnya duda sih," tambahnya berkelakar. "Soalnya rekan bisnisnya Arslan kebanyakan sudah pada tua."
Nadia langsung menyahut, "Nggak apa-apa duda, yang penting banyak duit. Di zaman sekarang, realistis itu penting. Uang itu segalanya."
Mutia mendengus.
"Eh, nggak bisa gitu dong! Fisik tetap harus diperhatikan juga! Aku yang masih perawan ting-ting begini, masih layak dapat suami yang modelnya kayak Arslan—tampan, gagah, kaya raya, setia, dan—"
"Udah, udah..." potong Nadia sambil tertawa. "Nggak usah ngehalu terlalu tinggi. Cowok model Arslan itu langka. Limited edition. Susah nyari suami yang bisa cinta mati sama pasangannya sampe bucin setengah mati."
Zulfa tersenyum.
Namun kali ini—senyumnya terasa berbeda.
"Jangan terlalu berlebihan memuji Arslan," ucapnya pelan.
"Semoga saja kamu dapat yang... lebih baik dari Arslan."
Mutia dan Nadia saling pandang.
Ada yang aneh.
Namun mereka tak tahu apa, tapi Nadia terlihat lebih peka dengan isi hati Zulfa.
Sementara itu—Zulfa hanya menatap meja di hadapannya yang kosong.
Seperti sesuatu di dalam dirinya yang perlahan ikut mengosong. Dan untuk pertama kalinya—ia mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini tak pernah ia ragukan.
Tentang cinta.
Tentang kesetiaan.
Dan tentang...
laki-laki yang ia yakini sepenuh hati.
***
Tak lama setelah Mutia pergi, Zulfa dan Nadia pun bersiap meninggalkan tempat itu. Meja yang tadi penuh kini telah bersih—piring, mangkuk, dan gelas yang semula berisi, kini kosong tanpa sisa.
Waktu terasa berlalu begitu cepat. Atau mungkin—terlalu banyak hal yang terjadi dalam hati Zulfa hingga ia tak lagi benar-benar menyadari waktu. Nadia berdiri sambil merapikan tasnya.
"Aku ke playground dulu, ya. Jemput si kecil," ucapnya. Nadia datang ke tempat ini tidak hanya sendiri, ia turut membawa anaknya yang paling kecil dan juga baby sitter-nya.
Zulfa mengangguk.
"Iya, hati-hati."
Di depan restoran, mereka berhenti sejenak.
Saling berpamitan karena arah mereka berbeda.
Nadia harus berbelok menuju area bermain anak, sementara Zulfa memilih jalur lain—jalur yang lebih cepat menuju lift.
Namun bukan hanya itu alasannya.
Ada yang sedang ia hindari.
Sesuatu yang ia tahu... masih ada di sana. Zulfa tak ingin melewati restoran itu lagi.
Zulfa menarik napas panjang.
Lalu melangkah.
—
Lorong mall terasa lebih lengang di sisi itu.
Lampu-lampu terang memantul di lantai marmer, menciptakan bayangan langkahnya yang berjalan sendiri.
Sunyi.
Namun pikirannya tidak.
Ia tahu... jika ia mengambil jalur sedikit saja ke kanan—ia akan kembali melihat restoran itu.
Meja itu.
Dan... mereka.
Langkahnya sempat melambat.
Hanya sepersekian detik.
Cukup untuk membuat hatinya kembali berdebar. Namun ia segera menggeleng pelan.
Tidak.
Ia tidak ingin melihat lagi. Ia tidak ingin mengulang rasa yang sama.
Rasa yang—bahkan sekarang saja masih tertinggal.
Masih terasa sesak di dada.
Zulfa memilih berbelok ke kiri. Mempercepat langkahnya. Seolah sedang melarikan diri dari sesuatu yang tak terlihat—namun begitu nyata.
—
Namun takdir... sering kali punya cara sendiri. Belum jauh ia berjalan, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di depan—beberapa meter darinya—pintu kaca restoran itu terbuka.
Dan seseorang keluar dari sana.
Arslan.
Secara reflek jantung Zulfa langsung berdegup kencang.
Tubuhnya membeku seketika, ketika kedua mata itu saling bertemu pandang.
Waktu seolah berhenti.
Tak ada suara.
Tak ada gerakan.
Hanya dua pasang mata yang saling menatap—dengan perasaan yang sama-sama rumit.
Arslan terlihat terkejut.
Sangat terkejut, bahkan matanya membola penuh. Seolah tak menyangka akan melihat istrinya di sini. Dan sialnya, ia hanya tinggal berdua dengan Fathiya, sebab Bu Risma sudah pulang lebih dulu.
"Zulfa...?" suaranya pelan, hampir tak terdengar.
Namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Zulfa kembali bergetar.
Zulfa menelan ludah.
Ia ingin tersenyum. Ingin bersikap biasa.
Namun tubuhnya tak sepenuhnya menurut.
"Sedang apa disini?" Tanya Arslan lagi.
"Habis makan siang sama Nadia dan Mutia." Jawab Zulfa santai.
"Sudah selesai?" tanya Arslan kembali.
"Sudah." Jawab Zulfa singkat. Lalu pandangannya berpindah pada Fathiya.
"Kalian juga suah selesai makan siangnya?" Tanya Zulfa lagi. Berusaha terlihat tenang dan biasa saja.
Namun terlalu biasa—untuk seseorang yang hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Arslan mengangguk cepat.
"Iya... tadi—"
Kalimatnya terhenti.
Seolah ia sendiri bingung harus menjelaskan dari mana.
"Iya aku tau kok, kalian nggak cuma makan berdua." Sebuah kalimat yang hampir mengguncang tubuh Arslan, bahwa istrinya sudah melihatnya sejak tadi.
"Kalau kalian masih ada urusan lagi, silahkan dilanjutkan. Aku pulang dulu."
Kalimat itu terdengar seperti biasa. Namun entah kenapa—terasa begitu mencekam. Arslan buru-buru mencengkran jemari Zulfa.
"Aku antar kamu pulang." Ucapan Arslan terdengar memaksa.
"Aku bawa mobil sendiri." Jawab Zulfa singkat sambil menepis genggaman tangan suaminya.
Zulfa melanjutkan langkahnya, melewati Arslan begitu saja.
Tanpa menunggu.
Tanpa menoleh.
Tanpa bertanya apa pun lagi.
Dan justru itu—yang membuat Arslan semakin tidak tenang.
Namun yang bisa ia lakukan hanya menatap punggung istrinya yang semakin menjauh.
"Aku jelasin nanti di rumah, ya," ucapnya, dengan suara sedikit meninggi agar terdengar.
Zulfa berhenti.
Hanya sebentar. Namun tidak berbalik.
"Hmm," jawabnya singkat. Entah Arslan mendengarnya atau tidak. Zulfa tak peduli. Yang ingin ia lakukan cepat pergi dari tempat itu.
"Bagaimana kalau sampai istrimu menaruh curiga?" Tak hanya Arslan, Fathiya pun turut gelisah.
"Nanti aku akan jelasin ini semua di rumah. Aku akan bawa proposal itu sebagai bukti." Arslan menatap map yang di pegang Fathiya, lalu Fathiya dengan senang hati menyerahkan map itu kepada Arslan.
"Bawa proposal ini pulang, tunjukkan pada istrimu kalau kamu sudah menjadi donatur tetap untuk rumah sakit kami." Ucap Fathiya, dan Arslan membalasnya dengan anggukan.
Setelahnya, mereka pergi dari tempat itu dan berpisah di tempat parkir. Fathiya kembali ke rumah sakit dan Arslan bergegas menuju rumahnya. Padahal urusannya di kantor masih banyak tetapi Arslan lebih memilih untuk pulang lebih dulu, daripada ia dibuat gelisah oleh istrinya.
—