Aku menatap bayangan yang terpantul dalam cermin dan tersenyum sinis pada bayangan itu.
Aku lah si itik buruk rupa itu.
Lidya Wijaya. Gadis remaja bertubuh gendut yang sering di buli teman teman nya.
Suatu hari aku bertekad untuk langsing dan cantik, tapi dengan cara yang salah.
Sekedar saran selama membaca coba sambil denger musik lagu korea Davichi "sunset" atau "forgetting you". Biar lebih seru. Soal nya Author ngetik sambil dengerin lagu itu. :)
Harap bersabar, typo bertebaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni pebriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Aku melihat Isi lemari, semua baju big size. Tidak ada yang cocok dengan tubuh kecil ku yang sekarang. Jelas saja, dulu berat ku 93 kg, sekarang 48 kg dengan tinggi 167 cm.
Karena rumah luas sekali dan membuat lelah jika bolak balik aku pun menelpon papa.
Papa langsung mengangkat nya.
"Ada apa?" Tanya papa.
"Tidak ada baju yang muat dengan ku sekarang. Semua big size, terlalu besar untuk ku" jelas ku.
"Lalu?" Tanya papa lagi. Ku pikir dia akan peka. Hmm laki laki memang seperti itu.
"Aku ingin baju dan celana baru yang banyak, minta uang" seru ku tanpa basa basi.
"Hahahahahaaa" papa tertawa mendengar permintaan ku.
"Ok, aku akan transfer segera" kata papa.
Aku memakai baju seadanya nya untuk sementara. Sebenar nya ada baju yang aku bawa dari korea tapi sudah kotor semua belum di cuci. Sedih banget harus shoping sendirian.
Sudah jam 8 malam, aku pun turun memakai baju seada nya. Aku janji akan shoping besar besaran, sayang sekali tubuh cantik ini jika tidak di manjakan.
"Supir sudah menunggu di luar, have fun" seru papa.
Apa? Sekarang aku boleh pakai mobil?
Aku benar benar merasa jadi tuan putri sekarang.
Pak Dadang sudah menunggu di luar untuk mengantar ku kemana saja aku pergi.
"Kemana non?" Tanya pak Dadang, supir kepercayaan papa.
"Ke mall dulu deh" jawab ku. Pak Dadang mengangguk.
Sesampai nya di sana aku memasuki toko toko barang branded, perlengkapan ku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku bahkan mengganti tas sekolah dan sepatu ku, aku akan mengubur dalam dalam sosok Lidya yang dulu. Pak Dadang menemani ku belanja, ia yang membawakan semua barang belanja ku.
Tidak lupa aku singgah ke sebuah counter penjual kartu nomor handphone.
"Pak, Dadang ke mobil duluan saja, aku masih akan melihat melihat, seru ku saat melihat pak Dadang mulai kesulitan membawa beban berat barang belanja an ku. Ia mengangguk dan segera pergi ke mobil.
Dari kejauhan aku melihat bimo bersama teman teman sekelas yang lain, entah mereka sedang apa di sini.
Aku gugup setengah mati, semoga mereka tidak mengenali ku. Aku perlahan menjauh dari mereka.
Saat berbalik arah aku justru bertemu Reno. Aku menabrak badan kekar nya. Apes banget sih.
"Maaf" seru ku singkat.
Reno terpesona menatap ku.
"Oh, tidak apa apa, sendirian saja?" Tanya nya pada ku.
Ah, syukur lah ia tidak mengenali ku.
"Tidak, aku bedua, permisi" jawab ku singkat sambil sedikit berlari menuju keluar mall yang luas nya 5 tingkat itu.
Bimo, maaf kan aku. Aku menatap Bimo dari kejauhan. Rasa bersalah mulai menggelayut dalam hati ku. Jujur aku sangat rindu bisa jalan jalan lagi dengan Bimo sahabat ku.
Aku berlari ke dalam mobil. Tidak boleh ada yang mengenali ku. Jika ada, jelas mereka akan mengejek ku.
Kecuali Mai. Dia yang selalu mensupport ku agar berubah seperti ini.
Aku menyuruh pak Dadang untuk segera melaju mobil nya untuk pulang ke rumah.
Aku pulang membawa belanjaan yang sangat banyak.
Aku merebahkan diri di kamar, tempat ternyaman bagi ku.
Ah, akhir nya aku bisa memakai pakaian pakaian cantik itu. Aku tersenyum bahagia.
Aku menyuruh bibi untuk membantu merapikan belanjaan ku di lemari.
Setelah semua rapi aku pun tertidur pulas.