Pernikahan adalah hal yang diinginkan banyak orang, sayangnya pernikahan Aina Putri Arman tak semulus seperti yang di harapkan sebelumnya.
Calon suaminya tidak datang dan akhirnya, Davian Kin Sanjaya menggantikan posisi calon suami Aina di pelaminan.
Adakah sesuatu yang membuat calon suami Aina tidak hadir dalam pernikahannya sendiri?
Lalu bagaimana kehidupan rumah tangan Davian dan Aina selanjutnya?
Sekuel dari Takdir Janda Muda.
Ini adalah cerita hiburan semata, semoga suka😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Keputusan Ada Pada Aina
Dalam perjalanan menuju restoran, Aina hanya bisa diam dengan menautkan jari jemarinya, seakan tak tenang memikirkan nanti saat dirinya bertemu dengan Alee.
Pria itu masih berada di hati dan pikiran Aina, bagaimana mungkin orang yang pernah berpengaruh dalam hidupnya bisa menghilang begitu saja, bagi Aina itu sangatlah tidak mungkin.
Davian yang sedang mengemudikan mobil dengan memakai kacamata hitam sesekali melirik Aina dan memahami kegundahan istrinya itu. Apa yang bisa ia lakukan selain diam saja dan segera menghantarkan wanita itu pada tujuannya.
Dia sendiri juga ingin mengetahui duduk permasalahan yang terjadi saat pernikahan mereka berdua. Jika apa yang dipikirkannya benar, mungkin Davian akan mengambil tindakan tegas untuk Metta. Ya, nama itu yang ia duga menjadi dalang dibalik kejadian ini.
"Sudah sampai, ayo kita turun!" ajak Davian pada Aina yang masih terpaku pada tempatnya.
Tidak ada jawaban dari istrinya, membuat Davian membuka suaranya kembali.
"Apalagi yang kau pikirkan, bukankah tadi kau begitu semangat ingin bertemu pria itu? Kau takut?"
Aina mengangguk. Tak dipungkiri hatinya begitu takut menghadapi kenyataan ini.
"Takut apa? Apa pria itu seperti hantu!"
Mendengar becandaan Davian membuat Aina menoleh pada suaminya dan berkata," Ini tidak lucu." Kembali menatap ke depan." Aku takut kenyataan baru yang akan dibawa oleh Alee. Beban apalagi yang akan aku tanggung setelah ini?"
Aina mengepalkan tangannya.
"Kita akan tahu apa yang membuat pria itu lari dari pernikahannya sendiri. Jika perlu aku akan menghajarnya untuk melindungi harga dirimu!"
Mendengar ucapan Davian membuat Aina berdecih." Kau sudah selalu melindungi harga diriku sejak kita pertama bertemu, jangan berusaha jadi pahlawan lagi untuk menutupi siapa dirimu sesungguhnya!"
"Hmmm mulai lagi. Ayo kita turun, kekasihmu kelamaan menunggu nanti!"
Davian turun dari mobil dan di susul oleh Aina yang berjalan di belakang Dav. Dav menoleh menatap istrinya.
"Apa kau bodyguard ku?"
Aina mengangkat bahunya," Kenapa?"
"Suami istri itu berjalan berdampingan, bukan seperti ini!" tangan Dav menarik lengan Aina agar berjalan di sebelahnya.
Di sisi lain, Aluna dan Alee hanya duduk tanpa berbicara apapun. Pelayan restoran sudah menyediakan minuman untuk mereka namun belum tersentuh sedikitpun.
Tiada niat untuk makan atau hanya sekedar minum saja. Bagi Alee, bertemu Aina adalah yang terpenting walau dirinya tak makan sekalipun.
Mata Alee menatap lurus luar jendela dan berharap ia melihat Aina berjalan di sana dan masuk restoran menemuinya, sama seperti dulu.
"Kakak!" kata Aluna yang menatap Davian dan Aina berjalan mendekati mereka.
Alee pun mengikuti sorot mata Aluna dan menemukan Aina berjalan mendekatinya. Namun kali ini berbeda dari terakhir kali mereka berdua bertemu. Perbedaan yang sangat signifikan dan seakan ini hanyalah sebuah mimpi yang tak ingin ia ingat.
Alee berdiri dengan mata nanar menatap keduanya. Pandangannya bertemu dengan pandangan Aina yang mulai berkaca-kaca menahan tangis.
Davian melirik Aina dan menggenggam erat tangan istrinya itu, membuat Aina mengalihkan pandangan dan menatap Davian. Saat itulah Alee memejamkan mata begitu lama, menyadari kisah cintanya akan rumit setelah ini.
"Na, kenapa kau melakukan ini?" ucap Alee dengan suara bergetar saat Aina sudah berada tepat di hadapannya.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau pergi dari pernikahan kita sendiri?"
Keduanya saling berpandangan, intens dan saling melampiaskan kerinduannya di balik ucapan mereka yang saling menuduh.
"Kita duduk dan bicarakan ini dengan kepala dingin. Aku tidak ingin ada pertengkaran di tempat umum seperti ini!" Aluna sudah mulai mencium akan adanya bau pertengkaran karena kesalahpahaman yang terjadi antara keduanya.
Di saat Alee, Aina dan Aluna berdiri, Dav tanpa izin sudah mendaratkan pantatnya di atas kursi dengan kaki di atas paha kaki satunya. Santai dan seakan tak ada permasalahan apapun.
"Aina sayang, duduklah!" ucap Davian seakan menyulut emosi Alee.
"Oh, jadi karena pria ini kau meminta seseorang untuk menjauhkanku dari pernikahanku sendiri?!" seru Alee dengan nada tinggi membuat beberapa pasang mata kini menatap ke arah meja mereka.
"Begitu, ada seseorang yang sengaja menjauhkan pria ini dari pernikahannya sendiri. Dugaanku pasti tidak meleset!" gumam Davian dalam hatinya.
"Kau salah Al, dia yang sudah menggantikan posisimu untuk menyelamatkan harga diriku di depan para tamu undangan,"
"Apa kau yakin dia yang menyelamatkanmu atau malah dia yang sengaja membuat rekayasa ini agar dia bisa memilikimu!"
Ucapan Alee telah membungkam mulut Aina dan kini dirinya menatap Davian intens.
"What?" ucap Davian pada Aina dengan menaikkan kedua alisnya." Aku sekarang tahu kenapa pernikahan kalian amburadul," Davian memberi isyarat pada Alee untuk tenang dan duduk. Namun pria itu sepertinya ingin berdiri saja membuat Aluna harus menarik tangan Alee agar duduk di sebelahnya seperti tadi." ini hanya permainan seseorang dan kita adalah wayangnya!"
"Hah? Apa maksudmu!" Aina tak habis pikir Davian mengatakan sesuatu yang membuatnya bingung.
"Tuan Alee, ceritakan apa yang terjadi saat kau hendak melakukan resepsi pernikahan!"
"Berlagak sok detektif!" kata Alee, namun akhirnya ia menceritakan juga kisahnya sampai ia bertemu dengan Aluna saat perjalanan pulangnya.
Aina memasang wajah terkejut saat mendengar cerita Alee sedangkan Davian masih santai seperti sebelumnya.
"Aku bertemu Alee saat perjalanan pulang dari liburan bersama Naomi dan Akiyama, sebelumnya aku tidak tahu jika Alee ini ada hubungannya dengan kak Aina. Maafkan aku kak Vian tidak segera memberitahumu!" Aluna tertunduk dan merasa ikut bersalah dalam hal ini.
"Aku tidak peduli siapa yang membuat kami berpisah, tapi aku mohon kembalikan Aina kepadaku. She is mine, she is my life!"
Dengan dada yang begitu sesak, Aina menghapus air matanya yang mulai menetes dengan tangannya. Sesekali ia melirik Davian dan Alee bergantian, mulutnya belum bisa berucap lantaran dadanya naik turun karena ingin menangis.
Inilah yang sejak tadi di takutkan oleh Aina, kenyataan yang akhirnya menjadikan beban baru baginya.
"Semua sudah jelas. Ada seseorang yang ingin membuat kalian berpisah, dan orang itu bukanlah aku. Aku tidak mengenal Aina sebelumnya dan aku hanya seorang tamu undangan saat pernikahan kalian diadakan."
"Aku masih belum percaya padamu!" tegas Alee dengan tatapan yang tak bersahabat pada Davian.
"I don't care." Tukas Davian." Mau kau percaya padaku atau tidak, aku tidak mau tahu. Sekarang tanya sama Aina, keputusan ada pada wanita ini!" Davian sudah lepas tangan. Hatinya berniat mencari dalang di balik kejadian yang menyeret nama dan juga hidupnya.
Sedangkan untuk Aina, Davian masih menunggu wanita itu menepati ucapannya yang sebelumnya atau memilih untuk kembali pada Alee. Ia tidak akan ikut campur jika memang Aina memilih Alee, namun jika dia tetap bersama Davian, maka berjuta cinta dan kasih sayang akan ia berikan seperti janji yang ia ucapkan saat menikahinya lima bulan lalu.
untuk penjahatnya tidak di hukum
jd kurang gereget dan kurang puas endingnya..