Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Semua yang di lakukan Raka di ketahui oleh Dimas. Pria itu menatap tajam Raka dan nadia yang tengah berduaan.
"Oh, ini kelakuan Lo di belakang gue. Gatel banget ya jadi cewek, kemarin Darren yang Lo deketin. Sekarang Raka? Terus nanti Ardana? Sekalian aja bokap gue yang Lo deketin! Dasar cewek murahan, ikut gue sekarang!," marah dimas.
Dimas benar benar kesal dengan Nadia, ia pun menarik tangan Nadia, sehingga memerah. Raka yang ada di sana langsung menahan tangan Dimas.
"Jangan kasar dim, dia istri Lo," ucap Raka.
Raka benar benar terkejut melihat sikap sahabatnya yang begitu berbeda dari biasanya. Baru kali ini Raka melihat Dimas berbuat seperti ini pada seorang wanita. Dimas menepis tangan sahabatnya Karena sangat marah.
"Jauhin tangan Lo, dia enggak baik buat Lo. Cewek murahan ini harus di beri pelajaran biar merasa jera!," ucap dimas.
Dimas mendorong Nadia masuk ke dalam mobil miliknya. Raka yang melihatnya langsung mengejar Dimas, ia tidak ingin melihat Nadia di sakiti oleh sahabatnya.
"Dim buka, jangan kayak gini. Nadia itu istri Lo, apa yang Lo liat itu enggak sama dengan yang Lo pikirkan. Gue tad-------,"
"Diem Lo Raka! Jangan ikut campur urusan gue sama cewek murahan ini!," ucap Dimas.
Dimas langsung menghidupkan mobilnya. Raka mulai panik, Raka langsung berlari masuk kedalam cafe untuk menghampiri teman temannya yang lain.
"ren, bantu gue. Dimas lagi marah, tadi gue enggak sengaja liat istrinya masuk ke cafe. Terus gue samperin, Nadia tadi mukul dadanya keras banget jadi gue tahan. Sekarang Dimas salah paham, gue takut kalau Nadia di sakiti sama dia," ucap Raka.
Andai saja dia tidak menyusul Nadia, mungkin Nadia kn baik baik aja. Darren langsung berdiri saat mendengar ucapan dari raka, setelah itu darren langsung berlari keluar dari cafe di ikuti oleh Raka dan Ardana. Sedangkan Jessica hanya duduk diam sambil memakan makanannya. Jessica terlihat sangat santai, dan langsung mengambil tisu untuk menghapus sisa makanan di sudut bibirnya.
"Menyusahkan sekali, lebih baik aku pulang dan langsung beristirahat, tubuhku sangat lelah," gumam Jessica.
**********
Di rumah Dimas. Mobil berhenti di halaman rumah, Dimas langsung keluar dari dalam mobil dan menarik tangan nadia yang hanya diam. Dimas membawa Nadia masuk ke dalam kamar, ia langsung mendorong tubuh Nadia hingga terbentur ke dinding kamar, dan di belakang telinga gadis itu terbentur sudut meja yang tajam.
"Jangan pernah Lo deketin temen gue, inget Lo enggak pantes buat sahabat gue. Lo itu pantesnya sama cowok yang sama kayak lo yang sama sama murahan. Astaga, kenapa orang tua gue mau aja ya nikahin gue sama cewek kayak Lo. Murahan dan tidak tau malu, sudah punya suami masih aja kegatelan sama cowok lain. Eh, malah gatel sama sahabat suaminya sendiri!," ucap dimas.
Ucapan pria itu benar benar sangat menyakiti hati Nadia. Gadis itu hanya bisa menundukkan kepalanya saja dan air matanya berlinang. Nadia benar benar merasa sangat sesak saat suaminya berbicara hal yang sangat menyakiti hatinya. Bahkan rasa sakit di belakang telinganya saja tidak dapat ia rasakan lagi. Saat dimas akan membalikkan tubuhnya, Dimas melihat darah yang menetes di leher Nadia.
"Belakang teling-------,"
"Nad," panggil Darren panik.
Terdengar suara Darren yang benar benar terlihat sangat panik. Darren masuk ke dalam kamar dan langsung mendekati Nadia. Air mata Nadia terus menetes, Darren yang melihat air mata tersebut, dadanya benar benar terasa sakit. Raka terkejut dan langsung mendekati Nadia, ia menyingkirkan rambut Nadia dan terkejut melihat di belakang telinga gadis itu berdarah.
"Lo apain Nadia Dimas?!" Ucap Raka.
Darren benar benar sangat marah dan mencengkram kerah baju Dimas.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Woi! Pikirin Nadia dulu, masalah berantem nanti aja! Darahnya keluar banyak banget, dia enggak sadarkan diri!," ucap Raka.
Raka langsung menggendong Nadia ala bridal style dan membawa Nadia untuk masuk ke dalam mobil. Darren menyusul Raka, sedangkan Dimas hanya terdiam di kamar. Ia melihat noda darah di lantai, entah kenapa dia tiba tiba merasa bersalah dengan perbuatanya. Dimas mengepalkan kedua tangannya, ia langsung berlari menyusul para sahabatnya.
Bagaimana pun Nadia tanggung jawabnya, walupun ia tidak mencintai Nadia. Namun kali ini ia benar benar merasa bersalah, Karena untuk kesekian kalinya ia melukai sang istri yang sudah merawatnya.
*********
Beberapa menit di perjalanan, akhirnya Raka dan Darren sudah tiba di rumah sakit. Darren langsung menggendong Nadia yang sudah tidak sadarkan diri.
Nadia terlihat sangat kelelahan dan wajahnya benar benar sangat pucat. Perawat langsung membawa Nadia ke ruang UGD untuk di obati. Raka dan Darren hanya bisa menunggu di depan ruangan, karena keadaan UGD sangat padat. Darren duduk di kursi dan Raka hanya bisa mengusap punggung sahabatnya. Dan terlihat Dimas berlari ke arah Raka dan Darren, Dimas melihat ke dalam UGD melalui pintu UGD.
"Lo keterlaluan dim, tega ya Lo sakiti istri Lo sendiri, enggak punya hati Lo!," ucap Raka.
Ardana baru saja tiba dan berdiri di belakang Dimas. Darren hanya diam mengkhawatirkan keadaan Nadia.
"Lo selingkuh dengan Nadia kan? Itu cewek kemarin sudah deketin dar-----,"
"Gue adalah sahabatnya dari kecil!, gue sahabat abangnya nadia!, gue udah anggap Nadia itu sebagai adek gue sendiri. Apa salahnya gue ngasih brownies ke adek gue?, gue ngerti posisi dia sekarang, dia udah jadi istri Lo. Enggak mungkin gue nikung lo, enggak mungkin! Gue sahabat Lo dim. Tapi dengan kejadian ini, mungkin gue bakal ambil Nadia dari lo. Karena gue juga sudah memendam rasa sama istri yang enggak Lo cintai itu. Gue nyerah karena gue enggak mau ganggu hubungan kalian, tapi Lo sudah memperlakukan Nadia dengan tidak baik. Jadi jangan salahin gue, kalau Nadia jadi milik gue suatu saat nanti," ucap Darren.
Dimas langsung memukul wajah darren, ia tidak terima dengan ucapan Darren. Raka dan Ardana langsung memudahkan mereka berdua. "Udah, jangan berantem. Ini rumah sakit ," ucap Ardana.
Ardana frustasi dengan kedua sahabatnya yang berkelahi di rumah sakit. Sudut bibir Darren berdarah, Dimas langsung menepis tangan Ardana.
"Gue tadi liat Nadia masuk ke dalam cafe, terus gue tadi liat Nadia keluar dari cafe. Gue samperin, dan ternyata dia ada di samping cafe. Istri Lo sedang memukul dadanya sendiri dim, dia sakit liat Lo sama cewek lain. Gue deketin dia dan gue tahan tangan dia, biar enggak nyakitin dirinya sendiri. Cukup Lo yang nyakitin dia, jangan di tambah lagi. Gue pegang pipinya Karena mau hapus air mata istri lo, gue enggak tega liat cewek nangis dim. Gue enggak tega, Lo bener bener udah kelewatan batas dim, cewek sebaik dia dan sesabar dia Lo sia siakan," ucap Raka.
Dimas menatap Raka, pria itu semakin merasa bersalah. kenapa dia harus kasar dengan Nadia? Padahal semuanya bukan salah Nadia. Dimas langsung bersandar di dinding dan dokter langsung keluar dari UGD.
"Keluarga pasien bernama Nadia?," ucap dokter.
"Saya suaminya dok," ucap Dimas.
"Istri anda baik baik saja, lukanya sudah saya obati. Istri anda hanya kelelahan, dan kami sudah memberikan obat agar dia bisa beristirahat sebentar. Jadi biarkan istri anda beristirahat untuk beberapa menit, anda boleh masuk dan saya akan melanjutkan pemerikasaan keadaan pasien lain," ucap dokter.
Saat dimas akan masuk ke dalam UGD, tiba tiba saja ponselnya berdering. Dimas mengambil ponselnya dan melihat nama sang kekasih di layar ponsel miliknya. Darren berdiri dan menabrak bahu Dimas.
"Pergi sana, urus aja cewek gila Lo. Nanti Lo di putusin nangis, Sono jijik gue liat muka sok baik Lo," ucap Darren.
Darren sangat muak melihat dimas, sedangkan Ardana yang melihat hanya bisa menepuk pelan pundak Dimas. "Gue masuk dulu," ucap Ardana.
Raka hanya diam dan langsung masuk ke dalam ruangan UGD, ia merasa kecewa dengan sahabatnya tersebut. Dimas menatap layar ponselnya dan langsung mengangkat panggilan dari sang kekasih.
"Iya, aku akan langsung kesana. Iya, nanti kita mampir untuk membeli sepatu yang kamu mau," ucap Dimas.
*********
Di dalam UGD. Ardana duduk di samping brankar. "Lo jangan kasar kayak tadi ren, kita bicarakan semuanya secara baik baik, Lo tau kan kalau Dimas gampang emosian. Jadi Lo harus tahan emosi Lo," ucap Ardana.
"Gue enggak bisa dana. Enggak bisa, dia sudah keterlaluan banget," ucap Darren.
Raka hanya diam dan menatap Nadia, mata gadis itu terbuka dan Nadia langsung menatap darren.
"Nadia di mana kak?," ucap Nadia.
"Kamu di UGD, sekarang lebih baik kam------,"
"Kak Dimas di mana?," ucap Nadia.
Darren langsung terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Nadia.
"Dia enggak ada di sin------,"
Ucapan Ardana terpotong saat Nadia menyampingkan tubuhnya membelakangi mereka, Raka menepuk pelan bahu Ardana.
"Kita tunggu di luar aja dana," ucap Raka dan Ardana pun menganggukkan kepalanya. Dan keduanya pun keluar dari ruang UGD.
"Pisah aja ya nad, gue enggak sanggup liat Lo di perlakukan seperti ini?," ucap Darren