NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Dokter Dingin

Istri Kontrak Dokter Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dydy_ailee

Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB-13 Belajar Akting

Damian sudah lebih dulu datang. Duduk di sudut ruangan yang sedikit tersembunyi, dengan segelas kopi hitam di depannya. Begitu melihat Amora datang dengan langkah ringan dan senyum sumringah, Damian secara refleks menghela napas. Ada sesuatu dari gadis itu yang... mencolok. Bukan karena cantiknya, tapi karena energinya yang tak biasa.

“Dokter ganteng,” sapa Amora sembari menjatuhkan diri di kursi seberangnya. “Saya bawa oleh-oleh.”

Damian menaikkan alis. “Oleh-oleh?”

Amora membuka mapnya dan menyodorkan surat-surat itu. “Tadaaa! Bukti pelunasan hutang. Sertifikat rumah kembali ke pangkuan rakyat. Saya bahkan minta surat pernyataan biar si rentenir itu tidak memberi hutang ke ayah saya lagi. Itulah sebabnya saya mendesak Dokter untuk meminta DP lima ratus juta. Karena saya harus membayar sebesar itu demi sertifikat rumah berharga ini, Dok”

Damian menatap semua dokumen itu sekilas, lalu menatap Amora. “Cepat sekali kamu geraknya.”

Amora mengangkat bahu. “Ya iyalah, demi hidup tenang. Dan demi si Azka. Anak itu pahlawan saya. Dan Anda pikir saya akan santai setelah dikasih duit segitu? Mana bisa! Saya langsung tancap gas. Hidup itu soal momentum, Dok."

Damian mengangguk pelan. "Bagus. Sekarang kita bahas hubungan palsu ini."

Amora menaruh dagunya di telapak tangan, gaya santai dan genit. "Iya iya, pacaran palsu rasa asli. Saya mendengarkan, Anda menjelaskan.”

"Pertama, hubungan kita akan berlangsung tiga bulan. Di depan mama, kamu adalah calon istriku. Kita akan sesekali tampil bersama, termasuk makan malam keluarga dan satu atau dua acara sosial."

"Terus... kita harus pegangan tangan juga? Pelukan? Ciuman? Atau tidur bareng?" tanya Amora dengan mata melebar dan nada dramatis.

Damian menatap datar. "Tidak perlu lebay."

"Saya cuma konfirmasi, siapa tau Anda minta bonus," jawab Amora nyengir. "Lanjut, lanjut!"

"Yang penting mama yakin aku serius denganmu, dan tidak akan menjodohkan aku lagi," lanjut Damian, suaranya tegas. "Kamu boleh hidup seperti biasa. Hanya saja, bila kubilang kita perlu bertemu atau tampil, kau harus siap."

Amora mengangguk pelan. "Oke. Aku bisa. Demi Azka. Dan... demi 700 juta itu."

Damian mengangkat alis. "Kamu yakin tidak akan menyesal menerima tawaran ini?"

Amora menatap Damian, kali ini tanpa tawa. "Setelah hidup saya berantakan bertahun-tahun karena orang yang seharusnya saya panggil ayah, tidak ada hal yang bisa membuat saya menyesal  lagi. Saya hanya mau adik saya bahagia.”

Sesaat Damian diam. Pandangannya menatap lekat wanita di hadapannya. Bukan hanya ceriwis, ternyata Amora punya keberanian yang jarang dimiliki.

"Kita punya kesepakatan, Amora," ujar Damian akhirnya. "Mulai sekarang, kita pasangan. Setidaknya, di mata mamaku."

Amora menyeringai sambil menjabat tangan Damian dengan dramatis. "Deal, Dokter Dingin. Tapi jangan baper ya."

Damian mengangkat bahu. “Aku tidak mau urusan makin rumit.”

Damian mengambil ponselnya, membuka folder dokumen, lalu menyodorkannya ke Amora. “Ini draft kesepakatan tambahan. Tadi malam kamu buru-buru, jadi belum sempat baca.”

Amora menelusuri layar dengan alis terangkat. “Tiga bulan. Harus bertemu minimal dua kali seminggu dengan mama kamu. Harus bisa bersikap seperti pacar sungguhan. Jangan membongkar perjanjian ini ke siapapun. Dan...” ia berhenti. “Serius loh ini... Anda menulis, dilarang baper.”

“Jangan drama! Fokus pada tujuan. Itu peringatan untukmu,” ujar Damian.

Amora mendengus. “Lah, siapa juga yang mau baper sama Anda, Dok. Uang Dokter saja yang menarik.”

“Bagus,” ujar Damian ringan.

Amora membalikkan ponsel itu dan menatap Damian lekat-lekat. “Anda serius ini cuma demi menolak perjodohan?”

Damian mengangguk. “Aku sudah pernah gagal dalam pernikahan. Dan aku belum siap buat nikah lagi. Tolong jangan drama di depan Mama nanti.”

Amora tergelak. “Susah, Dok. Hidup saya ini penuh drama. Lagian saya ini lulusan FTV kelas menengah, akting tuh sudah di nadi.”

Damian menghela napas. “Tiga bulan, Amora. Tidak boleh lebih. Deal?”

Amora mengulurkan tangan. “Deal. Tapi kalau selama tiga bulan itu Anda jatuh cinta beneran sama saya, jangan nangis ya.”

Damian menepuk dahinya. “Tuhan, apa dosaku hari ini...”

“Ingat ya. Pertemuan pertama kita di kafe. Kamu ini pemilik kafe,” kata Damian yang membuat Amora terbelalak.

“Apa? Pemilik kafe? Muka saya, mana ada tampang wanita karir yang sukses, Dokter,” keluh Amora sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.

“Sudah, kamu diam saja. Ikuti aturan mainku. Setelah ini ikut aku.”

“Hah? Kemana? Jangan bilang sebenarnya Dokter ini salah satu sindikat penjual organ tubuh manusia ya? Anda menggunakan trik ini dan setelah itu menculik saya. Dan …”

“Stop, Amora! Kamu membuatku pusing. Diam dan ikuti aku. Aku tidak sekejam itu. Atau aku akan benar-benar menculikmu,” ucap Damian dengan nada kesal.

Setelah pertemuan di kafe, Damian mengajak Amora pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Amora meninggalkan motor bututnya di kafe dan ia satu mobil dengan Damian.

“Jadi... saya harus masuk ke toko ini?” Amora menatap butik berinterior glamor dengan tatapan ragu.

Damian mengangguk ringan. “Ya. Pilih pakaian yang pantas.”

“Pantas? Maksud Anda seperti istri pejabat yang hobi arisan itu? Duh, saya kelihatan seperti... perempuan simpanan dong,” bisik Amora sambil menahan tawa.

Damian hanya menatapnya datar. “Kalau kamu tetap pakai celana robek dan sandal jepit seperti ini, Mama bisa kena serangan jantung.”

Amora nyengir. “Bilang saja malu jalan bersamaku.”

“Memang,” jawab Damian dengan tenang.

Amora justru tertawa lepas, membuat beberapa pramuniaga butik melirik ke arah mereka. Tapi Damian tetap melangkah masuk, tidak peduli pada tatapan orang-orang.

Beberapa menit kemudian, Amora keluar dari ruang ganti dengan mengenakan gaun satin warna pastel yang membuatnya tampak elegan. Damian melirik sekilas lalu mengangguk.

“Bagus.”

“Bagus apanya? Rasanya seperti dibungkus plastik tipis,” keluh Amora sambil merentangkan tangan.

“Mulai sekarang kamu harus belajar berjalan dengan anggun. Tidak boleh membungkuk atau berjalan tergesa-gesa.”

“Ini kawin kontrak atau pelatihan jadi putri kerajaan?” gumam Amora, mencibir pelan.

Setelah memilih beberapa pakaian, tas dan sepatu, Damian membawanya ke salon mewah. Di sana, rambut Amora ditata, wajahnya dipoles, bahkan kuku tangannya dipermak. Amora mulai merasa tak nyaman.

“Aku seperti kucing liar yang sedang di-make over agar layak dijual ke majikan baru,” bisiknya.

Damian yang duduk sambil menatap layar ponsel hanya menoleh singkat. “Anggap saja kamu sedang naik kasta.”

“Sampai naik kasta pun manusia tetap bisa kentut, tahu?” ucap Amora dengan polos.

Damian pura-pura tak mendengar, tapi sudut bibirnya sempat terangkat sedikit.

Hampir dua jam Amora menjalani semua perawatan itu. Ia berkali-kali menguap dan sempat tertidur karena mengantuk. Itu adalah hal yang membosankan bagi Amora.

Namun, saat semuanya selesai. Ia dibuat terkejut melihat dirinya di balik pantulan cermin. “Busetttt! Ini gue? Gila, gue bisa cantik dan glowing begini,” serunya dalam hati.

“Tuan, sudah selesai,” ucap pegawai salon membawa Amora ke hadapan Damian.

Damian dibuat terpaku, terpesona sekaligus pangling dengan penampilan baru Amora. “Gadis ini kalau dipermak bisa cantik dan anggun juga,” gumam Damian dalam hati.

“Kerja bagus. Terima kasih,” ucap Damian pada pegawai salon tersebut.

“Dok, rasanya aneh,” kata Amora yang merasa tidak nyaman dengan semua itu.

“Diam! Aku sudah membayarmu jadi menurut,” ujar Damian dengan nada tegas. Amora hanya bisa menghela tanpa bisa banyak membantah. Karena saat ini ia memang sedang bekerja untuk Damian.

Setelah selesai, Damian mengajaknya ke restoran mewah di mal itu. Ia menunjuk satu set meja makan lengkap dengan sendok, garpu, dan pisau yang berjajar rapi.

“Sekarang kita latihan table manner,” katanya.

Amora menatap deretan alat makan itu dengan ngeri. “Ini makan siang atau praktek bedah anatomi?”

“Mulai dari alat makan paling luar.”

Amora duduk dengan kaku, mencoba meniru sikap anggun. Tapi baru saja mengambil salad, sendoknya meluncur dari tangan dan jatuh ke lantai.

“Oops... maaf. Saya baru belajar.”

Damian menutup mata sejenak, menghela napas panjang. “Aku mulai menyesal.”

Amora terkekeh kecil. “Terlambat. Saya sudah resmi jadi calon istri Anda—meskipun palsu.”

“Sekarang, kita latihan interaksi sebagai pasangan,” ucap Damian sambil menyisipkan serbet ke pangkuan. Ia duduk tegak dengan wajah serius.

Amora yang duduk di seberangnya mengangkat alis. “Maksud Anda... ngobrol mesra? Di depan umum?”

Damian mengangguk pelan. “Kamu harus terbiasa menyentuhku. Memanggilku sayang. Menunjukkan ekspresi cinta yang meyakinkan.”

Amora menahan tawa. “Boleh saya latihan dari sekarang?” Ia menyandarkan dagunya ke tangannya dan menatap Damian dengan tatapan berbinar-binar. “Ayah anak-anakku... kamu ganteng banget sih hari ini.”

Damian terdiam. Pandangannya tetap dingin. Tapi terlihat jelas dagunya menegang, seolah sedang menahan sesuatu—antara tawa atau rasa malu yang tidak ingin diakui.

“Jangan lebay,” katanya akhirnya.

“Ini belum lebay. Anda belum lihat saya peluk-peluk kamu sambil teriak, ‘Cinta aku cuma kamu, Mas!’”

Damian menunduk sebentar, lalu menegakkan tubuhnya. “Tolong serius.”

Amora duduk lebih tegak. “Oke. Serius. Ajarin saya caranya.”

Damian menggeser kursinya, lalu duduk di samping Amora. Tiba-tiba saja tubuh Amora jadi kaku. Damian mengangkat tangan Amora lalu menggenggamnya. “Jangan terlalu tegang.”

“Tidak bisa... ini... tangan Anda dingin banget, seperti batu nisan.”

Damian menoleh cepat. “Astaga, Amora.”

“Saya serius, Dok. Anda tuh... terlalu bersih. Kayak tokoh cowok di drama Korea. Bedanya, Anda tidak punya ekspresi,” celetuk Amora, mencoba mencairkan suasana.

“Justru itu yang membuatku dipercaya. Kamu juga harus belajar menahan ekspresi. Kalau kita pura-pura bertengkar, kamu harus bisa pasang muka sedih tapi elegan.”

Amora mencoba menekuk wajahnya. “Kayak gini?”

“Itu kayak orang kena maag,” jawab Damian datar.

Amora tertawa keras sampai beberapa pengunjung menoleh. Damian menggeser piringnya pelan.

“Aku serius, Amora. Kita akan makan malam dengan Mama minggu depan. Dia sangat sensitif terhadap detail. Sekali kamu berperilaku aneh, dia akan tahu.”

Amora mengangguk pelan, kali ini wajahnya mulai serius. “Oke. Saya mengerti. Saya akan belajar. Saya juga tidak mau gagal. Bukan cuma karena uang... tapi karena saya sudah janji.”

Damian menatapnya lebih lama dari biasanya. Lalu ia bangkit. “Kita lanjut latihan di mobil. Kamu harus bisa berpura-pura menyender di bahuku tanpa terlihat canggung.”

Amora berdiri sambil mengambil tas. “Asal jangan disuruh peluk Anda depan umum, ya. Saya takut ada yang manggil saya simpanan om-om.”

Damian melirik tajam. “Aku belum tua.”

Amora hanya terkekeh sambil berjalan duluan. “Belum tua, tapi jiwanya pensiunan.”

1
Suhartini hartini
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!