Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Pertama
"Ayah ...," lirih Rea saat pintu ruang rawat terbuka, dan tampak Althan yang terbaring di atas brankar dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya.
Althan menoleh perlahan, kemudian tersenyum tipis saat melihat Rea datang bersama Gala.
Rea terdiam, ia ragu untuk mendekat. Namun, Gala segera menarik tangan gadis itu untuk berjalan bersamanya.
Althan masih tersenyum menatap anak dan menantunya. Ia juga masih bisa mengangkat sedikit tangannya saat Gala ingin salam.
"Ayah, baik?" tanya Gala basa-basi.
Tentu saja sangat tidak baik, meski nyatanya Althan memilih menganggukkan kepala pelan.
Tidak ada yang baik-baik saja, saat banyaknya alat terpasang di dada pria itu yang sedikit terbuka. Selang oksigen terpasang di hidungnya, selang infus dan selang berisi aliran darah terpasang di tangan kanan dan kirinya.
Beberapa perban juga terdapat di bagian kepala hingga kaki. Lalu sebuah penyangga di bagian leher, membuat pergerakannya terbatas.
Gala menarik pundak Rea agar duduk di kursi sebelah brankar, namun gadis itu hanya diam dengan air mata yang sudah menggenang.
Althan yang melihat hal tersebut, tersenyum menangkan. Dengan susah payah, Althan meraih pipi Rea untuk mengusapnya.
Hal itu, membuat air mata yang semula menggenang kini mulai menetes.
"Putri Ayah enggak boleh nangis. Nanti cantiknya hilang," ucap Althan dengan senyum sayunya.
Rea tidak menjawab, ia menangis dalam diam sambil memejamkan mata. Tidak sanggup melihat kondisi sang Ayah yang selemah ini.
Althan menarik dan membuang nafasnya perlahan seraya meringis. Dadanya terasa sakit saat ia bernafas, karena memang ada retak tulang rusuknya.
Pria itu menggenggam tangan putrinya dengan lembut.
"Rea harus janji sama Ayah. Rea enggak boleh nangis lagi, Rea harus bahagia," kata Althan seraya menatap lekat mata Rea yang kini sudah kembali terbuka.
Rea belum mengeluarkan suaranya, ia hanya mampu menangis dalam diam, dengan menatap mata Althan.
"Maaf karena Ayah belum berhasil menjadi cinta pertama putri Ayah. Tapi Ayah percaya, Gala bisa menggantikan posisi Ayah untuk kamu."
Rea sontak menggeleng tegas dan bergerak memeluk Althan, mulai mengeluarkan isakannya di sana.
Diam-diam, Althan meringis saat Rea tak sengaja memeluknya terlalu erat.
"Rea harus sekuat Bunda, ya? Kalau nanti Ayah sudah enggak ada, Rea harus nurut sama Gala."
Althan mengusap air matanya yang menetes tanpa dapat dicegah, ia tidak boleh terlihat lemah di depan putrinya.
"Ayah enggak boleh pergi." Barulah Rea mengeluarkan suaranya, bersamaan dengan isak tangis yang semakin jelas.
Althan memejamkan mata, ia berusaha menetralkan nafas yang sulit teratur. Sesak dan sakit bercampur menjadi satu, membuatnya kesulitan untuk mengontrol deru nafasnya.
"Ayah enggak kuat, Nak."
Rea sontak melepas pelukannya, menatap Althan dan kembali menggeleng penuh ketegasan.
"Enggak! Ayah kuat, Ayah enggak boleh pergi!" teriak Rea tanpa sadar, membuat Gala segera mengusap pundaknya dengan lembut.
Althan berusaha untuk tetap tersenyum, meski nafasnya semakin sulit untuk ia kendalikan.
"Kasih sayang, cinta, perhatian, yang kamu harapkan dari Ayah, mungkin itu sia-sia. Tapi Ayah percaya, apa yang belum sempat kamu dapatkan dari Ayah, Gala bisa memenuhinya."
Althan kembali menangkup sebelah pipi Rea, mengusapnya lembut. "Setidaknya, kalau Ayah sudah gagal menjadi cinta pertama untuk kamu, Ayah enggak mau gagal mencari cinta terakhir untuk putri Ayah."
Rea hanya bisa menangis, pikirannya berkecamuk. Apakah ia harus kembali kehilangan orang tercintanya.
Althan ikut menangis, ia lemah jika melihat Rea seperti ini. Ia bergerak menarik putrinya ke pelukannya.
"Kalau Ayah bisa milih, mungkin Ayah memilih untuk pergi sama Bunda dari dulu."
Suara Althan serak dan bergetar, tanda jika ia berusaha mati-matian untuk tidak mengeluarkan isakannya.
"Tapi Ayah ingat kamu. Ayah belum berhasil mencari seseorang yang bisa menggantikan Ayah, untuk menjaga kamu."
Rea terisak hebat dalam dekapan hangat Ayahnya. Gala yang sejak tadi diam, hanya mampu mengusap kepala gadis itu.
"Sekarang, Ayah sudah berhasil. Ayah sudah menemukan sosok itu pada Gala. Dan mungkin, sekarang waktunya Ayah untuk pergi."
Althan berusaha untuk tetap tegar, di saat tangis Rea semakin menjadi.
"Maaf karena Ayah sudah membuat kamu terluka, membuat kamu menangis. Enggak ada pilihan lain, selain itu."
Rea menduselkan kepalanya di pundak Althan. "Ayah jangan tinggalin Rea. Kalau Ayah pergi, Rea sama siapa?"
Althan mengedipkan matanya lama, membuat air mengalir dari sudut mata itu.
"Ada Gala, sayang. Gala yang akan menemani Rea dalam keadaan apapun."
Rea menggeleng keras, dengan nafas tersendat karena menangis terlalu hebat. "Rea mau sama Ayah."
Althan mengusap kepala Rea, lalu mengecupnya lama. "Ayah juga mau sama Rea. Ayah mau sayang-sayang Rea, mau memberikan apapun yang Rea inginkan. Tapi Ayah enggak bisa, Nak. Ayah terlalu lemah kalau soal kamu. Ayah enggak mau, kasih sayang yang Ayah berikan untuk Rea, justru akan menjadi boomerang untuk Rea sendiri. Ayah enggak mau itu terjadi. Sudah cukup putri Ayah hancur karena diri Ayah sendiri, enggak lagi. Ayah enggak mau."
Althan melepas pelukan Rea, mengusap air mata gadis itu. "Hidup sama Gala dan kamu akan bahagia. Jangan berpisah sama dia, sebesar apapun masalahnya. Karena Ayah percaya, dia orang yang tepat untuk menjaga kamu."
Rea menggenggam tangan Althan yang ada di pipinya, air mata tak berhenti mengalir sejak tadi.
"Jangan pergi, Yah. Rea enggak mau sendiri," lirihnya.
Althan menggeleng pelan. "Ayah enggak pergi, Ayah akan tetap ada di hati Rea. Ayah, Bunda akan selalu ada di hati Rea, sampai kapanpun. Kalau Rea kangen sama Ayah dan Bunda, Rea cukup doakan kami. Rea enggak perlu nangis lagi. Air mata Rea terlalu berharga untuk jatuh."
"Tapi Ayah selalu membuat air mata Rea jatuh."
Althan mengangguk mengiyakan. "Cukup Ayah, enggak akan ada lagi, termasuk Gala."
Althan menelan ludah susah payah, seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya, membuat sesak dan sangat sakit.
"Gala mungkin bukan Ayah Rea, tapi dia calon Ayah dari anak-anak Rea. Dia bukan hanya akan menjadi sosok suami yang baik untuk Rea, tapi dia juga akan menjadi Ayah yang hebat untuk anak-anak kalian nanti."
Keringat dingin dan wajahnya yang pucat pasi, menjadi tanda jika sakit yang Althan rasakan semakin hebat.
Dengan segera, Gala memencet tombol darurat untuk memanggil dokter. Tatapannya terus tertuju pada wajah Althan yang tetap berusaha menorehkan senyumnya ke arah Rea.
Althan menoleh singkat, lalu menarik tangan Gala dan Rea. Meletakkan kedua tangan itu bertumpuk di atas dadanya.
"Kalian harus janji sama Ayah, kalau kalian enggak akan berpisah. Kalian harus selalu bahagia, selalu bersama dalam keadaan apapun. Hanya itu yang menjadi harapan terakhir Ayah."
Althan menatap mata Gala dan Rea bergantian. Ada sorot sendu di mata Gala, dan sorot terluka di mata Rea. Seolah mengisyaratkan jika gadis itu tak ingin lagi kehilangan untuk ke sekian kalinya.
"Ayah pamit, ya? Assalamualaikum."
"Yah?"
Althan tersenyum sayu, lalu mengucapkan kalimat syahadat, bersamaan dengan matanya yang tertutup perlahan.
Usai sudah, tidak ada lagi kehidupan dalam raga yang rapuh itu. Tidak ada lagi nafasnya yang tercekat sejak tadi. Hanya tersisa senyum sendu yang terukir indah di bibirnya.
Rea menggelengkan kepala tak percaya, ia kembali histeris dan berusaha menggoyangkan tubuh Althan untuk membangunkannya.
Gala segera menarik gadis itu ke dalam dekapan eratnya, membiarkan Rea menangis hebat di dadanya. Tak munafik, ia juga ikut meneteskan air mata sekarang.
Melihat raga Althan yang kini mulai diperiksa oleh dokter, dan tubuh Rea yang kini melemah dalam dekapannya, dengan tangis histeris tak henti-hentinya.
"AYAH!"
.
.
.
To be continue ...