Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 hari sebelum lulus
...#••...
“Apa ini?” tanya perempuan itu heran ketika Jay menyodorkan sebuah paper bag kepadanya.
“Buka aja.”
Perlahan, perempuan itu membuka paper bag tersebut. Sebuah dus ponsel terlihat di dalamnya. Ia mengeluarkannya, lalu menatap Jay dengan ekspresi bingung.
Bagaimana tidak? Anak SMA itu memberinya ponsel seharga sebuah sepeda motor, salah satu model yang sedang banyak diminati anak muda zaman sekarang.
“Apa ini?” tanyanya lagi.
“Itu hp, Kak. Hadiah dari gue yang 7 hari lagi lulus SMA,” jawab Jay santai sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Maksudnya, kenapa lo ngasih gue hp?”
Jay menghela napas panjang, menatap perempuan itu yang masih memasang ekspresi bingung. “Biar komunikasi kita gampang, Kak. Kan sebentar lagi gue bakal kuliah di luar kota. Kalau nggak ada hp, ya susah gue nanya kabar lo. Nggak mungkin juga gue pulang tiap Minggu, gue pasti sibuk.”
Memang benar, kan? Ponsel sudah menjadi kebutuhan penting di zaman sekarang. Sejauh apapun jarak yang memisahkan dua sejoli, mereka tetap bisa saling terhubung. Menanyakan kabar, mendengar suara, bahkan melihat wajah satu sama lain.
“Itu mah alasan lo aja. Nggak mau capek-capek ketemu sama orang yang katanya lo cintai?” ejek perempuan itu sambil mendorong dus ponsel ke arah pemuda di hadapannya.
“Ya bukan gitu—”
“Belum apa-apa tapi lo udah bilang nggak bisa pulang tiap Minggu,” potong perempuan itu cepat.
Bukannya tersinggung, Jay malah tertawa terbahak, menimbulkan rautan bingung dari perempuan dewasa itu.
“To the point ajalah, Kak. Intinya lo nggak mau jauh-jauh dari gue, kan?” tanya Jay dengan ekspresi tengil sembari menaik-turunkan kedua alisnya.
Perempuan itu tak langsung menjawab. Tangannya mengeratkan jaket yang dikenakannya karena udara malam yang terasa begitu menusuk kulit. “Kan udah gue bilang, kalau gue nyaman sama kehadiran lo.” tatapannya kembali tertuju kepada Jay sembari menyuapkan kue ke mulutnya sendiri.
“Nyaman aja nih? Nggak ada cinta?” tanya Jay sambil terkekeh kecil.
Perempuan itu hanya mengangkat kedua bahunya, seolah tak punya jawaban lain untuk diberikan.
“Tenang aja, Kak. Gue bakal nepatin janji. Buat beberapa bulan di awal perkuliahan, ya kita LDR dulu. Makannya, hp nya diterima dong, biar kita gampang komunikasinya. Selama gue beradaptasi di lingkungan baru itu, gue juga bakal cari kerja biar punya penghasilan sendiri. Kalau udah dapat, gue bakal boyong lo. Terus kita bisa bareng-bareng lagi deh. Kita hidup di bawah atap yang sama.”
Perkataannya selama ini memang bukan sekadar bualan manis. Sejak awal, Jay sudah membulatkan tekad untuk hidup bersama perempuan yang dicintainya, meskipun perempuan itu belum membalasnya, tetapi selama perempuan itu masih nyaman berada di dekatnya, Jay merasa senang.
“Manis banget omongannya,” kata perempuan itu. “Kalau udah ketemu cewek cantik di luaran sana, pasti lo juga bakal kepincut. Cowok tuh emang gitu. Mereka nggak bakal nyerah sebelum dapetin cewek yang mereka mau. Kayak ada semacam adrenalin yang bikin ego mereka terpacu. Tapi begitu udah dapet, malah di sia-siain karena bosan. Soalnya udah nggak ada lagi adrenalin yang dikejar.”
Jay hanya mengangguk-angguk santai, sambil sesekali menyeruput minumannya.
“Ya itu cowok lain, bukan gue.”
Perempuan itu mendelik mendengar jawaban singkat Jay, yang seolah menepis begitu saja semua argumen panjangnya.
“Diterima, ya,” Jay kembali menyodorkan dus ponsel itu. “Udah cukup cinta gue yang ditolak—”
“Gue bakal nerima barang pemberian lo kalau itu dari usaha lo sendiri.”
Jay kembali menghela napas panjang. Perempuan di hadapannya benar-benar keras kepala. “Ayolah, Kak… terima aja, ya, buat saat ini aja,” bujuknya dengan wajah memelas.
“Gue bisa beli hp juga nggak cuma-cuma di kasih Papa. Gue belajar yang rajin sampai akhirnya keterima di kampus lewat jalur prestasi. Terus, gue minta rewardnya dalam bentuk uang, biar bisa ngasih hp ini buat lo.”
Perempuan itu menggelengkan kepala. “Kalau belajar, ya, itu kewajiban anak sekolah. Kalau lo bisa, nanti gue kasih hadiah.”
“Gue nggak butuh hadiah dari lo.”
“Serius? Serius nggak mau hadiah dari gue? Hadiah yang nggak bakal lo lupain seumur hidup.” Perempuan itu tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi rapinya.
Jay hanya bisa terdiam. Ia mulai merasa jengah dengan sikap perempuan itu yang selalu bertindak sesuka hati, seolah tak pernah peduli dengan apa yang diinginkannya.
Melihat ekspresi kesal di wajah pemuda itu, perempuan tersebut mendekatkan wajahnya ke wajah Jay dengan senyum menggoda.
“Kenapa mukanya kayak mau marah gitu? Adek marah, ya, sama Kakak?” kekehnya dengan suara yang dibuat manja, seolah sedang membujuk anak kecil.
Perempuan itu bangkit dari duduknya, lalu berpindah ke samping Jay yang masih membisu. Tangannya terulur, mengelus lembut rambut pemuda itu.
“Kenapa adeknya Kakak ini merajuk, hm?” tanyanya lagi.
Jemarinya perlahan turun, mengusap pipi Jay sebelum berhenti di sepanjang rahangnya yang tegas.
“Kan kakak udah ngikutin kemauan adek? Kita bakal vacation. Berdua.” Perempuan itu membisikkan kalimat terakhir tepat di telinga Jay, lalu meniupnya pelan hingga pemuda itu berjengkit geli.
Jay sontak menoleh. Tangannya terangkat hendak menangkup pipi perempuan itu, tetapi perempuan tersebut lebih dahulu menghindar. Ia kembali berdiri, lalu mengacak rambut Jay seolah tak terjadi apa-apa.
“Ayo, kita pulang. Udah malem,” katanya ringan.
Tanpa menunggu jawaban, perempuan itu melangkah pergi, meninggalkan Jay yang masih duduk terdiam di tempatnya.
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
SAY HI, DONGGG