Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Kecil Sang Istri 24.
Aroma khas ruang UKS campuran antiseptik, kain seprai bersih, dan samar-samar wangi minyak kayu putih—selalu sukses bikin siapa pun yang masuk ke sana mendadak pengin merem.
Tapi siang ini, suasana di ruangan pojok sekolah itu terasa beda. Gak ada suara dengkur cowok bolos pelajaran, cuma ada bunyi detak jam dinding yang kedengaran makin keras karena atmosfer canggung yang padat.
Langit duduk di tepi ranjang UKS, meluruskan kaki kanannya yang mulai membiru di bagian pergelangan.
Seragam basketnya masih basah oleh keringat. Jantungnya masih berdegup agak kencang, bukan cuma karena sisa adrenalin dari turnamen tadi, tapi lebih karena cewek yang sekarang lagi berlutut di depannya.
Ulfa. Cewek itu masih pakai seragam OSIS lengkap, lengkap dengan rambut yang dikuncir kuda agak berantakan—mungkin karena dia tadi setengah berlari dari tribun penonton begitu melihat Langit jatuh salah mendarat waktu mau melakukan lay-up di kuarter keempat.
"Bisa pelan-diam dikit gak? Gak usah pakai emosi melototnya," gumam Langit, berusaha memecah keheningan yang bikin dia gak nyaman. Suaranya agak serak, menahan linu yang menjalar setiap kali jemari Ulfa menyentuh kulitnya.
Ulfa gak langsung menjawab. Dia baru saja menuangkan gel pereda nyeri ke telapak tangannya. Gerakannya telaten, sangat hati-hati waktu mengusap bagian ankle Langit yang bengkak. Tapi, begitu mendengar protes Langit, dia sengaja menekan sedikit lebih keras di area yang sehat, membuat cowok itu otomatis mengaduh.
"Aww! Fa, sakit bego!"
"Makanya diem tolol," sahut Ulfa tak kalah ketus, tanpa mendongak. "Lagian siapa yang emosi? Yang ada tuh lu yang gak punya otak. Sudah tahu sisa waktu cuma dua puluh detik, udah biarin aja gitu imbang, ngapain coba pakai gaya rebound maksang dapet bola mati kayak gitu? Cari mati?"
Langit mendengus, membuang muka ke arah jendela UKS yang menampilkan daun-daun pohon mangga yang bergoyang ditiup angin. "Gue cuma gak mau kehilangan momentum. Lu gak bakal paham rasanya di lapangan."
"Iya, gue memang gak paham taktik basket," kata Ulfa, suaranya mendadak turun satu oktav. Dia mulai memijat pelan area sekitar bengkak dengan gerakan memutar, lambat dan konstan agar cairannya gak menumpuk. "Tapi gue paham artinya badan patah. Dan gue yang repot kalau lu gak bisa jalan, paham?."
Kata-kata itu ringkas, tapi entah kenapa langsung menohok ego Langit.
Langit memperhatikan puncak kepala Ulfa. Dari posisi ini, dia bisa melihat beberapa anak rambut Ulfa yang lepek karena keringat.
Perlahan, amarah egois Langit menguap, digantikan rasa bersalah yang aneh.
Dia tahu Ulfa tadi lagi sibuk mengurus konsumsi buat perwakilan dinas yang datang meninjau turnamen.
Tapi cewek itu rela meninggalkan tugasnya, berlari ke UKS, dan sekarang malah duduk di lantai yang dingin demi mengobati kakinya.
"Sakit banget, ya?" tanya Ulfa lagi, kali ini nadanya beneran kedengaran cemas. Dia mendongak sebentar, menatap mata Langit dengan binar tulus yang jarang dia tunjukkan kalau mereka lagi di sekolah.
"Dikit. Cuma kayak digigit semut rangrang seratus biji," canda Langit, berusaha mencairkan suasana.
Ulfa berdecak, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. "Masih bisa bercanda berarti belum parah. Ini untung gak sampai fraktur. Cuma terkilir derajat dua. Seminggu ini jangan main basket dulu. Gak ada latihan, gak ada keluyuran bareng cewek lu."
"Seminggu? Fa, lusa ada tanding penentuan?!" Langit langsung protes, refleks mau menarik kakinya.
"Langit, diem!" Ulfa menahan betis Langit dengan tegas. Tatapannya menajam, mengunci pergerakan cowok itu. "lu dengerin gue gak sih? Sekali ini aja, tolong taruh ego lu di bawah kesehatan lu sendiri. Lu pikir gue gak jantungan tadi lihat lu ambruk di lapangan sampai digotong begitu?"
Napas Ulfa agak memburu. Tangannya yang masih memegang pergelangan kaki Langit terasa sedikit bergetar. Di detik itu, Langit tersadar akan sesuatu. Ulfa bukan lagi marah karena repot harus mengurus orang sakit. Dia beneran ketakutan.
Keheningan kembali menyergap ruangan itu. Lembut, tapi kali ini gak terasa canggung lagi. Hanya ada kehangatan yang perlahan merayap di antara mereka.
Ulfa mengambil perban elastis dari kotak P3K di sampingnya.
Dengan gerakan yang sangat terlatih—hasil dari seringnya dia mengurus anak-anak PMR—dia mulai membalut pergelangan kaki Langit. Setiap lilitan dilakukan dengan presisi, gak terlalu ketat sampai menghentikan darah, tapi cukup kuat untuk menyangga sendi yang cedera.
Langit memperhatikan jemari Ulfa yang bergerak lincah. Dia teringat bagaimana semalam Ulfa ngamuk tidak terima kalau privasi nya terganggu, padahal itu juga untuk menjaga marwahnya sebagai perempuan yang kepergok pulang jam sebelas malam. Apa lagi status dia udah sebagai istri yang harus menjaga sikap. Tapi mau gimana lagi Ulfa begitu karena Langit juga tidak mau putusin Zara sebagai kekasih.
Di rumah, Ulfa selalu jadi orang yang paling tidak banyak menuntut. Dia membersihkan rumah, mencuci bajunya sendiri, dan gak pernah merengek minta ditemani layaknya pacar-pacar temannya di sekolah.
Selama ini Langit berpikir Ulfa bersikap dingin dan cuek karena terpaksa menjalani pernikahan ini. Langit mengira Ulfa membencinya sama seperti dia yang sempat frustrasi di awal pernikahan mereka tiga bulan lalu.
Namun, melihat bagaimana telatennya Ulfa sekarang, bagaimana cewek itu dengan teliti merapikan sisa balutan dan memastikan Langit merasa nyaman, dinding prasangka di kepala Langit perlahan runtuh.
"Udah selesai," ucap Ulfa pelan. Dia membereskan sisa salep dan sisa perban, lalu berdiri untuk mencuci tangannya di wastafel sudut UKS.
Begitu Ulfa kembali dan berdiri di samping ranjang, dia hendak meninggalkan Langit yang tergeletak di kursi. "Lu istirahat aja disini. Gue mau lanjut ngurus acara"
Langit gak langsung menjawab atau bergerak. Dia justru mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Ulfa.
Tatapan Langit yang biasanya tajam, menantang, dan penuh keangkuhan khas cowok populer sekolah, entah sejak kapan sudah luruh sepenuhnya. Pandangannya melembut, hangat, dan dalam. Ada semacam rasa takjub sekaligus haru yang mendadak membuncah di dadanya.
Dia baru benar-benar menyadari satu fakta yang selama ini dia sangkal dengan keras.
Di balik sikap ketus, omelan, dan kedisplinan Ulfa sebagai ketua OSIS maupun sebagai 'teman sekamar', cewek ini sebenarnya sangat peduli padanya. Ulfa memperhatikannya dengan caranya sendiri yang sunyi, tanpa perlu validasi dari orang-orang di sekitar mereka.
"Kenapa melotot gitu? Masih sakit banget?" tanya Ulfa heran, sedikit salah tingkah karena mendadak ditatap begitu lekat oleh Langit. Dia kembali berlutut lalu menyentuh dahinya sendiri, kemudian beralih menyentuh dahi Langit. "Gak demam, kan?"
Langit tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang jarang banget dia perlihatkan di area sekolah. Dia meraih tangan Ulfa yang ada di dahinya, menurunkan tangan mungil itu perlahan, tapi gak langsung melepaskannya.
"Enggak, gak apa-apa," kata Langit, suaranya terdengar sangat lembut, bikin Ulfa sempat terpaku beberapa saat. "Makasih ya, Fa. Buat semuanya."
Ulfa mengerjapkan mata, pipinya mendadak merona merah muda samar di bawah temaram lampu UKS siang itu. Dia buru-buru menarik tangannya sambil berdehem kecil, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang mendadak menggila.
"I-iya, sama-sama. Udah kewajiban gue," jawab Ulfa pelan, memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas.
Langit yang melihat respons itu cuma bisa menahan tawa kecil di dalam hati. Rasa nyeri di kakinya mendadak gak terasa begitu menyiksa lagi, kalah oleh rasa hangat baru yang mulai tumbuh dan menetap di sudut hatinya yang paling dalam.
Tak sadar pintu tiba-tiba terbuka, Zara yang panik menyusul Langit sambil berlari sambil nangis karena khawatir. Zara masuk ke UKS dan melihat atmosfer intim mereka.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳