Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.
Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.
Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.
Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
“Wow…”
Soraya mengusap dahinya hingga ke rambut, meninggalkan sedikit remasan di sana.
Dalam hidupnya, cercaan bukanlah sesuatu yang baru. Dia tumbuh dalam keluarga yang memang mudah bergesekan, sehingga pertengkaran bukan sesuatu yang asing baginya.
Tapi ayolah…
Yang barusan adalah salah satu yang paling intens sekaligus paling tidak bisa diterimanya.
Bagaimana tidak?
Semua itu datang dari seorang asing yang bahkan belum pernah dia lihat wajahnya.
Julia yang baru keluar dari kamar mandi dengan kepala masih terbungkus handuk langsung mendudukkan diri di sofa di hadapan Soraya.
Dia dan Ines memang memutuskan untuk bergantian menginap di apartemen perempuan hamil itu.
“Ra, kau kenapa? Wajahmu itu…”
Julia menunjuk wajah Soraya.
Namun Soraya yang masih syok hanya mengangkat sebelah alis tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Cukup beruntung Julia tidak langsung memaksa.
Perempuan itu justru memperhatikan layar ponsel Soraya yang berkali-kali menerima panggilan dari nomor Alexander, sebelum akhirnya sahabatnya itu mengaktifkan mode pesawat.
“Ra, sudah tenang?”
Soraya mengangguk sambil mengembuskan napas panjang melalui mulut.
Dia kemudian menyandarkan punggung ke sofa, lalu mengusap telapak tangannya yang berkeringat pada piyama yang dikenakannya.
“Sangat intens, Ju…”
“Apanya yang intens?”
Julia semakin mencondongkan tubuh.
Soraya yang memang tidak berniat menyembunyikan apa pun akhirnya menceritakan semuanya.
Mulai dari ketika dia mengonfirmasi identitasnya kepada perempuan bernama Patris—yang secara teknis jelas merupakan adik Alexander—hingga bagaimana perempuan itu mengamuk dan mencercanya.
Patris mengatakan bahwa Alexander sudah memiliki tunangan dan mereka seharusnya segera menikah.
Menurutnya, Soraya tidak pantas berada di antara mereka, apalagi masuk ke dalam lingkaran keluarga yang jelas bukan keluarga biasa.
Beruntung kali ini Julia yang mendengarkan, bukan Ines.
Kalau tidak, Soraya tahu sahabatnya yang satu itu mungkin sudah merebut ponselnya dan balik mencaci keluarga Alexander.
“Dia bilang begitu?” Julia melengos tidak percaya.
Soraya hanya terkekeh kecil.
“Sial. Memangnya mereka kira mereka keluarga kerajaan, heh?”
Julia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Belum tahu saja mereka siapa kamu, Ra!”
Soraya terkekeh lagi.
Namun Julia masih belum bisa menerima semuanya.
Dia memang tidak tahu seberapa kaya keluarga Alexander, tetapi dia pernah sekali mengunjungi kediaman Soraya ketika nenek sahabatnya itu sedang sakit.
Perbedaan budaya di keluarga Al-Kala begitu kental hingga Julia sendiri tidak mampu menahan kekagumannya.
Mereka tidak tinggal terpisah seperti kebanyakan masyarakat modern.
Sebaliknya, seluruh keluarga besar mereka tinggal bersama dalam satu kawasan kediaman yang begitu luas.
Julia bahkan masih ingat bagaimana awalnya dia sedikit takut memasuki tempat itu, mengingat buruknya hubungan Soraya dengan beberapa anggota keluarga.
Namun setelah berada di dalam, dia justru tidak berhasil melihat seluruh anggota keluarga tersebut.
Bukan karena mereka tidak ada. Justru karena mansion itu terlalu besar untuk dijelajahi.
“Sial!”
Julia menyandarkan punggungnya.
“Aku jadi penasaran sehebat apa memang keluarga si Alexander itu.”
Dia menggeleng tidak habis pikir.
“Lagipula, kan kakaknya yang membuat kesalahan. Wajar kalau dia bertanggung jawab. Bagaimana sih…”
Soraya yang mendengar perkataan itu langsung menatap Julia tepat ke matanya.
Sahabatnya ini adalah perempuan cerdas, penerima beasiswa yang sedang menempuh pendidikan hukum.
Secara teknis, Julia adalah seseorang yang berpikiran kritis dan analitis.
Namun di saat-saat seperti ini, dia justru memilih menjadi bodoh demi persahabatan.
“Aww!”
Julia memekik ketika Soraya merangkul lehernya erat.
“Aku terharu. Terima kasih.”
Soraya tertawa kecil.
“Tapi tidak perlu menjadi tidak masuk akal.”
Julia menatapnya dengan wajah heran.
“Ayolah, Ju. Wajar kalau adiknya Alexander marah. Kakaknya sudah bertunangan dan akan menikah, lalu tiba-tiba terjadi hal seperti ini. Wajar sekali.”
Julia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengangguk.
Ya. Dia memang tidak melihat persoalan itu secara objektif sebelumnya.
“Lalu, apa rencanamu?” tanya Julia setelah keduanya terdiam beberapa saat.
Soraya mengangkat bahu.
“Entah. Kita lihat situasinya saja.”
Dia berhenti sejenak.
“Tapi yang pasti, aku tidak mau menikah.”
“HAH?”
Suara Julia terdengar keras, tetapi hampir tenggelam karena dia langsung kehilangan kata-kata.
Dia menatap Soraya yang justru terlihat santai.
Lalu tidak tahan lagi.
“SORAYAAAA!”
•
•
Sementara itu, di tempat lain, Alexander yang akhirnya tidak bisa lagi menghubungi Soraya meremas ponselnya begitu kuat hingga layar yang sudah retak kembali mengeluarkan bunyi kecil.
Patris yang melihat frustrasi kakaknya untuk pertama kali dalam hidupnya tidak mampu menahan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dia kecewa.
Dan semakin kecewa ketika menyadari bahwa Alexander tampaknya benar-benar memberikan seluruh perhatiannya kepada perempuan yang baru dikenalnya belum lama itu.
Bagaimana bisa?
Patris tidak mengerti.
Bagaimana bisa kakaknya yang telah mengenal Hana sejak kecil, bahkan berpacaran dengannya selama dua tahun, tiba-tiba berpaling begitu saja?
Jika kakaknya yang selama ini selalu dia banggakan bisa melakukan hal seperti itu, lalu bagaimana dengan pria-pria lainnya?
Patris merasa seolah-olah hanya dengan melihat hubungan Alexander saja, dia sudah mendapatkan trauma baru.
“Puas kamu?” Alexander bertanya dengan suara rendah.
Patris tertawa hambar. “Ya. Aku puas.”
Tatapannya beralih kepada kakaknya. “Aku puas perempuan itu akhirnya tahu diri.”
Alexander menutup mata.
Tangannya terkepal begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat jelas.
Jika bukan karena berusaha menahan diri, dia sendiri tidak yakin masih mampu menjaga kesabarannya terhadap adiknya.
“Mari bicara nanti. Sekarang pergilah.”
“Lepaskan!”
Patris kembali menghempaskan tangan Alexander yang mencoba membawanya ke pintu.
Melihat itu, Alexander memilih berbalik.
Dia tidak ingin memperpanjang pertengkaran.
Dengan sebelah tangan dimasukkan ke saku celana dan tangan lainnya meremas dahinya, dia hendak kembali mendudukkan diri di sofa.
Namun ternyata Patris belum selesai.
Perempuan itu dengan berani berdiri di hadapan Alexander. Untuk pertama kalinya, dia bahkan menunjuk kakaknya dengan jarinya.
“Kak, dengarkan aku baik-baik.”
Dada Patris naik turun. “Kamu tidak bisa bersama wanita itu. Kamu hanya bisa bersama Hana.”
Tatapannya penuh keteguhan. “Aku tidak akan menerima kakak ipar lain selain Hana. Dan jika…”
Kata-katanya menggantung. Dadanya kembali naik turun. Tubuhnya sedikit gemetar sebelum akhirnya dia melanjutkan.
“Jika tidak, aku tidak mau menganggapmu kakakku lagi.”
DEG.
Tangan Alexander semakin terkepal.
Kuku-kukunya yang pendek bahkan berhasil menekan kulit telapak tangannya.
Namun dengan susah payah dia tetap mencoba mempertahankan kewarasannya.
“Pergilah. Kita akan membicarakan ini nanti.”
“TIDAK!”
Patris membalas dengan keras.
“Aku sudah memperingatkanmu. Jika Kakak benar-benar memilih wanita itu, aku tidak akan pernah memaafkan Kakak. Tidak akan!”
BRAK!
Pada akhirnya, Alexander juga hanya manusia biasa.
Tangannya menghantam meja.
Matanya menyalak ketika menatap Patris, begitu tajam hingga seolah mampu menembus tulang.
Anggap saja adiknya itu lupa. Maka Alexander akan mengingatkannya.
“Patricia…” Suaranya rendah dan bergetar. “Kakakmu tidak memilih wanita itu hanya karena siapa dirinya.”
Alexander menarik napas berat. “Kakakmu memilih anak yang ada di dalam kandungan wanita itu.”
Matanya mulai berkaca-kaca. “Memilih keponakanmu.”
Suara Alexander semakin pelan dan parau. “Jadi bagaimana bisa,” Dia menelan rasa sakit yang memenuhi tenggorokannya. “…kamu menyuruh Kakak memilih di antara kalian?”
Namun Patris tidak menangkap apa yang sebenarnya ingin disampaikan Alexander.
Perempuan itu hanya fokus pada satu hal.
Alexander telah menggebrak meja di hadapannya.
“Kakak keterlaluan!” Patris berteriak.
Kemudian dia berbalik dan berjalan keluar dengan mata yang tidak kalah berkaca-kaca.
Melihat itu, Alexander akhirnya terduduk.
Tubuhnya seperti kehilangan tenaga.
Dia bahkan hampir terjatuh ke sisi sofa.
Apakah adiknya benar-benar tidak bisa dibujuk?
Bahkan setelah dia menjelaskan bahwa yang ingin dia lindungi bukan sekadar Soraya, melainkan anak yang ada di dalam kandungan perempuan itu?
Bagaimana mungkin?
•
•
Meninggalkan apartemen Alexander, Patris segera menyuruh sopirnya untuk membawanya ke kediaman keluarga Lii.
Dia mungkin masih terluka karena pertengkarannya dengan Alexander.
Namun dia jauh lebih mengkhawatirkan Hana. Sahabatnya itu telah menyukai kakaknya sejak mereka masih muda.
Patris tahu akan sangat memalukan jika harus mengunjungi kediaman keluarga Lii setelah masalah ini terungkap.
Namun dia tetap ingin datang. Jika memungkinkan, dia ingin meminta maaf atas apa yang terjadi.
Sekaligus menjanjikan bahwa pernikahan itu akan tetap dilaksanakan.
Patris tahu dirinya hampir tidak memiliki keputusan akhir mengenai apa yang akan terjadi.
Namun dia tetap ingin memberikan janji itu.
Karena dalam pikirannya, tidak ada wanita yang lebih baik daripada Hana untuk menjadi pendamping Alexander.
Lagipula, dia bahkan tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi jika keduanya benar-benar tidak menikah.
Apa kata orang nanti?
Namun, mengesampingkan hubungan keduanya, Patris juga tahu dirinya akan terkena imbas.
Dan itu bukan imbas kecil.
Sebagai seorang selebriti, dia sangat takut jika masalah keluarganya sampai muncul ke publik.
Apalagi pertunangan Hana dan Alexander telah menjadi topik hangat, sementara dirinya sendiri selama ini begitu antusias membagikan perkembangan hubungan mereka kepada publik.
“Tidak… tidak bisa…”
Patris menggeleng sambil menggigit kukunya.
Dia tidak sanggup membayangkan perundungan dan cacian yang akan mengarah kepada Alexander dan keluarga mereka.
Belum lagi kemungkinan dirinya ikut diboikot.
Semakin dipikirkan, semakin stres Patris.
Hingga dia tidak menyadari bahwa perjalanan menuju kediaman keluarga Lii yang seharusnya terasa cukup panjang, tiba-tiba sudah dekat.
TIIITTTTTTT!
BUG!
Untuk sesaat Patris mengira itu adalah penggemar fanatik yang datang melakukan sesuatu yang berbahaya karena menghadangnya.
Namun ketika terdengar ketukan pada jendela mobil, dia tiba-tiba merasa familiar.
“Siapa kamu?”
“Nona, saya bodyguard Nona Hana.”
Patris mengangguk setelah akhirnya mengingat pria itu. Namun tatapannya masih menyimpan rasa heran sekaligus tidak suka terhadap Jethro.
“Kenapa kamu menghadang mobilku?”
Jethro menundukkan kepala beberapa kali sebagai permintaan maaf. “Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud menghalangi. Saya terpaksa.”
Dia menarik napas pendek.
“Saat ini mungkin sedang ada masalah di kediaman keluarga Lii, sehingga saya tidak bisa menghubungi Nona Hana. Kalau Nona masuk, tolong beri tahu Nona Hana bahwa saya sedang mencoba menghubunginya.”
Semakin mendengar penjelasan itu, semakin dalam kerutan di dahi Patris.
Namun ketika dia menangkap bahwa jelas ada masalah di dalam rumah, dia kira-kira sudah mengetahui apa yang sedang terjadi.
Tanpa bertanya lebih jauh, Patris hanya mengangguk.
Dia kemudian memerintahkan sopirnya untuk kembali melaju.
Kediaman keluarga Lii hanya berjarak beberapa meter lagi.
Tak lama kemudian, gerbang dibuka. Patris turun dari mobil.
Sementara itu, di dalam rumah, Hana justru sudah jauh lebih baik.
Setelah makan cukup banyak, dia bahkan menyantap buah-buahan sebagai hidangan penutup. Rasa sakit hati yang sebelumnya begitu berat perlahan menghilang.
Sementara itu, kedatangan Patris justru disambut Conrad. Pria itu memang sudah menduga sahabat putrinya akan datang.
“Paman.”
Patris mengangguk sopan. Sedikit kikuk.
Namun Conrad justru langsung menariknya ke dalam pelukan seperti biasa. “Nak, jangan seperti ini.”
Suara Conrad terdengar lembut. “Selamanya kau adalah putri bagi Paman.”
Conrad sama sekali tidak berbasa-basi.
Dia langsung menyentuh inti persoalan, membuat Patris menggigit bibir bawah karena merasa bersalah.
Biasanya Patris akan langsung memberikan pelukan kepada Conrad setiap kali mereka bertemu.
Karena itu, kecanggungan yang terjadi kali ini terasa semakin jelas.
“Maaf, Paman…” Suara Patris kecil. “Maaf atas apa yang terjadi.”
Conrad menggeleng. Dia mengurai pelukannya, tetapi kedua tangannya masih berada di pundak Patris.
“Tidak, tidak Patris. Ini bukan kesalahanmu. Jadi jangan meminta maaf.”
Dari belakang, Josephine melihat semua itu. Perempuan itu justru merasa muak. Bukan kepada Conrad, melainkan kepada Patris sebagai keluarga Kim.
Dia tahu putrinya bersalah. Namun di dalam hatinya, Josephine tetap menganggap semua ini sebagai kesalahan Alexander.
Jika saja pria itu tidak menunda-nunda pernikahan, mungkin kesalahan yang dilakukan putrinya tidak akan pernah terjadi.
Apalagi ketika membayangkan Alexander sudah memiliki seorang anak dan ada kemungkinan anak itu kelak akan dibawa masuk ke dalam keluarga untuk dirawat Hana.
Josephine semakin tidak terima. Bagaimanapun, dia adalah seorang ibu. Dia tidak ingin putrinya harus mengurus anak orang lain.
Namun di hadapan Conrad, dia tidak berdaya.
Bukan hanya takut terhadap amukan pria itu.
Dia juga takut karier satu-satunya sang suami akan ikut hancur.
“Eh, Patris? Kamu di sini?”
Josephine akhirnya berujar sambil melangkah mendekat.
Patris yang melihatnya sedikit terkejut. Josephine terlihat begitu tenang menghadapi semua yang terjadi.
Anehnya, kebaikan itu justru membuat Patris semakin merasa bersalah.
“Bibi…” Patris menundukkan kepala.
“A-aku datang untuk melihat Hana.”
“Hana sedang di atas.”
Josephine tersenyum tipis.
“Terima kasih sudah datang. Dia sangat membutuhkanmu saat ini.”
Conrad mengangguk puas mendengar perkataan istrinya.
Sekali lagi, Patris mau tidak mau menunduk.
“Paman, Bibi…” Dia menarik napas. “Aku sudah mendengar semuanya dan aku benar-benar menyesal atas apa yang terjadi.”
Patris menggigit bibir bawah.
“Tapi Paman dan Bibi tidak perlu khawatir. Aku berjanji, hanya Hana yang akan menikah dengan Kak Alexander. Bukan wanita itu.”
“Shh.”
Conrad segera menghentikannya.
“Sudah. Jangan membicarakannya di sini. Nanti ada yang mendengar.”
Dia mengarahkan dagunya ke tangga. “Kau naik saja dan temui Hana. Seperti kata Bibimu, dia pasti akan merasa lebih baik setelah bertemu denganmu.”
Patris akhirnya menurut.
Dia menaiki tangga dengan perasaan tidak nyaman.
Sepanjang jalan, dia sadar bahwa tatapan Conrad dan Josephine masih mengikutinya dari belakang.
Karena itu, begitu sampai di lantai atas, Patris justru setengah berlari.
Dia langsung memasuki kamar Hana tanpa mengetuk terlebih dahulu.
BRAK!
Hana yang sedang berada di atas tempat tidur, dengan tangan terangkat memegang ponsel, langsung tertegun.
Pintu nyaris seperti didobrak.
Dan Patris berdiri di sana.
Awalnya Patris terlihat khawatir.
Namun setelah melihat Hana baik-baik saja, ekspresinya berubah menjadi cengengesan salah tingkah.
Sayangnya, ekspresi itu langsung menghilang ketika telinganya menangkap suara seorang pria dari ponsel Hana.
“Nona? Nona?”