Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.
Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.
"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."
Lili kira bercanda.
Besoknya lamaran beneran datang.
Kontrak setahun 500 juta.
Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.
Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - SYUKURAN ATAP BARU
Jam delapan pagi, rumah biru sudah ramai lagi. Bukan karena klakson TIT TIT TIT Alphard hitam atau mobil merah Rina, melainkan karena tikar kembali digelar di ruang tengah. Kali ini bukan untuk tidur darurat saat hujan bocor, tetapi untuk syukuran atap baru.
Di atas tikar sudah tersusun nasi kuning, ayam goreng, telur balado, kue lapis, dan satu rantang besar sup buntut yang dibawa Mama sejak pukul enam pagi.
“Sup buntut lagi, Ma?” tanyaku sambil membantu Ibu menata piring.
Mama menoleh dengan wajah serius. “Sup buntut adalah lauk resmi keluarga kita. Waktu atap bocor makan sup buntut, waktu atap diperbaiki makan sup buntut, sekarang atap sudah bagus juga tetap makan sup buntut.”
“Kalau nanti cucunya lahir, menunya sup buntut juga?”
Mama langsung menunjukku dengan sendok sayur.
“Lili! Kamu jangan mulai pagi-pagi!”
Aku tertawa, sementara Ibu menggeleng sambil tersenyum. Kebaya biru tua yang kemarin dipakai saat kami ke lantai dua belas bersama kresek bening dan sapu lidi sudah diganti dengan daster bunga pudar. Meski begitu, rambut Ibu tersanggul rapi. Ada kebahagiaan sederhana di wajahnya yang belakangan jarang kulihat.
Rumah ini akhirnya terasa seperti rumah lagi.
Tidak ada baskom yang diletakkan di bawah lubang atap. Tidak ada kasur yang harus digeser setiap kali hujan turun. Tidak ada suara air menetes ke ember sepanjang malam.
Hanya ada aroma masakan, tawa keluarga, dan atap seng baru yang masih mengilap diterpa matahari.
“Lili, panggil Pak RT, ya,” kata Ibu. “Tadi beliau bilang mau mampir.”
Aku baru saja melangkah ke pintu ketika Damian keluar dari kamar. Dia mengenakan kaus putih bersih dan celana santai. Di tangannya ada ember cat biru langit yang kemarin digunakan untuk mengecat bagian depan rumah.
“Mas, kamu mau mengecat lagi?”
“Bukan.” Damian mengangkat ember itu. “Aku mau menjadikannya tempat nasi kuning. Biar estetik.”
Mama langsung menoleh tajam.
“Siapa yang ngajarin kamu pakai kata estetik? Mama tidak pernah bilang begitu!”
Damian memasang wajah polos. “Tadi pagi Mama sendiri bilang kalau air bocor warnanya biru, rumah kita bakal kelihatan estetik.”
“Itu waktu membicarakan atap, bukan ember!”
Aku tertawa sampai harus berpegangan pada kusen pintu. Damian ikut tertawa, sedangkan Mama mengomel sambil membawa rantang sup buntut ke tengah ruangan.
Sejak masalah atap, kontrak lima ratus juta, dan berbagai pertengkaran keluarga memenuhi hari-hari kami, rasanya sudah lama sekali kami bisa bercanda seperti ini.
Tidak ada yang membahas uang.
Tidak ada yang saling menyalahkan.
Pagi itu, kami hanya ingin menikmati kebahagiaan kecil yang akhirnya datang.
Tak lama kemudian, Pak RT datang membawa dua bungkus kopi dan sekantong gorengan.
“Wah, rumahnya sudah bagus sekarang!” katanya sambil memandangi langit-langit. “Semalam hujan deras, kan? Saya sampai menunggu suara orang teriak minta ember dari rumah ini.”
Ibu tertawa kecil.
“Tidak ada lagi, Pak. Semalam kami tidur nyenyak. Tidak perlu bangun tengah malam untuk memindahkan kasur.”
“Syukurlah.” Pak RT duduk bersila di atas tikar. “Kalau begitu, syukuran berikutnya kapan? Syukuran akta nikah? Atau syukuran cucu?”
Aku langsung tersedak nasi kuning yang baru kumakan.
“Pak RT!”
Damian buru-buru menyodorkan segelas air kepadaku.
Mama, yang sejak tadi sibuk mengatur piring, langsung menutup mulut Pak RT dengan sepotong gorengan.
“Jangan memancing, Pak! Test pack masih ada di atas kulkas. Sudah dilakban pula, tulisannya JANGAN DIBUKA SEBELUM WAKTUNYA!”
Pak RT melotot sebentar, kemudian tertawa sampai bahunya berguncang.
“Lho, memang saya tidak boleh bertanya?”
“Boleh, tapi jangan membuat menantu saya tersedak!”
Damian mendekatkan bibirnya ke telingaku.
“Lili, jangan ikut-ikutan. Nanti Mama benar-benar membuka lakbannya.”
Aku membalas bisikannya, “Tapi kalau atap sudah tidak bocor, berarti cucu boleh pulang dari Alfamart, kan?”
Damian spontan menutup wajahku dengan tisu.
“Mulut kamu itu, ya!”
Kami tertawa lagi.
Tepat pukul sembilan, ponsel Damian berbunyi.
Ting!
Suara notifikasi itu membuat kami serentak menoleh. Damian mengambil ponselnya dari atas meja. Nama Papa muncul di layar.
Ada sebuah foto yang dikirim ke chat pribadi.
Foto atap rumah biru yang baru selesai diperbaiki. Rupanya Pak RT sudah memotret rumah kami pagi tadi, mengirimkannya ke grup RT, lalu Mama meneruskannya kepada Papa.
Di bawah foto itu hanya ada satu kalimat.
Catnya masih kurang rata di pojok kanan. Besok beli lagi.
Damian membaca pesan itu keras-keras.
Ibu langsung berdiri dan menatap langit-langit.
“Kurang rata di mana? Ibu sudah mengecatnya sampai tiga kali!”
Mama ikut mendekat ke layar.
“Pojok kanan yang mana? Yang dekat jemuran daster atau yang dekat pot bunga pecah?”
Aku mengambil ponsel Damian dan memperbesar fotonya. Benar saja, bagian kanan atap memang terlihat sedikit lebih tipis warna birunya dibandingkan bagian lain.
“Mas, Papa ternyata memperhatikan sampai sedetail ini?”
Damian mengangguk santai.
“Papa dulu pernah jadi tukang cat sebelum jadi tukang seng, sebelum akhirnya jadi bos.”
Mama langsung menyahut, “Betul! Dulu Papa pernah mengecat rumah kita sendiri. Hasilnya belang-belang seperti zebra!”
Tawa kembali pecah memenuhi ruang tengah.
Belum selesai kami tertawa, pesan kedua masuk.
Sup buntutnya jangan kebanyakan garam.
Mama langsung memeriksa rantang di depannya.
“Garamnya pas! Mama cuma memasukkan satu sendok!”
Ibu mendekat kepadaku dan berbisik, “Satu sendok yang dimaksud Mama itu satu sendok sayur, Nak.”
Aku langsung ngakak. Bando biru delapan belas ribu yang bertengger di kepalaku sampai miring ketika aku menunduk menahan tawa.
Lalu pesan ketiga masuk.
Kali ini berupa foto tiga kotak test pack yang terletak di atas kulkas. Lakban bertuliskan JANGAN DIBUKA SEBELUM WAKTUNYA masih melintang di atasnya.
Foto itu jelas diambil Mama kemarin, ketika kami berada di kantor lantai dua belas.
Di bawah foto tersebut, Papa menulis:
Singkirkan. Atau bawa ke apotek, tukar dengan cat.
Mama langsung mengangkat kedua tangan.
“PAPA! ITU INVESTASI MASA DEPAN!”
Aku sampai memegang perut karena tertawa. Damian yang biasanya berusaha menjaga wibawanya akhirnya ikut tertawa lepas.
Tawa itu terdengar begitu berbeda. Hangat, lepas, dan tidak dibuat-buat.
Aku teringat masa ketika Damian sering duduk diam menunggu kabar dari Papa. Ada begitu banyak hal yang belum selesai di antara mereka. Ada perkataan yang menyakitkan, keputusan yang sulit diterima, dan restu yang tidak selalu datang dengan mudah.
Namun pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa hubungan mereka perlahan membaik.
Papa masih mengkritik cat.
Masih mengomentari masakan.
Bahkan masih mengurusi tiga kotak test pack yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan atap.
Tetapi setidaknya, Papa masih memperhatikan rumah ini.
Dan mungkin, itulah salah satu bentuk kepeduliannya yang paling mudah kami pahami.
“Sudah, Ma, Pa,” kata Damian sambil menggeleng geli. “Kita makan dulu. Nanti kalau catnya kurang rata, aku perbaiki sendiri.”
Kami kembali duduk mengelilingi tikar pandan.
Tidak ada piring kotor yang menumpuk seperti setelah syukuran kambing beberapa waktu lalu. Tidak ada gelas plastik berserakan di dekat sumur. Tidak ada map cokelat yang dibanting ke meja, apalagi teko yang pecah karena pertengkaran.
Hanya ada makanan sederhana dan percakapan ringan yang membuat waktu terasa berjalan lebih lambat.
Setelah semua selesai makan, Ibu berdiri. Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada atap yang baru.
“Terima kasih sudah membantu memperbaiki rumah ini,” ucapnya pelan. “Rumah ini memang kecil. Catnya juga tidak mahal. Tapi sekarang, kami tidak perlu takut lagi setiap hujan.