Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.
Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Atas Kertas dan Malam yang Retak
Seminggu berlalu sejak guncangan konferensi pers di Perkasa Tower meretakkan panggung sosialita Jakarta. Nama Siska resmi menghilang dari daftar tamu jamuan kelas atas, tergantikan oleh berita perceraian kilat dan pengalihan seluruh aset mansion utama. Sementara itu, namaku bertengger anggun di jajaran eksekutif muda Perkasa Group.
Namun, kemenangan di atas kertas tak pernah benar-benar menjamin kedamaian di dalam ruang tertutup.
Malam itu, gerimis tipis membasahi kaca jendela ruang kerja lantai 50. Pendar lampu meja bermotif perunggu menyinari berkas-berkas audit internal Perkasa Group yang terbuka di hadapanku. Sebagai Pemegang Saham Utama divisi investasi privat yang baru, aku menghabiskan tiga hari terakhir memeriksa dokumen arus kas yang selama ini dikelola oleh Raymond.
Jemariku menghentikan ketukan di atas meja mahoni saat mataku menangkap sebuah kejanggalan pada laporan transfer berkala menuju offshore account di Kepulauan Cayman. Transaksi bernilai puluhan juta dolar itu berlabel Project Serpent, namun tanggal pembukaannya tercantum lima tahun lalu—jauh sebelum aku melangkah masuk ke dalam mansion ini, bahkan jauh sebelum Ayah meninggal.
Pintu ganda ruang kerja berdenting halus. Raymond melangkah masuk dengan santai, melepas kancing teratas kemeja sutra hitamnya. Senyum tipis yang sarat akan dominasi menghiasi bibirnya saat ia mendekati mejaku.
"Kamu bekerja terlalu larut, Clarissa," ujar Raymond dengan suara bass-nya yang rendah, meletakkan segelas wiski di samping berkas yang sedang kubaca.
Aku mendongak, menyandarkan punggungku pada kursi kulit, lalu memutar layar dokumen tersebut ke arahnya. "Aku hanya sedang mempelajari bagaimana calon suamiku mengelola asetnya."
Raymond melirik sekilas ke arah layar, namun raut wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Iris mata hazel-nya justru makin memikat dan penuh misteri.
"Proyek Cayman itu bukan urusan divisi investasi privat, Clarissa," sahutnya tenang, meraih gelas wiskinya dan menyesapnya perlahan.
"Tapi nama yang tertera sebagai pemilik manfaat akun itu adalah nama Ayahku, Raymond," balasku pelan, suaraku jernih memotong keheningan ruangan.
Keheningan yang pekat seketika membeku di antara kami. Hujan di luar kaca seakan meredup, kalah oleh ketegangan tak kasat mata yang mendadak menyeruak.
Aku berdiri dari kursiku, melangkah mengikis jarak di antara kami hingga aroma kayu cendana bercampur alkohol halus dari tubuhnya merayapi indra penciumanku. Aku menatap lurus ke dalam mata pria yang selama ini kupercaya sebagai alat pembalasan dendamku.
"Ayahku tidak pernah meninggal dalam kemiskinan karena dicampakkan Ibu, bukan?" bisikku berani, menempelkan telapak tanganku di dada bidangnya yang tegap. "Kamu yang membeli seluruh saham usaha Ayah sebelum ia wafat. Kamu yang mengatur agar Ibu berpaling padamu... dan kamu yang merancang agar aku datang menuntut dendam padamu."
Sebuah senyuman dingin, teramat tampan namun memancarkan bahaya yang sangat nyata, terukir perlahan di sudut bibir Raymond. Ia meletakkan gelas wiskinya di atas meja tanpa mengalihkan pandangannya dariku.
Tangannya yang besar dan hangat terangkat, merengkuh pinggangku dengan satu gerakan tajam, menarik tubuh rampingku hingga menempel rapat pada dada bidangnya.
"Kamu selalu menjadi wanita yang paling cerdas di ruangan ini, Clarissa," bisik Raymond parau di depan bibirku, napas panasnya membakar kulit wajahku. "Ibumu hanyalah alat yang kubeli untuk memancingmu keluar dari bayang-bayang. Aku membutuhkan alasan yang sah untuk membawa putri tunggal pemilik asli Perkasa Group kembali ke tempat yang seharusnya."
Jantungku berdegup kencang bagai dihantam ombak. Selama ini aku merasa sedang memutar papan catur dan menjebak Raymond di dalam perangkapku namun nyatanya, sang taipan adalah dalang yang telah menyiapkan seluruh arena ini sejak awal. Iku bukan sekadar alat pembuktian; ia adalah umpannya. Dan aku adalah hadiah utama yang memang ingin ditangkapnya.
"Jadi... semua ini adalah rencanamu sejak awal?" tanyaku dengan napas terengah pelan, menatapnya dengan campuran rasa terkejut dan rasa penasaran yang teramat dalam.
"Bukan rencana," ralat Raymond rendah, jemarinya mengusap lembut garis rahangku hingga berhenti di bawah telingaku, memberikan sentuhan posesif yang membuat seluruh syarafku bergetar. "Ini adalah penguasaan. Aku tidak akan membiarkan warisan ayahmu jatuh ke tangan orang lain... dan aku tidak akan membiarkanmu dimiliki oleh pria manapun selain aku."
Raymond menundukkan kepalanya, mengunci bibirku dalam sebuah ciuman yang sarat akan dominasi mutlak dan obsesi yang terbukti tak terbatasi oleh hukum atau moralitas. Aku meremas kemeja hitamnya, menyerahkan diriku pada kebenaran yang baru saja terkuak di atas ketinggian gedung ini.
Perang melawan Ibu mungkin telah usai, namun permainan sesungguhnya antara aku dan sang pemilik kekaisaran baru saja menginjak babak paling membara.