NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Pipa Bocor Tengah Malam

Rasa aman yang baru tumbuh itu justru membuat Arum sulit memejamkan mata.

Selepas isya, ia masih berada di kamar utama untuk memperbaiki kancing bajunya. Pintu depan Blok C-3 dibiarkan terbuka. Bu Inah sudah berpesan akan menjemputnya setelah menutup warung, tetapi hujan gerimis membuat pelanggan bertahan lebih lama.

Bara berada di kamar sebelah. Sejak mengusir Hartono, lelaki itu tak banyak bicara. Ia hanya menelan obat, memeriksa pintu dua kali, lalu duduk dengan map terbuka di pangkuan. Sesekali Arum mendengar tongkat menyentuh lantai.

Setiap bunyi itu membuatnya teringat telapak tangan Bara yang menutup tangannya.

Arum menusukkan jarum terlalu dalam.

"Aduh."

Setitik darah muncul di ujung jari. Ia mengisapnya cepat, lalu menertawakan dirinya sendiri. Dikejar pikiran tentang seorang Mayor sampai tak becus memasang kancing adalah hal paling memalukan yang pernah ia alami hari ini, setelah jatuh dengan baju terbuka dan hampir dicium orang yang sama.

Hampir.

Pipinya kembali panas.

Arum meletakkan jahitan. Ia perlu mencuci wajah sebelum Bu Inah datang. Di kamar mandi belakang, pintu kayu tak bisa menutup rapat. Kait besinya longgar, membuat daun pintu kembali terbuka setiap kali ia dorong.

"Besok harus diperbaiki," gumamnya.

Ia meletakkan gayung sebagai penahan, kemudian membuka keran kecil di dekat bak. Air yang keluar mula-mula keruh. Pipa tua di dinding bergetar dan mengeluarkan bunyi mendesis.

Arum memutar keran kembali.

Bunyinya justru makin keras.

"Pak Mayor?"

Tak ada jawaban.

Sambungan pipa di atas keran menggembung. Sebelum Arum sempat mundur, bautnya terlepas.

Air menyembur deras tepat ke tubuhnya.

"Ya Allah!"

Arum menjerit dan menutup wajah. Gayung yang menahan pintu terseret arus. Daun pintu terbuka lebar. Air dingin membasahi rambut, baju, dan lantai hingga mengalir ke lorong.

"Arum!"

Suara tongkat jatuh terdengar dari kamar sebelah.

Bara muncul di lorong tanpa alas kaki. Ia melihat Arum berdiri di bawah semburan air, lalu kakinya yang terluka bergerak lebih cepat daripada seharusnya.

"Minggir."

Ia masuk ke kamar mandi, memutar katup utama di bawah bak. Sambungannya macet. Bara mengatupkan gigi dan menarik lebih keras. Otot lengannya menegang. Akhirnya katup bergeser, lalu semburan air melemah menjadi tetesan.

Sunyi jatuh.

Arum menggigil. Baju yang baru dijahit melekat pada tubuhnya. Rambut basah menempel di pipi dan leher. Ia memeluk dada, baru menyadari pintu terbuka dan Bara berdiri kurang dari satu langkah di depannya.

Tatapan lelaki itu berhenti.

Napasnya berubah.

Arum mundur, tetapi tumitnya menyentuh bak. "Jangan lihat."

Bara seperti tersadar. Ia menarik handuk besar dari gantungan dan melemparkannya ke bahu Arum, lalu berbalik membelakanginya.

"Tutup tubuhmu."

Kalimat yang sama seperti sore tadi, tetapi kali ini suaranya serak.

Arum membungkus diri dengan handuk. Jemarinya kaku karena dingin. "Saya tidak sengaja. Pipanya tiba-tiba lepas."

"Aku lihat."

"Mayor pikir saya sengaja lagi?"

Bara diam sesaat. "Tidak."

Jawaban itu menghangatkan sesuatu di tengah tubuh Arum yang menggigil.

Lelaki itu meraih kemeja lapangan dari jemuran dalam dan menyodorkannya ke belakang tanpa menoleh. "Pakai ini di kamar."

"Lalu Mayor?"

"Aku masih punya baju."

Arum mengambilnya. Jari mereka bersentuhan singkat. Bara segera menarik tangan, seolah sentuhan kecil itu lebih berbahaya daripada pipa pecah.

"Kaki Mayor berdarah."

Bara melihat ke bawah. Telapak kakinya menginjak serpihan baut berkarat. Ada garis merah tipis tercampur air di lantai.

"Hanya goresan."

"Duduk. Saya bersihkan."

"Ganti bajumu dulu."

"Lukanya bisa kotor."

"Arum."

"Pak Mayor."

Bara menoleh setengah. Tatapannya bertemu wajah Arum yang hanya muncul di atas handuk. Beberapa detik kemudian, ia menyerah dan duduk di bangku pendek di luar kamar mandi.

Arum tetap berdiri di balik daun pintu, hanya mengulurkan kotak obat dan kain kasa. "Mayor bisa membersihkan sendiri. Saya ganti baju."

Sudut mulut Bara bergerak tipis. Hampir seperti senyum, tetapi lenyap sebelum Arum yakin melihatnya.

"Cepat. Nanti kamu sakit."

Arum masuk ke kamar utama dan menutup pintu. Kemeja Bara terlalu besar. Lengannya menutupi telapak tangan, ujungnya mencapai paha. Kain itu menyimpan aroma antiseptik, sabun, dan sesuatu yang hangat milik lelaki tersebut.

Saat Arum keluar, Bara telah menutup pipa dengan kain dan kawat sementara. Kasa putih membungkus telapak kakinya. Ia menatap Arum dalam kemejanya sendiri, lalu segera mengalihkan wajah ke dinding.

"Bu Inah belum datang?"

"Belum."

"Aku antar."

"Dengan kaki seperti itu? Warungnya dekat."

"Aku tidak membiarkanmu berjalan sendiri malam-malam."

Arum hendak membantah, tetapi air sudah mencapai kaki meja ruang tengah. Ia mengambil alat pel dan mendorong air kembali ke kamar mandi. Bara meraih sapu karet dari tangannya.

"Kamu menggigil. Duduk."

"Kalau dibiarkan, map Mayor basah."

Mereka sama-sama melihat tumpukan map di rak paling bawah. Tanpa bicara lagi, Bara memindahkan map, sementara Arum mengeringkan lantai. Setiap kali Bara membungkuk, kaki kanannya bergetar. Ketika ia mengangkat map terakhir, lututnya hampir menekuk.

Arum segera menahan siku lelaki itu.

"Saya bilang lukanya harus diistirahatkan."

"Dan aku bilang kamu harus duduk."

"Berarti kita berdua keras kepala."

Bara menatapnya lama. "Jangan samakan dirimu denganku."

"Karena pangkat Mayor lebih tinggi?"

"Karena aku lebih sulit diatur."

Arum tak mampu menahan tawa kecil. Bara terdiam mendengarnya. Wajah lelaki itu tetap keras, tetapi jemarinya yang memegang map melonggar. Rumah yang sebelumnya hanya berisi bunyi tongkat dan obat-obatan mendadak terasa sedikit lebih hidup.

Mereka menyelesaikan genangan tanpa saling menyentuh lagi. Bara meletakkan kursi dekat pintu depan dan menunggu Bu Inah sambil menghadap teras. Arum duduk beberapa langkah di belakang, rambut dibungkus handuk, kedua tangan tenggelam di lengan kemeja yang kebesaran. Jarak itu cukup untuk menjaga kepantasan, tetapi tidak cukup jauh untuk menghilangkan kesadaran bahwa mereka sedang saling menjaga.

Saat Arum hendak bertanya apakah rasa sakit di kaki Bara berkurang, suara batuk kecil terdengar dari jendela samping.

Di rumah sebelah, Bu Lastri berdiri di balik tirai. Perempuan itu terbangun oleh jeritan dan bunyi air. Dari celah jendela, ia hanya melihat pintu kamar mandi terbuka, lantai basah, lalu Arum keluar memakai kemeja lelaki yang terlalu besar.

Ia tidak mendengar sambungan pipa yang pecah.

Ia juga tidak melihat Bara membelakangi Arum saat gadis itu basah kuyup.

Yang didengarnya hanya potongan suara.

"Pakai ini di kamar."

"Lalu Mayor?"

"Aku masih punya baju."

Bu Lastri menutup mulut, tetapi matanya menyala. Tangannya meraih ponsel di meja. Grup WhatsApp Persit terbuka di layar, nama-nama anggota berderet seperti pintu yang siap diketuk satu per satu.

Ia belum mengetik apa pun.

Belum malam ini.

Namun, senyum kecil di wajahnya membuat gerimis di luar terasa jauh lebih kotor daripada air pipa yang membanjiri kamar mandi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!