NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB ENAM: Retaknya Cermin (Bagian 2)

“Kok kamu udah ke Malang lagi?” Ara menangkupkan tangannya di wajahku.

“Emang kenapa? Nggak boleh?” dengan susah payah kugerakkan bibirku untuk menjawab Ara.

“Bolos lagi?”

“Ya ampun, Chan! Masa iya hobiku bolos melulu?” kuletakkan tanganku di atas tangan Ara.

“Terus?” Ara menatapku penuh selidik.

“Aku ada proyek di sini. Makanya bisa sekalian pulang ke kamu. Segitu curiganya sih sama pacarmu,” aku geleng-geleng kepala menyadari tingkah Ara. Dia melengos.

“Because I know you too well. Makanya aku cuma memastikan kalau kamu emang nggak bolos demi ketemu aku.”

“Meskipun itu adalah hal yang sangat ingin kulakukan tapi keinginan untuk menikah denganmu sudah cukup jadi alasan untukku agar tidak membolos kerja sesering orang cuci darah,” tuturku serius. Kulihat Ara akan mendaratkan cubitan khasnya di pinggangku. Buru-buru aku menggenggam tangannya.

“Eits! Jangan mencubitku hanya karena kamu malu, Chan! Aku nggak mau timku melihatku dalam keadaan lebam,” aku berseloroh. Kali ini Ara tidak memberontak. Dia hanya menutupi salah satu pipinya yang bersemu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tetap diabiarkan di genggamanku. Kupandangi dia lekat-lekat. Baru beberapa bulan saja jadi mahasiswa, Ara sudah berubah banyak. Lebih banyak daripada saat aku bertemu dengannya berapa waktu lalu. Tak usah ditanya dia jadi seperti apa, yang jelas dia makin cantik. Aku sempat pangling waktu melihatnya keluar kampus hari ini.

Dia sudah pintar berdandan. Tidak hanya separuh, tapi paket lengkap. Dan bukan menor, melainkan sederhana. Alis matanya sudah rapi, tak lagi mencuat seperti rumput liar. Bulu matanya masih tak lentik, tapi ada eyeliner hitam yang menghiasi garis matanya. Membuat matanya tak lagi pucat karena terlalu bening. Blush on merah muda pun menyembul di tulang pipinya. Redup, tapi akan terlihat jika ada orang yang berhasil membuatnya merona. Sentuhan lipstik juga tak lupa menghiasi bibirnya. Merah muda dan membuatku gemas. Sangat gemas.

Wajah Ara bersih. Kulit sawo matangnya juga makin mencolok. Rambutnya yang hitam tetap menguar dengan wangi yang sama, hanya saja panjangnya sekarang sudah menutupi setengah punggungnya. Pun tak ada lagi poni yang bisa kuacak-acak. Badannya masih ramping, meski mataku bisa menangkap dengan jelas beberapa bagian tubuhnya yang, well, bukan di fase remaja lagi. Wangi parfumnya pun berubah. Aku mengenali wangi ini karena wangi ini pula yang menjadi bau badanku setiap hari. Coklat. Untungnya, dia tidak membehel gigi gingsul favoritku itu. Hanya gingsul itulah yang membuatku tetap sadar bahwa perempuan di depanku ini memang Ara. Overall, Ara sudah bukan lagi gadis remaja kemarin sore yang hanya bisa eksis di sekolah karena pintar. Dia sudah memasuki masa awal menjadi wanita dewasa yang bisa membuat lelaki menoleh dua kali hanya untuk mengamatinya. Dulu, mungkin dia dipandang sebelah mata karena dia kelewat ‘polos’. Sekarang, aku bisa jamin ada beberapa lelaki yang ingin jadi pacarnya. Termasuk Ian.

“Eh, Ian ke sini juga nggak?” Ara membuyarkan lamunanku. Baru saja aku memikirkan Ian, Ara sudah menyinggungnya. Memangnya kami sebegitu soulmatenya ya?

“Kenapa nanyain Ian?”

“Ya kan biasanya kalian satu proyek,” tukas Ara sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku mengeratkan genggaman tanganku di jemari Ara. Hangat dan sedikit kasar. Kulirik garis tangannya yang semakin jelas. Yah, dia memang sudah setengah feminin, tapi aku yakin dia tidak pernah bergantung dengan pembantu. Perempuan seperti dia pasti mencuci sendiri baju-bajunya. Walaupun dia jarang berkubang di dapur dan tak pintar memasak, aku tahu dia dididik untuk tidak menjadi perempuan manja.

“Iya, dia ke sini. Tapi masih minggu depan,” jawabku kemudian. Aku tidak menyangka Ara seketika menatapku dengan tatapan yang benar-benar bahagia.

“Really? Alright,” ujarnya setengah tertawa.

“Seneng banget tahu Ian mau ke sini.”

“Emang kenapa? Nggak boleh?” Ara meniruku.

“I’m just saying, okay? Kamu tadi ngomel waktu kujemput dari kampus, eh barusan malah nanyain Ian dengan bahagianya. Aneh!” tanpa bisa kuhindari, aku sudah menunjukkan kedongkolanku.

“Dih, bilang aja cemburu! You’re not good on lying, Chan,” bukannya berhenti, Ara malah menggodaku.

“Well, yes. I am jealous. So what?” kuiyakan saja pernyataan Ara. Toh, tak ada gunanya juga jika aku bersikap sok tegar. Ara menelengkan kepalanya ke arahku.

“Nggak perlulah kamu cemburu sama Ian. Aku seneng Ian ke sini karena itu artinya aku bisa denger cerita dia tentang kamu. Kamu dan dia itu saling melengkapi tahu, kayak puzzle. Sifatmu melengkapi dia, begitu juga sebaliknya.”

“Kalau kamu cuma mau tahu ceritaku kan aku bisa cerita sendiri,” aku menyandarkan kepalaku di pohon belakang kami. Ara mengecup pipiku.

“Chan, aku nggak bisa selalu dengerin ceritamu tentangmu. Udah sifat dasar manusia kalau dia bakal cerita yang baik-baik ke orang lain. It’s natural. Dengan adanya Ian, aku bisa tahu sifat aslimu, apa yang terjadi sama kamu di saat aku nggak ada, apa perubahanmu. Jadi, jika suatu saat nanti kita ada masalah, aku akan lebih bisa menghadapimu. Kadang, sudut pandang orang ketiga itu perlu dalam suatu hubungan. He won’t be bad for us.”

“Wow! I didn’t expect that kind of answer actually,” aku takjub. Aku tidak menyangka Ara akan memberikan pernyataan seperti barusan. Tentu saja ciuman yang kudapat di pipi juga di luar dugaan.

“Good then. Now you’re no longer can read my mind. Dulu aku sampai ngira kamu punya indera keenam gara-gara kemampuanmu menebak keinginanku hanya dengan melihat mataku,” tukas Ara simple. Benar, dulu aku memang punya kemampuan seperti itu pada Ara. Sering kali Ara hanya diam menatapku dan aku sudah bisa menebak apa yang sedang ada dalam pikirannya. Makanan, film, anime, apa pun. Yang tidak bisa kutebak hanyalah alasan Ara suka padaku. Dan sekarang aku makin buta dengan pikiran Ara, apalagi yang menyangkut Ian. Kupandangi gadis yang sekarang berbaring di pangkuanku ini. Mau tak mau, aku harus tetap menghadapinya. Suka tidak suka, aku harus tetap menanyakannya.

“Chan?”

“Yes?” mata Ara masih terpejam.

“Misalnya nih. Misalnya aja kita nggak pacaran, terus Ian nembak kamu. Apa kamu bakal nerima?” sesuai dugaanku, Ara langsung menatapku dengan keheranan.

“Dapat ide konyol dari mana pertanyaanmu ini?”

“Udahlah, tinggal jawab aja juga. Kan cuma misal,” aku berkilah.

“Hm...kalau aku bukan pacarmu, dan laki-laki seperti Ian menembakku ya?” Ara menerawang.

“Yup,” aku menyelipkan rambut Ara ke balik telinganya. Lama, Ara masih diam.

“Sure, tentu aja aku bakal nerima. Nggak ada alasan untuk menolak laki-laki sebaik dia, Chan,” aku terhenyak. Jawaban itu, sama sekali bukan jawaban yang ingin kudengar.

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!