NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Detik-Detik Kepulangan dan Pelukan Rindu di Mako

Dua belas bulan yang terasa bagaikan ribuan tahun akhirnya genap berlalu. Masa penugasan Satgas Pengamanan Perbatasan Sektor Utara resmi berakhir.

Bagi seluruh warga Mako Batalyon, hari ini adalah hari yang paling dinanti-nantikan. Bendera merah putih dan petaka Batalyon berkibar gagah di sepanjang jalan markas, diselingi umbul-umbul merah putih yang dipasang rapi oleh para prajurit dan warga desa.

Pagi itu, suasana Mako dipenuhi oleh riuh gelak tawa, isak tangis bahagia, dan ketegangan yang membuncah. Keluarga para prajurit telah berkumpul di pelataran utama Gedung Komando.

Ibu-ibu Persit mengenakan seragam terbaik mereka, berdiri berjejer rapi di samping deretan karpet merah yang terhampar dari gerbang utama hingga panggung kehormatan.

Di barisan paling depan, berdiri Mayang. Gadis itu mengenakan atasan tunik berwarna merah muda lembut dipadukan dengan rok hijau zaitun khas Persit.

Kacamata barunya bertengger sempurna di hidung, memantulkan binar matanya yang tak pernah berhenti menatap lurus ke arah gerbang utama Mako.

Jemari tangannya yang mungil meremas pelan ujung kain baju, menyembunyikan degupan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

Ibu Diah yang berdiri di samping Mayang menepuk pelan punggung tangan gadis itu seraya menyunggingkan senyum hangat.

"Tenang, Nak Mayang... Aris dan seluruh pasukan sudah ada di perjalanan menuju gerbang."

"Iya, Ibu..." jawab Mayang pelan, suaranya bergetar halus oleh rasa haru dan kerinduan yang sudah tak sanggup lagi dibendung di dalam dadanya.

"Mayang cuma... masih tidak percaya kalau satu tahun itu akhirnya selesai hari ini."

Dokter Siska yang berdiri di barisan tim medis melirik ke arah Mayang dengan rasa kagum yang amat mendalam.

Selama tiga ratus enam puluh lima hari ditinggal pergi ke daerah konflik, Mayang tidak pernah sekalipun mengeluh atau menunjukkan sikap rapuh.

Gadis itu justru menjadi garda terdepan yang menguatkan ibu-ibu prajurit lainnya saat kabar buruk tentang penyergapan di Sektor Utara berembus beberapa bulan lalu.

Tuttt! Tuttt! Sirene pengawal militer bergema dari kejauhan!

Seketika itu juga, seluruh lapangan Mako Batalyon mendadak hening. Deru mesin heavy-duty dari armada truk komando dan jip militer hijau zaitun terdengar makin mendekat, membelah jalanan beraspal yang dikelilingi pepohonan pinus.

"Pasukan tiba! Siap... GRAK!" seru komandan pos penjagaan gerbang utama.

Suara gemuruh tepuk tangan dan tangis bahagia seketika pecah! Rombongan jip dan truk militer bergerak pelan memasuki Mako.

Di atas jip komando terdepan, berdiri seorang perwira tegap berpakaian PDL loreng lengkap dengan baret hijau zaitunnya.

Mayor Aris.

Pria itu tampak makin gagah, dewasa, dan berwibawa. Kulitnya sedikit lebih gelap terpapar terik matahari perbatasan, dan ada bekas luka goresan tipis di pelipis kirinya saksi bisu kerasnya pertempuran di Sektor Utara.

Namun, begitu jip berhenti tepat di depan karpet merah, mata pekat sang Mayor langsung menyapu seluruh lapangan, mencari satu-satunya sosok yang menjadi alasan utamanya untuk tetap bertahan hidup di garis depan.

Dan mata pekat itu akhirnya mengunci sosok Mayang.

Pandangan mereka bertabrakan di udara. Waktu seolah berhenti berputar seketika. Seluruh kebisingan di lapangan Mako mendadak senyap bagi mereka berdua.

Mayor Aris melompat turun dari atas jip komando bahkan sebelum tangga turun disiapkan sepenuhnya.

Langkah kakinya yang tegap dan berwibawa berubah menjadi langkah cepat, lalu berlari kecil memotong barisan penghormatan tanpa memedulikan protokol formal militer.

Mayang tidak sanggup lagi menahan kakinya.

Air mata bahagianya jebol seketika, mengalir deras membasahi pipinya. Gadis itu berlari menembus kerumunan, menyongsong tubuh tegap sang Mayor yang mendekat.

Grebeg!

Tubuh mungil Mayang melayang di udara saat lengan kekar Aris merengkuhnya dengan sangat erat, mengangkat dan memutar tubuh Mayang di dalam dekapannya.

Aris menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher Mayang, menghirup dalam-dalam aroma hangat khas gadis itu yang sangat ia rindukan selama satu tahun penuh di tengah dinginnya perbatasan.

"Mayang..." bisik Aris dengan suara bass-nya yang sangat parau, bergetar hebat oleh air mata haru yang akhirnya menetes di bahu seragam Mayang.

"Saya pulang, Mayang... saya kembali untuk kamu."

Mayang memeluk leher Aris sangat rapat, meremas kain seragam loreng Aris yang masih berbau debu dan keringat pertempuran.

"Mas Aris... Mas Aris tidak ingkar janji... Mas Aris pulang..." tangis Mayang pecah di dalam pelukan hangat sang Mayor.

Seluruh prajurit, staf medis, serta ibu-ibu Persit yang menyaksikan momen reuni emosional tersebut tak kuasa menahan air mata haru.

Kapten Yoga yang berdiri di belakang Aris mengusap matanya pelan, sementara Ibu Diah tersenyum bahagia menyaksikan keteguhan cinta putra angkatnya dan Mayang yang berhasil melewati ujian terberat.

Brak! Tepuk tangan dan sorak-sorai paling meriah bergemuruh memenuhi langit Mako Batalyon!

"Selamat datang kembali, Komandan! Long live Mayor Aris dan Mbak Mayang!" seru para prajurit bersahut-sahutan gembira!

Aris menurunkan tubuh Mayang secara perlahan, namun kedua lengan kekarnya tetap melingkar protektif di pinggang mungil gadis itu.

Jemari Aris yang kasar mengusap lembut air mata di pipi Mayang, lalu membetulkan letak kacamata Mayang yang agak miring akibat pelukan erat tadi.

Aris merogoh saku dada sebelah kiri seragamnya, mengeluarkan foto Mayang yang sudah agak kusam karena selalu ia bawa di setiap pertempuran.

"Foto ini yang menyelamatkan saya di Sektor Utara, Mayang," ujar Aris dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa cinta yang tak terbatas.

"Setiap kali peluru melintas dan kematian terasa sangat dekat, senyuman kamu di foto ini yang mengingatkan saya bahwa ada bidadari di Mako yang sedang menunggu saya pulang."

Mayang tersenyum sangat manis di tengah sisa air matanya. Ia menangkup kedua pipi Aris dengan tangan mungilnya, merasakan kehangatan yang amat nyata dari pria yang sangat dicintainya.

"Mulai hari ini, Mas Aris tidak perlu melihat foto lagi," bisik Mayang lembut dan penuh kehangatan.

"Mayang akan selalu ada di samping Mas Aris, selamanya."

Aris menempelkan dahinya di dahi Mayang, menyunggingkan senyum paling bahagia yang pernah terlihat di wajah sang Komandan Batalyon.

Ujian jarak, waktu satu tahun, dan ancaman maut di perbatasan kini telah usai.

Di hadapan seluruh Batalyon yang menjadi saksi, cinta mereka telah teruji menjadi sekeras baja dan semurni emas.

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!