"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Kepulangan ke Jakarta dan Persiapan Hari Rabu
Perjalanan kembali dari Bandung menuju Jakarta menempuh waktu sekitar dua setengah jam. Selama di perjalanan, Nadira tertidur lelap di bahu kiri Askara. Pria itu menyetir hanya menggunakan satu tangan di kemudi, sementara tangan kirinya merangkul bahu Nadira, menjaga agar posisi tidur wanita itu tetap nyaman meski mobil melewati beberapa jalanan yang kurang rata.
Pukul delapan malam, SUV hitam Askara akhirnya berhenti di depan pagar rumah keluarga Nadira.
Askara tidak langsung membangunkan wanita di sampingnya. Ia mematikan mesin mobil, membiarkan lampu kabin menyala temaram, dan menikmati detik-detik hening menatap wajah tidur Nadira. Jemarinya terulur, menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi pipi mulus Nadira, mengusap rahang lembut itu dengan ibu jarinya.
Kalung emas putih berliontin huruf 'A' yang melingkar di leher Nadira masih memantulkan kilau redup. Askara tersenyum miring, merasa sangat puas setiap kali melihat bukti kepemilikannya itu bertengger manis di sana.
"Nad..." panggil Askara pelan, mengetuk-ngetuk pipi Nadira dengan lembut. "Bangun, Sayang. Udah sampai rumah nih."
Nadira lenguh pelan, mengusap matanya yang terasa berat. "Eunggh... Udah sampai ya?"
"Udah. Ayo turun, Tante Dinan udah nungguin dari tadi," jawab Askara.
Nadira mengumpulkan kesadarannya, menguap kecil sambil merapikan sweater rajutnya. Saat tangannya tak sengaja menyentuh liontin huruf A di lehernya, ingatan tentang percakapan mereka di Lembang—soal pendaftaran pernikahan hari Rabu depan—langsung menyengat kepalanya seketika.
"Ka..." Nadira menoleh, menatap Askara dengan raut cemas. "Soal hari Rabu... lo seriusan gak bercanda?"
Askara menghela napas renyah, membuka sabuk pengamannya. "Nadira, lo pikir dari kemarin gue bercanda? Muka gue kelihatan kayak pelawak ya?"
"Ya bukannya gitu!" seru Nadira memajukan bibirnya. "Tapi kan ini mendadak banget! Gue belum siap mental, Ka! Terus kerjaan gue di kantor gimana? Senin besok gue harus ngurusin masalah pemecatan si Gara, belum lagi draf desain klien yang menumpuk..."
"Urusan kantor biar Bimo yang urus sebagian," potong Askara tenang, mendekatkan wajahnya ke arah Nadira hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. "Tugas lo cuma satu: siapin diri lo, dandan yang cantik hari Rabu jam sembilan pagi. Gue yang bakal jemput lo ke sini."
"Tapi, Ka—"
"Gak ada tapi-tapi, Nadira Ruella," tegas Askara dengan tatapan matanya yang sangat dominan dan mengunci. "Atau mau gue yang datang ke kamar lo sekarang buat nemenin lo siap-siap sampai hari Rabu?"
Mata Nadira membelalak. "GILA YA LO! Ya udah iya! Gue siap-siap!"
"Nah, gitu dong. Penurut," goda Askara tersenyum puas, lalu mencubit gemas hidung Nadira hingga wanita itu mengaduh kesakitan.
Begitu masuk ke dalam rumah, sambutan hangat dari Dinan—ibu Nadira—sudah menanti di ruang tamu. Dinan tersenyum lebar melihat kepulangan putri tunggalnya dan calon menantu kesayangannya.
"Aduh, anak-anak Mama udah pulang!" sapa Dinan ceria. "Gimana Lembang, Ka? Seru?"
"Seru banget, Tante," sahut Askara sopan, mencium tangan Dinan. "Nadira juga seneng banget, sampai belanja banyak baju baru."
Nadira melotot ke arah Askara. "Heh! Siapa yang belanja?! Kan lo yang maksa!"
"Alah, sok menolak kamu, Nad," potong Dinan tertawa kecil. Tangannya lalu tak sengaja menatap leher Nadira yang kini dihiasi kalung emas berliontin huruf A. Mata Dinan berbinar-binar. "Wah... kalung baru ya? Bagus banget berliannya! Pasti Askara yang beliin ya?"
"Iya, Tante. Biar gak ada cowok aneh-aneh yang coba deketin Nadira lagi," jawab Askara santai, melirik Nadira dengan tatapan jahil.
Nadira memutar matanya malas. "Mama jangan ikut-ikutan deh. Dia ini posesifnya udah tingkat dewa!"
Dinan justru menepuk pundak Askara bangga. "Bagus itu! Biar kamu gak kelayapan lagi, Nad! Oh iya, Ka... soal berkas pendaftaran KUA buat hari Rabu besok, semuanya udah Mama serahin ke Bimo tadi sore. KTP, KK, sama foto latar biru Nadira udah siap semua."
Nadira melongo mendengar ucapan ibunya sendiri. "MA?! Mama juga ikut bersekongkol sama Askara?!"
"Loh, bersekongkol gimana sih kamu?" omel Dinan menepuk lengan Nadira pelan. "Ini kan demi kebaikan kamu juga. Askara bulan depan mau ada dinas penting ke Dubai. Kalau kalian gak nikah cepat-cepat, mau nunggu sampai kapan lagi? Umur kamu itu udah mau kepala tiga, Nadira!"
"Tapi kan pesta resepsinya masih bulan depan, Ma..." Nadira merengek.
"Hukum negara sama agamanya yang penting dulu, Nadira," tegas Dinan tak mau dibantah. "Udah, kamu masuk kamar, mandi, terus tidur. Besok Senin harus ngantor kan?"
"Tuh, dengerin kata Mama," bisik Askara di samping telinga Nadira dengan nada ledekan yang amat sangat menyebalkan.
Nadira menghentakkan kakinya kesal, menyambar tas belanjaannya. "Terserah kalian berdua deh! Gue mau tidur!" jeritnya melangkah naik ke lantai dua dengan wajah memerah.
Askara dan Dinan tertawa bersama melihat kepergian Nadira.
"Ka, titip Nadira ya," ujar Dinan serius menatap Askara. "Tante tahu anak itu kadang ngeyel dan gengsian banget, tapi dia sebenernya sayang banget sama kamu."
"Askara tahu, Tante," sahut Askara dengan tulus, matanya menatap tangga tempat Nadira menghilang. "Askara bakal jaga Nadira seumur hidup Askara."
...****************...
Keesokan harinya, Senin pagi di kantor Ruella Creative.
Suasana ruang kerja agak tegang. Sesuai ancaman Askara di telepon kemarin, surat pemutusan hubungan magang untuk Sagara sudah resmi diterbitkan oleh pihak HRD atas instruksi langsung dari manajemen pusat (yang tentu saja dicampuri oleh pengaruh Askara).
Gara tampak sedang membereskan barang-barang di mejanya dengan raut wajah gusar dan terpukul. Beberapa rekan kerja menatapnya dengan berbisik-bisik.
Nadira melangkah keluar dari ruang kerjanya, berdiri di depan meja Gara. Walau ia kesal dengan keterlibatan keluarga Gara dalam rencana Rebecca, Nadira tetap merasa sedikit tidak enak hati.
"Gara..." sapa Nadira pelan.
Gara mendongak, matanya menatap Nadira penuh penyesalan. "Mbak Nadira... Saya bener-bener minta maaf soal kemarin. Demi Tuhan, Mbak, saya gak ada niat jahat sama Mbak Nadira."
"Saya tahu, Gara," jawab Nadira lembut. "Saya menghargai kerja keras kamu selama magang di sini. Kamu anak yang berbakat. Tapi... keputusan ini udah bulat dari manajemen. Saya harap kamu bisa ambil pelajaran dari masalah ini dan sukses di tempat lain."
Gara menunduk dalam, mengangguk pasrah. Namun, matanya tak sengaja menangkap kilau kalung emas berliontin huruf 'A' di leher Nadira. Gara tersenyum pahit, menyadari bahwa ruang di hati wanita di hadapannya ini memang sudah terkunci rapat untuk pria bernama Askara Pradipta.
"Pak Askara bener-bener beruntung ya, Mbak," cicit Gara pelan. "Kalung itu... pas banget di leher Mbak Nadira. Semoga Mbak bahagia ya."
Nadira tersenyum tipis, meraba liontinnya. "Makasih, Gara. Semoga kamu juga makin sukses."
...****************...
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Hari Selasa malam tiba, tepat beberapa jam sebelum hari Rabu yang ditentukan.
Nadira berdiri di depan kaca rias kamarnya, menatap gaun simpel berwarna putih gading bernuansa elegan yang sudah disiapkan oleh ibunya untuk acara pendaftaran dan foto formal besok di KUA.
Jantung Nadira berdegup kencang secara tidak wajar. Besok... ia akan resmi menjadi istri Askara Pradipta secara hukum. Tidak ada lagi jalan untuk mundur.
Ting!
Ponsel Nadira di atas meja bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Askara.
Askara: [Foto kemeja putih yang sudah disetrika rapi]
Askara: Baju gue udah siap buat besok. Jangan lupa tidur, Calon Istri. Besok jam 9 pagi tepat gue jemput. Gak boleh ada alasan terlambat.
Nadira menatap layar ponselnya, bibirnya tanpa sadar menyunggingkan senyuman manis. Jemarinya bergerak mengetik balasan.
Nadira: Iya, bawel! Gue udah siap kok dari tadi.
Askara: Bagus. Sampai ketemu besok di pelaminan hukum kita, Nadira. I love you.
Nadira menggigit bibir bawahnya, meremas ponsel di dadanya. Rasa gugup, haru, dan kebahagiaan menyatu menjadi satu di dalam hatinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nadira tidak membalas pesan itu dengan omelan atau ancaman.
Nadira: Ya.. deh I love you too, Aska.
semangat terus thor...
/Heart/