NovelToon NovelToon
Kemelut Ego

Kemelut Ego

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Pandutmia

Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Vonis

Aku masih disini. Memegang sebuah kemasan tespek yang masih terbungkus rapi. Belum kubuka. Banyak sekali pikiran berkelebat di kepalaku. Ini adalah kali pertama aku memegang benda ini setelah hampir dua bulan aku tak memasukkan ia di daftar belanjaku.

Ya, setiap bulan benda ini selalu ada di catatan pengeluaranku sejak 3 tahun lalu. Saat aku menikahi Farhan, kekasihku waktu masih duduk di SMA hingga 7 tahun setelahnya ia resmi menikahiku, tepat seusai kuliahku tamat. Lama aku tertegun di kamar mandi, hanya terdengar suara gemericik kran air yang sengaja aku putar untuk menemaniku di ‘laboratorium’ pagi ini.

Kuhembuskan nafas perlahan, mencoba menetralisir semuanya. Pelan kurobek kemasan tespek itu, ada semacan cawan dan alat strip disana. Jika biasanya yang kubeli adalah tespek yang dengan mudah menampilkan tulisan ‘yes’ dan ‘no’, kali ini aku membeli tespek yang masih menggunakan cara manual. Menampung kemih di cawan, lalu mencelupkan strip itu kedalamnya.

Aku mencuci tanganku setelah melalui beberapa step yang ditunjukkan oleh kemasan berwarna putih dan merah muda itu. Masa bodoh dengan hasilnya, toh akan sama saja meski bukan ‘no’ yang muncul tapi garis yang muncul nanti pastilah sama dengan ‘no’.

Tiga puluh detik berlalu sejak aku mencelupkan strip itu. Jika tak salah baca tadi anjurannya hanya tiga puluh detik dicelupkan lalu tunggu hasilnya tiga puluh detik kemudian. Baiklah, aku mengangkatnya. Kuarahkan mataku ke benda yang didominasi warna pink itu, baik strip maupun cawannya. Oh Tuhan! Aku dibuat mendelik melihatnya. Ada apa kali ini? Mengapa berbeda?!!

Ada garis samar di atas garis yang berwarna merah. Samar sekali. Dengan sedikit gemetar aku mengangkatnya. Berharap alat itu salah. Kupejamkan mataku sejenak, menunggu tiga puluh detik kemudian untuk menyempurnakan step yang dianjurkan. Dadaku bergemuruh, ada yang ingin kuledakkan sepertinya. Pikiranku kusut, lebih kusut dari rambut yang sengaja tak kusisir beberapa hari ini. Aku stres. Ya, aku stres!

Kubuka mataku perlahan, mengintip garis yang tadi samar, berharap ia hilang. Namun, nyatanya kini ia lebih tegas, meski tak setegas warna merah di sebelahnya. Dan air mata pun lolos keluar dari pelupuk mataku. Ya Tuhan, apa yang akan kuhadapi selanjutnya?

Dengan langkah gontai, aku keluar dari kamar mandi. Masih dengan hati yang kacau. Kubuang kemasan tespek beserta cawannya ke dalam tempat sampah yang ada di kamar kecil ini. Strip itu masih kupegang, tak ikut serta bersama kawannya yang kubuang barusan. Aku menatapnya nanar, hasil ini sangat kuimpi-impikan sejak awal pernikahan bersama Farhan.

Aku menangis tersedu, tak bisa lagi aku tahan seperti tadi. Ya Tuhan, hampir tiga tahun aku menantikan ia di dalam rahimku, buah cintaku dengan laki-laki yang sangat aku kasihi. Namun mengapa takdirMu seolah menolak keinginanku? Jika saja ini terjadi beberapa bulan lalu, aku pasti akan menangis haru, bukan tergugu seperti saat ini.

Benar kata orang, zina lebih mudah melahirkan seorang bayi. Astaghfirullah! Aku menjadi salah satunya sekarang. Bukan, bukan aku yang menginginkan perzinaan itu. Itu bukan zina, itu perkosaan! Laki-laki itu memanfaatkan kelemahanku sebagai seorang wanita, juga memanfaatkan kecacatan di rahimku yang pernah dibeberkan oleh salah seorang dokter kandungan. Ya Tuhan, aku benci dia, aku sangat membencinya!

**

“Kelihatannya Anda sulit hamil, Bu. Semua hasil menunjukkan Anda PCOS. Sangat kecil kemungkinan Anda hamil.” Ujar dokter sepuh itu dengan pongahnya. Apa-apaan ini, bagaimana bisa seorang dokter dengan lancarnya mendiagnosis seseorang tanpa diimbangi kalimat penghibur. Atau, aku saja yang baperan?

“Kalau bapak sehat, semua sehat. Tapi sangat percuma kalau satu sehat lainnya tidak, semua jadi sia-sia. Apakah ibu tidak tahu kalau menderita PCOS? Ibu pasti tahu kalau selama ini haidnya kurang teratur, seharusnya dari situ ibu sudah curiga dan mulai rutin berobat.” Deg. Dokter itu semakin memojokkanku. Kulihat tangan Farhan terkepal, entah emosi karena jengah dengan ucapan sang dokter yang meremehkanku, atau memang dia marah dengan keadaan rumah tangga kami setelah vonis dokter tak tahu etika ini.

Aku memilih tidak menjawab pertanyaan pria sepuh itu. Mencolek Farhan untuk mengajaknya keluar saja dari ruangan ini. Farhan menoleh, dan seperti tahu maksudku ia berpamitan, meninggalkan dokter yang kulihat sepintas seperti tersinggung dengan cara kami.

Farhan masih menahan suaranya, dia diam, tak bersuara sedikitpun. Menolehku pun tidak. Mobil melaju cukup kencang dari biasanya. Ia masih diam, dan seperti tersulut emosi sampai akhirnya kami tiba di rumah. Keras sekali ia menutup pintu mobil tadi, membuatku yang tak sengaja tertidur sepanjang perjalanan tadi terkejut. Dia berjalan cepat memasuki rumah, meninggalkanku yang masih menatap tak percaya dengan aksinya kali ini. Boro-boro mempersilakan aku keluar mobil seperti biasanya, memberitahuku jika ini sudah sampai rumah pun tidak.

Kususul suamiku itu ke dalam rumah, kamar lebih tepatnya. Beruntung tidak ada siapapun, Mama dan Papa mertuaku sedang menginap di rumah adik iparku yang baru saja melahirkan. Mama ingin mendampingi anak perempuannya secara penuh demi menyambut cucu pertamanya. Meski aku dan Farhan yang menikah lebih dulu, tidak menjadi jaminan kami yang lebih dulu menghadirkan cucu.

Farhan terlihat menelungkup di kasur. Ada kekecewaan yang kutangkap dari deru nafasnya saat ini. Apa salahku? Mengapa Farhan terus mendiamkanku sedari tadi?

“Sayang,” ucapku padanya. Pintu kamar langsung kututup setelah tahu suamiku ada disana. Aku menyentuh bahunya yang tertutup kemeja abu-abu, kemeja kerjanya.

“Kamu kenapa?” Lanjutku. Terlihat ia membuka matanya. Tak selang lama ia pun duduk, masih dengan gurat kekesalan yang belum mereda.

“Kenapa? Masih kamu tanya kenapa?!” Suaranya meninggi. Mempertegas kepada siapa amarahnya ditujukan. Aku.

“Kalau saja kamu nurut sama aku dulu sebelum menikah, pasti nggak akan ada kejadian ini!” Aku menatapnya nanar. Ya Tuhan, dia menyalahkanku?

“Ini diluar dugaanku, Yank.” Lolos. Air mataku lolos. Jika tadi aku menahan tangis karena tertohok dengan ucapan dokter, kini aku tertohok dengan ucapannya, suamiku.

“Aku udah nyaranin kamu buat check semua kondisi badan kamu sebelum menikah, supaya kita sama-sama tahu kalau kita sehat dan bisa melanjutkan pernikahan. Tapi kamu selalu menolak dengan berbagai alasan, dan sekarang aku tahu kalo alasan-alasan itu ternyata untuk menutupi kekurangan kamu ini, kan?” Tuduhnya. Bisa-bisanya dia menuduhku seperti itu. Memangnya siapa yang menyangka kalau aku PCOS? Siapa yang menyangka kalau kami akan menunggu kehadiran buah hati sampai selama ini?

“Kamu nyalahin aku?” Bergetar aku mengucapkannya, menatapnya lemah, berharap ibanya.

“Terus menurut kamu siapa yang salah? Dokter sendiri yang bilang masalahnya ada di kamu!” Ujarnya berapi-api. Aku membungkam mulutku, tak percaya dengan ucapannya.

“Bisa aja dokter itu salah, kan? Lagipula kamu juga perokok berat, Yank. Bisa aja...” urung kulanjutkan perkataanku, kulihat Farhan semakin membulatkan indera penglihatan seakan ingin mencabikku dengan sorotan matanya.

“Dia dokter terbaik disini, nggak mungkin dia salah! Papaku juga perokok berat, tapi mamaku bisa punya anak, tiga malah!” Ya Tuhan, ada apa dengan Farhan-ku? Dia seperti kerasukan.

“Kita bisa ke dokter lain, Yank. Promil lagi ke dokter lain, biar kita semakin yakin sama hasilnya.” Saranku.

“Percuma! Nggak akan ada yang berubah, kamu mandul!” Ucapnya berapi-api, tak lagi menghiraukan perasaanku yang mudah ciut. Matanya tetap membulat, seolah menantangku untuk berperang kata.

“Ini bukan kehendakku, Yank.” Lirih kuucapkan kalimat itu tanpa memandangnya, wajahku menunduk, tak kuasa aku melihat Farhan yang begitu emosi, baru kali ini kulihat ia semarah itu.

“Oke, ini bukan kehendak kamu. Tapi kalau saja kamu nurut sama mamahku buat periksa kandungan saat kita baru beberapa bulan menikah pasti kita sudah tahu jawabannya sejak lama, aku jadi nggak buang waktu terlalu lama.”

“Maksud kamu?” Aku terhenyak dengan pernyataannya barusan. Buang waktu?

“Iya, kalau aja dari dulu kita program ke dokter dan aku tahu fakta ini sejak dulu, pasti aku sudah bisa memutuskan untuk tetap bertahan atau melepaskan kamu. Jadi aku nggak menunggu lama seperti sekarang. Kamu kira enak kemana-kemana ditanya mana anaknya, dikira aku ini bukan laki-laki tulen nggak bisa punya keturunan. Kamu sih enak di rumah terus, nggak banyak ketemu orang.” Farhan mengoceh dengan lancarnya.

Tahu apa dia tentang posisiku yang serba salah. Hidup jauh dari orang tua dan menumpang di rumah mertua. Belum lagi statusku yang lulusan sarjana tapi tidak berkarir sama sekali karena permintaan Farhan, betul-betul membuatku serba salah dan merasa tidak berdaya. Ini semua kulakukan untuknya, suamiku, dia yang menginginkannya. Lalu sekarang dengan mudahnya dia menyalahkanku dan bicara tentang bertahan atau melepaskan?

“Melepaskan?” Kutekankan kembali pernyataannya, ia bergeming.

“Lebih baik kita pisah dulu, aku butuh ketenangan. Kamu tetap disini biar aku yang pergi, kalau nanti mama dan papa pulang baru kita bicarakan semuanya.” Ucapnya setelah agak lama terdiam.

“Kamu mau kemana?” Kulihat ia memasukkan beberapa pakaian ke dalam ransel.

“Aku butuh waktu buat menenangkan pikiran, Dir.” Jawabnya tanpa menyertakan panggilan sayang seperti biasanya.

“Maaf, tapi ini penting buat aku. Kalau aku tetap disini yang ada aku malah bad mood, dan bisa-bisa merembet ke pekerjaan. Aku nggak mau Mas Fariq kecewa lagi.” Ucap Farhan berdiplomasi.

Belakangan yang kutahu proyek pembangunan apartemen di luar kota sempat terhenti karena ulah Farhan. Alhasil Mas Fariq, kakaknya, cukup kecewa karena menyangkut klien loyal perusahaan yang dirintis Mas Fariq dan kawan-kawannya.

“Terus aku harus tinggal disini sendirian? Farhan, tolong jangan seperti ini.” Rengekku. Padahal Farhan sering meninggalkanku sendirian di rumah jika terpaksa harus meninjau proyek yang lokasinya di luar kota, namun kali ini terasa berbeda.

1
Desi
seru sekali kk
Pandutmia: terima kasih kak, ditunggu update bab selanjutnya ya kak 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!