Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.
Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.
Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.
Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.
Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.
"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAFE SEDERHANA DAN SANDARAN DIBAHU TUAN MUDA
Notifikasi getar pendek di saku celana teknisiku berbunyi tepat saat aku sedang membersihkan sisa noda minyak di tanganku menjelang jam pulang kerja.
Aku meraba kantong, mengeluarkan ponsel, dan sebuah pesan WhatsApp dari nomor Maikel langsung menyembul di layar digital.
Maikel: “Sayang, nanti malam aku ke rumah kamu lagi ya? Kangen nih, mau bahas ‘rumus kehidupan’ bareng kamu lagi 😝”
Jantungku seketika berdesir aneh membaca panggilannya yang sudah berubah manis. Namun, ingatan tentang kesalahpahaman Ibu kemarin sore yang mendadak merestui Samuel langsung membuatku panik setengah mati.
Kalau Maikel nekat datang ke rumah sekarang, Ibu pasti akan curiga parah. Aku pun dengan taktis mengetik balasan menolak niatnya.
Aku: “Jangan ke rumah, Maikel! Ibu lagi butuh istirahat total. Kalau mau ketemu, mending kita jalan di luar aja setelah jam pulang kerja, sebelum aku balik ke rumah. Gimana?”
Tak butuh waktu sampai tiga detik, balasan darinya langsung masuk.
Maikel: “Siap, Pacar Rahasia! Apapun demi kenyamanan kamu. Aku jemput di halte dekat workshop sekarang juga ya! 🏎️💨”
Aku tidak bisa menahan senyuman tipis yang teramat bahagia terukir di bibirku, sembari buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tas kerja.
Satu jam kemudian, mobil sport merah Maikel akhirnya berhenti di depan sebuah kafe kecil yang sederhana di sudut kota.
Tempatnya tidak mewah, ramah di kantong, dan bernuansa sangat kasual, jauh dari hotel bintang lima tempat kami kencan tempo hari.
Aku sengaja memilih tempat ini, karena merasa jauh lebih aman dan terhindar dari kemungkinan berpapasan dengan rekan kerja atau bahkan abangnya, Samuel.
"Kamu beneran enggak apa-apa makan di kafe biasa begini, Kel?" tanyaku canggung saat kami mulai menyantap nasi goreng dan es teh manis di meja sudut.
"Kamu kan anak orang kaya, biasanya makan steak mahal di rooftop."
Maikel yang malam ini memakai kaus hitam polos kasual berpadu jam tangan hitam pemberianku langsung terkekeh renyah.
Dia menopang dagunya dengan tangan kiri, menatap wajahku lekat-lekat dengan binar jenaka yang teramat manis.
"Jema Juvita, denger ya. Mau makannya di restoran bintang lima atau di warung pinggir jalan sekalipun, aku enggak peduli. Yang penting itu bukan menunya, tapi siapa yang duduk di depan aku sekarang. Lagian, makan di sini seru tahu, lebih santai."
Wajahku seketika membara panas akibat gombalannya yang super taktis.
"Halah, gombal terus. Cepat dihabiskan makanannya!."
Sesi makan malam itu berjalan dengan sangat romantis dan dipenuhi canda tawa yang sehat. Maikel terus bertingkah usil, menceritakan bagaimana takjubnya teman-teman sekolahnya saat dia memamerkan jam tangan seharga dua juta dariku di grup chat mereka.
Melihat tawa bebasnya yang merdu, rasa penat akibat tekanan kerja dan kesalahpahaman Ibu seketika menguap tanpa bekas.
Setelah puas makan malam, Maikel langsung menarik tanganku dengan bersemangat menuju pusat perbelanjaan terdekat.
"Yuk, Sayang. Malam ini kita harus nonton bioskop bersama. Kita kan udah resmi pacaran, masa belum pernah nonton berdua."
Aku hanya bisa pasrah menuruti kegigihannya. Begitu kami duduk di dalam studio bioskop yang remang dan dingin, atmosfer di antara kami mendadak berubah menjadi berkali-kali lipat lebih intim.
Maikel memilih film komedi romantis anak muda yang cukup menghibur.
Di tengah kegelapan studio, tangan hangat Maikel perlahan bergerak meraba jemariku di atas sandaran kursi.
Dengan gerakan yang sangat lembut namun tegas, dia langsung mengaitkan jemarinya di sela-sela jariku, menggenggam erat tanganku tanpa bisa ditolak.
Aku tersentak kecil, melirik profil wajah tampannya dari samping. Di bawah pendar cahaya layar bioskop yang temaram, Maikel tampak tersenyum tipis menatap layar, namun genggaman tangannya menyalurkan getaran ketulusan yang teramat pekat hingga membakar seluruh keraguanku.
Merasa sangat nyaman dan diliputi desiran bahagia yang membuncah, aku perlahan-lahan memberanikan diri untuk memiringkan kepalaku. Dengan pelan, aku menyandarkan kening dan bahuku di atas bahu tegapnya yang kokoh.
Maikel sempat tertegun sesaat, tubuh tegapnya menegang sempurna karena terkejut dengan tindakan impulsif manisku. Namun sedetik kemudian, dia mempererat kaitan jemari kami dan menaruh pipinya dengan lembut di atas puncak kepalaku yang tergerai wangi sabun bunga.
Kami duduk dengan sangat romantis sepanjang film diputar, saling berpegangan tangan layaknya pasangan anak muda pada umumnya yang sedang dimabuk cinta, mengabaikan total semua batas keraguan tentang batasan usia atau status fungsional kerja yang rumit di luar sana.
Malam ini, di dalam studio yang dingin ini, aku resmi merasa bahwa hidupku yang semula kering kini telah dilukis dengan warna-warna baru yang teramat indah oleh sang pewaris Bach.
Akhirnya setelah kami puas menonton, kami memutuskan untuk pulang. Malam itu arus lalu lintas kota sudah mulai lengang, ketika mobil sport merah Maikel merayap pelan memasuki gang sempit menuju rumah petak sederhanaku.
Jarum jam di pergelangan tangan kiriku sudah menunjuk tepat ke angka sepuluh malam. Aku melirik Maikel yang sedang memutar setir dengan saksama.
"Kel... eh, Maikel, berhenti di depan pagar luar sini aja, ya," bisikku pelan, memegang lengan kemeja kasualnya untuk menahan laju mobil.
"Jangan sampai masuk pekarangan dalam. Aku takut suara knalpot mobil kamu yang berisik ini bakal mengganggu Ibu yang lagi tidur di dalam."
Maikel menginjak pedal rem perlahan, lalu menoleh menatapku dengan sorot mata yang teramat berat dan penuh riak manja yang tertahan.
"Yah... kok udah sampai rumah aja sih, sayang. Padahal aku masih pengen berduaan lebih lama sama pacar rahasia aku ini."
Aku tidak bisa menahan senyuman tipis yang membuncah di bibirku melihat wajah cemberutnya yang tampan. Aku merapikan jepit rambut mutiaraku sejenak, lalu menepuk pelan pipinya hangat.
"Sudah larut malam, Tuan Muda. Besok kita berdua masih harus berjuang dengan urusan masing-masing. Aku turun duluan ya. Hati-hati di jalan, kabari kalau sudah sampai rumah."
"Siap, Jemaku Sayang. Selamat istirahat, ya," sahut Maikel lembut, menggenggam punggung tanganku sekilas, dengan ketulusan seorang pria dewasa sebelum aku membuka pintu mobil dan melangkah turun.
Aku mengendap-endap berjalan melintasi pekarangan tanah yang sunyi.
Namun, begitu aku memutar anak kunci dan mendorong daun pintu kayu depan perlahan, jantungku seketika mencelos sedetik. Kepalaku langsung didera kepanikan yang teramat sangat.
Lampu ruang tamu ternyata masih menyala terang, dan di atas kursi kayu usang, Ibu sedang duduk terjaga sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Wajah tuanya memancarkan guratan lelah bercampur rasa khawatir yang luar biasa pekat karena tidak biasanya anak gadis tunggalnya pulang selarut ini dari workshop.
"Jema... kamu dari mana saja, Nak?" tanya Ibu langsung mencecarku dengan nada suara yang bergetar cemas. Beliau bangkit berdiri, melangkah mendekatiku penuh selidik.
"Ibu tungguin kamu dari jam delapan tadi sampai jam dinding mau menunjuk angka sepuluh malam lewat begini. Ponsel kamu juga enggak aktif saat Ibu telepon."
Aku menelan ludah dengan susah payah, meremas tali tas selempangku demi menyembunyikan jemariku yang mendadak dingin karena rasa takut yang membakar dada. Demi keselamatan rahasia backstreet-ku dengan Maikel, aku terpaksa menyusun kebohongan instan demi menenangkan batin Ibu.
"Ma-maaf banget ya, Bu. Jema beneran enggak bermaksud bikin Ibu khawatir sampai nungguin begini," ujarku terbata-bata, memaksakan senyum seprofesional mungkin.
"Tadi itu... di diler workshop bawah tiba-tiba ada unit SUV premium cadangan yang mengalami masalah korsleting darurat pada sistem komputer ECU-nya. Karena Jema baru diangkat jadi karyawan tetap, Pak Yusuf meminta Jema lembur sebentar buat bantu kalibrasi ulang. Ponsel Jema mati karena kehabisan baterai dari sore, Bu."
Ibu mengernyitkan dahi halus, menatap kemeja putih kasual dan jeans denimku yang masih rapi tanpa noda oli.
Sebelum Ibu sempat membuka mulut untuk mendeteksi celah kebohonganku atau mempertanyakan suara deru mesin mobil sport merah yang teramat akrab di telinganya tadi, aku langsung menyambar kalimat dengan taktis.
"Oh iya, Bu. Pas Jema diperjalanan pulang ketika jema menunggu angkutan umum di halte depan gedung, Jema enggak sengaja berpapasan sama Maikel yang kebetulan lagi lewat diler seberang jalan raya!" sahutku setengah menyembur dengan nada ceria yang dipaksakan.
"Daripada Jema nunggu angkot malam-malam yang udah sepi dan bahaya, Maikel berbaik hati langsung nawarin diri buat nganterin, dia nganterin Jema pulang sampai depan pagar gang tadi. Makanya Jema bisa sampai rumah dengan aman, Bu."
Mendengar penjelasan yang runutut, Ibu terdiam kaku selama beberapa saat. Sepasang mata tuanya memandangiku dengan raut wajah yang seperti masih didera keraguan yang amat ketara.
Detak jantungku bertalu-talu tak karuan, menanti apakah benteng kebohonganku akan jebol malam ini.
Namun sedetik kemudian, Ibu menghembuskan napas panjang yang teramat lega, seolah baru saja melepaskan beban ratusan ton dari pundaknya.
Beliau mengangguk pelan sembari mengusap bahuku lembut.
"Ya sudah, kalau begitu. Ibu percaya sama kamu, Jem. Untung ada Nak Maikel yang berhati mulia mau nganterin kamu pulang malam-malam begini. Lain kali kalau ada lembur darurat di diler, kamu kabari Ibu sebelum baterai ponselmu habis, ya?"
"I-iya, Bu. Pasti Jema bakal inget pesen Ibu,"
jawabku mantap, merasa lega karena taktik berbohongku berhasil meredam badai kecurigaan.
"Sana kamu segera masuk kamar, bersihin badan, dan langsung tidur," pesan Ibu lembut sembari melangkah berjalan kembali menuju kamarnya sendiri.
"Jangan kemalaman tidurnya, besok pagi kamu harus bertarung dengan rangkaian kabel lagi di perusahaan Pak Samuel, kan?"
"Baik, Bu. Selamat istirahat ya," sahutku pelan sembari menatap punggung Ibu yang menghilang di balik pintu kayu kamarnya.
Begitu suasana rumah kembali dilanda keheningan yang sunyi, aku melangkah masuk ke dalam kamarku sendiri dengan hati yang masih tak karuan.
Aku merebahkan tubuh di atas kasurku, menatap langit-langit kamar yang remang dengan helaan napas panjang yang campur aduk antara rasa bersalah pada Ibu, rasa takut rahasia ini terbongkar, sekaligus...
desiran bahagia yang teramat pekat dari sisa sentuhan ciuman pertama di pantai dan kencan romantis di bioskop barusan.
Skenario pacaran sembunyi-sembunyi dengan sang pewaris Bach kini resmi mengikat seluruh langkah fungsional hidupku, dan aku harus bersiap menghadapi hari Selasa esok dengan benteng pertahanan rahasia yang berkali-kali lipat lebih ketat lahir dan batin.