NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: DI BALIK DINDING KACA

Suara rintik hujan gerimis menyapu permukaan kaca jendela tinggi di lantai dua, menciptakan melodi halus yang menemani keheningan malam di rumah megah itu. Pukul menunjukkan satu malam. Udara dingin dari pendingin ruangan merayap menyentuh kulit, namun suasana di dalam kamar Devan terasa amat hangat dan sarat akan tensi yang memabukkan.

Lampu utama kamar sengaja dimatikan, menyisakan pendar lampu tidur bercahaya keemasan di sudut ruangan yang membiaskan bayangan mereka di dinding.

Aluna duduk di tepi tempat tidur berukuran besar milik Devan dengan napas yang masih belum sepenuhnya stabil. Kaus longgar yang ia kenakan sedikit melonggar di bagian bahu, memperlihatkan kulit mulusnya yang diterpa cahaya remang. Di depannya, Devan berdiri tegap seraya mengeringkan rambut hitamnya yang basah seusai mandi dengan handuk kecil, sebelum melempar handuk itu begitu saja ke atas kursi.

"Kenapa belum tidur?" suara Devan terdengar begitu rendah dan serak memecah keheningan.

Devan melangkah mendekat tanpa menimbulkan suara berarti. Kasur empuk itu sedikit terdorong saat Devan naik dan berlutut di hadapan Aluna. Pria itu mengurung keberadaan Aluna di antara kedua tangannya yang tegap, menatap lurus ke dalam iris mata adiknya yang bergetar halus.

"A-aku belum mengantuk, Kak..." cicit Aluna sangat pelan. Tangannya yang mungil meremas sprei tempat tidur, mencoba mencari tumpuan saat jarak di antara wajah mereka terangkas habis.

Devan tidak berkata-kata lagi. Pria itu menyusupkan jemari tangannya yang lebar ke tengkuk Aluna, mendongakkan wajah adiknya secara halus namun penuh ketegasan mutlak. Devan menyambar bibir Aluna dalam ciuman yang amat dalam, panas, dan menuntut.

Pagutan Devan kali ini benar-benar tanpa kendali—sebuah penuangan rasa memiliki yang terlepas bebas tanpa ada ancaman ketukan pintu dari Ibu atau intaian mata siapa pun malam ini.

"Mmmh..." desah Aluna teredam di balik bibir Devan. Jemari Aluna yang hangat merayap naik, mencengkeram kuat bahu tegap Devan saat Devan menarik pinggangnya menyatu tanpa sisa dalam pelukannya.

Devan memindahkan ciumannya menyusuri garis rahang Aluna, bergerak turun ke ceruk leher adiknya yang terbuka. Sentuhan bibir dan desah napas Devan yang hangat di kulit lehernya membuat seluruh persendian Aluna melumer seketika. Devan mendaratkan penegasan posesif di sana, menandai kembali miliknya dengan kelembutan yang memabukkan.

"Ingat, Aluna..." bisik Devan serak di leher Aluna, membuat adiknya merinding hebat. "Besok atau lusa, saat Ayah dan Ibu ada di rumah ini... kamu tetap cuma milik aku. Tidak ada yang bisa mengubah itu."

Aluna memejamkan mata rapat-rapat, membalas pelukan Devan dengan eratan jemarinya di punggung sang kakak tiri. Di tengah kegelapan malam yang mengurung mereka berdua di rumah yang sepi ini, Aluna sadar ia sudah sepenuhnya menyerahkan pertahanan dirinya pada Devan.

Keesokan harinya, Minggu sore pukul empat.

Suara deru mesin mobil Ayah Danu yang berbelok masuk ke pelataran rumah menyentakkan Aluna dari duduknya di sofa ruang keluarga.

Cklek.

Pintu utama rumah terbuka. Ayah Danu dan Ibu melangkah masuk membawa tas pakaian mereka. Wajah Ibu tampak sedikit lelah dari perjalanan jauh Bandung–Jakarta, namun matanya yang tajam langsung menyapu ke sekeliling ruangan—mencari keberadaan kedua anaknya.

Aluna berdiri dari sofa dengan sweater longgar berkerah tinggi yang menutupi lehernya secara rapat, menyunggingkan senyum sewajarnya. "Ayah... Ibu... sudah pulang?"

Devan melangkah turun dari tangga lantai atas dengan tenang. Pria itu mengenakan kaus polos santai, memasang raut wajah anak sulung yang dewasa dan penuh kendali seperti biasa. "Bagaimana perjalanannya, Yah? Lancar?"

Ayah Danu tersenyum lebar seraya meregangkan otot bahunya. "Lancar, Van. Untung jalanan tidak terlalu macet."

Namun, pandangan Ibu mendadak tertuju pada Devan dan Aluna secara bergantian. Suasana di ruang tengah yang semula santai perlahan mendingin saat Ibu melangkah mendekati meja kaca di dekat sofa.

Jemari Ibu terulur, menjangkau sebuah benda kecil yang tergeletak di bawah pinggiran meja kaca—sebuah kancing kemeja sekolah Devan yang terlepas dan tercecer di sana sejak kemarin malam.

Ibu mengangkat kancing itu, lalu menatap Devan dan Aluna dengan dahi berkerut tajam. "Devan... kenapa kancing kemejamu bisa ada di bawah meja ruang tengah ini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!