Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
(Di part ini langsung lompat dua puluh tahun kemudian)
Waktu berlalu hari berganti tahun demi tahun pun telah terlewati.
Tanpa terasa dua puluh tahun telah berlalu.
Devan sudah menjadi dokter senior paling disegani. Dan di usianya yang tidak lagi muda ia juga menjadi presiden direktur yang paling berpengaruh.
Collin group dan beberapa perusahaan yang didirikannya menjelma menjadi perusahaan raksasa yang menguasai pasar di Asia dan Eropa. Sebuah pencapaian yang luar biasa.
Pagi pagi Devan membuka pintu di balkon kamarnya, ia berdiri di tepi pagar dengan memejamkan matanya untuk merasakan udara yang segar dan angin yang semilir lembut membelainya.
Bayangan itu tidak pernah hilang bahkan sudah dua puluh tahun terlewati tapi wajah indah itu selalu menyapanya setiap pagi.
"Pagi Devan?" Sapa seorang wanita cantik yang tidak pernah berubah meskipun usianya sudah bertambah dua puluh tahun.
Devan tersenyum " Selamat pagi sayang, terimakasih kamu selalu hadir selama ini di dalam hidupku".
Devan membuka matanya tapi bayangan itu hilang.
Devan menarik nafasnya dalam-dalam, pandangannya menyapu jauh ke arah depan.
Ia sempat membenci Andriana karena pergi meninggalkannya, tapi setelah ia mencari tahu kebenarannya dan alasannya pergi saat itu. Devan dapat memahami betapa sakitnya hatinya saat itu, cinta dan harapannya dihina dengan setumpuk uang.Jika ia di posisi yang sama mungkin akan melakukan hal yang sama.
"Tuhan, apakah engkau tidak memberiku kesempatan lagi untuk bertemu dengannya?" Ucapnya di dalam batin.
Devan menunduk sejenak, menahan sesak di dadanya, dan bulir bulir air mata mulai menetes dari sudut netranya.
Tiba tiba sebuah tangan menepuk pundaknya.
Devan tersentak, segera mengusap wajahnya dan menoleh untuk melihat siapa yang sudah mengagetkannya.
"Arvan, sejak kapan kamu di sini nak?"
Seorang pemuda berwajah tampan dengan lesung pipit di kedua pipinya saat tersenyum, sedang berdiri tegak di depan Devan dengan senyumnya yang khas.
"Papa, dari tadi Arvan panggil papa tapi tidak ada jawaban, jadi Arvan masuk takut terjadi apa-apa dengan papa.
Devan tersenyum tipis lalu menjitak kepala Arvan " Dasar anak nakal, kamu pikir papa mau lakuin apa? Memangnya hari ini tidak kuliah?".
"Masih jam segini papa, Arvan ada kuliah nanti jam sembilan " Jawab pemuda itu sambil berjalan mengikuti Devan yang berjalan di depannya.
"Pa"
"Hmmm" Jawab Devan.
"Dua hari lagi Arvan akan ada kegiatan kampus di luar kota"
"Terus!"
"Ya Arvan minta ijin sama papa"
"Kalau kegiatan yang positif dan membawa kebaikan pasti papa beri ijin, tapi kalau kamu di sana bikin masalah awas saja!"
Arvan tersenyum lebar "Ya pasti dong pa, Arvan kan anak papa yang baik, makasih ya pa?".
Devan mengangguk perlahan dan tersenyum kemudian mengusap lembut kepala anaknya.
***
"Mama!" Teriak seorang gadis cantik, berambut panjang berwarna coklat berkilau, sambil menenteng tas, buku, dan beberapa benda di kedua tangannya.
"Vania, ada apa sih nak? " Jawab seorang wanita yang masih sangat cantik di usianya yang tidak lagi muda.
"Ma, Vania telat" Jawab gadis itu memanyunkan bibirnya.
Tentu saja ibunya sangat kaget dan menoleh dengan tatapan tajam.
" Hah ... telat! Siapa yang menghamilimu! Katakan sama mama!" Gertaknya penuh amarah.
"Apaan sih ma, bukannya telat datang bulan, tapi telat datang ke kampus, hari ini adalah hari pertama Vania pindah kampus" Jawab gadis itu dengan memanyunkan bibirnya.
Wanita itu adalah Andriana yang kini sudah memasuki usia empat puluh tahun tapi parasnya sama sekali tidak berubah, hanya terlihat sedikit dewasa dan keibuan.
Melihat tingkah putrinya, Andriana tersenyum tipis lalu mendekatinya dan menjewer telinga Vania " Dari tadi pagi kamu ngapain saja Van, sekarang tidak usah menggerutu mama yang akan antarkan kamu ke kampus! Mengagetkan mama saja!".
"Baik baik ma, tapi lepasin dong ? Sakit ma? Vania tadi cuma baca baca novel sebentar, eh tau tau sudah siang" Jawabnya beralasan.
***
Setibanya di kampus yang baru, bonafit dan mewah, Vania sempat tercengang dan tidak percaya bisa berada di kampus sebagus ini.
"Ma, ini beneran? Rasanya Vania tidak percaya bisa berada di sini" Ucap gadis cantik yang sangat mirip dengan ibunya itu dengan mata berkaca-kaca.
Andriana tersenyum tipis " Kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh Van, tiga tahun lagi kamu harus lulus menjadi lulusan terbaik kampus ini"
"Iya ma, Vania akan berusaha sebaik mungkin demi mama, Vania sayang mama, Vania tidak akan biarkan mama bekerja keras lagi untuk Vania, Vania akan menjadi dokter paling hebat di negeri ini"
"Sudah jangan banyak bicara, cepat sana masuk" Andriana mendorong tubuh Vania agar segera memasuki pintu gerbang.
Andriana terus menatap punggung putrinya, tanpa terasa tiba tiba air matanya menetes perlahan membasahi pipinya yang merah.
Ia memejamkan matanya sejenak dan sebuah bayangan selalu muncul di depannya.
"Sayang, kamu kembali saja ke rumah, putri kita gantian aku yang akan menjaganya " Ucap Devan dengan lembut sambil mengusap kepalanya.
"Devan, kamu harus menjaga putri kita! Aku takut dia bikin masalah di kampus karena dia sama bandelnya dengan kamu" Ucap Andriana.
Devan tersenyum, ia usap pipi Andriana
"Sayang, dia adalah putriku pastinya dia mirip denganku".
"Devan kamu bisa saja"
"Sayang aku mencintaimu"
"Aku juga Van"
Cup
Devan dan Andriana saling menempelkan bibirnya dan seketika itu Andriana membuka matanya.
Jantungnya berdetak kencang, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Nafasnya tercekat di tenggorokan, ia menunduk dan bulir bulir air mata mulai mengalir dari sudut netranya.
Sudah dua puluh tahun ia berusaha melupakan Devan, tapi bayangan Devan selalu muncul di setiap ia menutup matanya.
Beberapa bulan lalu, Andriana mendapatkan tawaran bekerja di perusahaan farmasi, tapi hari ini ia ditugaskan mengelola kantor cabang di Jakarta.
Awalnya ia ingin menolak pekerjaan itu, tapi putrinya sedang butuh biaya besar, ia harus menerima tawaran itu, dan itu berarti ia harus kembali ke kota ini, kota yang menyimpan begitu banyak kenangan masa lalu.