Kisah cinta 500 tahun. Sesion pertama background tahun 1515M.
Miryam dan Santika bersahabat sejak kecil. di hati mereka tumbuh perasaan cinta. Miryam menanam pohon pemberian Santika yang disebut pohon Cinta. Dia lalu menggambar emoticon cinta bertuliskan Miryam Santika 1515.
Suatu hari, Miryam diperkosa siluman Naga hingga hamil. Dia diselamatkan Panembahan Somawangi, tokoh sakti yang jatuh cinta dan ingin memperistrinya. Janin yang ada dalam perutnya dipindahkan ke perut perempuan lain. Saat lahir bayi setengah siluman itu diberi nama Ken Darsih.
Panembahan Somawangi mengajarkan ilmu Tirtanala, yang kekuatannya dapat membekukan sekaligus menghancurkan. Miryam kemudian membunuh panembahan Somawangi dan kembali kepada Santika.
Tapi Santika dibunuh oleh Ken Darsih. Miryam lalu membekukan jazad Santika di dalam peti mati dibawah pohon cinta. kemudian dia juga membekukan dirinya kembali.
Sesion kedua background tahun 2020 M.
500 tahun kemudian Tim ekspedisi pengembangan kota baru menemukan jazad Santika dan Miryam. Jazad Santika yang sudah mati dipisahkan dari tubuh Miryam yang ternyata masih bisa dihidupkan.
Jantung dan mata Santika dicangkokkan ke tubuh Andika, dokter muda putera tunggal bos perusahaan properti terbesar. Sejak itu dia tidak lagi mencintai tunangannya dan pergi mencari kekasih sejatinya, Miryam.
Setelah hidup kembali, Miryam dibawa ke pondok pesantren milik kyai Badrussalam. Tapi Miryam pergi karena ingin mencari jazad Santika sampai ketemu.
Ken Darsih bangkit dari tidur panjangnya untuk mencari Miryam. Tapi terjebak menjadi anggota geng Dark O pimpinan Ivan Drako. Manusia setengah siluman Naga itu dimanfaatkan untuk menghabisi musuh-musuhnya. Kapten Dandung yang sedang menyelidiki keterlibatan geng Dark O dalam pembunuhan terhadap kartel-kartel narkoba, malah jatuh cinta kepada Ken Darsih.
Apakah Miryam dapat menemukan Santika yang jantung dan matanya di cangkok ke tubuh Andika. Bagaimana kisah kapten Dandung mengejar cinta Ken Darsih? Apa yang akan dilakukan Miryam kepada Ken Darsih, musuh bebuyutan sekaligus puterinya sendiri? ikuti terus kisahnya di novel "Dibalik Emoticon Cinta 1515". Have fun and enjoy it.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sis Fauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 24. TIRTANALA
TIRTANALA
Tidak ada rahasia yang bertahan selamanya. Cepat atau lambat, rahasia itu harus dibagi ke orang yang tepat. Panembahan Somawangi melambaikan tangannya, memberi tanda agar Miryam duduk mendekat.
“Kemarilah isteriku, ada hal penting yang ingin aku sampaikan,” katanya.
Miryam tak bergeming. Hatinya masih sibuk dengan amarahnya, air matanya juga belum berhenti menetes. Rasa bencinya kepada Panembahan memenuhi rongga dadanya.
“Miryam, kemarilah. Aku memanggilmu sebagai suamimu,” kata Panembahan lagi.
Dengan langkah berat, Miryam mendekati suaminya. Bagaimanapun dia masih memiliki kewajiban sebagai seorang isteri yang harus patuh kepada suaminya.
“Miryam, maafkanlah aku,” ujar Panembahan sambil menghela nafas panjang, seolah sedang melepaskan beban yang sangat berat dalam hatinya.
“Dalam hidupku, aku tidak pernah menyesali sesuatu, kecuali satu hal.”
Panembahan terdiam. Miryam menatapnya, menunggu kata-kata selanjutnya.
“Aku menyesal karena telah menyintaimu tapi tidak pernah mampu membahagiakanmu,” sambung Panembahan.
“Mungkin sudah saatnya aku pergi, dan aku ingin ada senyum yang menghiasi wajahmu di saat-saat terakhirku.”
Miryam menundukkan kepalanya. Tiba-tiba dia merasa merinding, dia melihat ada titik air di sudut mata lelaki tua itu. Apakah kata-katanya tulus dari dalam hatinya?
“Aku tahu isi hatimu. Aku juga bisa membaca rasa dendam terhadap pembunuh ayahmu yang begitu besar. Dan aku sudah berjanji untuk mempersiapkan dirimu agar mampu mengalahkan musuh besarmu,” kata Panembahan.
“Kau menjanjikannya sepuluh tahun yang lalu. Saat itu aku turuti semua kemauanmu. Bersedia menjadi isterimu, mengkhianati cinta yang telah kusemai sekian lama di hatiku.”
Panembahan Somawangi memejamkan matanya. Sakit rasanya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut isterinya sendiri. Betapa dia tidak punya harga diri sama sekali. Memaksakan cinta dengan menawarkan pelampiasan dendam yang hanya tipuan. Karena musuh sebenarnya, pembunuh ayah Miryam, adalah dirinya sendiri.
“Kalau kau ingin membalas orang yang telah membunuh ayahmu, kau harus menguasai Ajian Tirtanala, ilmu pamungkas yang aku kuasai,” ujar Panembahan.
Miryam memandang wajah Panembahan penuh tanya.
“Karena hanya dengan menguasai ajian Tirtanala, kau akan mampu mengalahkan musuh besarmu,” kata Panembahan menjawab keraguan Miryam.
Inti ajian Tirtanala adalah menggunakan kekuatan inti air yaitu kesejukan yang membekukan sekaligus menghancurkan.
Miryam harus melatih kekuatannya dengan bertapa selama satu bulan penuh di bawah air terjun Curug Plethuk di Dataran Tinggi Dieng.
“Hanya di tempat itulah kau akan menemukan kekuatan dinginnya air yang membekukan. Ketika segala sesuatunya sudah membeku, kau bisa menghancurkannya dengan mudah.”
“Darimana kau tahu pembunuh ayahku dapat dikalahkan dengan ajian Tirtanala?” tanya Miryam.
Panembahan Somawangi tergagap mendengar pertanyaan itu.
“Berdasarkan pengetahuan yang aku pelajari dan pengalamanku di dunia persilatan,” sahut Panembahan.
“Oh ya? Kalau memang begitu. Kenapa kau tidak melakukannya saat kau memiliki kesempatan untuk menyelamatkan nyawa ayahku?” cecar Miryam.
Panembahan benar-benar tersudut mendengar kata-kata Miryam. Rupanya kepercayaan isterinya terhadap dirinya sudah sampai titik yang paling rendah.
Heh, lagi-lagi dia harus menciptakan kebohongan untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
“Aku melihat ayahmu terlibat dalam pertarungan yang jujur. Jadi aku tidak mau mencampurinya,” sahut Panembahan lagi.
Miryam terdiam. Menatap tajam wajah Panembahan dengan seksama, seolah sedang mencari kebenaran kata-kata yang keluar dari mulutnya. Jelas sekali dia tidak percaya, tapi mau tidak mau dia harus menerima penjelasan suaminya.
Panembahan Somawangi memejamkan matanya, merasakan angin yang berkesiur lembut menyentuh hati dan jiwanya yang kering karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
***
Ken Darsih duduk bersimpuh di depan Nyai Nagabadra. Setelah bertahun-tahun menghabiskan waktu bersama, kini saatnya dia harus kembali ke Jalatunda.
“Berdirilah di depanku Ken Darsih. Aku ingin menurunkan seluruh racunku kepadamu,” kata Nyai Nagabadra.
Ken Darsih terperanjat, tapi hatinya merasa senang. Segera dia berdiri dihadapan Nyai Nagabadra. Tubunya berdiri tegap, tangannya bersedeku di di depan dada, matanya menatap tajam ke depan. Mendadak dari mulut Nyai Nagabadra keluar sinar berwarna ungu kehitaman. Sinar itu jatuh persis di atas ubun-ubunya, kemudian matanya, tangan dan kakinya. Ken Darsih merasa tubuhnya semakin ringan, bahkan seperti melayang di udara. Setelah itu, naga penguasa hutan Kecipir itu memberikan sebuah bungkusan kain kepadanya.
“Bukalah bungkusan kain yang ada di depanmu anakku,” perintah Nyai Naga.
Ken Darsih segera membuka bungkusan itu. Di dalamnya ada pakaian penari lengkap dengan selendangnya, seruling, botol minyak dan seikat benang berwarna merah darah. Ken Darsih jadi penasaran.
“Mengapa kau memberikan ini semua Nyai?”
“Kau tidak mempunyai hutang nyawa dengan orang Jalatunda anakku. Jadi yang berhak menghabisi mereka adalah aku,” sahut Nyai Badranaya.
“Tugasmu adalah membawa seluruh keturunan Jalatunda ke hutan Kecipir. Di tempat inilah aku akan menghabisi mereka.”
Ken Darsih mengernyitkan keningnya.
“Lalu apa urusannya dengan pakaian penari, seruling dan benda-benda ini, Nyai?”
“Pakaian penari akan menggerakkan tubuhmu menari dengan gemulai,” sahut Nyai Naga.
“Tiuplah seruling itu, maka akan terdengar lagu yang indah. Suara seruling itu akan membius hati dan pikiran mereka. Tanpa sadar mereka akan mematuhi semua perintahmu.”
Ken Darsih mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia paham dengan maksud sang Nyai, tapi bagaimana dengan botol minyak dan seikat benang ini?
“Minyak dalam botol itu untuk mengobati penyakit kulit yang melanda warga desa. Aku ingin mereka sehat saat kau membawanya ke sini, sebelum aku meyantapnya.”
“Memangnya minyak ini cukup untuk mengobati seluruh warga?” tanya gadis itu.
Nyai Nagabadra menganggukkan kepalanya.
“Ini minyak ajaib, berapapun kau menuangnya botolnya akan terisi penuh kembali.”
Wabah yang melanda Jalatunda adalah ciptaan suaminya, Badranaya. Tentu saja Nyai Naga tahu bagaimana mengakhiri kutukan penyakit itu.
“Owh begitu, lalu benang ini untuk apa Nyai Nagabadra?”
Wajah Nyai Nagabadra nampak berubah. Ada kemarahan yang meletup di matanya yang mendadak seperti menyala.
“Itu namanya Talijiwo.”
Ken Darsih menganggukkan kepalanya kembali.
“Bunuh suamiku, Badranaya. Hancurkan tubuhnya, lalu ikat sukmanya dengan Talijiwo, benang yang kau genggam itu. Buang sukmanya ke alam tanpa ruang dan waktu.”
Ken Darsih tersentak kaget. Betapa berat hukuman yang harus diterima oleh Badranaya. Nyai Nagabadra pernah bercerita alam tanpa ruang dan waktu adalah sebuah alam kosong yang membeku. Siapapun yang tinggal disana akan hidup abadi. Sukmanya akan melayang-layang kesana kemari tanpa arah dan kepastian. Dan mereka tidak akan pernah kembali karena memang tidak ada jalan untuk kembali.
Setelah itu Ken Darsih memeluk tubuh sang naga. Paling tidak, selama satu purnama mereka tidak akan bertemu. Walaupun jarang bicara, tapi Nyai Naga selalu menjaganya. Dia bahkan memberikan seluruh kesaktiannya kepadanya.
Beberapa saat kemudian, gadis cantik itu keluar dari hutan kecipir dengan memakai baju penari. Langkahnya ringan menyusuri jalan kecil menurun dari perbukitan Kethileng menuju desa Jalatunda. Kampung halaman yang dirindukan sekaligus tempat yang memberikan mimpi buruk yang menghantui malam-malamnya.
Terimakasih berkenan membaca karyaku
ayo mampir kekaryaku juga yaa
salam dari"perjalanan hidup Eden "
🙏🙏🙏
Next Thor
salam dari
Era Berdarah Manusia
I Firmo
🌹🌹🌹🌹🌹
jadi kalau cantik bisa bahaya dong 😭😭 oh no
Ayo lanjut dukungan thor
salam dari
Era Berdarah Manusia
I Firmo
⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan pelit komen
Kalau bisa yang banyak
Berikan dukungan anda
Cetak nama anda di karya para Author
Ayo semangat
salam Thor
Era Berdarah Manusia
I Firmo
👍👍👍👍👍👍
Miryam pasti bakalan memiliki perasaan kepada santika nih kayaknya😆😆