NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ABU DI ATAS SINGGASANA

Kobaran api melahap pilar-pilar kayu mahoni Kediaman Jenderal Li, mengirimkan lidah-lidah api kemerahan yang menjilat langit malam ibu kota. Asap hitam pekat bergulung-gulung, menyamarkan siluet dua pria yang masih bertarung dengan sengit di tengah aula yang mulai runtuh.

Tring! Cring! Spraakk!

Li Feng menggerakkan pedang militernya dengan membabi buta. Setiap tebasannya membawa beban kemarahan dan harga diri yang hancur. Di hadapannya, Long Junwei bergerak layaknya hantu di balik tirai asap. Pangeran Bayangan itu tidak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda kelelahan; setiap tangkisan pedangnya begitu presisi, memantulkan pendaran biru keperakan yang mistis.

"Kau dan bajingan wanita itu... kalian menjadikanku mainan!" teriak Li Feng, napasnya memburu dengan pelipis yang mengalirkan darah akibat pecahan kayu. "Lima ribu pasukanku... jalur barat... semua itu palsu?!"

Long Junwei memutar pedangnya, menangkis hantaman vertikal Li Feng dengan satu tangan, lalu menggunakan kekuatan internalnya untuk mendorong sang jenderal muda hingga terhuyung mundur.

"Tidak ada yang palsu dari keserakahanmu, Li Feng," ucap Junwei dengan nada datar yang menusuk. "Jalur barat itu nyata, kuda-kuda itu nyata. Yang palsu hanyalah anggapanmu bahwa kau cukup pintar untuk menguasainya. Setahun lalu kau membuang Xianle karena mengira dia tidak berharga. Kini kau merangkak di kakinya demi hal yang sama. Pengkhianat sepertimu tidak layak mati di medan perang, kau hanya layak mati sebagai pecundang."

"Mati kau!" Li Feng meraung, menerjang maju dengan sisa tenaga terakhirnya.

Namun, gerakan Li Feng terlalu melebar karena emosi. Junwei memanfaatkan celah itu dalam sekejap mata. Teknik Langkah Bayangan Tanpa Jejak membawanya bergeser ke titik buta Li Feng. Ujung pedang kuno Junwei melesat maju, menembus zirah biru tua milik Li Feng dan bersarang tepat di dadanya.

Jleb.

Gerakan Li Feng mendadak terkunci. Pedang di genggamannya terlepas, jatuh berdentang di atas lantai yang mulai tertutup abu. Ia membelalakkan matanya, menatap darah segar yang merembes keluar dari dadanya, lalu mendongak menatap mata dingin Long Junwei.

"Kau... tidak akan bisa... keluar dari kota ini hidup-hidup..." bisik Li Feng dengan darah yang mulai menyumbat tenggorokannya, sebelum akhirnya tubuh gagahnya tumbang, meregang nyawa di samping jasad Shen Meili yang sudah mendingin.

Junwei menarik kembali pedangnya dengan satu sentakan bersih. Ia tidak sempat merayakan kemenangannya karena suara gemuruh di luar kediaman kian mengganas. Terompet darurat militer bergema dari segala penjuru kota. Wakil jenderal keluarga Li telah mengambil alih komando, dan ribuan pasukan kavaleri kini bergerak mengepung tidak hanya kediaman ini, tetapi juga wilayah Kediaman Gu.

Sementara itu, di jalanan utama ibu kota, kekacauan total pecah. Pengawal bertopeng dari Kediaman Bayangan bertempur habis-habisan melawan barisan kavaleri berzirah besi yang mencoba memblokir jalan.

Rulan/ Shen Xianle bergerak lincah di antara atap-atap bangunan kota. Jubah hijau mudanya kini telah koyak dan ternoda oleh darah para prajurit yang mencoba menghalanginya. Belati perak di tangannya terus berdentang, menebas setiap ancaman yang mendekat. Namun, jumlah pasukan musuh terlalu banyak. Dari atas atap toko obat, ia bisa melihat Kediaman Gu miliknya sudah sepenuhnya dikepung dan mulai dibakar oleh pasukan panah api militer.

"Nona! Jalur menuju gerbang barat telah ditutup oleh pasukan pengawal istana!" Xiaoyu muncul dari balik bayang-bayang atap dengan lengan baju yang terbakar. "Perdana Menteri telah mengeluarkan titah kekaisaran. Anda dinyatakan sebagai mata-mata pemberontak yang memalsukan identitas bangsawan barat!"

Rulan mendarat di atas permukaan genting dengan napas yang mulai memburu. Topeng tenangnya kini sepenuhnya lenyap, digantikan oleh ekspresi tajam seorang jenderal wanita yang terdesak namun menolak menyerah. "Jika gerbang barat ditutup, kita tembus gerbang utara menuju pegunungan terlarang. Long Junwei pasti akan menuju ke sana."

"Tetapi Nona, gerbang utara dijaga oleh divisi kavaleri berat—"

Syuuutt! Syuuutt!

Belum sempat Xiaoyu menyelesaikan kalimatnya, hujan anak panah berujung api melesat dari bawah jalanan, menghujani tempat mereka berdiri. Rulan melompat mundur, memutar belatinya untuk menangkis dua anak panah yang mengarah ke wajahnya. Namun, sebuah anak panah berhasil menggores bahu kanannya, merobek kain kasa putih yang membungkus luka lamanya.

"Tangkap hidup-hidup wanita jalang itu! Jangan biarkan dia lolos!" teriak wakil jenderal keluarga Li dari atas kuda perang di bawah sana.

Rulan menggertakkan giginya, mengabaikan rasa perih yang membakar bahunya. Di tengah kepungan api dan ribuan mata pedang yang mengarah kepadanya, ia menyadari satu hal: skenario balas dendamnya yang rapi kini telah berubah menjadi perang terbuka yang berdarah. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah menembus barisan musuh dengan kekerasan mutlak.

Dengan gerakan cepat, Rulan merobek bagian bawah gaun hijaunya agar lebih bebas bergerak. Ia menatap ke arah istana kekaisaran yang berdiri megah di kejauhan, yang kini mulai membunyikan lonceng peringatan tanda bahaya tingkat tinggi.

"Malam ini... aku akan mewarnai ibu kota ini dengan darah kalian," desis Rulan, sebelum melompat turun dari atap setinggi dua tombak, langsung menerjang ke tengah-tengah kerumunan prajurit zirah besi dengan belati perak yang berkilat haus darah.

Dua jam kemudian, di kaki Pegunungan Utara yang berkabut tebal.

Hujan mulai turun membasahi bumi, perlahan memadamkan sisa-sisa api yang membakar bagian barat ibu kota. Di tepi hutan pinus yang gelap, Rulan berdiri bersandar pada sebatang pohon besar. Napasnya terengah-engah, seluruh tubuhnya dipenuhi luka sayatan dan noda darah hitam yang mulai memudar tersapu air hujan.

 Xiaoyu tidak lagi berada di sampingnya; pelayan setianya itu terpaksa memisahkan diri di gerbang kota demi memancing perhatian pasukan pengepung.

Suara langkah kaki yang berat di atas ranting kering membuat Rulan seketika menegakkan tubuhnya, mengangkat belati peraknya dengan sisa tenaga yang ada.

Dari balik kegelapan kabut pinus, sesosok pria melangkah keluar. Jubah hitam bersulam naga perak milik Long Junwei tampak robek di beberapa bagian, dan pedang kunonya masih meneteskan darah segar yang langsung encer terkena air hujan. Wajahnya yang tegas tampak lelah, namun sepasang mata elangnya langsung melebar saat melihat sosok Rulan yang masih bertahan hidup.

"Kau berhasil keluar," ucap Junwei, suara baritonnya terdengar agak serak namun menyimpan kelegaan yang dalam. Ia melangkah mendekat, mengabaikan ujung belati Rulan yang masih mengarah ke dadanya.

Rulan menurunkan senjatanya dengan lemas, tubuhnya hampir saja ambruk jika Junwei tidak dengan cepat maju dan menangkap pinggangnya. Cengkeraman tangan kokoh sang Pangeran Bayangan kembali memberikan kehangatan di tengah dinginnya hujan malam itu.

"Li Feng... dan Shen Meili... mereka sudah mati," bisik Rulan, menatap lurus ke dalam mata Junwei.

"Ya. Mereka sudah membayar hutang darah mereka di dalam neraka yang mereka ciptakan sendiri," jawab Junwei, jemarinya yang hangat mengusap noda darah di pipi porselen Rulan.

"Namun, istana ini belum runtuh. Perdana Menteri dan Kaisar kini tahu siapa kita. Mereka telah mengerahkan seluruh pasukan kekaisaran untuk memburu kita sampai ke ujung dunia."

Rulan melepaskan tawa lirih yang dingin, bersandar pada dada bidang Junwei demi menopang tubuhnya yang kian melemas akibat kehabisan tenaga. "Biarkan mereka datang. Shen Xianle yang lemah telah mati setahun lalu, dan Gu Rulan yang penuh intrik telah hancur malam ini. Mulai besok... yang tersisa hanyalah seorang pemberontak yang akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya."

Long Junwei tersenyum puas, sebuah senyuman tirani yang menandakan dimulainya era baru yang penuh darah. Ia mengangkat tubuh ringkih Rulan ke dalam gendongannya, lalu berbalik menatap ke arah puncak pegunungan utara tempat pangkalan rahasia Pasukan Bayangan berada.

Di bawah guyuran hujan musim gugur yang kian deras, ibu kota Kekaisaran Han yang berkilau di kejauhan kini tampak seperti bara api yang meredup di dalam kegelapan. Aliansi lama telah hancur, para pengkhianat telah binasa, dan di atas puing-puing abu tersebut... sebuah perang perebutan takhta yang sesungguhnya baru saja mendekati babak pertamanya.

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!