Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
Oliver masih berdiri didepan pintu masuk toko kosmetik dimana disanalah terakhir kali ia melihat punggung Zafana yang menjauh.
"Ngapain mas?" tanya Sintya yang baru saja selesai membayar belanjaan ditangannya. Ia menatap Oliver yang sedang melamun menatap kearah yang sepi.
"Kamu lihatin apa sih?" tanya Sintya lagi dengan tangan yang melingkar disebelah tangan Oliver.
Oliver tersadar dan segera menatap Sintya disampingnya lalu menepis tangan Sintya sedikit kasar.
"Bukan urusan kamu, saya antar kamu pulang sekarang"jawab Oliver tegas.
"Tapi kamu belum ganti rugi masalah yang tadi, mas"ucap Sintya.
"Kamu yang nyenggol cewek itu dan bikin semuanya berantakan, jadi kamu yang harus ganti rugi"jelas Oliver.
"Yaudah aku yang ganti, tapi habis ini kita makan ya, mas"
"Saya lagi gak nafsu makan"jawab Oliver lalu berjalan lebih dulu.
Diperjalanan pikirannya terus tertuju pada Zafana, Zafana dan Zafana, Juga senyumannya yang ternyata membuat Oliver candu dan ingin sekali melihatnya lagi. Sebelumnya Oliver tidak pernah sadar dengan keberadaan Zafana di kampus. Bahkan skripsi adalah hal pertama yang membuat mereka bertemu dan menyadari satu sama lain.
Oliver pun belum pernah merasa terpikat oleh senyuman wanita, tapi kali ini? Dia benar-benar suka dengan senyuman itu. Oh, apa sebenarnya semua ini? Oliver menghela sedikit kasar saat pikirannya mulai melebihi batas.
Mobilnya berhenti tepat didepan pagar rumah Rina.
"turun!"
"Kamu gak ikut turun?"tanya Sintya.
"Saya masih ada urusan"jawab Oliver tegas.
"Kamu mau kemana?"tanya Sintya.
"Bukan urusan kamu!"jawab Oliver.
"T-tapi mas—"
"Saya bilang turun, ya turun!"bentak Oliver memotong ucapan Sintya.
Lihat, siapa yang tidak sakit hati kalau dibentak seperti itu? Karena bukan Oliver namanya kalau tidak membentak.
Sintya menghentakan kakinya lalu keluar dari mobil dan Oliver segera melajukan mobilnya dengan cepat menjauh dari kawasan perumahan elit itu menuju rumah miliknya. Disana kedua anaknya sedang bermain dengan Aqila.
Hari semakin gelap, Zafana keluar dari kamarnya setelah membenarkan penampilannya. Ia mendengar suara mobil masuk ke pekarangan rumahnya membuat Zafana penasaran dan memutuskan untuk mengeceknya. Matanya memicing saat melihat pria berjas hitam duduk membelakanginya. Orang itu tampak tidak asing dimata Zafana.
Karena semakin dibuat penasaran, akhirnya Zafana berjalan menghampiri lelaki itu.
"Lho? Renzo?"ucap Zafana saat melihat lelaki itu dari depan dan jelas sekali kalau dia adalah sahabat lelakinya sejak SMA yang tempo hari ia telepon melalui panggilan vidio bersama Roos.
"Zafana?"
Zafana memutar bola matanya malas."Ya iyalah, siapa lagi"
"Hehe, kirain tante Clara"jawab Renzo sambil memperlihatkan gigi kelincinya.
"Tua dong gue"celetuk Zafana lalu duduk didepan Renzo
"Lo kapan sampainya Zo?"tanya Zafana.
"Tadi siang, kebetulan keinget lo jadi mampir kesini"jawab Renzo
Zafana mengangguk paham, "Ekhem..lo gak bawa oleh-oleh dari Korea gitu? Skincare nya kek"
"Orang mah tanyain kabar dulu kek, lo malah nanya begitu"cibir Renzo membuat Zafana terkekeh geli.
"Iya deh iya, lo apa kabarnya?"tanya Zafana.
"Gue baik"jawab Renzo sambil tersenyum manis.
"Jadi, mana oleh-olehnya?"tanya Zafana lagi.
"Gue gak bawa oleh-oleh kelupaan tadi, gue kesini niatnya juga cuma mau ngapelin anak orang"jawab Renzo lalu tertawa.
"What? Lo mau ngapelin kak Alaska?"tanya Zafana dengan wajah terkejut yang dibuat-buat.
Renzo menatap Zafana malas."Gila kali, ya enggak lah! Homo dong gue"
Zafana tertawa mendengar jawaban Renzo, "santai aja dong bapak, kok emosian sih, punya darah tinggi ya?"ledeknya.
"Demen banget sih dari dulu bercandain gue?"tanya Daniel masih dengan tatapan malas menatap Zafana.
"Ya iyalah, lo baperan gitu"jawab Zafana.
"Gue gak baperan ya!"
"Masa sih? hahahahah"tawa Zafana menggelegar seketika saat mengucapkan itu.
"Serius, lo mau ngapain kesini?"
"Ya, mau ketemu lo aja, udah berapa tahun kan gue gak nemuin lo dan gak main kesini"jawab Renzo
"Hemmmm, bapak ada benarnya juga, sibuk banget ya pak di Korea sampai putih gitu mukanya kayak
oppa-oppa" Renzo kembali meledek Daniel.
"Diem dah! Biasa aja juga"ucap Renzo dengan wajah sebalnya.
"Tuh kan, hahahah baperan banget sih astagaaa..."ucap Oliver sambil terus tertawa.
Renzo hanya mendelik kearah Zafana yang terus menertawainya. Dalam hati sebenarnya Renzo sangat merindukan Zafana dan ingin sekali memeluknya, tapi melihat Zafana bisa tertawa seperti ini saja sudah membuat hatinya mendesir dan rasa rindunya perlahan terobati.
"Om Damian kemana Na?"tanya Renzo mengalihkan pembicaraan.
"Papa, lagi keluar kota"jawab Zafana singkat.
"Oh iya, lo mau minum apa?"tanya Zafana.
"Gak usah deh, gue harus ke kantor bokap lagi"jawab Renzo
"Aduuhhhh, bapak sibuk bangett ya pakk"ledek Zafana
"Yaa gini lah, CEO muda"jawab Renzo lalu tersenyum menyombongkan dirinya.
"Yaudah deh, gue pamit sekarang, ya?"
"Iya deh, gue anter sampai depan" jawab Zafana lalu berjalan bersama Renzo menuju halaman rumah.
Saat membuka pintu, matanya langsung terhenti menatap mobil BMW hitam yang juga berhenti didepan rumahnya. Zafana segera turun dan membukakan pagar rumah saat mengetahui kalau itu adalah mobil mamanya.
"Sebentar, gue keluarin mobil gue dulu"ucap Renzo lalu berjalan memasuki mobilnya dan memundurkannya keluar
"Pamit ya, tante, bang"ucapnya saat hampir melewati mobil keluarga Zafana.
"Iya nak Renzo, hati-hati"jawab Clara.
Setelah melihat mobil Renzo yang mulai melaju pergi Zafana langsung masuk kedalam rumah. Baru saja ia menutup pintu kamar, ponselnya menyala dan menampilkan notif pesan dari Roos.
Roos
Besok temenin gue beli novel, ya?'
Zafana segera membuka pesan itu dan membalasnya sambil berjalan menuju kamarnya.