NovelToon NovelToon
Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu pangeran

Lina berdiri membeku di tengah hiruk-pikuk dapur, jemarinya meremas celemek kusamnya dengan dahi berkerut dalam. Rasanya ketidakadilan dunia sedang mentertawakannya habis-habisan. Dari sekian juta cerita, kenapa harus novel ini? Dan dari sekian banyak peran—menjadi putri bangsawan kaya raya yang tinggal duduk manis menikmati kemewahan, misalnya—kenapa ia justru terlempar menjadi Eliana?

Pelayan kelas bawah. Pelayan yang ujung-ujungnya harus memeras keringat lagi!

"Bangsat banget," umpatnya dalam hati, menggigit bibir bawahnya menahan kekesalan yang membuncah. "Di dunia nyata gue banting tulang dari pagi sampai malam demi uang. Masuk ke dunia novel bukannya jadi anak raja yang tinggal merintah, malah tetap jadi buruh! Mana ntar mati konyol lagi kena bom!"

Belum sempat ia meratapi nasibnya lebih jauh, bentakan keras kembali menghantam gendang telinganya. "Eliana! Jangan malah melamun di situ! Itu piring kotor bekas sarapan para pengawal menumpuk di pojokan, cepat bersihkan!"

Lina menghela napas berat. Realita memang tidak pernah berbelas kasih. Meski hatinya menjerit menolak, tubuhnya yang sudah terlatih bekerja keras secara otomatis bergerak. Ia mendekati bak cuci piring raksasa yang berisi gunung piring perak dan porselen bernoda lemak. Tanpa membantah sedikit pun, Lina menyingsingkan lengan bajunya, mengambil sabun dari lemak nabati dan busa kasar, lalu mulai menggosok.

Sikap tunduk dan patuh itu membuat beberapa pelayan senior yang melintas menghentikan langkah. Mereka saling berbisik, menatap Lina dengan dahi berkerut heran.

"Lho, si Eliana kerasukan setan apa?" bulir bisik salah satu pelayan wanita di dekat rak bumbu. "Usually dia bakal ngeles, pura-pura sakit perut, atau sembunyi di gudang kalau disuruh nyuci piring sebanyak itu."

"Iya, biasanya kan dia malasnya minta ampun. Kok sekarang malah nurut banget?" timpal yang lain.

Lina tidak peduli dengan tatapan bingung orang-orang di sekitarnya. Sebagai mantan pekerja paruh waktu di berbagai restoran cepat saji dan warung makan, urusan mencuci piring adalah hal sepele baginya. Ia bekerja dengan sangat telaten. Gerakannya cekatan, sistematis, dan rapi. Porselen yang tadinya berminyak diusapnya hingga berkilau tanpa meninggalkan satu pun noda, lalu ditata rapi berdasarkan ukurannya. Pengalaman bertahun-tahun mencari uang di dunia nyata membuatnya tak bisa bekerja asal-asalan, refleks tubuhnya terlalu terlatih.

Baru saja ia menyeka tangannya yang basah dengan kain kering, Kepala Pelayan—seorang wanita berwajah dingin dengan sanggul terikat amat ketat—mendekatinya dengan tatapan menilai.

"Ternyata tanganmu bisa berguna juga," ujar Kepala Pelayan dingin. "Ikut barisan di depan. Makanan untuk Ruang Rapat Agung harus diantarkan sekarang. Jangan ada yang ceroboh sedikit pun, atau kepala kalian yang akan melayang."

Lina mendadak lemas. Malasnya luar biasa. Rasanya ia cuma ingin sembunyi di sudut dapur tergelap agar tidak berurusan dengan para tokoh utama novel ini. "Aduh, males banget. Kenapa harus gue sih? Gue cuma mau hidup tenang tanpa narik perhatian siapapun!" batinnya menjerit.

Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk menolak, Kepala Pelayan sudah menarik lengan bajunya dengan cengkeraman kuat, memaksanya berdiri sejajar dalam barisan pelayan yang masing-masing memegang nampan emas besar bertutup perak. Lina terdesak, tak punya pilihan selain mengikuti langkah kaku barisan tersebut menuju lantai atas.

Pintu ganda berukir naga dan lambang kerajaan yang menjulang tinggi di hadapan mereka perlahan terbuka. Udara dingin beraroma kayu cendana dan kemewahan murni langsung menyergap indera penciuman Lina.

Di dalam ruangan megah berkubah tinggi itu, suasana terasa begitu mencekik dan penuh tekanan. Di ujung meja panjang berbahan kayu jati langka, duduk sang Raja—seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan mahkota keemasan yang memancarkan aura dominasi mutlak. Di sisi kanannya, sang Pangeran Mahkota duduk dengan posisi tegak, parasnya tampan namun matanya setajam elang, memancarkan aura dingin yang membuat siapa pun enggan menatapnya lama-lama. Sementara di sisi kiri, Perdana Menteri yang mengenakan jubah kebesaran tampak menyesap minumannya sambil menatap dokumen perang di meja.

Lina menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha membaur dengan kegelapan bayangan para pelayan lain. Jantungnya berdegup kencang. Ia melangkah perlahan, menahan napas seraya membawa nampan berisi hidangan daging panggang mewah, berdoa dalam hati agar takdir tidak membawanya pada masalah yang lebih besar di ruangan penuh para penguasa ini.

Lina melangkah pelan dengan pandangan terpatri pada lantai marmer yang mengilap, berusaha sekuat tenaga mempertahankan posisi kepalanya agar tetap menunduk. Namun, rasa penasaran yang teramat besar perlahan-lahan mengalahkan rasa takutnya. Lewat sudut matanya, ia mulai mencuri pandang, mengamati satu per satu sosok berpengaruh yang selama ini hanya bisa ia baca dalam bentuk deskripsi kalimat di novel.

Pandangannya pertama kali jatuh pada sang Raja. Pria setengah baya itu memiliki garis wajah yang tegas dan tegas, memancarkan aura kepemimpinan yang begitu dominan hingga membuat siapa saja membungkuk hormat. Lalu matanya bergeser ke sosok Perdana Menteri di sebelahnya—pria berkacamata tipis dengan tatapan licik dan dingin, persis seperti karakter antagonis politik yang selalu Lina benci saat membaca bukunya.

Dan akhirnya, pandangan Lina terhenti tepat pada sosok yang duduk di sebelah kanan Raja.

Seketika, napas Lina tertahan. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh.

Di sana, duduk sang Pangeran Mahkota—Lucien Valdoria. Nama belakangnya diambil langsung dari nama besar Kerajaan Valdoria yang megah ini. Sosoknya tampak begitu mustahil untuk ukuran manusia nyata. Pria itu memiliki rahang yang kokoh dan pahatan wajah yang sangat sempurna. Rambut hitam pekatnya jatuh sedikit berantakan di atas dahi, sementara iris matanya yang berwarna biru tajam berkilau bagaikan kristal es. Bahunya yang tegap dibalut seragam kebesaran militer berwarna hitam dengan sulaman benang emas yang mewah.

Lina tertegun, matanya membelalak kagum. Seumur hidupnya, dari zaman sekolah hingga duduk di bangku kuliah, ia belum pernah melihat pria yang ketampanannya setingkat ini.

"Gila... ganteng banget anjir pangeran mahkota!" jerit Lina dalam hatinya, sama sekali tidak menyadari bahwa ada sihir aneh yang mendadak menghubungkan pikirannya. "Damage-nya benar-benar luar biasa! Pantesan aja di novel digambarkan gila-gilaan, aslinya malah seribu kali lebih bening! Visualnya bener-bener gak ngotak!"

DEG!

Tepat saat kalimat itu terbersit di benak Lina, Lucien yang tadinya sedang fokus mendengarkan laporan wilayah batas kerajaan mendadak menegakkan tubuhnya. Pangeran Mahkota itu mengepalkan tangannya di atas meja, alis tebalnya bertaut tajam. Suara wanita yang asing, dengan intonasi yang begitu aneh dan kata-kata yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, mendadak bergema sangat jernih tepat di dalam kepalanya!

"Siapa yang berani bicara?!" potong Lucien tiba-tiba dengan suara berat yang menekan, memotong pembicaraan Perdana Menteri begitu saja.

Atmosfer di dalam Ruang Rapat Agung seketika membeku. Suasana menjadi sangat hening dan mencekik.

Para pejabat tinggi, bangsawan, hingga para pengawal saling pandang dengan raut wajah bingung sekaligus ketakutan. Tidak ada satu pun dari mereka yang merasa membuka mulut atau bersuara sejak tadi.

Lina yang ikut terkejut refleks ikut menengok ke kanan dan ke kiri. Ia memutar matanya, menatap barisan pelayan di sekitarnya dengan bingung. "Siapa yang bicara coba? Perasaan dari tadi guk-guk pun gak ada yang bersuara. Lagian siapa yang berani nyari mati ngomong sembarangan di depan pangeran galak kayak gitu?" batin Lina heran.

Lucien memicingkan matanya. Manik matanya yang biru tajam menyapu seluruh ruangan dengan sangat teliti. Ia yakin seratus persen, suara jernih itu tidak berasal dari udara luar, melainkan terngiang langsung di benaknya. Dan yang lebih membingungkan, kata-kata seperti 'ganteng banget', 'damage', dan 'gak ngotak' sama sekali bukan bahasa resmi Kerajaan Valdoria.

Apa aku salah dengar? pikir Lucien dalam hati, mulai meragukan pendengarannya sendiri.

Namun, saat sapuan pandangannya melewati barisan pelayan yang berdiri kaku di dekat pilar, matanya berhenti tepat pada sosok gadis bergaun pelayan kusam yang sedang celingukan. Gadis itu Lina tampak sibuk menatap pelayan lain di sebelahnya dengan raut wajah kepo yang tidak ditutup-tutupi.

Lucien menatap Lina dengan intensitas yang luar biasa tajam. Tatapan yang cukup untuk membuat seorang bangsawan paling tangguh sekalipun gemetar ketakutan.

Tetapi, Lina yang menyadari dirinya sedang ditatap secara intens oleh Lucien justru salah menangkap maksud tatapan tersebut. Bukannya takut atau sadar bahwa pikirannya baru saja bocor, percaya diri Lina yang konyol malah mendadak membumbung tinggi.

Lina tersentak kecil, dadanya berdesir. "Lho, lho, lho... kenapa dia ngeliatin gue kayak gitu?" pikir Lina dengan rasa bangga yang tiba-tiba meletup di dalam hatinya. "Apa... gue secantik itu sampai pangeran mahkota sejeli ini notice keberadaan gue di antara puluhan pelayan? Wah, gila sih, pesona wajah lokal gue ternyata membal tembus sampai ke dunia novel!"

Di tempatnya berdiri, Lucien yang kembali mendengar suara batin konyol dan sangat percaya diri itu secara langsung di kepalanya, langsung mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ujung alisnya berkedut menahan keheranan yang luar biasa.

1
Uthie
Lanjut menyimak 👍😁
Uthie
Pas.. lagi seneng cerita yg soal bisa membaca Pikiran 😁👍👍👍
Noveni Lawasti Munte
kurang jeli nih si pangeran mahkota masa ga da pengawal bayangan untuk eliana🙄
Inez Putri
gmn nasibnya alianaa... smga slmat
JasmineA
mereka keluar istana terus adik nya Lucien si Althea gi mana? masa ditinggal sm predator sih...kasian pasti dia depresi gara2 kakak nya meninggoy
Nyai mardianti
ka aku Suka bangat sama novel kaka yg satu ini apakah ini masih on going
Retno Isma
ini kerjaan modern kan. kenapa ga pake lampu aja. masih pake obor Kya jaman purba.
Retno Isma
🌹🌹🌹🌹
Talita Rafifah artanti
ceritanya bagus, menarik untuk dibaca.
Anita Rahayu
Yg banyak dan panjang thor buat cerita👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Wahyuningsih
q mampir thor dpt bonus ruang dimensi gk thor biar makin sru n buat eliana badaz abiz
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!