Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 33
3 hari lamanya, Rara mendapat perwatan intensif dan kini ia sudah berada di ruang rawat VIP. Kakak iparnya yang meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan ke ruang ini.
Rara mengerjapkan matanya. Ia menatap sekeliling sudut ruangan, lalu berhenti saat melihat kakaknya yang tidur disofa dekat jendela.
Kerena tenggorokannya terasa kering, Rara mencoba meraih segelas air putih yang berada didekat ranjangnya. Ia mencoba menggerakkan tangannya untuk mengambilnya. Sesekali ia tampak menahan sakit.
Perlahan tangannya mampu mendekat ke gelas. Nadia yang terbangun, seketika mendekat. Ia membantu Rara untuk minum.
"eh ra, kamu mau minum. Sini biar kakak aja yang ambilin, " ujar Nadia. Ia mengambil alih segelas air yang ingin diraih Rara. Lalu ia masukkan sedotan kedalam gelas supaya mempermudah adiknya minum.
Setelah minum rasanya segar sekali. Segelas air putih itu perlahan berkurang dan tinggal setengah. Rasanya lega sekali Rara bisa minum.
"kamu mau makan ?" tanya Nadia sambil meletakkan kembali gelas. Rara menggelangkan kepala.
"kakak udah makan ?" tanya Rara lirih.
"belum, nanti aja kakak makannya," jawab Nadia. Setelah itu, ia berjalan untuk membuka tirai jendela. Seketika sinar matahari pagi mampu menerangi ruangan. Ia lalu kembali mendekat ke Rara.
"gimana ? Kamu sudah rasa baikkan ? Atau masih ada yang sakit ?" tanya Nadia.
"nggak ada, udah mendingan," jawab Rara.
Ceklek..
Pintu terbuka dan masuk seorang perawat kedalam ruangan. Ia mendekat ke Nadia.
"selamat pagi, boleh minta waktunya sebentar untuk mengurus adminitrasi pasien ?" tanya perawat.
"bisa, bisa," jawab Nadia. "ra kakak tinggal dulu ya,"
Rara mengangguk mengerti. Kakaknya pun pergi bersama pasien dan meninggalkannya sendiri di dalam ruangan.
Rara menghela napas dan menatap ke kaca jendela disamping kanannya. Tampak gedung-gedung tinggi dan langit biru yang cerah.
Ceklek..
Pintu terbuka kembali. Membuat Rara langsung menoleh. Kini yang masuk Rio. Ia mengenakan jas putih bersih dan berjalan mendekat.
"gimana kondisi kamu ra ? Apa masih ada yang sakit ?" tanya Rio.
"enggak, udah mendingan," jawab Rara.
"untuk perawatan kamu kedepan akan dalam pemantauan mas, jadi kalau kamu masih merasa sakit dan butuh apapun jangan sungkan bilang ya," jelas Rio.
"iya mas. Apa kakak lolos interviewnya ?" tanya Rara.
Rio berjalan ke dekat infus. Ia memastikan bahwa cairan itu masih cukup dan mengalir baik.
"iya, kakak kamu diterima kerja. Mulai besok ia sudah berangkat. Jadikan nggak ada yang jagain kamu, makanya tadi mas mengajukan diri jadi dokter yang mengawasi kondisi kamu," jelas Rio. Ia lalu kembali mendekat ke Rara.
"maaf ya aku ngerepotin mas sama kakak," ujar Rara sambil menghela napas.
"sudah nggak usah dipikirin, sekarang kamu fokus kesembuhan kamu," jawab Rio dengan diakhiri senyuman.
Tidak lama kemudian Nadia masuk. Ia lalu berjalan mendekat ke Rio.
"kamu dari mana ?" tanya Rio.
"habis ngurus administrasi Rara dan ngambil obat," jawab Nadia.
"kamu besok mulai berangkat kerja nggak apa-apa, nanti Rara aku yang awasi," ucap Rio menatap dan memegang kedua bahu Nadia.
"tapi aku masih mau jagain Rara, aku libur aja dulu," jawab Nadia.
"kak," sela Rara suaranya pelan. Rio dan Nadia langsung memalingkan wajah kearahnya. "kakak besok kerja aja nggak apa-apa. Aku udah baikkan," lanjutnya. Ia akhiri dengan senyuman yang menenangkan.
Rio dan Nadia kembali beradu pandang. Rio memberikan anggukan kecil agar Nadia mau nurut perkataan Rara dan tidak perlu khawatir lagi. Akhirnya hati Nadia pun luluh.
"baiklah mas," jawab Nadia.
"kamu nggak usah khawatir, ada aku disini," ucap Rio menenangkan dengan tatapan yang lembut.
Hari pun semakin sore. Sekitar pukul 4, Nadia pamit untuk pulang. Ia lalu menyerahkan pengawasannya pada Rio.