Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Angin malam berhembus sangat kencang di puncak Gunung Slamet.
Wusss!
Arif Wicaksono berlutut di depan sebuah gundukan tanah yang masih basah.
Tangannya menggenggam erat sebuah nisan kayu sederhana yang baru saja dia tancapkan.
"Guru, aku sudah menguburkanmu sesuai permintaanmu," ucap Arif dengan suara bergetar.
Air matanya jatuh menetes membasahi tanah merah di depannya.
"Kenapa kau pergi secepat ini?" batin Arif sambil menahan isak tangisnya.
Dia teringat kejadian semalam saat gurunya, Guru Langit, batuk darah terus-menerus.
"Arif, waktuku sudah habis," ucap Guru Langit kala itu dengan nafas tersengal.
"Jangan bicara sembarangan, Guru, aku akan mencari akar teratai salju untukmu!" balas Arif panik.
"Tidak ada gunanya, ini sudah takdir dari langit."
Guru Langit lalu menyerahkan sebuah medali perunggu berukir naga kepada Arif.
"Mulai hari ini, kau adalah Tuan dari Biro Akasa."
"Biro Akasa? Apa itu, Guru?"
"Kau akan tahu nanti, sekarang dengarkan pesanku baik-baik."
Guru Langit menggenggam tangan Arif dengan sisa tenaga terakhirnya.
"Pergilah ke Jakarta dan temui Keluarga Baskoro."
"Baskoro? Siapa mereka?"
"Dua puluh tahun lalu, aku memperpanjang umur patriark mereka selama dua puluh lima tahun."
"Sebagai gantinya, dia berjanji akan menikahkan putri sulungnya denganmu."
"Turunlah gunung, nikahi gadis itu, dan jalani hidup normal layaknya manusia biasa."
"Guru, aku tidak mau menikah, aku hanya ingin merawatmu!" bantah Arif sambil menangis.
Namun, mata Guru Langit perlahan tertutup rapat untuk selamanya.
"Guru!" teriak Arif memecah keheningan malam saat itu.
Kini, di depan makam itu, Arif bersujud dalam-dalam.
"Aku bersumpah, Guru," ucap Arif dengan sorot mata tajam.
"Setelah aku menikahi putri Baskoro, aku akan membawanya ke sini untuk bersujud padamu."
Arif lalu bangkit berdiri dan mengambil tas kain bututnya.
Tap! Tap! Tap!
Langkah kakinya mantap menuruni gunung menuju ibu kota Jakarta.
Terik matahari Jakarta menyengat kulit Arif yang terbiasa dengan hawa dingin gunung.
Brummm! Tiin!
Suara bising kendaraan membuat telinganya sedikit berdenging.
Dia menatap secarik kertas lusuh berisi alamat kediaman Baskoro.
Pakaian Arif sangat sederhana, hanya kemeja linen kusam dan celana kain longgar.
Banyak orang berlalu-lalang menatapnya dengan tatapan meremehkan.
Arif tidak peduli dan terus berjalan menyusuri trotoar kawasan elit Menteng.
Tiba-tiba, dia melihat dua gadis cantik berjalan keluar dari sebuah butik mewah.
Gadis yang pertama tampak dewasa dan anggun dengan setelan blazer mahal.
Gadis kedua terlihat lebih muda, memakai gaun modis, dan memiliki raut wajah judes.
"Permisi, Nona," sapa Arif menghentikan langkah mereka.
Kedua gadis itu menoleh dan menatap Arif dari atas sampai bawah.
"Ada apa ya?" tanya gadis yang lebih tua dengan nada sopan.
"Apa kalian tahu di mana letak rumah Keluarga Baskoro?" tanya Arif langsung.
Gadis muda di sebelahnya langsung mendengus kasar.
"Keluarga Baskoro? Pengemis macam apa yang mencari rumah orang kaya nomor satu di daerah ini?" sindir gadis muda itu.
"Shinta, jaga bicaramu," tegur kakaknya dengan lembut.
"Tapi Kak Nana, lihat saja penampilannya, dia pasti mau minta sumbangan," balas Shinta ketus.
Nana Liem, gadis yang lebih tua itu, hanya tersenyum canggung pada Arif.
"Rumah Keluarga Baskoro ada di ujung jalan ini, gerbang hitam paling besar," jelas Nana.
"Terima kasih banyak," jawab Arif singkat dan bersiap pergi.
Namun, tiba-tiba Nana memegangi dada kirinya dengan kuat.
Bruk!
Nana ambruk ke aspal dengan nafas tersengal-sengal hebat.
"Kak Nana!" jerit Shinta panik sambil berlutut memeluk kakaknya.
Wajah Nana langsung memucat pasi dan bibirnya berubah membiru.
"Tolong! Tolong panggilkan ambulans!" teriak Shinta kepada orang-orang di sekitar.
Namun, orang-orang hanya berkerumun dan sibuk merekam dengan ponsel mereka.
Arif segera berbalik dan berjongkok di samping Nana.
"Minggir, biarkan aku melihatnya," ucap Arif dengan suara berat.
"Mau apa kau gembel? Jangan sentuh kakakku!" bentak Shinta sambil menepis tangan Arif.
"Penyumbatan meridian jantung akut," batin Arif setelah melihat sekilas wajah Nana.
"Kakakmu akan mati dalam hitungan menit jika tidak segera ditolong," ucap Arif menatap tajam Shinta.
"Kau tahu apa soal medis? Jangan bicara sembarangan!" tangis Shinta semakin pecah.
Arif tidak mempedulikan teriakan Shinta lagi.
Sret!
Arif menarik tangan Shinta dengan kuat dan menyingkirkannya ke samping.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" teriak Shinta marah.
Arif langsung menempelkan telapak tangannya tepat di dada kiri Nana.
"Kurang ajar! Kau mengambil kesempatan untuk melecehkan kakakku!" jerit Shinta bersiap memukul Arif.
"Diam!" bentak Arif dengan aura membunuh yang membuat Shinta langsung membeku ketakutan.
Arif memusatkan energi Qi miliknya dan mengalirkannya ke dalam jantung Nana.
Hawa hangat langsung menembus kulit Nana dan menghancurkan sumbatan darah di jantungnya.
Huuuh!
Nana tiba-tiba menarik nafas panjang dan matanya langsung terbuka lebar.
Warna bibirnya yang biru berangsur-angsur kembali merah merona.
Arif menarik tangannya dan berdiri dengan tenang.
"Aku sudah menstabilkan jantungnya, tapi dia tetap butuh perawatan lebih lanjut," ucap Arif datar.
Tanpa menunggu ucapan terima kasih, Arif langsung berbalik pergi.
"Tunggu!" panggil Nana dengan suara lemah saat dia berusaha duduk.
Namun Arif sudah menghilang di balik kerumunan orang.
"Shinta, siapa pemuda itu?" tanya Nana masih syok.
"Aku tidak tahu Kak, tapi tangannya tadi bercahaya saat menyentuh dadamu," jawab Shinta terbata-bata.
Nana memegang dadanya dan merasakan sesak yang selama ini menyiksanya benar-benar hilang.
"Kita harus mencari tahu siapa dia, Shinta," ucap Nana dengan mata berbinar.
"Dia mungkin satu-satunya yang bisa menyelamatkan nyawa Ayah!" lanjut Nana penuh harap.
Arif akhirnya berdiri di depan gerbang besi raksasa kediaman Baskoro.
Halaman rumah itu dipenuhi ratusan mobil mewah yang terparkir rapi.
Suara musik klasik dan tawa elegan terdengar dari arah taman belakang.
Arif melangkah masuk tanpa ragu melewati para penjaga yang lengah.
Sesampainya di taman, langkah Arif terhenti melihat pemandangan di depannya.
Di atas panggung megah, berdiri seorang gadis cantik bergaun pengantin mewah.
Gadis itu berdampingan dengan seorang pemuda tampan yang memakai setelan jas mahal.
"Hadirin sekalian, mari bersulang untuk pernikahan putriku, Hana Baskoro, dengan Tuan Rizki!"
Suara lantang itu berasal dari pria paruh baya yang berdiri di tengah panggung.
Pria itu adalah Baskoro, orang yang fotonya pernah ditunjukkan oleh Guru Langit.
Dada Arif terasa sesak dan amarah mulai mendidih di ubun-ubunnya.
"Guruku rela menukar nyawa demi orang ini, dan ini balasan yang diterimanya?" batin Arif menahan geram.
Tap! Tap! Tap!
Arif berjalan membelah kerumunan tamu elit tersebut.
Penampilannya yang lusuh langsung menjadi pusat perhatian semua orang.
"Hei, siapa gembel itu? Kenapa dia bisa masuk?" bisik seorang tamu.
"Satpam! Cepat usir pengemis ini!" teriak tamu lainnya dengan jijik.
Baskoro mengerutkan kening dan menatap tajam ke arah Arif.
"Siapa kau anak muda? Berani sekali mengacau di pesta pernikahan putriku!" bentak Baskoro.
Arif berhenti tepat di bawah panggung dan menatap Baskoro dengan dingin.
"Namaku Arif Wicaksono, murid dari Guru Langit."
Prang!
Gelas anggur di tangan Baskoro jatuh ke tanah dan hancur berkeping-keping.
Wajah Baskoro langsung pucat pasi seperti melihat hantu di siang bolong.
"G-Guru Langit? B-bagaimana kabar beliau?" tanya Baskoro dengan suara gemetar.
"Guruku sudah meninggal tadi malam," jawab Arif dengan nada sedingin es.
Keheningan langsung menyelimuti seluruh taman mewah itu.
Arif bisa melihat kilat kelegaan di mata Baskoro saat mendengar kematian gurunya.
"Sialan, dasar manusia tidak tahu diuntung," batin Arif mengumpat dalam hati melihat reaksi itu.
"Turut berduka cita untuk gurumu," ucap Baskoro yang kini kembali tenang dan tersenyum angkuh.
"Lalu, apa tujuanmu datang kemari dengan pakaian seperti ini?" tanya Baskoro meremehkan.
Arif merogoh tas bututnya dan mengeluarkan selembar perkamen tua.
"Aku datang untuk menagih janji yang kau buat dua puluh tahun lalu."
Baskoro meneguk ludahnya dengan kasar melihat kertas itu.
"Guruku menembus batas surga untuk menambah umurmu dua puluh lima tahun!" suara Arif menggelegar.
"Dan sebagai gantinya, kau bersumpah akan menikahkan putri sulungmu, Hana Baskoro, denganku!"
Semua tamu undangan langsung tersentak kaget mendengar hal itu.
Hana Baskoro, sang mempelai wanita, langsung turun dari panggung dengan wajah merah padam.
"Tutup mulutmu, dasar gembel kampung!" bentak Hana menatap jijik pada Arif.
Hana merebut kasar kertas perkamen itu dari tangan Arif.