NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Sang Ibu Tiri

Cinta Terlarang Sang Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: Tusya Ryma

Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.

Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.

Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.

Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.

Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Bisakah Kita Baikan?

Louis mendekat. Ia memegang pegangan pintu yang sama, lalu menutupnya perlahan.

“Aku bilang, tadi hanya bercanda,” ucap Louis dengan suara pelan.

Ia terus mendekat hingga Karissa terpaksa mundur beberapa langkah.

“Kalau harus bersumpah, aku bersumpah! Selama hidupku yang sudah lebih dari dua puluh delapan tahun ini, aku belum pernah melihat tubuh wanita lain selain kau!”

Karissa terdiam.

“Aku juga belum pernah tidur dengan wanita lain selain kau,” lanjut Louis.

Louis menundukkan kepalanya. Ia berbisik,“Kalau kau marah, aku minta maaf!”

"Sekarang, jangan marah lagi, ya?" bujuknya, masih dengan pelan. "Banyak hal yang membuatmu membenciku, aku sadar itu!"

"Berawal dari kesalahpahaman dulu! Kau kira aku tidur dengan Marine, kan? Padahal itu tidak benar!"

"Saat itu aku hanya pergi ke hotel atas perintah Ayah. Kebetulan ada Marine. Dia memaksa untuk ikut. Setelah selesai, aku mengantarnya pulang. Sama sekali tidak melakukan apapun seperti yang kau tuduhkan! Seharian itu aku memang sibuk, tidak sempat menerima panggilan telepon darimu!"

 "Keesokan harinya kau langsung marah dan mau kita putus! Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan! Kau menjauh dan memblokir nomerku!"

"Jujur saja, saat itu aku juga marah karena kau mencampakkan aku! Kau menuduhku berselingkuh! Aku emosi dan langsung memblokirmu balik!"

"Beberapa hari setelah itu Marine melihatku murung, lalu menghiburku! Dia bilang kita harus bersama agar kau menyesal!"

"Setelah itu aku dan Marine jadi lebih dekat! Sampai sekarang!"

 Louis menjelaskan sesuai fakta yang terjadi. Tidak ditambah dan tidak dikurang-kurangi.

"Sekarang, bisakah kita baikan?" Louis mengulurkan tangan, mengangkat jari kelingkingnya, tanda mereka akan baikan.

"Aku minta maaf, dulu tidak tahu kalau orang tuamu kecelakaan! Marine juga tidak bilang!

"Dan kemarin, aku ditugaskan Ayah pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Jadi, tidak bisa menemanimu di pemakaman ibumu! Untuk hal itu, aku juga minta maaf!"

***

Pagi hari, suara dering ponsel memecah keheningan kamar.

Louis yang masih tertidur pulas segera terbangun. Ia menyadari dering itu berasal dari ponselnya yang terletak di atas nakas.

Louis meraih ponselnya, lalu melihat nama yang tertera di layar.

“Ayah!”

Ia segera bangun dan duduk bersandar di kepala tempat tidur. Setelah menekan tombol hijau, ia mengangkat telepon.

“Halo!”

“Louis! Bukankah semalam kau sudah pulang? Sekarang kau di mana? Kenapa tidak langsung pulang ke rumah? Ayah khawatir, takut terjadi sesuatu kepadamu!”

“Oh, ya! Aku baik-baik saja! Semalam aku tidur di rumah Jhosep. Tidak sempat memberitahumu,” jawab Louis berbohong.

Tatapannya beralih melihat wanita yang masih tertidur di sampingnya.

Tangannya terulur, mengelus rambut Karissa dengan lembut.

“Syukurlah! Bagaimana dengan kondisinya?”

“Sudah jauh lebih baik! Kemarin dia baru menjalani operasi. Mungkin hari ini sudah sadar!”

“Hemm! Dia belum sadar, tapi sudah kau tinggal?”

“Tidak apa-apa, Yah! Aku sudah membayar seseorang untuk menjaganya!”

“Oh, baiklah! Kita bicarakan lagi nanti di kantor!”

“Oke!”

Klik!

Sambungan telepon ditutup.

Louis meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Ia turun dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju kamar mandi.

Beberapa saat kemudian, Louis keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Rambutnya masih basah dan beberapa tetes air membasahi tubuhnya yang kekar.

Ia berjalan mendekati tempat tidur.

Karissa masih tertidur pulas di balik selimut putih.

Senyum tipis tak pernah lepas dari bibir Louis ketika memandang wanita itu.

Baru saja ia hendak duduk di tepi tempat tidur, tiba-tiba terdengar ketukan dari luar.

Tok! Tok! Tok!

Louis segera menoleh.

Ia berjalan menuju pintu, lalu membukanya.

“Jhosep!”

Semalam, Louis memang meminta Jhosep datang ke Hotel Antik, tetapi ia tidak memberitahukan nomor kamarnya.

“Nih, pesananmu!”

Jhosep langsung melemparkan kantong belanjaan ke arah Louis.

Dengan sigap Louis menangkapnya.

“Satu set pakaian wanita, lengkap dengan pakaian dalam! Totalnya dua juta lima ratus ribu,” kata Jhosep dengan tegas.

“Oke! Nanti aku transfer ke rekeningmu!”

Louis hendak menutup pintu.

“Berapa?”

Jhosep menahan tangan Louis. Ia ingin memastikan jumlah uang yang akan ditransfer oleh temanya.

“Dua juta lima ratus, kan?”

“Apa kau tidak salah?” Jhosep mengerutkan kening. “Bukankah kau bilang uang gantinya dua kali lipat? Jadi lima juta!”

“Hah? Pakaian dua juta setengah jadi lima juta?”

Louis menatap sahabatnya dengan malas.

“Jangan mencari keuntungan dari pekerjaan ringan ini!”

"Eh ... eh ... eh, tapi semalam kau sendiri yang bilang begitu! Uangnya diganti dua kali lipat! Apa kau amnesia dalam semalam?" ejek Jhosep

“Ya, sudah! Nanti aku transfer!”

Louis kembali hendak menutup pintu.

Namun, sebelum pintu benar-benar tertutup, Jhosep sempat menunjuk ke arah tempat tidur.

“Ngomong-ngomong, siapa wanita yang ada di sana?”

Jhosep menatap Louis dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Keningnya mulai berkerut.

“Apa yang kalian—”

Bruk!

Pintu langsung ditutup.

Louis sudah bisa menebak apa yang akan keluar dari mulut sahabatnya itu. Ia tidak akan membiarkan Jhosep menyelesaikan ucapannya.

Louis kembali ke tempat tidur, lalu membuka isi kantong belanjaan.

Ada atasan wanita, rok jeans, dan pakaian dalam.

Namun, ketika ia mengeluarkan benda terakhir, kedua matanya langsung membesar.

“Satu kotak alat pengaman?”

Louis menghela napas panjang.

“Aishhh! Jhosep ... kau sengaja mau membuatku malu, ya?”

Ia segera mengambil kotak tersebut dan menyembunyikannya di dalam saku jas yang tergantung di lemari.

Semalam, setelah mereka sepakat untuk berdamai, Louis memang melepaskan pakaiannya dan menggantungnya di lemari.

Sementara itu, pakaian Karissa sudah kotor dan tidak bisa digunakan lagi. Jadi Louis meminta Jhosep membawakan pakaian baru ke kamar itu.

Dan malam tadi menjadi malam yang begitu berarti bagi Karissa dan Louis.

Untuk pertama kalinya, kedekatan itu terjadi atas dasar perasaan yang sama, bukan karena paksaan seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Senyum bahagia kembali menghiasi wajah tampan Louis.

Ia masih mengingat kejadian semalam.

Sungguh, malam itu membuatnya bahagia.

Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Louis menghampiri Karissa.

Ia membuka sedikit selimut yang menutupi tubuh wanita itu, lalu mulai menggodanya.

“Sayang, bangunlah! Ayo kita pulang!”

Louis mencolek hidung Karissa.

“Emmhhhh ....”

Karissa menggeliat. Kepalanya terasa pusing.

“Kita pulang! Nanti bisa melanjutkan tidurnya di rumah,” ucap Louis lembut.

Perlahan, Karissa membuka matanya.

Pandangan pertamanya langsung tertuju pada Louis yang sudah berpakaian rapi. Pria itu terlihat begitu tampan.

“Jam berapa sekarang?” tanyanya dengan suara lirih.

“Jam delapan pagi!”

Louis tersenyum.

“Mandilah! Jhosep sudah membawakan satu set pakaian untukmu!”

Dengan enggan, Karissa bangun dan duduk di atas tempat tidur.

Namun, beberapa detik kemudian, ia menunduk.

Matanya membesar ketika menyadari tubuhnya tidak mengenakan apapun.

Karissa buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

“Menjauhlah!”

Ia menggenggam selimut erat-erat dan menundukkan wajah karena malu.

“Kenapa ditutup?” goda Louis. “Aku sudah melihat semuanya. Dari mulai—”

“Stop! Jangan katakan lagi!”

Karissa mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Louis.

“Sekarang ... berbaliklah!”

“Hem? Kenapa?”

Louis tampak bingung.

“Cepat, berbalik!”

Tidak ingin membuat Karissa semakin marah lagi, Louis akhirnya menurut.

Ia membalikkan tubuh dan membelakangi Karissa.

Karissa segera menyingkirkan selimut itu, lalu berlari menuju kamar mandi.

Bruk!

Pintu kamar mandi tertutup keras.

Louis hanya bisa tersenyum geli.

“Masih saja malu!”

1
Bu Kus
lanjut LG thro makasih
Bu Kus
penuh teka teki siapa dalang di balik itu semua jadi penasanaran
Bu Kus
seru banget kayanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!