SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Sistem Pertahanan Aktif dan Takhta Emas
Ruang bawah tanah akhirnya kembali sunyi, hanya menyisakan Caden, Aura, dan bau tembaga dari sisa pertempuran.
Aura langsung merobek lengan kemeja putihnya tanpa ragu, lalu dengan cekatan mengikatkannya di lengan Caden yang terluka untuk menghentikan pendarahan. Wajahnya yang biasanya ceria dan bar-bar, kini terlihat sangat pucat dan khawatir.
"Bos ini bodoh atau apa sih? Kenapa tadi repot-repot muter buat ngelindungin punggung gue? Bos kan bisa nangkis sihirnya pakai pedang!" omel Aura, tangannya sedikit bergetar saat mengikat perban darurat itu.
Caden menunduk, menatap wajah cemas Aura. Pria itu menyentuh pipi Aura dengan tangannya yang tidak terluka, mengusap noda debu di sana.
"Jika aku menangkisnya dengan pedang, percikan sihirnya mungkin akan mengenai rambutmu, Elara," jawab Caden santai, seolah luka di lengannya hanyalah gigitan nyamuk. "Dan jika kau terluka, kau pasti akan menagih biaya ganti rugi perawatan rumah sakit yang sangat mahal padaku."
"Ya jelas lah gue tagih! Gue kan matre!" balas Aura dengan mata berkaca-kaca menahan tangis kelegaan. "Tapi asuransi nggak bisa balikin nyawa, Bos! Jangan lakuin hal nekat kayak gitu lagi! Kalau Bos mati, siapa yang mau bayarin cicilan penthouse gue?!"
Caden tersenyum lebar. Ia menarik tubuh mungil Aura ke dalam pelukannya yang hangat dan erat, mengabaikan lengannya yang perih. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu.
"Kau mengkhawatirkan cicilan penthouse, atau kau mengkhawatirkanku, Elara?" bisik Caden menggoda.
"Dua-duanya!" Aura membalas pelukan Caden dengan sangat erat, tidak lagi peduli pada harga diri kapitalisnya. "Gue takut kehilangan bos paling royal sedunia! Nggak ada orang gila lain yang mau ngasih gue Kartu Platinum tanpa limit selain Bos!"
Tawa Caden bergema di ruang kristal itu. "Kalau begitu, pastikan kau mengikatku dengan kontrak yang kuat, Elara. Agar aku tidak pernah pergi ke mana-mana."
Caden melepaskan pelukannya perlahan, lalu menuntun Aura memasuki Ruang Inti. Di tengah ruangan, altar kristal memancarkan cahaya keemasan.
"Taruh koinnya di tengah altar, Elara," perintah Caden lembut.
"Gue? Kenapa bukan Bos aja? Ini kan hak istimewa keturunan raja."
"Karena mulai detik ini, kau bukan sekadar asistenku." Caden menatap lurus ke dalam mata Aura. "Pegang tanganku."
Aura menurut. Tangan mungilnya digenggam erat oleh tangan besar Caden yang masih menggunakan sarung tangan kulit. Bersama-sama, mereka meletakkan Koin Naga itu ke dalam lubang kunci di atas altar.
WUSSS!
Gelombang energi magis berwarna emas meledak dari altar, menyebar ke seluruh penjuru istana, menembus dinding dan langit-langit. Dalam hitungan detik, seluruh Istana Astoria diselimuti oleh kubah perlindungan magis yang mustahil ditembus oleh serangan apa pun. Sistem pertahanan kuno telah bangkit sepenuhnya.
Sebuah suara mekanis-magis terdengar menggema di ruangan itu.
[Otorisasi Diterima. Tuan Rumah Utama: Pangeran Caden. Membaca cetak energi sekunder... Otorisasi Tambahan Diterima. Administrator Pendamping terdaftar.]
Aura melongo. "Administrator Pendamping? Maksudnya gue punya akses root ke sistem keamanan kekaisaran sekarang?! Wah, Bos! Ini privilege-nya lebih ngeri dari Kartu Platinum!"
Caden menarik pinggang Aura, membawanya berdiri tepat di depan mahkota hologram yang melayang di atas altar.
"Istana ini sudah aman. Pemberontak di luar sana akan ditangkap oleh pelindung aktif. Arthur sudah dipenjara. Vane sedang menunggu eksekusi." Caden menatap Aura dengan senyum yang sangat menawan, senyum yang dulunya hanya memancarkan kekejaman, namun kini dipenuhi oleh cinta yang absolut dan posesif.
"Elara," panggil Caden, suaranya sangat berat dan serius. "Hari ini, valuasi diriku sudah mencapai puncaknya. Aku menguasai keuangan, pangan, dan pertahanan mutlak kekaisaran ini. Tapi, semua aset ini tidak ada harganya jika kau tidak ada di sampingku untuk menghitungnya."
Aura menelan ludah. Jantungnya berdegup jutaan kali lebih cepat dari biasanya. Ia tahu arah pembicaraan ini, dan untuk pertama kalinya, ia tidak bisa memikirkan respons berupa angka.
Caden berlutut dengan satu kaki di lantai kristal itu, sebuah pemandangan yang bisa membuat seluruh negeri pingsan karena terkejut. Sang Pangeran Antagonis yang angkuh, berlutut di hadapan seorang gadis barbar yang gila uang.
Caden mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku celananya. Saat kotak itu dibuka, sebuah cincin berlian potong zamrud berwarna merah darah yang sangat langka dan luar biasa besar berkilau indah.
"Aku tidak akan menjanjikan romansa klise dengan mawar yang layu, Elara. Aku menjanjikan kekayaan yang abadi," ucap Caden, menatap mata Aura tanpa berkedip. "Jadilah istriku. Menikahlah denganku. Mari kita lakukan merger permanen, dan jadilah Ratu Harta serta Hatiku. Aku berjanji, seluruh dividen dari kehidupanku adalah milikmu seratus persen."
Air mata akhirnya menetes dari sudut mata Aura. Ia tertawa sambil mengusap air matanya. Lamaran macam apa ini?! Tidak ada kata cinta, yang ada hanya janji dividen dan merger permanen! Tapi bagi Aura, ini adalah kata-kata paling romantis yang pernah diciptakan oleh umat manusia.
"Bos," Aura berusaha menstabilkan suaranya, membusungkan dadanya dengan gaya manajer. "Sebagai investor cerdas, gue butuh perjanjian pra-nikah (Prenup)."
Caden tertawa pelan. "Sebutkan syaratmu."
"Satu, pembagian harta gono-gini lima puluh banding lima puluh dari total aset kotor, bukan aset bersih!" tuntut Aura sambil menunjuk hidung Caden.
"Dikabulkan."
"Dua, kalau Bos ketahuan melirik wanita lain, berani selingkuh, atau melakukan wanprestasi terhadap janji pernikahan kita... seratus persen kekayaan kekaisaran ini jatuh ke tangan gue, dan Bos harus keluar dari istana cuma pakai celana dalam!"
"Aku bersumpah dengan nyawaku, aku tidak akan pernah melirik siapa pun selain dirimu. Syarat dikabulkan mutlak," jawab Caden tanpa ragu sedikit pun.
Aura tersenyum sangat lebar, senyum paling tulus dan bahagia. Ia mengulurkan tangan kirinya.
"Kalau begitu, proposal merger Anda saya terima, Pangeran Caden. Mari kita monopoli dunia ini bersama-sama!"
Caden menyematkan cincin berlian raksasa itu ke jari manis Aura, mengecup punggung tangannya dengan takzim, lalu berdiri dan merengkuh gadis itu dalam ciuman yang paling dalam dan penuh gairah.
Di bawah cahaya keemasan dari Koin Naga pusaka, alur cerita novel picisan itu telah sepenuhnya diubah. Bukan protagonis yang naif yang menguasai dunia, melainkan sepasang partner in crime kapitalis; seorang pangeran antagonis yang posesif dan seorang gadis matre yang logis, siap menaklukkan bursa saham dan hati satu sama lain selamanya
boleh gak bahasa si Elera ini di ganti jadi "Aku" Jangan "Gue" biar kita baca nya enak dikit gitu thor😄kasian di pangeran di gue guein