NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34 — Klien Rewel dari Menteng

"Suatu hari, semua utangnya akan dia bayar sekaligus."

Raka menyimpan nama Reno di dalam catatan hukum, lalu kembali bekerja.

Tiga hari kemudian, Prof. Damar mengirim satu alamat di Menteng.

Prof. Sutanto, guru besar purnatugas dan kurator yang lama bekerja di luar negeri, sedang mencari perancang untuk penataan foyer rumah lama, relief batu, serta satu karya giok utama. Lima studio telah diundang. Tidak ada jaminan siapa pun dipilih.

Raka baru mengirim dokumen kelayakan, daftar proyek, dan metode keselamatan. Ia sengaja tidak membuat desain sebelum melihat ruang, karena gambar yang lahir dari foto properti hanya akan menjadi tebakan mahal.

Kalimat terakhir Damar singkat.

Dia tidak butuh orang terkenal. Dia butuh orang yang bisa mendengar.

Raka datang bersama Beni tanpa kamera konten. Rumah itu berdiri di balik pagar besi tua dan dua pohon sawo yang lebih tinggi dari atap. Cat dindingnya terawat, tetapi tidak dibuat baru. Ubin teraso di foyer menyimpan goresan halus puluhan tahun.

Seorang asisten rumah memeriksa daftar tamu dan meminta semua ponsel disimpan dalam kantong segel selama pertemuan. Raka menyetujui setelah mencatat nomor segel pada formulir kunjungan.

Di dalam, tiga tim lain sudah menunggu. Mereka membawa kotak sampel marmer, layar tiga dimensi, dan portofolio hotel bintang lima. Salah seorang melihat kemeja sederhana Raka.

"Studio TikTok juga ikut?" katanya kepada temannya.

Raka mendengar, tetapi tidak menjawab.

Prof. Sutanto masuk tepat pukul sepuluh. Rambutnya putih, tubuhnya tegak, dan tongkat kayu di tangannya lebih mirip penunjuk daripada penopang.

"Siapa Raka?" tanyanya.

Raka maju satu langkah.

"Yang disebut Mas Kalem?"

"Itu nama dari penonton, Prof."

"Saya tidak memesan penonton."

"Saya juga tidak membawanya."

Beberapa orang menahan senyum. Sutanto tidak.

Ia menampilkan denah foyer. Bidang utama sepanjang sembilan meter menghubungkan pintu depan dengan ruang baca. Di tengahnya akan diletakkan karya giok, tetapi semua rancangan sebelumnya ditolak.

"Tim pertama memberi saya dinding emas," katanya. "Tim kedua memberi burung garuda sebesar mobil. Tim ketiga memasukkan semua motif Nusantara sampai rumah saya tampak seperti ruang pamer bandara."

Ia menatap Raka.

"Anda akan memberi saya apa? Naga yang viral?"

"Saya belum tahu."

Ruangan hening.

Salah satu pesaing tersenyum mengejek. Sutanto menyipitkan mata.

"Anda datang tanpa gagasan?"

"Saya datang tanpa berpura-pura sudah memahami rumah ini."

"Portofolio Anda penuh karya yang disukai internet."

"Karya TK dirancang untuk anak yang menyentuh dinding. Rumah Prof tidak dipakai dengan cara yang sama."

"Jadi Anda mengakui viralitas tidak relevan?"

"Relevan untuk jangkauan. Tidak cukup untuk desain."

Sutanto mengetukkan tongkat sekali. "Setidaknya Anda tidak menjual jumlah pengikut sebagai bakat."

Setiap tim diberi dua puluh menit melihat area yang dibuka. Raka tidak langsung mengukur dinding. Ia berjalan pelan dan mencatat pola kehidupan.

Di dekat pintu masuk ada dua bekas kait payung, tetapi hanya satu yang masih dipakai. Sebuah selendang batik sogan tersimpan di balik kaca, bukan di ruang koleksi. Di bawahnya terdapat foto lama: Sutanto yang lebih muda berdiri di samping seorang perempuan di kebun melati putih. Keduanya tertawa tanpa melihat kamera.

Pada meja konsol, satu pena tua diletakkan di samping naskah yang dijilid kain. Halaman teratas hanya menampilkan judul.

Pulang ke Rumah yang Menunggu.

Baris setelahnya berhenti di tengah kalimat.

Raka tidak membuka lembar berikut.

"Kenapa tidak mengukur?" tanya Sutanto dari belakang.

"Ukuran bisa saya ambil setelah tahu apa yang tidak boleh saya ubah."

"Apa yang tidak boleh diubah?"

"Jalur dari pintu ke ruang baca. Goresan teraso di dekat kait payung. Arah cahaya pagi ke selendang. Dan mungkin meja ini."

Mata Sutanto bergerak ke naskah.

"Semua orang ingin mengganti meja itu," katanya.

"Bekas tinta di sisinya menunjukkan seseorang menulis di sini bertahun-tahun."

"Istri saya."

Raka menunggu. Ia tidak bertanya bagaimana perempuan itu meninggal atau mengapa naskah berhenti.

Sutanto justru melanjutkan sendiri.

"Kami tinggal di luar negeri tiga puluh dua tahun. Dia selalu berkata rumah ini menunggu. Ketika akhirnya kami pulang, dia hanya sempat tinggal delapan bulan."

Suara tongkat tidak terdengar lagi.

"Melati di foto?" tanya Raka.

"Tanaman kesukaannya. Kebun itu sudah tidak ada."

"Apakah Prof ingin foyer menjadi monumen?"

Pertanyaan itu membuat asisten rumah menoleh tajam.

Sutanto tidak marah. "Apa bedanya dengan karya kenangan?"

"Monumen meminta orang berhenti di masa lalu. Rumah seharusnya membuat orang bisa masuk, tinggal, lalu melanjutkan hidup."

Lama sekali Sutanto memandangnya.

"Anda terlalu berani untuk seniman yang belum saya pilih."

"Karena kalau Prof hanya ingin bahan mahal, empat tim lain lebih siap memberi daftar."

"Dan Anda?"

"Saya perlu memahami batas antara menjaga dan membekukan."

Sutanto membawa Raka ke ambang ruang baca, tetapi tidak mengizinkannya masuk lebih jauh. Dari sana, cahaya siang memotong foyer menjadi dua bidang. Raka mengukur sudut datang, kelembapan dekat pintu, beban lantai, dan jarak aman untuk karya giok.

Baru setelah itu ia membuka alat ukur.

Beni mencatat semua tanpa mengambil foto barang pribadi. Mereka hanya memotret dinding kosong dan titik teknis setelah izin diberikan.

Saat keluar, tim pesaing pertama menyerahkan visualisasi emas kepada asisten. Sutanto meletakkannya tanpa melihat halaman kedua.

Raka tidak menyerahkan gambar.

"Mana proposal Anda?" tanya sang profesor.

"Belum ada yang layak."

"Lalu untuk apa saya memberi Anda waktu?"

"Agar saya tidak mengubah duka Prof menjadi dekorasi murah."

Asisten rumah menahan napas.

Sutanto berjalan sampai teras. "Tiga hari. Setelah itu saya tidak menerima alasan."

"Saya kirim konsep, material, biaya, risiko batu, dan jadwal. Jika ceritanya salah, Prof tidak perlu memilih saya."

"Batu gioknya?"

"Saya belum akan menjanjikan warna sebelum melihat bahan nyata."

Dalam mobil kembali ke Studio, Beni baru berani bersuara.

"Gue kira tadi kita diusir."

"Belum."

"Lo bilang rumahnya tidak boleh jadi monumen kepada orang yang membangun monumen hidupnya."

"Itu sebabnya desain harus memberi jalan pulang, bukan menutup pintu."

Di Studio, Raka menelepon Bagas.

"Gue butuh beberapa kandidat giok kualitas tinggi. Bukan satu batu taruhan. Sertakan asal, berat, retak, hasil pemeriksaan, dan rentang risiko pemotongan."

"Anggaran?"

"Belum ada kontrak. Jangan beli atas nama gue."

"Akhirnya ada kalimat yang membuat pedagang batu tenang."

Raka mulai menggambar garis pertama: sebuah jalur yang masuk dari pintu, mengitari ruang kosong, lalu kembali ke cahaya.

Pesan dari asisten Sutanto tiba malam itu.

Prof memberi Anda tiga hari. Beliau berkata: saya telah melihat terlalu banyak orang yang punya tangan tetapi tidak punya hati. Jangan membuat beliau menyesal memberi kesempatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!